
Uhuk! Uhuk!
Intan langsung tersedak setelah mendengar ucapan Zein. Mereka memang sudah dijodohkan. Namun, jangankan pernikahan, pertunangan saja belum dibahas.
"Lho, kenapa, Tan? Hati-hati makannya!" ucap Dimas, tanpa dosa. Ia belum tahu bahwa Intan adalah calon istri Zein.
Zein menyunggingkan sebelah ujung bibirnya saat melihat reaksi Intan setelah mendengar ucapannya barusan. Ia senang menggoda Intan seperti itu. ‘Pasti kamu senang karena pernikahan kita akan segera terlaksana, kan?’ batin Zein. Ia selalu over percaya diri.
Intan pun segera mengambil air mineral dan meneguknya. "Gak apa-apa, Dok," jawab Intan setelah tenggorokkannya kembali netral. Namun wajahnya terlihat merah padam.
"Makannya pelan-pelan, Tan! Tenang aja, kalau gak lagi kerja, Zein gak galak, kok," canda Dimas. Ia dapat menebak bahwa Intan gugup karena ada Zein di hadapannya.
Zein tersenyum setelah mendengar ucapan Dimas barusan. Ia merasa lucu karena Dimas tidak tahu justru ucapan Zein yang membuat Intan tersedak.
"Oh iya, lo kok gak bilang-bilang kalau mau nikah, sih?" tanya Dimas lagi. Ia kembali fokus dengan pembicaraan mereka. Sebab Dimas sangat penasaran mengapa Zein tiba-tiba akan menikah.
"Rencananya cukup mendadak, Dim. Gue juga belum ada persiapan. Lagi pula belum tau nanti pernikahannya mau kayak gimana. Siapa tau calon istri gue gak mau ada resepsi. Atau justru pingin resepsi besar-besaran. Jadi gue belum bisa bilang-bilang dulu," jelas Zein. Padahal secara tidak langsung ia sudah memberi tahu Dimas.
Ucapan Zein barusan pun merupakan kode untuk Intan.
"Hahaha, gak bilang-bilang. Terus ini apa? Bikin penasaran aja, deh. Kira-kira cewek mana yang khilaf sampai mau jadi istri lo, ya?" ledek Dimas. Ia meledek seperti itu karena Zein selalu galak dan dingin pada wanita.
Sontak saja Intan terkekeh. 'Hihihi, bener banget. Kalau bukan terpaksa, mungkin cuma karena khilaf aku mau nikah sama dia,' batin Intan.
"Kamu kenapa? Kayaknya seneng banget lihat saya diledek seperti itu?" tanya Zein pada Intan. Ia kesal karena Intan seolah mendukung Dimas.
Intan berusaha menahan tawanya. Kemudian ia pun menggelengkan kepala. "Enggak, Prof. Maaf," jawabnya. Lalu Intan kembali melanjutkan makannya.
"Lo jangan galak-galak napa, sih? Gimana gak dapet julukan Profesor Galak, coba? Kasihan itu Intan lagi makan jadi gak nyaman," tegur Dimas. Ia selalu kesal jika Zein galak pada juniornya.
"Gue kan cuma nanya," sahut Zein, santai.
"Tapi pertanyaan lo bikin dia takut. Heran gue, untung aja lo udah laku. Kalau enggak, pasti gue bilang 'gimana lo mau laku'," ucap Dimas, kesal.
Zein tersenyum sambil memutar-mutar ponsel yang ada di tangannya dan matanya tak beralih dari Intan.
'Gak kebayang gimana reaksi dokter Dimas kalau tau aku yang jadi ... ah, nyebutnya aja males,' batin Intan.
Intan bergegas menyelesaikan makannya. Kemudian ia pun pamit pada mereka. "Dok-Prof, saya duluan. Permisi," ucap Intan sambil beranjak.
__ADS_1
"Oke, silakan," sahut Dimas. Sementara Zein tidak menjawabnya.
"Lo tuh, baik dikit kek sama anak didik. Orang pamit, dijawab juga enggak," ucap Dimas.
"Nanti juga ketemu lagi di ruangan operasi," sahut Zein. Kemudian ia melihat jam tangannya. "Ya udah, gue mau operasi dulu," ucapnya, sambil menepuk bahu Dimas. Lalu ia pergi begitu saja.
"Dih! Dasar, ya. Udah bikin Intan pergi, terus sekarang dia juga pergi. Gak sopan banget. Gue sendirian lagi, dong," keluh Dimas.
Dia tidak tahu bahwa tadi Zein duduk di sebelahnya hanya karena ada Intan.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah berada di ruang operasi.
"Duh, penyakit banget, nih. Kalau abis makan suka ngantuk. Tapi kalau gak makan, takut kelaparan," gumam Intan saat sedang mencuci tangan sebelum masuk ke ruangan operasi.
"Kalau ngantuk tidur aja!" sahut Zein yang tiba-tiba ada di samping Intan dan mencuci tangan.
Lagi-lagi Intan dibuat terkejut olehnya.
"Euh, enggak, Prof," sahut Intan, gugup. Kemudian ia pura-pura menggosokkan tangannya lagi.
"Tolong fokus saat di dalam," ucap Zein. Kemudian ia mematikan kran dengan kakinya. Lalu ia meninggalkan Intan begitu saja.
"Baik, Prof," sahut Intan, pelan.
Awalnya Zein tidak ingin memberi tugas pada Intan. Namun, mengingat minggu ini adalah minggu terakhir Intan. Akhirnya Zein memberi andil untuk Intan.
Saat operasi berjalan, Intan ditugaskan untuk menjadi asisten Zein dan berdiri di sampingnya.
Meski sudah cukup sering ikut operasi. Namun Intan sangat gugup ketika harus menjadi asisten. Apalagi saat ini yang memimpin operasi adalah Zein.
Bagi para dokter muda. Bisa ikut operasi merupakan sebuah kebahagiaan. Sebab, tidak semua dokter muda sering mendapatkan kesempatan diajak untuk ikut operasi. Apalagi sesering Intan.
Ditambah adanya dokter residen yang juga ingin praktek langsung di ruangan operasi. Mereka kesal sekaligus iri saat melihat Intan mendapat kesempatan seperti itu.
Sebelum dimulai, Zein memimpin doa lebih dulu. Kemudian saat ia mengatakan mulai pun dokter anastesi mulai melakukan tugasnya untuk membius pasien.
Zein pun menadahkan tangannya pada Intan. "Mess!" ucapnya.
Dengan gugup, Intan memberikan pisau bedah pada Zein.
__ADS_1
Zein pun menerimanya, kemudian mulai membedah pasien tersebut.
Intan memerhatikan Zein yang sedang fokus melakukan pembedahan. Ia bahkan mengelap keringatnya sesekali.
Dalam kondisi seperti itu, Zein terlihat begitu mempesona bagi Intan. Ia sangat cekatan dan jenius. Seolah bisa melakukannya meski dalam kondisi mata tertutup.
'Fokus, Intan! Jangan sampai tergoda hanya karena hal ini. Ingat, dia itu killer,' batin Intan. Ia berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terbawa suasana.
Beberapa jam kemudian, Zein pun sudah menyelesaikan operasinya. "Kamu yang jahit!" ucap Zein.
Intan terperanjat. Selama ini Zein sangat jarang membiarkan dokter muda untuk menjahit luka pasien dalam operasi. Sehingga ia merasa sedang diuji oleh Zein.
"Saya, Prof?" tanyanya, ragu.
"Iya kamu. Memang kamu pikir saya sedang bicara dengan siapa?" sahut Zein. Seperti biasa, ucapannya sedikit ketus.
"B-baik, Prof," sahut Intan, gugup.
"Kalau dokter Intan belum siap. Biar saya saja, Prof," ucap dokter residen yang juga ikut operasi. Ia memanfaatkan momen itu agar bisa mengambil alih tugas Intan.
"Saya minta Intan yang jahit. Bukan kamu!" skak Zein.
Akhirnya dokter itu pun terdiam. 'Sialan si Intan. Apa sih hebatnya dia sampai bisa ngalahin aku?' batin dokter wanita yang cantik tersebut.
Akhirnya Intan pun mulai mengambil peralatan dan menjahit.
Jika biasanya Zein langsung pergi. Kali ini ia masih stand by di ruangan tersebut. Sebab, Zein harus memantau Intan agar tidak ada kesalahan.
"Jangan tegang! Santai saja," ucap Zein.
Bagaimana Intan tidak tegang. Keberadaannya saja sudah sangat mengintimidasinya.
Tangan Intan terlihat gemetar saat menarik benang. Zein yang gemas melihatnya pun turun tangan.
"Bukan begitu!" ucapnya. Kemudian ia berdiri di belakang Intan dan mengukungnya. Kemudian ia memegangi kedua tangan Intan dari belakang. Sehingga posisi Zein saat ini seolah sedang memeluk Intan dari belakang. Terlebih kala Zein mendekatkan wajahnya ke telinga Intan.
***
Pepet terusss, Prof! Wkwkwk,
__ADS_1
See u,
JM.