
Rasanya Zein ingin melompat dari helikopter. Namun sayang, itu sangatlah tidak mungkin karena helikopter yang ia tumpangi terbang semakin tinggi.
"Sial! Kenapa dia bisa ada di sana. Apa dia tahu bahwa Intan dinas di tempat itu?" gumam Zein sambil menatap Bian yang semakin lama semakin menghilang. Ia selalu suudzon pada pria itu. Sebab sejak awal Bian memang selalu mendekati Intan.
Hatinya terasa panas membayangkan bagaimana Bian akan mendekati Intan. Apalagi saat ini ia yakin bahwa Bian belum tahu Intan sudah menjadi istrinya.
"Untung aku sudah memasang kalung itu. Kepala desa di sana pun sudah mengetahui bahwa Intan adalah istriku. Semoga dia tidak berani mengganggunya," gumam Zein.
Ia berusaha menenangkan hatinya meski tetap tidak bisa tenang.
Sementara itu Bian dengan santainya menuju ke markas. Ia belum tahu Intan ada di sana. Seandainya tahu, Bian pasti akan sangat bahagia. Sebab kesempatannya untuk mendekati Intan semakin besar.
Beberapa menit kemudian Bian sudah tiba di markas, ia pun mengisi buku laporan dan menuju ke barak.
"Wah, selamat malam, Dan!" sapa anak buah Bian yang berpapasan dengannya di jalan, sambil memberi hormat. Ia bisa santai karena Bian termasuk komandan yang asik.
"Malam," sahut Bian. Mereka pun berjabatan tangan.
"Akhirnya komandan kita yang satu ini kembali. Bagaimana kondisi ayahnya?" tanya pria itu.
"Alhamdulillah sudah membaik. Giamana, selama saya tidak di sini? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Bian.
"Aman terkendali, Dan. Tapi ada satu yang perlu jadi perhatian," ucap anak buah Bian.
"Apa?" tanya Bian. Mereka berbincang sambil berjalan menuju ke barak.
"Ada dokter baru yang cantik. Kelihatannya masih muda dan single," ucap pria itu sambil tersenyum malu.
"Walah, dasar kamu ini cepet banget kalau ada yang bening-bening," ucap Bian sambil menepuk bahu anak buahnya.
Ternyata selama ini mereka memang sengaja selalu lari pagi melewati rumah dinas dokter. Sebab sering ada dokter magang yang cantik.
Namun, selama ini Bian seolah tidak tertarik meski sudah banyak dokter yang silih berganti. Jika yang lain selalu menoleh ke rumah dokter itu, Bian hanya fokus menatap ke depan.
Sebab ia memang bukan pria yang genit. Kecuali bertemu dengan wanita yang ia sukai seperti Intan.
Selama ini pun cukup banyak wanita yang berusaha mendekatinya. Tidak seperti Intan yang selalu cuek padanya. Hal itulah yang justru membuat Bian pensaran.
"Tapi yang satu ini beda, Dan. Saya yakin kalau Komandan melihatnya, pasti tertarik. Ini dokternya cantik banget," ucap anak buahnya itu.
"Terima kasih, tapi saya sudah ada incaran. Jadi kalau mau, buat kamu aja!" ucap Bian sambil menepuk bahu anak buahnya. Kemudian ia masuk ke kamarnya yang ada di dekat barak.
Seandainya ia tahu bahwa dokter itu adalah Intan, sudah pasti Bian akan menyesal telah mengatakan hal itu pada anak buahnya.
"Jadi buat saya aja ya, Dan?" teriak anak buahnya.
"Ambil!" sahut Bian tanpa menoleh.
Beberapa saat kemudian, Zein sudah mendarat di bandara. Sebelum naik pesawat, Zein menghubungi istrinya lebih dulu. Namun Intan yang sudah kelelahan menghadapi suaminya selama beberapa hari ini pun sudah terlelap.
"Kenapa teleponnya gak dijawab, sih?" gumam Zein. Ia kesal karena Intan tak menjawab teleponnya. Hal itu pun membuat Zein berpikir negatif.
"Apa pria itu langsung menemuinya di sana?" gumam Zein. Hatinya sangat gelisah. Rasa cintanya yang terlalu besar membuat Zein ketakutan sehingga memikirkan yang tidak-tidak.
Sebenarnya ia ingin kembali ke tempat Intan. Namun saat ini sudah tidak ada penerbangan ke sana karena sudah malam.
Sementara itu ia tidak mungkin melakukan penerbangan besok. Sebab besok ia ada operasi yang tidak bisa ditunda lagi.
Akhirnya Zein pun terpaksa naik ke pesawat yang akan membawanya menuju ke Jakarta, dengan berat hati.
"Semoga kamu tidak mengecewakanku, Intan," gumam Zein saat pesawat yang ia tumpangi sudah mulai mengudara.
Keesokan harinya ....
Ini adalah hari pertama Intan bertugas di klinik setempat. Sehingga ia sedikit nervous dan cukup antusias.
Ia bahkan tidak sempat mengecek ponsel yang Zein berikan. Ponsel baru itu membuat Intan lupa karena belum terbiasa. Sehingga Intan meninggalkannya tanpa sengaja, di rumah dinasnya.
"Semoga lancar. Bismillah," gumam Intan sambil melangkahkan kaki keluar dari pintu rumahnya.
Kemudian ia mengunci pintu dan meninggalkan rumahnya.
Saat Intan baru maju beberapa langkah, rombongan para tentara pun kembali melintas dan menyanyikan lagu yang sama seperti kemarin.
Mendengar anak buahnya genit, Bian tidak tergoda sedikit pun. Namun entah mengapa dirinya yang tidak pernah menoleh jika melewati rumah itu pun tiba-tiba menoleh sekilas. Seolah ada bayangan yang ia kenali.
Bian menoleh sekilas. Namun Intan dapat mengenali wajahnya. 'Eh, itu kan ...?' batin Intan. Akan tetapi ia tidak ingin memanggilnya.
Sementara itu, Bian yang sudah memalingkan wajahnya kembali pun baru sadar siapa yang baru saja ia lihat.
'Hah? Apa aku gak salah lihat?' batin Bian. Ia menoleh lagi ke belakang dan ternyata benar, Intanlah yang ia lihat barusan.
Senyuman Bian pun mengembang sempurna. Hatinya sangat bahagia saat mengetahui bahwa Intan bertugas di sana.
'Bodoh sekali aku tidak langsung menyadarinya,' batin Bian.
Namun kemudian ia meminta anak buahnya melanjutkan lari paginya, sedangkan dirinya menghampiri Intan. Ia berlari kecil karena Intan sudah berjalan memunggunginya.
"Assalamu alaikum," ucap Bian.
Intan yang sedang berjalan menuju arah yang berlawanan pun menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Waalaikum salam," sahut Intan saat melihat Bian.
Satu sisi ia senang karena akhirnya ada orang yang ia kenal di tempat itu. Namun di sisi lain ia ingat pesan suaminya bahwa dirinya dilarang dekat dengan pria mana pun.
"Wah ... gak nyangka bisa ketemu dokter cantik di sini," ucap Bian.
Saat itu Intan mengenakan sweater turtle neck. Sehingga Bian tidak melihat kalung dengan nama Zein tersebut.
"Dinas di sini juga?" tanya Intan to the point.
"Iya, aku emang udah lama tugas di sini. Kemarin-kemarin lagi ada kerjaan di markas pusat. Jadi stay di Jakarta selama sebulan lebih," jawab Bian.
"Ooh, ya udah, kalau begitu aku duluan, ya. Takut telat, nih," sahut Intan.
"Mau dianter, gak?" tanya Bian. Padahal saat ini ia sedang berkeringat dan hanya mengenakan pakaian seadanya.
"Gak usah. Kan kamu juga pasti sibuk. Assalamu alaikum," ucap Intan. Ia tidak mungkin tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki suami. Rasanya sangat tidak lucu karena tak ditanya.
"Waalaikum salam," sahut Bian. Sebenarnya ia kecewa karena Intan masih saja jaga jarak. Apalagi saat ini ia terlihat semakin menghindar.
'Masih aja jual mahal. Gimana aku gak makin kesemsem,' batin Bian.
Sebenarnya saat itu jika tidak ada perjanjian pekerjaan, Bian bisa saja langsung melamar Intan. Namun posisinya yang harus bertugas di perbatasan selama beberapa tahun, membuat Bian tak berani melamar Intan.
Sebab dirinya tidak akan sanggup jika harus berhubungan jarak jauh karena Ia pikir Intan bertugas di Jakarta. Seandainya ia tahu Intan akan dikirim ke sana. Tentu Bian tidak akan ragu melamarnya saat ia berada di Jakarta kemarin.
'Tapi jodoh emang gak ke mana, ya,' batin Bian sambil tersenyum. Ia terlalu percaya diri.
Bian tidak sadar bahwa anak buahnya tidak pergi. Mereka semua bersembunyi di balik semak-semak.
"Haha, katanya buat aku aja. Ternyata kepincut juga," ucap anak buah Bian yang semalam.
"Gimana gak kepincut. Orang cantik begitu, sih."
"Aku juga mau kalau dikasih, hehe."
"Komandan datang!" ucap salah satu anggota mereka. Kemudian mereka semua pun heboh, langsung bubar dan berlari menjauhi tempat itu.
Sementara itu, di Jakarta sedang ada yang uring-uringan. Sebab sejak semalam ia tidak bisa menghubungi istrinya.
"Ke mana sih, dia? Kalau emang semalam ketiduran, harusnya pagi ini dia bisa terima telepon dari aku, dong! Kenapa malah menghilang begitu?" keluh Zein, kesal.
Akhirnya hari ini Zein uring-uringan. Para suster menjadi korban semprotannya. Hingga mereka pun bingung. Sebab akhir-akhir ini Zein sangat baik bahkan positive vibes.
Suasana ruang operasi yang biasanya santai pun menjadi tegang. Apalagi hari ini mereka melakukan operasi besar yang berjalan cukup lama. Sehingga terasa sangat melelahkan.
Saat selesai operasi, Zein langsung meninggalkan ruangan itu dan para tenaga medis yang lain pun sibuk membahasnya.
"Eh itu Prof abis kesambet apa, ya?" tanya salah satu dokter.
"Itu dia. Aku aja shock banget. Cuma salah dikit langsung dibentak. Ya ampun. Berasa operasi sambil ditodong pistol."
"Aku denger-denger sih Prof ini sebenernya udah nikah. Mungkin lagi berantem sama istrinya kali, ya?"
"Eh, serius udah nikah? Kok gak ngundang-ngundang?"
"Ya mana aku tau. Namanya juga denger-denger. Mungkin ada alasan tersendiri kali."
"Ya udah deh, yang penting sekarang udah selesai."
Mereka semua meninggalkan ruangan itu dengan kondisi lesu.
Biasanya mereka memutar musik sambil berbincang agar suasana operasi bisa lebih santai. Namun saat ini jangankan musik, mereka bahkan tidak berani mengeluarkan suara.
Sesampainya di ruangan pribadi, Zein kembali mengambil ponsel. Ia berharap ada panggilan tak terjawab atau pesan singkat dari istrinya.
Zein duduk dan mengecek ponselnya. Keningnya mengerut kala melihat sama sekali tidak ada panggilan atau pesan dari Intan.
"Apa di sana sangat sibuk sampai dia tidak bisa menghubungiku?" gumam Zein, kesal.
Dengan tangan gemetar, Zein pun berusaha menghubungi Intan kembali.
Namun hatinya semakin panas kala hanya terdengar nada panggilan tanpa ada yang menjawab.
"Apa feelingku benar? Dia sedang sibuk dengan Si Berengsek itu?" gumam Zein sambil menggeretakkan giginya.
"Argh!" Zein terlalu emosi sampai membanting pajangan yang ada di mejanya.
Prang!
Ia kesal karena saat ini Intan sangat jauh. Sehingga dirinya tidak bisa mengontrol secara langsung.
Zein yang sedang kesal pun meninggalkan ruangannya begitu saja. Ia ingin pergi ke roof top untuk mencari udara segar.
"Mau ke mana, Zein?" tanya Muh yang berpapasan dengannya saat Zein keluar dari ruangan.
"Mau cari angin, Pah. Baru selesai operasi. Kenapa?" Zein balik bertanya.
"Ooh, sebenarnya ada yang ingin Papah bicarakaan."
"Mengenai?" tanya Zein sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Satu sampai dua minggu ke depan, Papah harap kamu bisa fokus mempelajari tentang management rumah sakit!" pinta Muh.
"Lho, memang kenapa?" tanya Zein, heran.
"Papah sedang mempersiapkan alih jabatan. InsyaaAllah bulan depan kita serah terima dan kamu yang akan menjadi direktur rumah sakit ini," ucap Muh.
Zein tahu betul dengan begitu ia akan sangat sibuk karena banyak yang harus dipelajari. Apalagi Muh hanya memberinya waktu selama satu bulan.
"Pah, kenapa ini sangat mendadak? Papah kan tahu istriku sedang di luar pulau," keluh Zein.
"Justru karena itu. Kan enak kamu jadi bisa fokus ke kerjaan. Kalau ada istrimu di sini, pasti pikiranmu bercabang, kan? Belum lagi kalau istrimu sakit atau apa," jawab Muh.
"Lho, justru pikiranku bercabang karena dia gak ada di sini, Pah," keluh Zein.
Muh tersenyum melihat sikap anaknya. "Itu kan kemauan kamu sendiri, Zein. Makanya lain kali lebih bijak dalam mengambil keputusan. Apalagi yang bukan kapasitasmu. Untuk apa kamu ikut campur seperti itu? Kalau sudah begini, menyesal pun percuma," ucap Muh sambil menepuk bahu Zein.
"Tapi Pah, apa tidak bisa ditunda sampai akhir tahun ini? Sekarang aku sedang berusaha mencari pengganti Intan supaya dia bisa segera kembali ke sini. Kalau aku sibuk dengan urusan rumah sakit, bagaimana aku bisa segera menjemputnya?"
Zein tidak habis pikir mengapa Muh seolah senang jika dirinya jauh dari Intan.
"Justru saat ini profesionalisme kamu sedang dipertimbangkan. Jika kamu memang profesional, kamu pasti bisa menjalaninya. Namun, jika tidak, hem ... mungkin Papah terpaksa memberikan jabatan ini pada orang lain," ucap Muh.
Ia tahu betul anaknya itu sangat ingin menjadi pemimpin rumah sakit. Sehingga Muh berani menantang Zein seperti itu.
Zein tidak mau rumah sakit yang sudah susah payah dibangun oleh papahnya itu jatuh ke tangan orang yang tidak tepat. Sebab ia sulit mempercayai orang lain.
"Oke, kalau begitu silakan cari angin! Papah mau lanjut kerja," ucap Muh saat melihat anaknya tercenung. Ia pun langsung balik badan dan meninggalkan Zein.
Rasanya kepala Zein hampir meledak. Muh memberikan pilihan yang sulit. Keduanya sangat penting baginya.
"Argh!" Zein berteriak lagi. Ia benar-benar kesal.
Sementara itu, Intan yang sedang praktek di klinik tidak merasa ada yang salah. Ia melayani warga dengan ramah tanpa tahu suaminya sedang sibuk mengharapkan telepon darinya.
"Hai, cantik," sapa Intan saat mendapat pasien anak perempuan.
"Hai dokter Zein," sahut anak itu. Ia mengira nama Intan adalah Zein karena membaca tag nama yang ada di lehernya.
Intan pun tersenyum getir. 'Duh, gara-gara suami, nih. Dia jadi salah paham, kan? Malu banget, deh,' batin Intan. Rasanya ia ingin melepas kalung itu. Namun Intan masih mengingat pesan suaminya.
Sore hari, Intan pulang dari klinik dengan berjalan kaki.
Ia senang karena lokasi kliniknya tidak terlalu jauh dari rumah dinasnya. Hanya berjarak 300 meter. Intan anggap itu sebagai olah raga.
"Udara di sini enak banget, ya. Meskipun agak horor kalau malem," gumam Intan sambil menghirup udara sore yang sejuk itu.
"Kalau horor, mau aku temenin?" tanya Bian yang ternyata ada di samping Intan.
Intan hampir melompat karena terkejut. Melihat hal itu, Bian pun menangkapnya karena khawatir Intan jatuh.
"Astaghfirullah!" gumam Intan.
"Hati-hati! Aku kan bukan hantu," ucap Bian.
"Tapi kedatangan kamu yang mendadak itu seperti hantu. Aku jadi kaget," ucap Intan, kesal.
"Hehehe, ya maaf, deh. Abisnya kamu jalan sambil ngelamun, sih. Mikirin siapa? Jangan bilang mikirin aku," canda Bian.
"Ge'er!" ucap Intan, kesal. Ia pun melanjutkan jalannya dengan cepat. Intan tak ingin ada orang lain yang melihat mereka berdua dan salah paham.
"Tan, tunggu dong! Kamu kok buru-buru banget, sih?" keluh Bian. Ia pun mengejar langkah Intan.
"Kamu bisa gak, gak usah buntutin aku? Atau bila perlu kita pura-pura gak kenal aja. Kayaknya itu lebih baik, deh," sahut Intan.
Bian mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa, sih? Perasaan terakhir kali kita makan bareng di kantin rumah sakit itu kamu udah mau temenan sama aku. Kok sekarang jadi jutek lagi?" tanya Bian, heran.
"Karena sekarang aku udah nikah dan harus jaga perasaan suamiku," sahut Intan, tegas.
Awalnya Bian sempat shock. Namun kemudian ia malah tertawa.
"Hahaha, Intan ... Intan ... segitunya kamu gak mau aku deketin sampe ngaku udah nikah. Kamu pikir aku akan percaya begitu aja? Mana buktinya kalau kamu udah nikah? Terus cowok mana yang deket sama kamu? Setahuku selama ini kamu gak pernah deket sama cowok mana pun," ucap Bian sambil terkekeh.
Intan semakin kesal dibuatnya karena Bian tidak mempercayainya.
"Ini buktinya!" ucap Intan sambil menunjukkan cincinnya.
Bian tersenyum. "Yaelah, kalau kayak gitu doang mah, aku juga pake," sahut Bian sambil menunjukkan cincin yang ia kenakan.
Sebenarnya bisa saja Intan menunjukkan kalungnya yang bernama Zein itu. Namun ia malu. Khawatir Bian semakin meledeknya karena dirinya menggunakan kalung nama seperti balita.
"Terserah kalau kamu gak percaya!" ucap Intan, kesal.
"Oke, berarti terserah aku juga dong kalau aku tetep mau temenan sama kamu," sahut Bian.
"Whatever!" Intan pun masuk ke rumahnya.
Bian geleng-geleng kepala melihat sikap Intan. "Dasar dokter cantik. Susah banget deketinya, kayak belut. Licin," gumam Bian.
Sementara itu, Intan yang sudah ada di dalam rumah langsung melempar tasnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia merasa lelah karena sudah bekerja seharian.
__ADS_1
"Hem ... kenapa kayaknya ada yang aneh. Apa ya?" gumam Intan. Ia merasa seperti ada sesuatu yang harus ia lakukan.
"Astaghfirullah, telepon!" ucapnya, kaget. Ia baru ingat bahwa dirinya belum menghubungi Zein sejak semalam.