Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
18. Tertatih


__ADS_3

Diusir seperti itu di hadapan orang banyak, antara malu dan kesal Intan bingung harus melakukan apa. Sehingga ia tercenung karena terlalu shock.


Namun, mendengar Zein membentak Intan seperti itu, salah seorang dokter residen menghampiri Intan. Lalu menariknya perlahan.


"Lebih baik kamu keluar sekarang! Daripada nanti Prof semakin murka," ucap dokter tersebut. Ia tidak ingin kegiatan operasi mereka gagal hanya karena Zein marah..


"Tapi, Dok. Salah aku apa?" tanya Intan. Ia berusha memertahankan harga dirinya.


Intan tidak merasa melakukan kesalahan. Sehingga ia tidak terima diusir begitu saja oleh Zein.


"Kamu enggak salah, tapi mungkin Prof sedang punya masalah lain. Jadi lebih baik kamu yang mengalah. Kamu kan tahu sendiri Prof seperti apa," jelas dokter residen tersebut saat mengantar Intan keluar dari ruangan operasi.


Ia merupakan salah satu dokter yang baik pada Intan. Sehingga bisa menenangkan gadis itu.


"Ya udah, terima kasih ya, Dok," sahut Intan, lemas. Akhirnya ia pun melenggang pergi.


Dengan kesal, Intan melepaskan sarung tangan karetnya, lalu melempar sarung tangan tersebut ke tempat sampah. Tak lupa ia pun bergegas mengganti pakaian operasi, lalu keluar dari ruangan itu menuju ke rooftop.


"Dasar Profesor sialan! Apa sih maunya dia? Dia minta aku nikah buru-buru bahkan minggu depan dia mau ngelamar aku. Tapi kenapa bisa-bisanya dia bentak aku di depan umum? Emang dia pikir aku enggak malu?" gumam Intan, menggerutu. Kali ini ia benar-benar emosi.


Intan merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Zein. Padahal seharusnya Zein yang sudah akan menikahinya itu bisa lebih menghargai Intan. Apalagi di depan umum.


"Oke. Aku tahu dia itu konsulen aku. Dia memang pintar dan berbakat. Tapi bukan berarti dia bisa merendahkanku seperti itu, kan?" ucap Intan dengan napas yang menggebu.


Saat itu Intan marah-marah seolah ia benar-benar berani melawan Zein. Padahal jika berhadapan dengan Zein pun nyalinya langsung ciut.


"Aaarggghhh! Dasar Profesor Berengsek!" teriak Intan saat sudah berada di tepi rooftop. Dadanya sampai naik turun karena napasnya tersenggal.


"Gila kali tu orang? Ngapain coba tadi pagi dia nyuruh aku buru-buru ke ruangan operasi? Terus tiba-tiba aku diusir kayak gitu. Ya ampunnnnnn ... rasanya aku emosi banget. Baru kali ini aku emosi sampai ke tulang," gumam Intan, kesal.


Saking kesalnya intan sampai menendang dinding pembatas rooftop tersebut.


Bug!


"Aaaww!" keluh Intan. Ia kesakitan setelah menendang dinding tersebut.


Akhirnya ia pun berjongkok sambil menangis karena sudah terlalu kesal pada Zein.


"Parahnya lagi cowok brengsek itu bakal jadi suami aku. Aku enggak rela nikah sama dia, huhuhu." Tangisan Intan semakin menjadi saat ia mengingat bahwa Zein adalah calon suaminya. Ia seolah kembali masuk ke dalam mimpi buruk.


Siang itu Intan puas menangis, meluapkan emosinya di rooftop. Sampai tidak terasa ia sudah setengah jam menangis di sana.


"Kirain anak kecil aja yang bisa nangis karena takut dokter. Ternyata dokter juga bisa nangis," ucap seorang pria.


Mendengar suara pria, Intan menoleh ke arah sumber suara. 'Dia ngapain di sini, sih?' batinnya. Kemudian ia berusaha menghentikan tangisan dan menghapus air matanya. Saat ini ia sedang tidak ingin diganggu. Sehingga Intan kesal saat ada yang mengganggunya.


"Kalau mau nangis mah nangis aja! Gak usah malu. Aku cuma bercanda, kok," ucap pria itu lagi.


Intan beranjak dan hendak meninggalkan tempat itu. "Annoying!" ucap Intan. Lalu ia pun pergi.

__ADS_1


"Yakin mau pergi? Aku ada coklat, nih. Katanya sih cokelat bisa nenangin hati yang lagi galau," ucap pria itu.


Intan menoleh ke arah pria tersebut dan ia kenal betul siapa dia. "Buat kamu aja. Kayaknya kamu lebih butuh, tuh!" sahutnya, kemudian ia meninggalkan tempat itu.


Pria itu pun tersenyum. "Dia emang lain dari yang lain," gumamnya. Dia adalah Bian. Ia ke rumah sakit untuk mengambil obat ayahnya. Tadi Bian melihat Intan sedang kesal dan menuju rooftop. Sehingga ia sengaja membeli cokelat dan menyusulnya.


“Yakin gak butuh? Lumayan, lho. Anggap aja cokelat ini masalah kamu. Jadi kamu bisa gigit dan kunyah sampai dia habis,” ucap Bian dengan suara cukup tinggi.


Intan menghentikan langkahnya. Kemudian ia langsung berbalik dan merebut cokelat yang ada di tangan Bian. “Thanks!” ucapnya sambil membuka kemasan cokelat tersebut.


Bian pun tersenyum. Meski Intan ketus seperti itu, ia tetap senang melihatnya.


“Pelan-pelan makannya!” ledek Bian saat melihat Intan terburu-buru.


“Kamu kenapa sih selalu muncul di sekitar aku?” tanya Intan. Ia bisa ketus pada orang yang tidak ia suka. Kecuali Zein.


“Entahlah. Jodoh mungkin,” sahut Bian, santai.


Intan yang sedang kesal pun langsung tersenyum. “Cih! Ngarang,” ucapnya, sebal.


“Lho, siapa tahu, kan? Namanya juga masih sama-sama single.


“Siapa bilang single? Aku udah punya suami, kok,” sahut Intan, yakin.


Bian terkekeh. “Duh, kalau mau bohong jangan sama aku, deh. Kamu gak lihat seragamku? Hanya untuk menganalisa atau mengatur strategi, bukan hal sulit bagiku,” ucap Bian, bangga.


Bukan bermaksud pamer dengan pekerjaannya. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak mudah dibohongi. Bian tahu betul Intan masih single. Sebab, ia pernah menanyakan hal itu pada salah seorang perawat yang mengenal Intan.


“Kamu kenapa jutek banget, sih?” tanya Bian.


“Oya? Perasaan biasa aja, tuh,” sahut Intan, santai.


“Masa? Coba senyum!” pinta Bian.


Intan memicingkan matanya ke arah Bian. “Ternyata kamu bukan cuma pinter menganalisa, ya? Tapi pinter gombal juga!” ucap Intan. Namun akhirnya ia tersenyum.


“Hehehe, nah gitu dong. Kalau senyum kan jauh lebih cantik. Jangan marah-marah terus, nanti cepet tua, lho,” ledek Bian.


“Biarin! Aku tua juga bukan urusan kamu,” sahut Intan. Kemudian ia memakan cokelatnya lagi.


“Ya jelas urusanku, dong. Nanti kan kita akan menua bersama. Jadi kamu jangan duluin aku tuanya,” canda Bian.


“Cih! Garing, deh. Salah orang kamu kalau mau gombal. Aku gak mempan digombalin,” sahut Intan.


“Gak masalah, yang panting aku udah berhasil buat kamu tersenyum,” jawab Bian.


Akhirnya mereka pun berbincang santai sambil tertawa.


Intan tidak sadar, dari kejauhan ada yang memperhatikannya dengan hati terbakar. Sebenarnya setelah membentak Intan, Zein merasa bersalah. Ia bahkan buru-buru menyelesaikan operasinya untuk minta maaf pada Intan.

__ADS_1


Beruntung ia hanya melakukan operasi kecil yang bisa diselesaikan dalam waktu 30 menit. Sehingga Zein bergegas membeli iced pure cocoa kesukaan Intan dan mencari gadis itu.


Namun Zein kecewa kala menemukan Intan tengah berbincang sambil tertawa dengan Bian. Ia merasa dikhianati dan sangat ingin menghajar pria itu.


“Untuk apa juga aku harus merasa bersalah?” gumam Zein sambil mengepalkan tangannya. Kemudian ia melempar es tersebut ke sembarang arah hingga tumpah, karena terlalu kesal. Setelah itu Zein langsung kembali ke ruangannya. Ia tidak sanggup melihat Intan tersenyum bersama pria lain.


Puas berbincang, Intan pun pamit pada Bian. Setelah itu, Intan bergegas menuju toilet untuk membasuh wajahnya. Ia tak ingin ada orang lain melihat dirinya dalam kondisi sembab. Sebab, ia akan sangat malu jika mereka tahu bahwa dirinya baru saja selesai menangis.


Huuh!


Intan menghela napas saat selesai membasuh wajahnya.


"Gak sembab lagi, kan?" gumamnya sambil menatap wajahnya itu di cermin.


"Oke, mari kita lupakan sejenak Profesor gila itu. Sebagai dokter yang lebih waras, aku harus ngalah. Dan sekarang aku pun harus standby supaya si gila itu gak marahin aku lagi," gumam Intan. Setelah itu ia pun meninggalkan toilet tersebut.


Saat hendak meninggalkan toilet, Intan baru merasakan kakinya sakit. "Aduh!" keluhnya.


Ia lupa bahwa tadi dirinya menendang dinding dengan sangat kencang. "Ada-ada aja, sih!" Ia kesal pada dirinya sendiri. Namun Intan tetap melanjutkan jalannya. Dan hendak menuju ke ruang poli untuk standby di sana.


"Permisi ...," ucap Intan saat memasuki ruangan praktek Zein. Ia memang sudah diizinkan masuk ke ruangan itu untuk mengerjakan yang bisa ia kerjakan jika Zein sedang tidak ada.


Sambil menunggu Zein, Intan mempelajari buku status milik pasien yang sudah mengantree di luar agar ia bisa menganalisa penyakit mereka. Intan tidak tahu Zein masih menenangkan dirinya di ruangan pribadinya. Ia pikir Zein masih melakukan operasi.


Beberapa menit kemudian, Zein datang ke ruangan tersebut. Intan pun langsung berdiri.


"Siang, Prof," sapanya.


"Siang," sahut Zein, ketus. Sikapnya semakin dingin. Saat ini ia sedang marah pada Intan karena merasa dikhianati.


Intan yang duduk di salah satu kursi pun mendekat ke arah Zein. Kakinya yang sakit itu membuat jalan Intan sedikit tertatih. Hingga mengalihkan perhatian Zein.


"Kaki kamu kenapa?" tanya Zein, serius. Ia sangat yakin tadi Intan baik-baik saja. Sehingga Zein heran mengapa Intan tiba-tiba pincang seperti itu.


"Gak apa-apa, Prof," sahut Intan. Ia berusaha berdiri tegak agar Zein tak curiga.


"Tolong tutup pintu dan tunda poli!" pinta Zein pada suster. Lalu ia beranjak dan mendekat ke arah Intan.


Deg!


Intan menelan saliva. Ia panik karena khawatir Zein akan mencecarnya. Ia tahu betul calon suaminya itu selalu bertindak di luar dugaan.


"Duduk!" ucap Zein, ketus. Saat itu pintu sudah ditutup oleh suster dari luar.


"Mau apa, Prof?" tanya Intan, gugup.


"Apa kamu tuli? Saya bilang duduk!" pinta Zein lagi. Ia kesal karena Intan ngeyel. Apalagi ia masih ingat bagaimana tadi Intan tersenyum pada Bian.


"Iya, Prof." Akhirnya Intan pun duduk dan menyembunyikan kakinya di kolong meja.

__ADS_1


Namun, feeling Intan benar. Zein melakukan hal yang tak terduga. Ia tiba-tiba berjongkok di samping Intan dan berkata. "Mana kaki kamu? Saya mau lihat!" pinta Zein.


__ADS_2