Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
23. Hukuman Zein


__ADS_3

"Sore, Prof," sapa Intan seperti biasa saat memasuki mobil Zein. Kemudian ia langsung mengenakan seatbelt karena tidak ingin ada drama dipasangkan seatbelt oleh Zein lagi.


"Sore," sahut Zein. Kemudian ia melajukan kendaraannya.


Saat sedang berada di jalan, mereka hanya terdiam. Zein masih kesal karena tadi Intan bersikap dingin padanya dan malah akrab dengan Bian. Sementara kekesalan Intan terhadap Zein memang sudah menggunung.


"Ini hari terakhir kamu kerja. Saya harap mulai besok kamu bisa istirahat di rumah. Jangan sampai ada drama sakit di hari pernikahan nanti," celetuk Zein. Ia tidak tahan jika hanya berdiam seperti itu.


Intan ternganga. "Drama?" tanyanya sambil mengerutkan kening.


"Apalah itu, yang pasti saya ini sibuk. Jika sampai harus reschedule pernikahan hanya karena kamu sakit, tentu akan sangat merepotkan," jawab Zein.


Intan menghela napas. Ia naik darah setelah mendengar ucapan Zein barusan.


Sebenarnya Zein berkata seperti itu karena ia tidak ingin pernikahannya mundur lagi. Namun karena gengsinya terlalu besar untuk mengakui hal itu, akhirnya Zein malah mengucapkan kalimat yang ternyata menyakiti hati Intan lagi.


"Prof tenang saja! Saya cukup profesional dan tidak mungkin berakting untuk masalah seperti itu," jawab Intan.


Zein mengerutkan keningnya. Ia bingung mengapa Intan berkata 'profesional' padahal yang akan mereka lakukan itu bukanlah pekerjaan.


"Maksud kamu apa?" tanya Zein.


"Tidak ada maksud apa-apa. Kan Prof yang bilang jangan sampai ada drama. Ya saya jawab kalau saya gak akan akting," sahut Intan, kesal.


"Bukan itu, tadi kamu bilang 'profesional', memangnya kamu pikir pernikahan itu apa?" tanya Zein lagi. Ia pun kesal pada Intan.


"Bukankah pertanyaan itu seharusnya Prof tanyakan ke diri Anda sendiri?" skak Intan.


Zein terkesiap. "Sepertinya kamu semakin berani menjawab ucapan saya, ya?" tanyanya pada Intan.


"Saya hanya berusaha menjawab sesuai fakta. Mohon maaf jika Prof tidak berkenan," sahut Intan.

__ADS_1


'Kamu akan menyesal karena telah melawan saya seperti itu,' batin Zein, sambil mencengkeram stir mobilnya.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di depan rumah Intan.


"Ini nilai kamu," ucap Zein sambil memberikan sebuah amplop pada Intan.


Namun, saat Intan hendak mengambil amplop itu, Zein malah memundurkannya hingga tubuh Intan maju dan berusaha meraihnya secara tidak sadar.


Deg!


Intan terkejut saat ternyata wajah mereka sudah berdekatan.


"Kamu tahu hukuman apa yang pantas diberikan untuk calon istri yang sangat berani menentang calon suaminya?" tanya Zein sambil menatap Intan.


Sontak saja Intan hendak mundur. Namun Zein yang sudah terlanjur kesal itu langsung menarik tengkuknya dan mencumbu Intan hingga gadis itu terbelalak.


Awalnya Intan berontak. Ia mendorong Zein dan memukuli bahunya. Namun tenaganya kalah kuat dan akhirnya ia memejamkan matanya.


Debaran jantung mereka bersahutan. Apalagi ketika Zein memeluk dan ******* bibir Intan dengan begitu lembut, itu sama sekali tidak terkesan seperti hukuman.


"Lain kali tolong lebih sopan pada saya!" ucap Zein sambil mengusap bibir Intan yang basah akibat ulahnya itu. Lalu ia memberikan amplop yang ada di tangannya tadi.


Intan sempat membeku untuk beberapa saat. Sebab ini adalah ciuman pertamanya. Namun setelah sadar, ia bergegas pamit dan turun dari mobil Zein.


"Terima kasih, Prof," ucapnya.


Sedetik kemudian ia sadar ucapannya itu bisa disalah artikan Zein. 'Hah? Kenapa aku bilang terima kasih setelah dia nyium aku? Nanti kalau dia pikir aku kesenengan gimana?' batin Intan.


Ia sudah sangat malu. Lalu ia pun bergegas membuka pintu mobil itu dan berlari masuk ke rumahnya.


Zein menyeringai. Entah mengapa ia sangat bahagia setelah menghukum Intan barusan. "Sok-sokan marah, tapi nikmatin juga," gumam Zein sambil mengulum senyuman. Ia pun meninggalkan rumah Intan dengan bahagia.

__ADS_1


Malam hari, mereka sama-sama tidak bisa tidur. Mereka teringat akan kejadian tadi sore di mobil.


"Kenapa si berengsek itu berani nyium aku? Bukankah dia benci sama aku? Apa semua laki-laki bisa melakukan hal seperti itu dengan mudah meski bukan dengan orang yang dia cintai?" gumam Intan sambil memeluk gulingnya.


"Bodoh banget! Harusnya kan aku marah, tapi kenapa aku malah pasrah gitu aja, sih? Ahh, Profesor sialan!" maki Intan. Sebenarnya ia sedang kesal pada dirinya sendiri karena tidak mampu menolak Zein.


Apalagi saat ini ia malah berdebar kala mengingat kejadian tadi. Masih terbayang betapa lembutnya cumbuan pria yang mulutnya seperti mercon itu. Ia pun jadi sulit tidur karena terus terbayang akan hal tersebut.


Sementara itu, Zein sedang berbaring di tempat tidur sambil senyum-senyum. "Kalau ngomong, mulutnya pedes banget. Tapi ternyata bibirnya manis juga," gumam Zein. Padahal mulut dia jauh lebih pedas dari Intan.


Tiba-tiba Zein menelan saliva sambil menatap langit-langit, membayangkan apa yang akan mereka lakukan di malam pertama nanti.


"Bagaimana pun hubungan kami, jika sudah sah, aku berhak atas dirinya. Jadi dia tidak mungkin menolak jika aku ingin mengambil hakku, bukan?" gumam Zein. Lalu ia mengambil guling dan mengapitnya dengan erat karena tubuhnya sudah mulai menegang.


Zein membayangkan bahwa guling itu adalah Intan. Ia memeluknya, bahkan secara tidak sadar Zein mengendus-endus guling tersebut.


"Argh! Kenapa jadi terasa lama sekali," keluh Zein. Ia sudah tidak sabar ingin segera menikah. Apalagi mulai besok Intan sudah tidak datang ke rumah sakit lagi. Belum apa-apa, Zein sudah merindukannya.


"Huuh! Sabar, Zein. Setelah ini kalian bisa bertemu setiap hari," gumam Zein.


Namun kemudian ia langsung terduduk. "Wait! Kenapa aku seperti ini? Memangnya siapa dia sampai aku tidak sabar? Pasti ada yang tidak beres. Ini pasti ... pasti ... ah, sudahlah!" Zein bingung dengan sikapnya sendiri.


Setelah itu ia kembali merebahkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata.


Keesokan harinya ....


Saat Zein sedang berjalan di koridor rumah sakit, ia mendengar suara Intan dan langsung menghentikan langkahnya.


"Sepertinya aku familiar dengan suara itu," gumam Zein. Lalu ia mundur untuk memastikan apakah pendengarannya itu tidak salah.


Ternyata benar. Intan memang ada di sana, sedang asik berbincang dengan perawat dan dokter lain.

__ADS_1


'Lho, sedang apa dia di sini?' batin Zein. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyumannya. Zein senang bisa melihat Intan di sana.


"Apa dia merindukanku sampai datang ke rumah sakit? Padahal sudah tidak bertugas," gumam Zein. Ia sangat ge'er.


__ADS_2