Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Saya Cinta Sama Kamu.


__ADS_3

Nabastala terasa sejuk. Kemerlip bintang di atas sana, terasa indah di pandangan mata Geisha. Wanita yang belum dua puluh empat jam menutup aurat nya itu, sudah setuju untuk di ajak menikah oleh lelaki yang baru saja ia kenal malam ini, Dr. Andre Fayd, Sp.KJ.


"Hem ...." Andre berdehem. Geisha yang tengah melamun kan Genta di seberang sana, dengan air bening bergerumun di sudut mata, lantas menoleh. Geisha menyeka air matanya. Ia tersenyum kepada calon suami, yang sekarang sedang berdiri di hadapan nya.


"Kenapa di sini? Kan dingin." Andre mengelus kedua lengannya karena angin yang berhembus cukup kuat. Jika saja ia sedang memakai jas, pasti akan ia pakaian di tubuh Geisha.


Geisha menggeleng. "Sejuk, Mas. Adem."


Andre mengangguk-anggukan kepala. Ia menatap Geisha yang dengan raut penuh tanya. Seperti tadi misalnya, di meja makan. Geisha hanya diam saja, menjawab sebisanya dan menurut-nurut saja bagaimana acara pernikahan mereka nanti.


Malam ini, keluarga Geisha dengan keluarga Andre mengadakan pertemuan pertama untuk Geisha dan Andre dalam konteks perjodohan. Keduanya di minta untuk saling mengenal, memantapkan hati sampai pernikahan di gelar.


Tanpa aiueo, Geisha dan Andre mengiyakan. Geisha meminta agar langsung menikah saja, tanpa ada pertunangan atau lamaran. Ia ingin secepatnya menggunakan Andre untuk bisa melupakan Gentala.


Andre mengajak Geisha untuk duduk di bangku taman. Mereka berdua pun duduk bersisihan di sana.


"Kamu ada masalah? Dari wajahmu seperti orang yang sedang bimbang. Apakah karena perjodohan ini?" tanya Andre to the point. Sebagai dokter spesialis jiwa, ia dapat membaca apakah orang itu sedang tertekan atau tidak. Dan ciri-ciri tersebut ada di raut wajah Geisha.


Geisha menggeleng lagi, ia ulas senyum manis dan Andre menyukainya. "Enggak ada apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja."


Dengan tatapan kurang percaya, Andre memilih untuk mengangguk. Walau sudah fiks menjadi calon suami, tapi ia sadar dirinya baru mengenal Geisha lebih dekat malam ini. Masih ada hari esok untuk lebih intim lagi menilai bagaimana sosok Geisha yang sebenarnya. Ia tidak mau Geisha jadi kurang selera kepadanya, karena dirinya yang terlalu kepo.


"Oh, iya. Mas punya ini." Andre merogoh kantung celana, ia mengeluarkan kotak perhiasan berisikan kalung.


"Buat aku, Mas?" Geisha menilik sebuah kalung rantai emas putih yang berliontin bintang permata biru navy.


"Iya, buat kamu. Kalung peninggalan Mamaku. Mama bilang, tolong pakaikan kalung ini di leher istrimu nanti."


"Tapi 'kan kita belum menikah, Mas?"


Sambil membuka kaitan kalung, lelaki itu tertawa. Ia merasa lucu dengan ucapan Geisha yang begitu polos.


"Ayo berbalik. Mas pakaikan."


Geisha pun berbalik badan. Ia duduk memunggungi Andre. Andre mendekat dan melingkarkan kalung di leher calon istrinya.


Jantung Andre memburu senang. Ia tidak menyangka akan menikahi Geisha, wanita yang ia anggap paling cantik dari wanita yang pernah temui.


Masih muda, calon dokter, etika dan tutur katanya pun baik. Apalagi keturunan dari keluarga konglomerat. Siapapun lelakinya, akan beruntung mendapatkan Geisha.


Andre menyembul dari balik tengkuk Geisha, saat Geisha memegangi kalung tersebut. "Cantikkan?"


Geisha mengangguk senyum.


"Kamu tenang aja, untuk mahar, Mas, pasti belikan lagi," tutur Andre lembut. Kelembutan yang diberikan Andre mengingatkan Geisha kepada Gentala.


"Sayangnya kamu penipu, Dok!" Geisha geram membatin.


"Mahar nya jangan terlalu berlebihan, ya, Mas. Sesanggupnya, Mas, aja." pinta Geisha. Permintaan seperti ini tambah membuat hati Andre berbunga-bunga.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau berikan aku calon istri yang baik seperti ini." Andre mengucap syukur dalam hati.


"Iya, Sha. Makasih banyak. Semoga aja dengan dengan perjalanan waktu. Allah menghadirkan cinta di antara kita. Aamin."


"Aamiin, Mas. Aku juga akan berusaha." Geisha menjawab tulus, walau di dalam dadanya terasa amat sesak. Tapi, Geisha pikir. Mungkin jodoh terbaik yang selama ini ia tunggu-tunggu adalah Andre.


Walau cinta saat ini masih merekah untuk Gentala, ia yakin lambat laut rasa itu akan memudar. Sering bersama-sama pasti dapat menciptakan cinta. Geisha akan berusaha memberikan rasa cinta secara utuh untuk calon suaminya tersebut. Geisha seolah membenarkan untuk kiasan yang sering terucap, bahwa akan ada sesosok yang baik setelah sosok yang menyakiti kita, pergi.


Jika di sini, Geisha dan Andre sedang membuka diri untuk mengenal satu sama lain. Pun dengan keluarga yang tengah membahas bagaimana acara pernikahan mereka nanti, karena Ayah mau Geisha dan Andre menikah sebelum Ginka menikah dengan calon suaminya yang akan di gelar dua bulan lagi. Berbeda hal, di seberang sana. Ada Gentala yang sedang mondar-mandir bingung di rumah.


Ia sudah membuka blokiran kontak WA Geisha. Dan berulang kali menelepon gadis itu, tetapi Geisha tidak kunjung mengangkat. Gawai ditinggal di kamar, saat dirinya makan malam bersama keluarga Andre.


"Kenapa tidak mengangkat telepon saya? Membaca pesan saya juga tidak. Jam segini, pasti belum tidur 'kan?" Gentala mengacak-ngacak rambutnya. Ia banting gawai itu ke pusaran kasur.


"Saya mau ketemu kamu, Sha." gumam Genta sendu. Ia termenung di punggung ranjang. Memaki kebodohannya yang begitu saja menyakiti dan melepas Geisha.


"Saya mau kamu jadi istri saya. Mama dari anak-anak saya." nadanya memelas. Terlihat seperti orang yang sedang tidak bernapsu untuk hidup.


Ia tatap langit-langit kamar. Ia cari-cari bayang Geisha di sana, dan yang muncul adalah bayangan ketika Geisha menangis saat di perlakukan jahat oleh nya.


"Arggghhh!!!" Genta meninju-ninju bantal yang sedang ia peluk. Lelaki itu mengerang menyesal, entah bagaimana jika ia tahu, wanita yang sangat ia inginkan, akan segera menikah dengan sahabatnya sendiri.


...🌾🌾🌾...


Semalaman Gentala gegana lagi, melebihi hari-hari kemarin saat dirinya memutuskan untuk membuat Geisha menjauh darinya. Mengapa rasa takut malah timbul kuat sekali saat ia sudah yakin membuka diri untuk gadis itu. Ia takut, Geisha tidak mau memaafkan, menerima dan memulai kisah mereka lagi seperti kemarin-kemarin.

__ADS_1


Geisha hanya membaca pesan whatsaap yang ia kirim sampai enam kali dalam rentang waktu tiga puluh menit per tiap pesan.


[Bagaimana kabarmu, Sha? Sudah sembuh belum?]


[Kamu lagi apa, Sha?]


[Kamu sedang sibuk? Sudah tidur, ya?]


[Sha?]


[Apa besok kamu sudah masuk?]


[Mau kah kita bertemu? Ada yang ingin saya bicarakan?]


Dan semalaman pesan itu di abaikan oleh Geisha. Gentala pun meradang. Geisha berfikir, tidak perlu ada lagi yang harus dibicarakan oleh Genta. Lelaki itu hanya ingin bermain-main dengannya. Geisha berbalik benci.


Tetapi, karena hanya ingin menghargai layaknya hubungan biasa antara dokter pembimbing dengan Koas. Geisha pun akhirnya menjawab pesan tersebut saat Gentala sudah sampai di parkiran Rumah Sakit.


[Alhamdulilah saya sudah sehat, Dok. Hari ini pun saya sudah bisa masuk]


Bagai dicium bidadari, lelaki itu bersorak gembira. Ia yakin, Geisha tidak akan tega mendiamkannya. Melihat Geisha seperti ini, ia semakin cinta dan sayang. Yang ia tahu, Geisha mempunyai hati legowo seluas samudera. Geisha amat berjiwa besar untuk mau memaafkan dirinya atas kesalahannya kemarin.


"Sayang ...." gumam Genta bahagia.


Lelaki ini bergegas naik ke lantai dua dengan raut senang ke ruang serbaguna. Mendapat jawaban dari Geisha, sesak di dada seakan berkurang.


Hari ini Dogen tidak praktek pagi di poliklinik. Ada jadwal presentasi untuk setiap anak bimbingnya yang mengikuti stase bedah, untuk bisa mengikuti stase lainnya setelah itu. Dan, Geisha juga akan melaporkan hasil tugasnya selama ini. Maka, Genta amat antusias. Ia berjanji akan memberikan nilai terbaik untuk pujaan hati.


"Selamat pagi!" Genta mengucap salam, sesaat langkahnya baru masuk ke dalam ruangan besar ini. Sudah ada lima belas bangku yang berjajar yang sudah terisi para koas, di depan sebuah meja dan kursi yang akan ia pakai duduk untuk membuka laptop. Sebuah proyektor dan lcd pun sudah siap, agar Koas bisa presentask dengan baik di hadapannya.


"Pagi, Dok ...." jawab para Koas. Manik mata Genta berpendar. Menyorot satu-satu wajah koas, ia tidak menemukan Geisha di sini.


"Assalammualaikum ..." baru saja ingin merogoh ponsel dari kantung celana, karena ia ingin mengirim pesan kepada Geisha untuk menanyakan di mana gadis itu berada. Seketika ia mendongak manakala suara wanita yang ia rindukan terdengar mengucap salam.


Semua pun menoleh, termasuk Vina dan Lauren. Para teman-teman koas menatap Geisha takjub. Begitupun Gentala, gawai nya saja sampai terjatuh ke lantai. Lelaki itu terperangah.


"Maaf, Dok. Saya terlambat. Di jalan macet ada kecelakaan truk." Geisha memberikan alasan jujur kepada Gentala. Lelaki yang tidak lagi ingin ia tatap. Lelaki yang sudah melempar bara api dengan sengaja ke dalam hatinya, mencabik-cabik sukmanya.


Mulut Genta menganga sedikit. Ia terus menilik Geisha dari atap hijab sampai ke ujung dress panjang semata kaki, yang di tutup dengan jas dokternya.


"Saya suka lihat kamu pakai hijab. Mengingatkan saya dengan pertemuan kita pertama kali waktu itu. Tidak tahu 'kah kamu? Di saat itu saya sudah tertarik dengan manik matamu, Geisha?" Genta terus bermonolog dalam hati. Ia melamun dengan wajah penuh damba dan cinta. Sampai di mana Genta terlonjak saat salah satu di antara koas memuji Geisha.


"Cantik banget, lo, Sha," ujar Dody.


"Berubah jadi muslimah, euy ...." semua berseru dengan kata-kata yang sama, khususnya koas laki-laki. Geisha membalasnya dengan senyuman.


Dan Genta tidak suka mendengar dan melihat hal itu. Lelaki ini lantas berdehem beberapa kali. Agar suasana kembali tenang. Genta cemburu melihat Geisha bisa mencuri hati para koas lelaki.


"Lauren silahkan maju ke depan ...." titah Gentala, tetapi manik mata lelaki itu malah menatap Geisha.


Sebisa mungkin Geisha memutus kontak matanya kepada Gentala, sesaat mereka kedapatan bersitatap dari beberapa jarak. Berkali-kali Genta ingin menyembulkan senyuman manisnya kepada Geisha, namun Geisha memberikan raut acuh. Geisha fokus mendengarkan Lauren saat tengah presentasi. Membuat dada Genta kembali sesak.


"Kenapa kamu berbeda sekali? Seperti tidak menganggap saya ada? Apakah kamu masih marah?" Genta bertanya dalam hati.


Harus kah lelaki itu bertanya? Bagaimana hati Geisha sekarang?


...🌾🌾🌾...


"Sha!"


"Geisha!"


"Tunggu!!"


Geisha terus melangkah menyusuri koridor, manakala ia dengar suara Genta memanggil-manggil namanya. Ia ingin melangkah ke kantin untuk menyusul Lauren dan Vina. Dua sahabatnya itu sudah duluan, karena tadi setelah selesai presentasi, Geisha ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil dan membenarkan pasmina nya siapa tahu tatanan nya miring. Ia pun memilih cepat berlalu dari ruang serbaguna untuk menghindar dari pandangan Gentala. Dan sekarang lelaki itu malah mengejarnya.


"Geisha!" Genta memanggil lagi namanya, lelaki itu berjalan dengan langkah panjang agar bisa menyusul dan menghentikan langkah Geisha segera.


Dan.


Tap.


"Sha!" Genta berhasil mencekal lengan Geisha. Buru-buru Geisha melepaskan tangan lelaki itu dari lengannya.


"Ada apa, Dok?" tanya Geisha tanpa menatap. Nadanya luar biasa dingin sekali. Bulu roma Genta sampai berdiri karena kaget. Selama mengenal Geisha, ia tidak pernah melihat gadis ini bertutur datar, dingin dan tidak mau menatapnya.

__ADS_1


"Saya ingin bicara sama kamu, Sha. Saya ingin minta maaf soal kemarin----"


"Sudah saya maafkan, Dok." Geisha menyelak. Dan Genta tersedak. Genta menatap wajah Geisha dari samping. Raut Geisha seakan risih bersisihan dengan Genta. Genta pun dapat menangkapnya. Lelaki itu sendu.


Genta mencoba menggenggam tangan Geisha untuk di bawa ke mobil. Tetapi, Geisha enggan. Ia tidak mau di sentuh. Sesak semakin menerpa Gentala.


"Saya tahu kamu kecewa. Saya akui saya salah. Tolong maafkan saya, Sha. Saya cinta sama kamu."


DEG.


Ombak besar seakan menghantam tubuh Geisha sampai remuk. Dahi Geisha berkedut-kedut, ia menatap ke depan dengan napas yang mulai berantakan.


"Apa katanya? Cinta? Kenapa? Kenapa baru sekarang?" batin gadis itu.


Geisha mendongak ke atas, menatap Gentala. Ia memutar tubuh dan mereka saling berhadapan. Bertatap penuh luka dalam porsi masing-masing.


"Lupakan saja, Dok. Tolong hapus rasa itu atau simpan saja di sini." Geisha menatap dada bidang Genta yang kemarin sempat ia hentak berkali-kali karena mendengar ucapan Genta dan melihat sosok Avika pada saat itu.


Genta menautkan alis bingung. "Lho, kenapa? Bukannya kamu cinta sama saya?" dari rautnya, Genta terlihat gelisah. "Tolong maafkan saya, Sha. Apa yang kamu dengar dan lihat kemarin, bisa saya jelaskan." Genta memaksa.


"Semua sudah terlambat, Dok. Waktu itu saya butuh penjelasan, dan Dokter menolak. Maka sekarang, saya tidak butuh penjelasan apapun lagi."


"Tolong, Sha. Beri saya kesempatan. Saya benar-benar cinta sama kamu." Geisha menatap air bening yang mulai mengembun di pelupuk mata Genta sebagai suatu pembenaran dari ucapannya. Geisha menundukkan kepalanya. Ia menggeleng pelan.


"Tolong percaya, Sha. Kemarin itu saya hanya sedang tidak sinkron dengan pola pikir saya. Saya memang berniat serius sama kamu. Tapi akal sehat saya mengatakan, kalau saya tidak mampu menjadi pasangan yang baik. Perceraian membuat saya trauma. Saya takut menyakiti hati kamu." Genta berdalih sebisanya. Semampu nya ia tidak mau Geisha tahu siapa dirinya. Genta berjanji, jika Geisha mau menerimanya lagi. Ia akan mendatangi Andre kembali untuk berobat sampai sembuh. Sesakit apapun, akan ia lawan.


"Maaf, Dok. Enggak bisa ... sudah terlambat." jawab Geisha lirih. Dadanya berdenyut nyeri saat lelaki di hadapannya ini menyatakan cinta namun keadaannya sudah telat. Geisha susah kepalang hati memilih Andre untuk dijadikan sebagai suami.


Genta mencoba menggenggam tangan Geisha. Tapi, tetap saja Geisha menolak.


"Jangan sentuh saya, Dok." sakit sekali hati Geisha. Ia menolak lelaki yang selama ini ia dambakan untuk menjadi calon imamnya.


"Maksudnya terlambat, bagaimana, Sayang?"


DEG.


Nada lembut serta sebutan di akhir kalimat. Amat menggetarkan hati Geisha. Di sudut hatinya bahagia sekali. Ingin ia peluk lelaki jahat ini yang sudah menghancurkan dirinya kemarin-kemarin. Tapi, lagi-lagi bayangan Andre, menjadi pembatas.


Melihat Geisha diam, Genta pun diam dengan mengulas senyum manis tapi malu. Malu karena tidak bisa menahan riak cinta di dada. Maka sebutan itu pun keluar dari mulutnya. Mereka lama dalam bertatap, sampai di mana Geisha memutus kontak mata dengan Genta sesaat ada suara yang menyerukan nama mereka.


"Geisha ... Genta!"


Keduanya menoleh.


Ada sosok Andre yang sedang melangkah menuju posisi mereka. Andre datang ke Rumah Sakit untuk mengajak Geisha membeli cincin pernikahan sekaligus makan siang bersama.


Geisha dan Genta saling menautkan alis. Genta bingung mengapa Andre bisa mengenal Genta. Pun sama dengan Geisha.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Andre.


"Dokter Genta ini, dokter pembimbingku, Mas." jawab Geisha lebih dulu. "Mas, kenal dengan beliau?" Geisha membawa arah mata Andre untuk menatap Genta.


"Oh, iya, Mas lupa. Kamu kan koas di sini, pasti akan di bimbing oleh Genta." jawab Andre.


Genta melongo hebat. "Apa? Mas?" Genta membatin.


Geisha menelan salivanya lamat-lamat. Ia tidak mau kalau Genta mengetahui dirinya akan menikah. Biarlah ia menjauh tanpa Genta harus tahu apa alasannya. Tapi, jika sudah begini? Harus bagaimana? Menghindar juga percuma.


Andre mendekat. Ia meletakan tangan kirinya di atas bahu Geisha, merangkul gadis itu.


Bola mata Genta melotot tajam saat Andre bersikap layaknya kekasih kepada Geisha. Ia yakin ada yang tidak beres sekarang.


"Ini, Dokter Genta. Sahabat, Mas, Sha." Andre memperkenalkan Genta kepada Geisha. Andre menatap Genta yang masih melongo dengan debaran jantung yang kian berkecamuk kuat.


"Ini Geisha, Gen. Insya Allah sebentar lagi akan jadi istri gue."


DAR.


Seakan halilintar yang tengah bersautan di pertengahan awan, tengah menyetrum Gentala.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Follow IG ku. Untuk tau kapan saja aku update cerita ini. Kemarin sudah aku inpoh kan kalau hari ini aku tidak bisa update. Tapi, akhirnya bisa. Karena hari ini aku agak sibuk.


Like dan Komennya jangan lupa, ya❤️

__ADS_1



__ADS_2