
"Mas pingin kamu berhijab. Mas gak rela aurat kamu dilihat oleh orang lain," ucap Zein sambil menatap Intan. Ia semakin posessive pada istrinya.
Intan tak menyangka suaminya akan meminta hal itu. "Eum ... emangnya kenapa, Mas?" tanya Intan sambil menatap Zein.
"Berhijab itu kan kewajiban muslimah, Sayang. Selain itu aku juga gak mau tubuh kamu dilihat oleh orang lain. Karena tubuhmu hanya milik aku," ucap Zein sambil memegangi kedua lengan istrinya.
"Iya aku paham. Tapi masalahnya Mas tau sendiri kan aku gak punya banyak pakaian untuk berhijab? Bisa sih aku mix and match pake baju yang panjang-panjang. Tapi kayaknya kurang pantes ya kalau pake jeans gitu?" tanya Intan.
"Iya gak apa-apa. Untuk sementara kamu pakai yang ada aja dulu! Nanti kalau ada waktu kita beli pakaian buat kamu, ya?" sahut Zein.
Ia memaklumi jika istrinya tidak memiliki banyak pakaian untuk berhijab. Sebab sebelum menikah memang Intan tidak berhijab meski pakaiannya tidak terlalu terbuka.
"Ya udah kalau begitu sekarang aku ganti baju dulu," ucap Intan. Ia pun memilih pakaian yang bisa ia gunakan untuk memakai hijab.
"Kalau ini gimana, Mas?" tanya Intan sambil menunjukkan pakaiannya pada Zein.
"Iya gak apa-apa, Sayang. Yang penting pakai hijab dulu. Kamu ikhlas, kan?" tanya Zein.
Intan tersenyum. "Ikhlas, Mas. Aku juga sebenernya udah lama pingin berhijab. Cuma masih maju mundur. Maaf ya, Mas. Aku belum jadi muslimah yang baik," ucap Intan. Ia malu pada suaminya itu.
"It's okay. Gak masalah sayang. Kamu mau berubah aja itu udah jauh lebih baik. Terima kasih, ya?" Zein mengapresiasi kemauan istrinya untuk berhijab.
"Ya udah aku pakai ini," ucap Intan.
"Sayang, kamu ada rok panjang, kan?" tanya Zein.
"Ada, Mas. Kenapa?" Intan balik bertanya.
"Lebih baik pakai rok aja! Jangan pakai jeans! Kamu kan lagi hamil, Sayang," ucap Zein. Ia tidak ingin perut Intan tertekan meski masih terlihat rata.
"Oh iya, aku lupa. Hehe. Maaf ya, Baby," ucap Intan sambil mengusap perutnnya. Ia merasa bersalah karena sempat lupa bahwa dirinya tengah mengandung.
Akhirnya Intan pun mengenakan rok dan tunik, kemudian ia mengenakan pasmina yang ia miliki.
"Nah, gitu kan cantik. Aku jadi makin cinta," puji Zein. Kemudian ia mengecup pipi istrinya.
"Terima kasih, Mas," sahut Intan sambil memeluk Zein. Ia senang karena Zein peduli akan penampilannya.
"Ya udah kita jalan, yuk!" ajak Zein.
Mereka pun meninggalkan rumah, menuju ke rumah sakit.
Hari ini Zein sangat senang. Selain karena istrinya hamil. Ia pun bahagia karena Intan mau berhijab. Sehingga moodnya sangat baik.
Saat sedang berada di jalan, sesekali Zein mengusap perut istrinya itu.
Rasanya ia ingin memeluk Intan terus. Sebab Zein sangat antusias dengan kehadiran calon buah hatinya tersebut.
"MasyaaAllah ... kuasa-Mu begitu besar. Ternyata seperti ini rasanya menjadi calon ayah. Aku bahagia sekali, Sayang," ucap Zein. Kemudian ia menarik tangan Intan dan mengecupnya.
Sebelum Intan mengandung saja rasa cinta Zein terhadapnya sudah begitu besar. Sehingga ketika tahu istrinya tengah mengandung, cinta yang Zein miliki untuk Intan seolah meluap-luap karena terlalu banyak.
"Sayang, kapan kita mau mengumumkan pernikahan kita?" tanya Zein. Ia sudah tidak sabar ingin segera mengumumkan pernikahan mereka.
"Hem ... kapan, ya? Kalau bisa sih jangan sekarang, Mas. Nanti aja kalau aku udah magang. Aku gak mau nanti ada orang yang gak tulus sama aku. Baik cuma karena aku istri kamu," ucap Intan.
"Emangnya kenapa begitu?" tanya Zein sambil mengerutkan keningnya.
"Mas gak tau sih. Dulu tuh waktu masih koas, banyak yang gak suka sama aku. Jadi aku pingin lihat sekarang siapa yang tulus mau temenan sama aku dan siapa yang enggak. Biar aku bisa jaga jarak sama orang-orang yang emang gak suka sama aku. Aku gak mau ada duri dalam daging," jelas Intan.
Ia masih ingat betul bagaimana dulu dirinya sering dicibir oleh beberapa senior.
"Ya sudah. Tapi jangan terlalu lama, ya! Aku gak mau nanti ada yang berusaha deketin kamu lagi. Pokoknya sebelum satu bulan, pernikahan kita harus segera diumumkan. Bila perlu kita adakan resepsi," ucap Zein.
Ia tidak mau kecolongan lagi. Sehingga ingin segera mengumumkan pernikahannya. Sebenarnya Zein pun tidak ingin Intan direndahkan oleh orang lain.
Memang benar apa kata Intan, jika orang lain tahu bahwa dirinya adalah istri Zein, pasti mereka akan baik pada Intan. Entah tulus atau tidak. Sehingga Zein pun paham mengapa Intan ingin menyeleksi temannya lebih dulu.
Apalagi sebentar lagi Zein akan menjadi direktur rumah sakit itu. Pasti mereka semua akan sungkan pada Intan jika sudah mengetahui faktanya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di ruma sakit. Seperti biasa, mereka berpisah di parkiran.
"Maaf ya, Mas. Bukannya aku gak menghargai Mas atau malu jadi istri kamu."
"Iya aku paham. Ya udah kamu hati-hati, ya! Jalannya lihat-lihat! Ingat, kamu itu sedang mengandung anakku. Jaga baik-baik!" nasihat Zein.
Intan tersenyum karena nasihat suaminya begitu banyak. "Iya, Sayang ... ya udah aku turun duluan," ucap Intan. Kemudian ia mengecup pipi suaminya sebelum turun. Hal itu Intan lakukan demi menebus rasa bersalahnya.
Zein langsung tersenyum. Ia bangga karena Intan mau menunjukkan cintanya.
Intan pun turun dari mobil dan masuk ke rumah sakit. Tak lama kemudian Zein menyusul.
Saat melewati poli, Intan berpapasan dengan beberapa temannya. "Ehh, kirain siapa. Sampe pangling aku, lihat dokter Intan pakai hijab," ucap salah satu suster.
"Apa kabar, Sus?" sapa Intan sambil tersenyum.
"Kabar baik. Dokter, ya ampun cantik banget pakai hijab gini. Aku seneng deh lihatnya," puji suster yang lain.
"Alhamdulillah, terima kasih," jawab Intan.
"Tumben dokter ke sini? Bukannya lagi magang, ya?" tanya mereka lagi.
"Iya kebetulan lagi ada perlu. Gimana, banyak pasien, gak?" tanya Intan.
"Ya gitu, deh. Namanya juga rumah sakit ya, rame terus setiap hari, hehe."
"Aku jadi bingung ini kalau rumah sakit rame harus bersyukur atau sedih, ya? Hihihi," sahut Intan.
"Hehehe, dokter bisa aja. Tapi emang kalau gak ada yang sakit, kita gak kerja, hehehe," timpal yang lain.
__ADS_1
Mereka pun berbincang sambil tertawa. Lama tidak berjuma membuat Intan lupa waktu karena begitu banyak yang mereka bahas. Hingga akhirnya Zein melintas.
"Siang, Prof!" sapa yang lain. Mereka pun sedikit menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Siang!" sahut Zein, ramah. Saat itu posisi Intan sedang memunggungi Zein.
Zein yang melintas di belakang Intan pun menyentuh dan mencolek tangan istrinya. Sebagai kode untuk mengingatkan Intan bahwa ia ditunggu oleh mertuanya.
Setelah itu ia menoleh ke arah Intan yang juga menoleh ke arahnya. Lalu Zein mengangguk sebagai kode mengajak Intan jalan.
Hati Intan berdebar-debar karena khawatir ada yang menyadarinya.
"Kalau begitu aku jalan dulu, ya," ucap Intan.
"Cie ... pas banget Prof lewat langsung pergi. Jangan-jangan ada janji sama Prof, ya?" goda suster.
Intan gelagapan saat diledek seperti itu. Ia khawatir mereka mencurigainya. "Heuh?"
"Hehehe, bercanda, Dok. Serius banget, deh. Kita juga taulah. Gak mungkin dokter mau sama Prof yang galak itu," ucap salah seorang suster.
"Hehehe." Intan hanya bisa tersenyum getir. Sebab faktanya Prof yang disebut galak itu adalah suaminya.
"Ya udah aku duluan, ya," ucap Intan lagi. Kali ini dia benar-benar pergi meninggalkan mereka.
"Heh, kalian gak ada yang lihat?" tanya salah seorang suster, antusias.
"Lihat apa?" tanya yang lain. Mereka tidak menyadari apa yang suster itu lihat.
"Itu tadi aku lihat tangan Prof tuh nyentuh tangannya dokter Intan. Terus kayak dicolek gitu, lho,” jelas suster itu. Ia berada di samping Intan. Sehingga dapat melihatnya dengan jelas.
"Ah masa? Kebetulan aja kali, tuh. Gak sengaja. Kan tau sendiri Prof itu jaga jarak sama orang lain. Mana mungkin beliau sengaja nyentuh?"
"Ya gak tau juga, sih. Tapi kayaknya aku lihat begitu tadi."
"Mungkin kamu salah lihat. Udah sarapan belum?" ledek dokter lain.
"Hehehe, iya kayaknya lapar, nih." Akhirnya suster itu pun tidak mau memaksa. Ia pikir memang dirinya yang salah lihat. Padahal apa yang ia lihat memang benar adanya.
Mereka pun tidak ada yang percaya bahwa Zein menyentuh tangan Intan.
Saat pintu lift yang Zein masuki hampir tertutup, Intan muncul. Zein pun segera menahannya agar istrinya itu bisa masuk.
"Terima kasih, Prof," ucap Intan sambil tersenyum meledek. Ia masuk ke lift itu dan berdiri di samping Zein.
Zein memicingkan matanya ke arah Intan sambil menekan tombol untuk menutup lift.
Saat pntu lift tertutup, Zein pun langsung merangkul pinggang Intan dan mencium pipinya. "Gak usah ngeledek! Nanti aku sun di depan orang banyak. Mau?" ancam Zein.
Ia berani melakukan hal itu karena di lift tersebut sedang tidak ada orang.
"Hehehe, jangan, dong! Bisa heboh nanti. Udah ah lepasin! Masa gadis berhijab dipeluk sama cowok," canda Intan sambil tersenyum simetris.
"Cih! Ngambil secara paksa aja bangga," cibir Intan.
"Emang kamu terpaksa? Kayaknya enggak, deh," sahut Zein sambil meledek Intan. Ia ingat betul kala itu awalnya Intan memang kaku. Namun kemudian ia malah menikmati permainan suaminya itu.
“Udah deh, Mas! Gak usah ngeledek, ah. Aku bete," ucap Intan, kesal. Padahal ia yang awalnya meledek Zein.
Ting!
Pintu lift terbuka. Zein pun tidak melanjutkan ledekannya. Ia keluar dari lift sambil menggandeng tangan Intan.
"Mas!" Intan protes.
"Kamu nih kebanyakan protes. Udah di sini sepi. Gak mungkin ada yang lihat," ucap Zein. Ia pun terus menggandeng Intan sampai ke ruangan papahnya. Zein yakin koridor menuju ruangan papahnya memang sepi. Sebab di sana hanya ada ruangan-ruangan petinggi rumah sakit.
Beberapa saat kemudian Zein dan Intan sudah tiba di ruangan Muh. "Assalamu alaikum, Pah," ucap Zein.
"Waalaikum salam," sahut Muh. Ia senang karena anaknya itu sudah datang.
"Lho, Mamah kok ada di sini?" Zein bingung saat melihat mamahnya.
"Iya, kebetulan tadi Mamah abis ada acara, sekalian aja mampir," jawab Rani. Kemudian ia menoleh ke arah Intan.
"Sayang, apa kabar kamu?" sapa Rani sambil memeluk Intan.
"Alhamdulillah baik, Mah," jawab Intan. Ia pun senang bisa bertemu dengan orang tuanya di sana.
Setelah itu mereka duduk berhadapan di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Ada apa Papah manggil kami ke sini?" tanya Zein.
"Papah mau kasih tau kalau Intan mulai besok sudah bisa magang di sini," ucap Muh.
Zein terkesiap. Ia memang berencana ingin mengajukan pemindahan Intan. Namun ternyata Muh sudah mengatur semuanya.
"Seius, Pah?" tanya Zein. Ia tak dapat menutupi kegembiraannya.
Ternyata selain mencari pengganti Intan, Muh juga sudah mengatur semuanya. Sehingga Zein tidak perlu repot untuk mengurusnya lagi.
"Kamu pikir Papah ini lelet seperti kamu? Gak mau jauh dari istri tapi diem aja," cibir Muh.
"Pah ... come on! Gak semudah itu, Pah," ucap Zein. Tentu tidak mudah, sebab awalnya ia yang mengirim Intan ke sana.
Ia tak terima dianggap seperti orang tidak mampu oleh papahnya sendiri.
"Jadi kapan kalian mau resepsi?" tembak Rani.
Intan dan Zein terkesiap. Mereka tidak menyangka mamahnya akan membahas hal itu.
__ADS_1
"Kok jadi tiba-tiba ke resepsi, sih?" tanya Zein.
"Ya iyalah. Kamu kan sebentar lagi mau mimpin rumah sakit ini. Masa pernikahan kalian tidak diumumkan? Toh sekarang pendidikan Intan sudah hampir selesai. Tinggal magang aja. Jadi untuk apa ditunda lagi? Apalagi nanti kalau Intan udah hamil. Kan repot," ucap Rani.
Intan dan Zein sling bertatapan. "Tapi Intan sudah hamil, Mah," lirih Zein.
"Ya udah kalau gitu resepsinya dipercepat," jawab Rani, cepat. Namun kemudian ia menyadari sesuatu.
"INTAN HAMIL?" tanyanya dengan ekspresi terkejut. Bahkan bola matanya hampir melompat.
Zein pun tersenyum. "Iya, Mah," jawabnya.
"Hah? Serius kamu hamil, Sayang?" Kini Rani bertanya pada Intan yang ada di sampingnya.
Intan pun mengangguk sambil tersenyum.
"Aaaa ... ya ampun, Mamah seneng banget. Alhamdulillah Ya Allah ... akhirnya menantuku hamil. Sebentar lagi aku akan menimang cucu. Terima kasih ya, Sayang," ucap Rani sambil memeluk Intan.
Ia sangat bahagia mendengar berita itu. Rasanya Rani seperti mendapat jackpot.
"Pah, kita mau punya cucu," ucap Rani antusias.
"Alhamdulillah, selamat ya Zein, Intan. Kalian memang luar biasa," puji Muh. Sejak tadi ia pun tak dapat mengendalikan senyumannya. Hatinya berdebar-debar membayangkan akan segera memiliki cucu.
Ia pun bangga karena Zein dan Intan yang dijodohkan itu bisa saling mencintai hanya dalam waktu dua bulan. Padahal awalnya mereka sempat khawatir anak dan menantunya itu tidak akan akur. Namun ternyata dugaan mereka salah.
Muh pun berdiri dan menghampiri Zein. Lalu Zein berdiri menyambut papahnya. "Papah bangga sama kamu," ucap Muh sambil memeluk anaknya itu.
"Terima kasih, Pah. Aku bahagia sekali. Ternyata seperti ini rasanya akan menjadi ayah," jawab Zein.
"Tentu. Nanti kamu akan merasakan kebanggan dan kebahagiaan yang lebih lagi saat anak kalian sudah lahir. Jadi, mulai sekarang kamu harus menjaga istrimu dengan baik! Jangan kamu forsir dia! Jangan mentang-mentang dia dokter magang, lalu kamu suruh lembur terus," sindir Muh.
Ia masih ingat betul bagaimana dulu Zein menyiksa Intan.
"Pah! Tolong jangan ingatkan dosa aku!" pinta Zein, kesal.
Ia merasa bersalah setiap kali mengingat hal itu.
Intan pun tersenyum dibuatnya. "Aku kalau ingat itu, gak akan nyangka bisa nikah sama Mas Zein," celetuk Intan.
Zein langsung menoleh ke arah Intan. "Sayang!" ucap Zein sambil menekankan suaranya.
"Ya iyalah. Jujur aja, kalau bukan karena dijodohhin, aku gak mau nikah sama profesor galak kayak Mas," cibir Intan. Entah mengapa ia berani mengatakan hal itu di depan mertuanya.
Rani dan Muh tidak marah. Mereka malah tertawa melihat anaknya kesal. Sebab mereka tahu bagaimana perlakuan Zein pada Intan kala itu.
"Yang penting sekarang kamu udah cinta sama Mas, kan?" tanya Zein sambil memicingkan matanya.
"Entahlah," ledek Intan.
Zein pun langsung duduk dan memeluk istrinya. "Berani kamu, ya!" Ia menggelitik Intan sampai istrinya itu kegelian.
"Hihihi geli, Mas," keluh Intan sambil belingsatan.
"Zein! Udah, istri kamu lagi hamil. Kasihan Intan," tegur Rani. Ia tidak ingin menantunya kenapa-kenapa.
"Eh, Mamah baru sadar, deh. Ya ampun ... kamu cantik banget pakai hijab kayak gini, Sayang. Tadi Mamah terlalu antusias lihat kamu datang. Sampai lupa kalau penampilan kamu berubah," ucap Rani.
"Iya ya, Mah. Papah juga gak sadar, lho," sahut Muh.
Zein tersenyum bangga. Ia senang karena orang tuanya itu menyukai Intan yang mengenakan hijab.
"InsyaaAllah mulai sekarang aku akan berhijab, Mah," jawab Intan.
"Alhamdulillah ... semoga istiqomah ya, Sayang," sahut Rani. Ia senang karena menantunya itu mau berhijab.
"Aamiin ...."
"Kamu udah kasih tau ibu kalau kamu hamil?" tanya Rani.
"Belum, Mah. Rencananya sih pulang dari sini mau ke rumah Ibu. Lagian kami baru tau kalau aku hamil itu tadi. Jadi belum sempat bilang ke siapa-siapa," jawab Intan.
"Oalah ... jadi kami orang pertama yang tahu kalau Intan hamil?" tanya Rani.
Intan menganggul sambil tersenyum.
"Duuh, Mamah bangga banget. Deh. Semoga kamu sehat selalu ya, Sayang. Jadi kapan kamu mau periksa kandungan?" tanya Rani.
Intan pun terdiam sejenak. "Heum ... mungkin setelah pernikahan kami diumumkan ya, Mah. Aku butuh waktu, setidaknya sampai minggu depan," jawab Intan.
"Kenapa begitu?" tanya Rani.
Zein pun menjelaskan alasan Intan.
"Oooh, oke Mamah paham kalai seperti itu. Memang tidak nyaman jika ada orang lain yang dekat dengan kita hanya karena memandang kita itu siapa. Bagus kalau memang kamu mau cari teman yang tulus. Tapi saran Mamah jangan lama-lama ya, Sayang," pinta Rani.
"Iya, Mah," jawab Intan.
"Terus gimana, resepsinya jadi gak? Kamu sanggup gak buat adain resepsi, Sayang?" tanya Rani.
"Hem ... insyaaAllah sanggup, Mah," jawab Intan.
"Tapi kalau nanti kamu mabok gimana, ya? Pasti kan pusing dan mual. Nanti kamu malah tersiksa," ucap Rani. Ia mengkhawatirkan kondisi anaknya.
Intan pun terkekeh.
"Lho, kamu kok malah ketawa?" Rani dan Muh heran.
"Masalahnya yang kena morning sickness itu bukan aku, Mah. Tapi Mas Zein, hihihi," jawab Intan.
__ADS_1