
"Iya sayang, aku salah. Aku minta maaf. Kita bicarakan baik-baik ya, hem?" pinta Zein.
"Aku butuh waktu buat sendiri," ucap Intan. Kemudian ia meninggalkan Zein menuju kamar.
Zein pun membuntutinya. Ia tidak tenang jika Intan masih marah padanya. "Sayang, jangan begitu, dong! Aku bisa jelaskan semuanya," ucap Zein.
Saat mereka sudah ada di kamar, Intan kembali berbalik ke arah Zein. "Sekarang Mas pilih. Aku atau kamu yang tidur di sini?" tanya Intan. Ia sedang tidak ingin satu kamar dengan Zein.
Tampang Zein memelas. "Sayang," ucapnya sambil mendekat pada Intan dan ingin memeluknya. Wajahnya pun ia dekatkan ke wajah Intan.
"Cukup! Gak semua masalah bisa kamu selesaikan dengan cara seperti itu. Kalau masalah sepele mungkin aku bisa kamu rayu. Tapi enggak untuk yang satu ini," ucap Intan, tegas.
Deg!
Zein langsung gusar. Ia pikir bisa merayu Intan dengan mudah. Namun ternyata salah.
"Oke, kalau kamu masih pingin di kamar ini. Biar aku yang keluar!" ancam Intan sambil melangkah.
"Jangan! Oke, aku yang keluar," sahut Zein sambil menahan istrinya.
Ia terpaksa mengalah karena tidak mungkin membiarkan Intan tidur di luar kamar mereka. Meski ada kamar tamu, tetapi Zein khawatir Intan akan kabur dari rumah itu.
Akhirnya ia pun meninggalkan kamar tersebut dengan berat hati.
Brug!
Intan membanting pintu karena terlalu kesal pada suaminya itu. Hingga membuat Zein terperanjat.
"Astaghfirullah, serem banget marahnya," gumam Zein sambil mengelus dada.
Tak lama kemudian, Intan kembali membuka pintu.
Ceklek!
Zein pun langsung menoleh. Ia senang karena Zein pikir Intan akan memintanya masuk kembali.
Namun dugaannya salah. Intan langsung melempar pakaian Zein serta handuk mandinya. Pakaian itu jatuh tepat di wajah Zein.
Meski marah, ternyata Intan masih memikirkan suaminya yang belum mandi itu. Bahkan ia menaruh sikat gigi, pasta gigi serta gelas kumur suaminya itu di lantai.
"Terima kasih, Sayang," ucap Zein sambil tersenyum.
Set!
Intan langsung memicingkan matanya. "Sama-sama!" ucapnya, ketus. Kemudian ia kembali menutup pintu.
"Ya ampun, lagi marah aja masih bisa gemesin kayak gini. Gimana gak makin cinta," gumam Zein sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Intan.
Zein pun memunguti pakaiannya, kemudian ia masuk ke kamar tamu dan mandi di sana.
Saat masuk ke kamar mandi, Zein mendadak mendapatkan ide. "Ah, iya. Aku coba deh. Semoga berhasil," gumam Zein. Ia akan melakukan berbagai cara agar membuat istrinya itu tidak marah lagi.
"Huweekk! Huweekk!"
Zein pura-pura muntah dengan suara cukup keras. Ia bahkan tidak menutup pintu kamar dan kamar mandinya.
Intan yang sedang dikamar pun mengerutkan keningnya. Meski samar, ia masih dapan mendengar suara suaminya itu. "Kenapa, sih?" gumam Intan.
"Huweeeekkk! Huweeekk!"
Sambil pura-pura muntan, Zein sambil menoleh ke arah pintu. Ia berharap istrinya segera datang. Sebab meski hanya pura-pura, berakting seperti itu cukup melelahkan.
'Kok lama banget, sih? Apa dia gak denger?' batin Zein. Ia gelisah karena Intan tak kunjung datang.
Saat mendengar suara pintu kamar mereka terbuka, Zein pun melanjutkan aktingnya. Ia pura-pura muntah sambil memeluk closet yang masih bersih karena jarang dipakai itu.
"Ck! Kenapa, sih?" gumam Intan sambil berjalan ke arah kamar yang ditempati Zein.
Meski kesal, ia tetap tidak tega jika suaminya sampai muntah seperti itu. Sebab ia ingat betul suaminya ini sempat mengalami sindrom.
"Kenapa?" tanya Intan, ketus. Kemudian ia mendekati Zein.
"Gak tau, mual banget pas masuk kamar mandi," jawab Zein sambil terengah-engah. Sebelumnya ia sudah membasahi bibirnya agar terlihat lebih natural.
"Kamu kan udah gak mabok lagi. Kok jadi muntah begini?" tanya Intan. Ia kesal karena Zein muntah di waktu yang tidak tepat.
"Entahlah. Mungkin karena stress," sahut Zein.
Intan langsung mengerungkan wajahnya sambil memicingkan matanya ke arah Zein.
"Kamu bohong, ya?" tanya Intan, kesal.
Zein memejamkan mata. "Kalau kamu gak percaya, gak masalah. Aku bisa sendiri," jawab Zein. Kemudian ia berusaha berdiri dan jalan sempoyongan karena sedang pura-pura pusing.
Intan pun mendengus kesal. "Ya udah, sini!" ucapnya. Kemudian ia menuntun Zein dengan mengalungkan sebelah tangannya di belakang leher Intan.
Sambil memalingkan wajah, Zein berusaha menahan senyumnya. Meski begitu ia senang karena Intan masih perhatian walaupun sedang marah.
"Terima kasih, Sayang," ucap Zein saat sudah tiba di tempat tidur.
"Mas masih mual sama bau sabun? Perasaan beberapa hari ini udah gak pernah mual, deh," tanya Intan.
"Iya, Mas juga gak tau. Tadi belum nyium aroma sabun malah. Tapi udah mual," sahut Zein.
"Terus mau mandi, gak?" tanya Intan.
__ADS_1
"Mau dikelonin dulu. Boleh, gak?" pinta Zein, manja.
"Kamu beneran mual gak, sih?" tanya Intan, kesal.
"Ya ampun. Beneran, Sayang. Kamu kan tau sendiri aku paling nyaman kalau bobok sambil meluk kamu," ucap Zein, memelas.
Meski kesal, tetapi akhirnya Intan menuruti permintaan suaminya itu. Kebetulan saat itu ia sudah berganti pakaian menggunakan daster. Sehingga cukup nyaman untuk digunakan rebahan.
Intan pun naik ke tempat tidur dan rebahan di samping suaminya.
Saat Intan sudah merebahkan tubuhnya, Zein langsung memeluk Intan. "Nyaman sekali," gumamnya.
Sebenarnya saat ini Zein sedang mencari momen yang tepat untuk membuka pembahasan. Ia tidak ingin masalah mereka berlarut-larut.
"Sayang," ucap Zein sambil menelusupkan wajahnya di dada Intan. Saat ini posisi tidur Intan lebih tinggi dari Zein.
"Hem?" sahut Intan sambil memijat kepala suaminya. Ia sudah biasa melakukan hal itu setiap Zein mual.
"Mas minta maaf, ya?" pinta Zein.
Mendengar hal itu, Intan pun langsung beringsut. "Kamu sengaja, ya?" tuduhnya.
Zein menahan Intan dengan memeluknya. Namun ia tetap memperhatikan bagian perut Intan agar tidak tertekan.
"Terserah kamu mau anggap apa. Yang pasti Mas cuma mau menjelaskan bahwa kamu hanya salah paham," ujar Zein.
Intan menghentikan gerakan tangannya. Kemudian ia memalingkan wajah. Malas membahashal itu dengan suaminya tersebut.
"Oke, aku memang salah. Alasan apa pun tidak dapat dibenarkan. Aku minta maaf," ucap Zein.
Intan mendengus kasar.
"Jujur, dulu aku kira kamu itu pemalas karena sering terlambat dan mengantuk saat sedang bekerja," ucap Zein.
Set!
Intan langsung memicingkan matanya ke arah Zein.
"Ya tapi kan itu aku gak tau alasannya. Setelah tahu alasannya, aku menyesal. Tapi saat itu kondisinya aku sudah terlanjur mengajukan penempatan kamu," ucap Zein, memelas.
"Jahat!" sahut Intan.
"Iya, aku memang jahat. Tapi aku ngirim kamu ke sana bukan cuma karena kesal sama kamu. Tapi ada alasan lain," ujar Zein.
Ia berusaha meyakinkan Intan agar tidak marah lagi. Intan pun menatap suaminya, seolah menantikan penjelasan itu.
"Jadi ... sebenarnya memang alasan utamaku ngirim kamu ke sana karena kesal. Tau sendiri kan kamu itu dulu sering terlambat. Bahkan saat kerja sering sekali mengantuk," ucap Zein.
"Mas lupa ya gimana dulu kamu ngasih kerjaan ke aku? Aku sering pulang dini hari karena ulah kamu lho. Bahkan pernah juga beberapa hari gak pulang," ujar Intan.
"Terus?" tanya Intan.
"Terus, aku pikir kamu ini anak manja. Makanya kerjanya malas-malasan. Jadi dengan mengirim kamu ke perbatasan, aku berharap kamu bisa jadi dokter yang bekerja keras dan memahami bagaimana arti kehidupan yang sesungguhnya," ucap Zein.
"Apa harus sampai seperti itu?" tanya Intan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Iya. Kalau belum mengalami betapa sulitnya hidup. Kamu tidak akan bisa menghargai waktu," ucap Zein.
"Masalahnya hidupku sudah sulit sejak aku keceil, Mas," ucap Intan.
"Iya kan aku udah bilang. Waktu itu aku belum tau kebenaran tentang kamu."
"Kalau begitu kamu sama aja sama dokter kepala! Sukanya semena-mena," ucap Intan, kesal.
"Lho, kamu kok gitu sih ngomongnya? Jangan samakan aku dengan dia. Apa yang aku lakukan itu semua demi kebaikan kamu meski mungkin caranya salah. Sementara dia, memang hanya ingin sok berkuasa. Beda, Sayang!"
Ia tidak terima disebut sama dengan dokter menyebalkan itu.
"Ooh, gitu, ya?" sahut Intan, sebal.
"Iya, Sayang. Sekali lagi aku minta maaf, ya? Lagi pula aku juga kan tanggung jawab. Gak biarin kamu terlantar di sana begitu aja," ucap Zein.
"Jadi semua yang kamu lakuin itu beneran cuma karena merasa bersalah?" tanya Intan sambil menekuk wajahnya.
"Ya enggak gitu juga, Sayang. Yang pasti aku cuma mau memberikan yang terbaik untuk istriku. Aku juga gak mau kamu kesusahan," sahut Zein.
"Cih! Kamu yang bikin aku susah, kok," cibir Intan, kesal.
Zein memeluk Intan. "Maaf," ucapnya.
"Tunggu, deh!" Intan berusaha melepaskan pelukan Zein.
"Apa?" tanya Zein.
"Bukannya kamu lagi mual?" tanya Intan sambil memperhatikan wajah Zein. Sebab sejak tadi suaminya itu terlihat baik-baik saja.
Deg!
Wajah Zein langsung terlihat salah tingkah. "Euh, iya. Pas deket kamu langsung gak mual," ucap Zein.
"kamu bohong, ya?" tuduh Intan. Ia tak mempercayai suaminya begitu saja.
"Bohong apa? Aku gak bohong, kok. Tadi emang mual beneran," jawab Zein.
"Ah, aku gak percaya. Kamu pasti sengaja bohongin aku supaya aku mau maafin kamu, kan?" tuduh Intan lagi.
__ADS_1
Intan yang tadi sedang rebahan pun langsung duduk.
"Beneran, Sayang. Ini kayaknya aku emang harus deket-deket kamu terus biar gak mual lagi. Buktinya sekarang aku gak mual." Zein masih berusaha meyakinkan istrinya.
"Kamu pikir aku ini bodoh. Udah, pokoknya aku sebel sama kamu!" Intan turun dari tempat tidur karena kesal telah dibohongi oleh suaminya.
Zien tersenyum karena ketahuan bohong. 'Ah, pake lupa lagi,' batinnya. Meski begitu ia senang karena Intan sudah tidak marah lagi padanya.
"Jangan jauh-jauh, Sayang! Nanti aku mual lagi," ucap Zein sambil menyusul Intan yang berjalan ke arah kamarnya.
Brug!
Intan langsung membanting pintu. Sebenarnya ia sudah memaafkan kesalahan Zein. Namun ia kesal karena telah dibohongi oleh suaminya itu.
"Dasar ngeselin. Bisa-bisanya dia bohongin aku kayak gitu. Awas kamu, ya! Gak akan aku kasih jatah seminggu!" ucap Intan sambil bersungut-sungut.
"Ya ampun, masih aja ngambek," gumam Zein sambil tersenyum. Ia merasa gemas karena tadi Intan bisa ia bohongi.
Akhirnya Zein pun benar-benar mandi dan bersiap untuk masak.
"Sayang, mau makan apa?" tanya Zein dari luar kamar. Ia sudah selesai mandi dan rapi.
"Gak lapar!" bentak Intan dari dalam.
"Oh, ya udah kalau kamu gak mau makan, aku juga gak mau makan," sahut Zein.
Meski kesal pada suaminya, tetapi Intan tidak tega jika sampai suaminya itu kelaparan.
'Iih, nyebelin banget, sih? Dia tau kelemahan aku, jadi sengaja ngancem aku kayak gitu. Dasar rese!' batin Intan.
"Ya udah capcay aja!" ucap Intan, ketus.
"Okeee!" sahut Zein sambil tersenyum lebar. Ia pun pergi ke dapur untuk memasak.
Meski harus memasak, Zein tetap senang. Baginya yang terpenting Intan mau makan. Intan sendiri sengaja tidak turun ke dapur karena masih kesal pada suaminya itu.
Biasnaya, jika tidak sedang merajuk, Intan yang masak untuk mereka. Zein pun membantunya jika tidak sedang sibuk. Sehingga mereka bisa masak berdua dengan mesra.
"Yah, demi menebus dosa. Masak sendiri selama sebulan juga gak masalah, deh. Tapi semoga dia marahnya gak lama. Kan bahaya kalau tidur sendirian terlalu lama," gumam Zein.
Zein memasaknya dengan penuh cinta. Ia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk istrinya.
Selesai memasak, Zein pun memanggil Intan yang masih belum keluar dari kamarnya.
Tuk, tuk, tuk!
"Sayang, makan yuk! Masakannya udah mateng, nih," ucap Zein.
'Duh, mau masuk kamar sendiri aja gak bisa. Nasib-nasib, nanggung dosa,' batin Zein. Ia menyesal atas perbuatannya yang telah sembarangan mengirim Intan ke perbatasan itu.
Tak lama kemudian pintu kamar Intan terbuka.
Ceklek!
Intan pun keluar tanpa menghiraukan suaminya. Ia sengaja ingin menghukum Zein lebih dulu. Sebab tindakan Zein yang satu itu sudah keterlaluan.
Zein pun membuntuti Intan. Tiba di meja makan, Zein menarikkan kursi untuk istrinya.
"Mau pakai nasi, gak?" tanya Zein.
"Enggak," jawab Intan, singkat.
"Ya udah, ini capcay-nya juga lengkap, kok. Jadi gak perlu pakai nasi lagi," ucap Zein. Ia sengaja memeberikan banyak topping di masakannya itu.
Ada ayam, telur, sosis, hati ampla, bakso dan sayuran yang lengkap.
Intan pun membiarkan suaminya menyendokkan makanan untuknya.
"Ya udah, dimakan!" ucap Zein.
"Hem!" sahut Intan. Kemudian ia menyuap makanan suaminya itu.
Zein memperhatikan Intan, khawatir masakannya tidak enak.
"Gimana rasanya?" tanya Zein.
"Biasa aja," sahut Intan. Ia tidak ingin memuji Zein karena sedang marah.
"Ya udah gak apa-apa. Kan biasanya masakanku enak. Jadi itu artinya enak," sahut Zein sambil tersenyum.
Set!
Intan langsung memicingkan matanya. Ia kesal karena Zein tidak marah meski masakannya tak ia puji.
Padahal sebenarnya ia sedang ingin melihat suaminya itu kesal. Supaya Zein merasakan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Mas!" ucap Intan. Akhirnya ia buka suara karena terpikirkan sesuatu.
"Iya, Sayang?" tanya Zein, bersemangat.
"Seandainya aku tahu dari awal kalau kamu yang ngirim aku ke perbatasan. Pasti aku gak akan mau ikut kamu pulang," ucap Intan. Ia semakin memancing Zein.
"Lho, kenapa?" tanya Intan lagi.
"Biar hidupmu gak tenang karena di sana ada Bian!" skak Intan.
__ADS_1