Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Jahat!


__ADS_3

Gentala Hanasta Edward. Keturunan Indonesia-Inggris-Rusia. Seorang Dokter spesialis bedah kawakan.


Tumbuh dan besar, bersama Nenek yang menganut paham Ateisme. Membuat Genta tidak pernah mengenal adanya Tuhan sejak belia sampai detik ini.


Berkat kekerasan yang selalu ia dapatkan, perceraian orang tua dan dendam yang tidak kunjung padam di masa lalu, membuat dirinya tumbuh menjadi sosok Sadisme.


Tidak akan ada wanita yang sanggup seranjang dengannya. Terbukti pernikahan yang sudah ia jalani sebanyak dua kali begitu saja kandas karena penyakit mental yang ia derita tidak kunjung terobati.


Sanggup 'kah, Geisha Alyra Hadnan menjadi dermaga Surga untuk Gentala? Membawa lelaki itu pulang ke jalan yang semestinya? Menerima segala kekurangan Gentala, walau tubuhnya akan hancur dan terkoyak?


...🌾🌾🌾🌾...


Busss.


Kereta besi yang dikemudikan oleh Geisha terus melaju membelah jalanan Ibu Kota. Menembus angin malam dengan iringan air bening yang terus menganak sungai dari sudut matanya.


Ia cengkram setiran kemudi kuat-kuat dengan rahang yang terlihat mengencang dan bola mata memerah. Ia fokus menatap jalan di depannya dengan tatapan menyalang tajam, seakan ingin memangsa lawan sekarang juga.


Ponsel Geisha terus bergetar di dalam tas. Dan si calon Dokter itu tidak mau meresponnya. Malah air matanya semakin pecah.


Hembusan napas kasar ia keluarkan beriringan dengan isak tangis nya.


"JAHATTTTTTTT ... Huwaaaaaaaaaa." Geisha terus berteriak-teriak dan semakin menangis. Urat-urat di pelipis dahinya terlihat menyembul dengan pangkal bahu yang bergetar. Seakan ia lega karena sudah berteriak. Sesekali memukul setiran kemudi dan menekan klakson walau didepannya tidak ada yang mengganggu.


Rasa sakit dan kecewa dari hal yang baru ia ketahui sungguh membunuh sukmanya. Membakar jiwa dan raganya. Seolah-olah dirinya lah di dunia ini yang paling menderita.


Geisha terus mempercepat kecepatan mobilnya untuk sampai di tempat yang ia tuju malam ini.


Dan beberapa saat kemudian mobil Pajero Sport miliknya sampai di depan gerbang rumah mewah.


TINNNNNNNNNN


"BUKA!" teriak Geisha kepada penjaga dari dalam mobil dengan intonasi suaranya yang terdengar melengking. Membuat beberapa satpam di pos mendadak bangun karena ketiduran. Wajarlah saat ini waktu sudah menunjukan pukul 22:00 malam.


"Iii---ya, Non." salah satu satpam yang tersentak bergegas memencet tombol yang bisa membuat gerbang bergeser otomatis. Melihat pintu gerbang sudah terbuka, buru-buru Geisha menekan pedal gas untuk melesat masuk ke dalam.


Dan.


Brug.


Badan sisi mobil bergesek dengan gerbang yang sedang bergeser. "Si Non kalau ke sini pasti kayak harimau butuh makan!" satpam menggeleng-gelengkan kepala sambil mengusap dada.


...🌾🌾🌾🌾...

__ADS_1


Drp.


Derap sepatunya terhenti di depan sebuah daun pintu kamar yang sekarang tengah ia tatap. Ia tilik ke celah ventilasi bahwa cahaya terang lampu masih bersinar dari dalam kamar. Menandakan mungkin penghuninya belum tidur.


Tanpa mengetuk dulu, langsung ia tekan handel pintu itu dan mendorongnya ke dalam.


Krek.


Pintu kamar terbuka lebar, membentang luas.


"Astagfirullahaladzim!" seru dua sejoli yang sedang bercumbu manis di atas ranjang. Pasangan suami istri itu membelalakkan mata. Mereka kaget melihat Geisha yang begitu saja tanpa bersalah membuka pintu kamar yang bodohnya tidak dikunci tanpa diketuk terlebih dahulu.


"Tunda dulu deh, aku lagi sedih nih ... Tan, Om." keponakan lahnat nya ini memohon sendu.


Memang bukan sekali atau dua kali Geisha menganggu ibadah malam mereka. Om Ammar mendengus kesal, karena Tante Gana seraya memainkan mata untuk menjeda aktivitas mereka yang baru saja dimulai beberapa menit lalu.


"Untung aja belum telanjangg penuh!" decak Om masih kesal. Ia kembali memakai baju piyama tidur nya kembali. Untung saja celana nya belum melorot. Lantas beranjak dari ranjang untuk menuju pintu utama.


Geisha membungkuk mencium tangan Om nya. "Maaf, ya, Om. Aku butuh Tante banget sekarang," ucap nya serak.


"Ya, udah. Sana." melihat semburat kesedihan di wajah keponakan kesayangannya, membuat Om tidak tega untuk merajuk.


Seakan mengerti kegelisahan yang sedang bersarang di hati keponakannya sekarang. Om Ammar mengelus bahu Geisha. "Kuat, Sha!" dan berlalu lah Om dari kamar menuju ruang tivi di lantai bawah.


Hiks ... Hiks.


Hiks ... Hiks


"Aku juga mau nikah, Tante! Punya suami, punya anak, punya keluarga! Tapi kalau jodohnya belum ada. Aku harus, gimana? Tapi aku sedih kalau lihat orang nikah! Aku iri. Aku mau!!" Geisha sesegukan.


Ia mendekap tantenya erat dengan linangan air mata. Tante Gana, Adik dari Ayahnya. Hanya bisa mengusap lembut punggung keponakannya itu yang baru menginjak usia dua puluh empat tahun.


"Sabar, Sha. Jodoh kamu masih di proses Allah. Tante juga nikah umur tiga puluh 'kok. Di langkah juga sama Tante Gelfa. Tapi, Tante biasa aja-----"


Geisha menggeleng dan menyelak ucapan Tante nya.


"Kalau Tante menganggap nya biasa! Tapi Kalau aku enggak! Kesannya 'tuh kayak aku enggak laku-laku!


Harusnya mereka jaga dong perasaan aku! Masa iya 'sih Ginka mau lamaran tapi aku enggak di kasih tau! Seakan aku tidak ada harganya!!" decak Geisha kesal. Air matanya terus bercucur.


Tante Gana menghela napas berat. Ia bingung menghadapi keponakannya yang satu ini. Sebenarnya bukan orang tua atau adiknya yang tidak memberitahu.


Tetapi dirinya lah yang seakan menutup jika ada rapat keluarga. Group keluarga juga selau ia mode hening. Membuat ia tertutup dari info keluarga. Bunda dan Ayah sudah selalu mengajaknya bicara, namun Geisha selalu menghindar.

__ADS_1


Geisha seakan trauma.


Enam bulan lalu. Geisha terpukul karena ia di langkah menikah oleh adiknya, Gheana. Ghea dikhitbah oleh anak seorang kiyai terpandang di kota ini. Dan sekarang diboyong ke Turki untuk menyelesaikan pendidikan suaminya.


Dan seakan rasa sakit hati itu kembali terulang mana kala Adik kecilnya, Ginka. Yaitu saudara kembar Ghea, akan di lamar oleh anak dari pengusaha kurma terbesar dari Arab besok dan dirinya merasa tidak diberitahu.


Seusai pulang dari Rumah Sakit, Geisha kembali pulang menuju rumah orang tuanya. Dadanya berdenyut nyeri ketika ia melihat rumah sudah terdekor rapih untuk menyambut calon besan yang akan melamar adiknya, besok. Demi Allah, dirinya tidak tahu menahu. Menurutnya Ginka tidak pernah cerita atau meminta restu dulu padanya.


Ya, basa-basi lah menurutnya. Padahal semua ini hanyalah kesalahpahaman saja.


Perdebatan malam antara Geisha, Ayah, Bunda dan Ginka tidak dapat terelakan lagi. Geisha meraung sejadi-jadinya karena merasa tidak terima.


"Tante aja tau kalau Ginka mau lamaran besok, tapi kenapa enggak cerita sama aku?" tuduhnya.


Gana tetap mencoba menenangkan keponakannya yang sedang di rundung duka dan patah hati. Tetap memeluk erat gadis perawan tersebut.


"Tante 'kan pikirnya kamu udah tau. Lagian setiap ada info orang mau nikah baik dari saudara dan teman, kamu pasti udah panas duluan kayak setrikaan."


Geisha terisak lagi. Menghempaskan rasa sedihnya.


"Apa 'sih salah dan dosaku selama ini? Kenapa dari anak perempuan Bunda dan Ayah hanya aku yang merana! Nasib Ginka dan Ghea bagus-bagus banget, sementara aku apa? Boro-boro calon suami, pacar aja enggak punya! Apa aku sejelek itu, Tante?"


Geisha mengurai dekapan, ia menarik wajah untuk menatap Tantenya lebih jelas. Ia seka air mata dan ingusnya dengan sneli Dokter yang masih bertengger di tubuhnya.


Tante Gana menggelengkan kepala dan tersenyum. Ia mengusap sisa-sisa kebasahan yang masih menempel di wajah keponakannya. Tante rapihkan lagi kunciran rambut Geisha agar meninggi seperti ekor kuda yang sejak tadi sudah bergelayut seperti puncak dada yang sudah kisut.


"Yang harus kamu tau bahwa jodoh itu sudah di atur oleh Allah SWT. Setiap manusia sudah mempunyai takdir hidupnya masing-masing. Siapakah jodoh kita? Kapan kita mati? Kapan kita menikah? Kapan kita lahir? Semua itu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Entah kah jodoh kita ada di dunia atau mungkin langsung di Akhirat.


Jodoh itu bisa saja menikah dengan sesama mahkluk ciptaan Allah di dunia atau mungkin bisa terdahulu kan dengan Ajal. Banyak lho yang di bawah seumuran kamu sudah wafat duluan tapi belum menikah." Tante menasehati Geisha dengan ilmu yang ia punya.


Geisha terlihat merinding dengan kalimat terakhir yang dilontarkan Tantenya. Seraya mencerna bahwa otak nya memang masih dangkal.


"Maka dari itu Allah yang tahu mana yang terbaik untuk hamba-hambanya. Jangan lagi kamu samakan nasibmu dengan nasib orang lain. Karena pasti berbeda, Sha.


Lebih baik sebelum si jodoh datang, kamu memantaskan diri dulu untuk menyambut kedatangannya. Seperti belajar menjadi istri yang baik dari buku-buku atau mencontoh orang-orang yang ada di sekeliling kamu.


Memperbagus akhlak, lebih rajin shalat, puasa, ngaji dan sebagainya. Insya Allah hati kamu akan diberi ketenangan oleh Allah, Sha," imbuh tante lagi.


Geisha hening seraya berfikir. Jantungnya masih saja menderu-deru menahan sakit. Sampai di mana terdengar suara memanggil namanya di ambang pintu.


"Geisha ...."


Geisha menoleh ke arah sumber suara. Bola matanya membulat mana kala ia temukan Ayah, Bunda, Ginka dan Dipta tengah berdiri menatapnya dari sana.

__ADS_1


__ADS_2