Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
60. Angkuh


__ADS_3

Seketika lutut dokter itu pun terasa lemas.


"Dokter jangan bercanda, deh! Masa iya udah nikah? Kapan nikahnya? Aku gak pernah denger, tuh," ucap dokter itu. Ia berusaha untuk tidak mempercayainya.


"Kapannya sih gak tau. Cuma kalau salah emang belum resepsi. Lagian semua juga udah heboh kok dari kemarin," jawab teman dokter sombong.


"Makanya aku juga heran kok dokter berani banget julidin istrinya Prof. Kirain udah tau," timpal yang lain.


"Kalain kenapa gak bilang, sih? Aku mana tau kalau dia istrinya Prof," keluh dokter sombong itu.


"Ya sebenernya kami bilang atau enggak, gak akan ngaruh kalau dokter gak julid. Ya, semoga aja kamu gak ngalamin kayak kepala dokter, kemarin."


"Emang kenapa?" Dokter sombong itu penasaran.


"Kemarin kan beliau disemprot sama Prof. Kayaknya sih bakal turun jabatan. Secara istrinya udah dijahatin begitu. Sampe pingsan pula."


Dokter sombong itu pun langsung pucat. Ia khawatir Intan akan mengadu pada Zein. Apalagi kemarin ia pun sempat julid pada Intan.


Sementara itu, Intan dan Zein baru tiba di ruangan Sang Profesor tersebut.


"Tadi dia ngapain?" tanya Zein.


"Dia siapa?" Intan balik bertanya.


"Itu dokter senior. Kayaknya ada yang ngomongnya gak baik, deh," ucap Zein. Ia sudah siap untuk membela istrinya lagi.


"Ooh, enggak, kok. Cuma ngobrol biasa aja," sahut Intan. Ia tidak ingin suaminya ribut hanya karena dirinya.


"Yakin? Kok kayaknya Mas denger dia nyinyirin kamu?" tanya Zein dengan tatapan menelisik.


"Udah ah, gak penting. Mas kan banyak kerjaan. Ngapain sih ngurusin kayak gituan?" sahut Intan.


"Mas cuma gak mau kamu dijahati orang. Bagaimanapun kamu itu istri Mas. Harga diri kamu berarti harga diri Mas juga," ucap Zein.


Baginya, siapa pun yang sudah mengusik Intan, sama saja dengan mengusik dirinya.


Intan tersenyum sambil menatap suaminya. "Terima kasih ya, Sayang. Tapi aku beneran baik-baik aja," jawab Intan.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Zein sambil mengusap perut istrinya. "Good morning, Baby. Gimana pagi ini, apa kamu bersemangat?" sapa Zein sambil mengusap perut Intan.


Beruntung mual yang Zein alami tidak terlalu parah dari kemarin. Tadi pagi ia sempat mual. Namun saat ini Zein sudah terlihat lebih segar.


"Morning, Papi. Alhamdulillah aku semangat terus sama kayak papinya," jawab Intan dengan menirukan suara bayi.


Zein pun tersenyum sambil menatap istrinya. "Kalau maminya semangat, gak?" tanyanya, genit.


"Semangat, dong. Masa udah disayang-sayang malah gak semangat?" sahut Intan sambil bermanja pada Zein.


Zein pun memeluk istrinya itu. "I love you," ucap Zein. Semenjak menyatakan cinta pada Intan, Zein seolah sudah tidak kesulitan lagi untuk mengungkapkan perasaannya.


Intan langsung melirik ke arah suaminya. "Perasaan dulu tuh susah banget buat ngomong cinta. Kenapa sekarang kayaknya malah jadi gampang banget, ya?" ledek Intan.


Zein tersenyum. "Emang kamu tau?" tanyanya.


"Iyalah! Aku udah lama nunggu, kamu malah baru ngomong kemarin. Sebel!" jawab Intan sambil menjebik.


"Lagian kamu nih aneh. Masa kamu gak sadar kalau aku tuh udah cinta sama kamu? Kan selama ini aku udah nunjukin dari sikapku," ucap Zein, gemas.


"Ya kalau dari awal hubungan kita baik sih gak masalah. Cuma ini kan masalahnya Mas selalu bilang kalau nikahin aku cuma buat pelengkap aja. Istri mana yang gak sakit hati kalau digituin?" ucap Intan sambil cemberut.


Ia sangat kesal jika mengingat hal itu.


"Hem ... yang kayak gitu diinget terus, ya? Kamu lupa? Siapa yang lebih dulu datang ke ruangan aku terus langsung protes minta perjodohannya dibatalin?" tanya Zein.


Intan menutup mulutnya. Ia sadar bahwa memang dirinya yang lebih dulu protes pada Zein.


"Terus siapa yang bilang gak mau nikah sama profesor galak kayak aku?" tanya Zein lagi.


Intan langsung tersenyum. Ia malu karena ternyata dirinya pun pernah mengatakan kalimat yang mungkin bisa membuat Zein sakit hati.


"Lalu, siapa yang bilang gak akan cinta sama aku?"


"Kapan aku bilang begitu?" tanya Intan. Ia lupa akan hal itu.


Zein menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. "Waktu jantung kamu berdebar-debar. Saat itu aku yakin kalau kamu udah cinta sama aku. Tapi kamu malah ngomong sesuatu yang nyakitin. Aku awalnya mau ngungkapin perasaanku, tapi karena kamu ngomong begitu, akhirnya gak jadi," jelas Zein sambil mencubit hidung Intan.


"Hehehe, maaf. Ya lagian masa harus aku duluan yang ngomong?" tanya Intan, sebal.


"Ya gak harus kamu, sih. Cuma setidaknya jangan ngucapin kalimat yang bikin aku down. Suami mana yang gak sakit hati denger istrinya sendiri ngomong gak cinta?" tanya Zein.


Intan mengerutkan keningnya. "Ini kok lama-lama malah aku yang disalahin, sih? Udah ah gak usah dibahas lagi! Aku mau kerja," jawab Intan sambil beranjak dari sofa.


"Mau kerja di mana?" tanya Zein sambil menahan Intan dengan memeluk pinggangnya.


"Ya di IGD lah, Mas. Kan kamu tau aku ditempatin di sana," jawab Intan.


"Aku gak izinin kamu kerja di sana. Mulai hari ini kamu pindah ke ruang perawatan. Pokoknya, kamu gak boleh kelelahan," ucap Zein.


"Lho, kalau kepaa dokter itu nanya, aku harus jawab apa?" tanya Intan.

__ADS_1


Zein tersenyum. "Dia gak akan berani nanya macem-macem sama kamu," ucapnya.


Intan menyipitkan matanya. "Tunggu, deh! Kemarin dia tiba-tiba minta maaf sama aku. Terus sekarang Mas ngomong begini. Aku jadi curiga. Jangan-jangan ...?"


"Jangan-jangan apa? Gak usah mikir yang aneh-aneh. Mungkin dia begitu cuma karena tahu kamu itu istri aku," ucap Zein.


"Hem ... bisa jadi, sih. Ya udah kalau begitu. Terus aku harus laporan ke siapa, dong?" tanya Intan.


"Kamu ke ruangan dokter aja! Nanti di sana ada kepala dokter yang baru," ucap Zein.


"Hah? Kok baru?" Intan terkejut.


"Iya, yang kemarin masa jabatannya udah habis. Makanya diganti," sahut Zein sambil beranjak menuju meja kerjanya.


"Kok aku gak yakin, ya? Mas gak nurunin jabatan dia karena aku, kan?" tanya Intan sambil membuntuti suaminya.


Buk!


Intan tak sengaja menabrak punggung Zein yang tiba-tiba berhenti. Zein pun balik badan dan memeluk istrinya.


"Kalaupun iya, memangnya kenapa? Aku hanya seorang suami yang ingin membela istrinya. Kebetulan aku memiliki kuasa, jadi tidak ada salahnya jika aku menurunkan jabatannya seperti itu," ucap Zein sambil menatap Intan.


"Tapi kan itu jadi gak profesional, Mas," ucap Intan.


"Siapa bilang? Aku memiliki alasan kuat. Justru dia yang tidak profesional karena masih bersikap senioritas. Padahal di rumah sakit ini hal seperti itu sangat dilarang," ucap Zein.


"Oh, jadi kamu bikin alasan pencopotan jabatannya karena dia masih menjalankan sistem senioritas?" tanya Intan.


Zein mengangguk. "Yups! Tenang aja! Dalam surat keputusan tidak ada nama kamu. Mungkin dia lagi apes aja karena yang dipelonco itu istri pemilik rumah sakit ini," ucap Zein.


"Justru kamu harusnya bersyukur. Dengan begitu mungkin akan menimbulkan efek jera bagi siapa pun. Sehingga mereka tidak semena-mena lagi pada junior," lanjut Zein.


Intan tersenyum. "Ya udah kalau begitu gak apa-apa. Yang penting kamu nurunin jabatannya bukan karena aku," ucap Intan.


"Ya memang alasan utamanya karena kamu, sih," ledek Zein.


"Mas!" Intan pun tersenyum sambil mendekap suaminya, manja.


Di tempat lain, sedang ada pelayanan masyarakat. Semacam bakti sosial yang dilakukan oleh para pejabat, tenaga kesehatan dan team keamanan desa di perbatasan.


Mereka baru mendapat undangannya kemarin siang. Sehingga pagi ini Ira pergi ke tempat pelayanan tersebut tanpa mengetahui bahwa di sana ada orang yang ia benci.


Saat sedang di jalan, lagi-lagi Ira bertemu dengan Bian. Mereka tidak sengaja bertemu di persimpangan jalan. Bian yang sebal pada Ira pun membiarkan dokter itu jalan lebih dulu. Namun ternyata arah mereka sama.


Sehingga membuat posisi Bian seolah sedang membuntuti Ira.


'Hiih, dia ngapain jalan di belakang gue, sih?' batin Ira.


'Ngapain dia malah diem di situ, sih? Bukannya jalan duluan,' gumam Ira dalam hati. Ia pun kesal karena Bian malah seperti itu.


Akhirnya Ira melanjutkan jalannya. Namun ia merasa Bian benar-benar sedang membuntutinya.


Ira pun menghentikan langkahnya dan langsung balik badan. Kemudian ia mendekat ke arah Bian dan berhadapan dengannya.


"Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Ira, kasar. Ia bahkan berkacak pinggang sambil membusungkan dadanya.


Bian mengerutkan keningnya. "Pede banget, lo? Emangnya lo pikir jalanan ini cuma punya lo? Gak usah ge'er!" sahut Bian. Kemudian ia berlalu begitu saja.


Ira ternganga setelah mendengar ucapan Bian. "Argh! Bodoh banget gue. Jadi malu, kan," keluh Ira. Ia menyesal karena telah menuduh Bian yang tidak-tidak.


Ia membalikkan tubuhnya perlahan, berharap Bian tidak menoleh lagi ke belakang. "Ya ampun, semoga aku gak ketemu dia lagi," ucap Ira. Ia tidak ingin bertemu Bian lagi karena sudah terlanjur malu.


Akhirnya Ira pun berjalan perlahan menuju lokasi. Ia tidak tahu bahwa ternyata Bian ada di sana. Hingga akhirnya Ira shock saat melihat Bian sudah stand by di lokasi bakti sosial.


Saat menyadari Ira datang, Bian hanya menoleh sekilas. Namun ia puas karena sudah membuat Ira malu. 'Hahaha, emang enak. Lagian ge'er sih jadi orang,' batin Bian.


Sementara itu Ira salah tingkah. Sebisa mungkin ia tidak menoleh ke arah Bian dan menganggap Bian tidak ada di sana.


"Oh, ke sini juga? Jadi sebenarnya gue apa lo yang ngikutin?" ledek Bian.


***


Di rumah sakit.


Hari ini Intan bertugas di ruang rawat inap. Sehingga pekerjaannya lebih santai.


Sementara itu, dokter sombong yang sempat mengusiknya pun sedang gelisah.


'Duh, apa aja yang udah aku omongin ke dokter Intan, ya?' batinnya. Ia merasa bersalah dan takut Zein akan menghukumnya, apalagi jika Intan sampai cerita pada Zein.


Padahal tanpa Intan perlu cerita pun Zein sudah mengetahuinya dari rekaman CCTV.


Saat ia sedang berjalan menuju ruangan dokter, ia tidak sengaja berpapasan dengan Zein.


Deg!


Rasanya dokter itu sangat ingin balik badan. Namun ia tidak mungkin melakukan hal tersebut karena Zein sudah melihatnya.


'Ya Tuhan, kenapa harus bertemu Prof di sini?' batin dokter itu. Namun ia sudah tidak bisa mundur lagi. Akhirnya ia pun terpaksa maju dan menyapa Zein. Lalu bersikap seolah tidak ada apa-apa.

__ADS_1


"Pagi, Prof!" sapanya.


Zein menoleh ke arahnya. "Pagi!" jawabnya.


Ia lega karena Zein mau menjawab sapaannya. Namun kemudian ia terkejut saat Zein menjegal langkahnya.


"Tunggu!" ucap Zein.


Dokter itu menelan saliva. "I-iya, Prof?" sahutnya sambil menoleh perlahan.


"Di dunia ini semua orang sama saja di mata Allah. Jadi jangan sombong!" skak Zein. Kemudian ia langsung berlalu.


Sontak saja dokter itu pun tercekat. Ia malu mendengar Zein mengatakan hal seperti itu. Rasanya itu sudah seperti tamparan baginya.


"Duh, bener kan dokter Intan pasti udah ngadu sama suaminya," gumam dokter itu. Ia pikir Intan mengadu pada Zein.


Sementara itu, Intan sedang sibuk dengan pekerjaan barunya. Ia harus beradaptasi lagi karena sudah cukup lama tidak praktek di sana.


Berhubung hampir seluruh staf rumah sakit mengetahui bahwa Intan adalah istri Zein. Intan pun diperlakukan dengan sangat baik. Seluruh orang ramah padanya. Namun hal itu justru membuat Intan merasa risih.


Hal itu membuat Intan sulit membedakan mana yang tulus dan tidak. Akhirnya ia memilih untuk tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Bagi Intan, saat ini lebih baik menjaga jarak dari pada harus memiliki musuh dalam selimut.


Akan tetapi sikap Intan yang seperti itu membuat orang lain salah paham. Ia dianggap sombong karena tidak mau berbaur dengan yang lain.


Saat Intan melewati salah satu ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa dokter dan perawat, ia mendengar namanya disebut. Akhirnya Intan menghentikan langkahnya sambil menguping.


"Eh, apa perasaan aku aja, ya? Dokter Intan kok kayak angkuh gitu, sih?" tanya salah seorang dokter.


"Angkuh gimana?"


"Ya itu, gak kayak kita kalau ngobrol santai bisa haha hihi, ya pokoknya beda, deh. Misal diajak ngobrol juga kayak menghindar begitu."


"Ya wajar aja, sih. Sekarang kan doi udah jadi istri pemilik rumah sakit. Bebas lah mau gimana juga. Kita mah siapa, cuma staf yang kerja di sini. Jadi ya udah, gak usah heran."


"Iya, sih. Tapi aku kira dio tuh down to earth gt lho. Kan katanya dulu dia ramah sama siapa pun. Tapi kenapa sekarang kesannya jadi cuek, gitu? Malah kayak kurang ramah."


"Ya kamu kan gak deket juga sama dia. Mungkin dia canggung mau ngobrol apa."


"Ya tapi kan apa salahnya sih ngobrol sesama dokter?"


"Tapi emang iya sih, Dok. Ke aku juga ngomong seperlunya. Masalah kerjaan aja," timpal salah seorang suster,


"Nah, kan! Berarti bukan aku doang yang merasa. Ya mungkin semua orang emang gitu, ya. Kalau udah naik derajatnya tuh jadi sombong."


"Iyalah. Secara sekarang rumah sakit punya suaminya. Jadi udah gak heran."


Intan menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. 'Oh, jadi begitu?' batin Intan. Saat mereka sedang asik berbincang, Intan tiba-tiba masuk ke ruangan itu tanpa menggubris mereka.


'Aku sombong, kan? Oke, aku akan buktikan ucapan kalian,' batin Intan. Ia malah sengaja ingin bersikap sombong di hadapan mereka. Baginya tidak perlu bersikap baik pada orang yang sudah berpikir negatif tentangnya.


Sontak saja mereka terperanjat. Mereka saling menatap dan bertanya-tanya apa Intan mendengar percakapan mereka atau tidak.


Apalagi saat ini Intan sedang pura-pura sibuk dengan sebuah laporan yang ada di tangannya. Ia duduk tanpa dosa sambil memunggungi mereka.


Mereka saling menyenggol sikut karena bingung hendak melakukan apa.


"Siang, Dok! Lagi ngerjain apa, nih?" tanya salah seoran suster.


Intan menoleh. Kemudian ia bertanya, "Saya?" tanyanya sambil menunjuk dirinya.


"Eum ... iya," ucap suster itu, gugup.


Intan pun berdiri. "Emangnya suster masih pingin tau apa yang dikerjain sama dokter angkuh seperti saya?" tanya Intan sambil menatap mereka satu per satu.


Intan memang sengaja menyindir mereka, untuk memberi tahu mereka secara tidak langsung bahwa dirinya mendengar apa yang mereka katakan.


Melihat mereka tercekat, Intan pun kembali berbicara. "Terima kasih, ya. Saya jadi gak perlu repot-repot nyortir mana orang yang tulus dan tidak tulus pada saya. Silakan, dilanjut lagi gossipnya!" sindir Intan sambil berlalu. Ia pun berjalan dengan percaya diri.


Sontak saja mereka semua merasa sesak karena ucapan Intan barusan seperti sebuah ancaman. "Berarti dia dengar omongan kita, dong?" tanya dokter tadi.


"Kemungkinan sih begitu. Duh, gimana kalau dokter Intan ngadu ke Prof?" tanya yang lain.


"Apa Prof bakalan marahin kita juga kayak kepala dokter itu?"


"Entahlah. Yang pasti dokter Intan denger ucapan kita semua dan kita udah suudzon sama dia."


"Makanya lain kali gak usah ghibahin orang lagi, deh! Apalagi ini istri dari Prof Zein. Salah-salah bisa dipecat."


Mereka tidak ingin dipecat dari rumah sakit itu. Sebab Rumah Sakit Harapan Keluarga itu merupakan rumah sakit terbaik di kota mereka.


"Ya aku kan cuma berpendapat aja."


"Tapi pendapatmu itu belum tentu benar. Malah jadi terkesan menggiring opini."


Saat mereka sedang sibuk dengan kegelisahan masing-masing, tiba-tiba mereka mendengar ada Zein datang.


"Sayang!" panggil Zein pada Intan.


"Mas!" sahut Intan yang sedang duduk di meja administrasi di luar ruangan tersebut.

__ADS_1


Sontak saja mereka yang ada di dalam ruangan tadi terbelalak.


__ADS_2