
Manik mata Geisha terus menilik tangannya yang masih digenggam oleh Genta. Dan sudah lima belas menit Geisha duduk di sebelah lelaki itu. Jatuh cinta berjuta rasanya, bisa membawa si empu ke awang-awang karena menikmati kebahagiaan yang tiada tara.
Belum pernah ada lelaki yang menggenggam tangannya lama seperti ini. Kecuali Ayah, Kakak dan Adiknya. Ia tahu hal ini tidak boleh dilakukan. Saling menggenggam padahal belum halal.
Tapi dirinya bisa apa? Geisha tidak bisa menolak. Dirinya bahagia. Apalagi melihat Genta dengan keadaan seperti ini, hatinya terenyuh dan teduh.
"Walau rasa suka ini mungkin tidak akan terbalas. Tetap izinkan untuk terus hadir, ya, Dok. Sampai aku bertemu jodoh yang benar-benar mencintai aku." batin Geisha. Ia tersenyum, memandang Genta yang semakin pulas. Sesekali genggaman tangan itu ingin terlepas. Tapi, Geisha selalu mengeratkan nya kembali. Seakan ia tahu Genta akan sulit untuk di miliki.
Suster Lala tadi sampai kaget ketika ingin masuk ke dalam poli, saat melihat mereka duduk berduaan, saling bergenggam tangan. Wanita paruh baya itu urung masuk, beliau berlalu pergi.
Jantung Geisha masih saja berdebar-debar. Ia tatap hidung bangir Genta yang begitu licin, lalu turun ke bibir.
"Astaghfirullah ... mesum banget 'sih, pikiran gue!" Geisha menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita itu ibarat kekasih yang sedang setia menunggu pujaan hati untuk kembali bangun menatapnya.
"Apa si gondrong sayang sering begini, ya. Sama koas-koas lain?" dan pikiran jelek Geisha muncul. Senyumannya meredup. Dan sesaat kemudian lamunannya buyar, manakala lelaki yang sedang menggenggam tangannya, bergeliat. Genta membuka kelopak matanya.
Dan.
Pus.
Tangan Geisha dilepas paksa oleh Genta. Lelaki itu kaget, karena kesadarannya seakan belum muncul sempurna. Pun sama dengan Geisha, wanita itu juga terperanjat.
"Dokter enggak apa-apa?" tanya Geisha. "Masih sakit hidungnya?" imbuhnya lagi. Mendengar pertanyaan Geisha, membuat Genta mendadak ingat kalau dirinya yang meminta Geisha untuk tetap di sini bersamanya sampai terbangun.
Genta menggelengkan kepala. "Hidung saya enggak sakit 'kok."
Geisha mengangguk senang, tatapan Geisha begitu murni dan tulus, membuat Genta malu dengan sikapnya selama ini kepada Geisha.
"Maaf karena sudah membuang-buang waktu kamu seperti ini," ujarnya.
"Malah saya senang, Dok. Eum." Geisha langsung melipat bibirnya saat Genta membulatkan mata.
"Maksud saya, saya senang kalau mimisan Dokter sudah berhenti. Saya cabut, ya, Dok." Geisha mengalihkan pembicaraan dengan tepat. Ia mengambil kapas yang sedari tadi ia sumpal di lubang hidung bagian kanan Genta.
Geisha melirik air mineral botol kemasan yang berada di sudut meja, lantas membuka tutup nya dan di sodorkan kepada Genta.
Genta mendorong botol minum itu. "Saya enggak suka minum air putih."
"Ha?" Geisha melongo. "Air putih bagus, Dok. Dokter pasti tahu kan kegunaannya dan bahaya apa yang ditimbulkan jika kurang minum air putih? Dokter masih muda. Harus jaga kesehatan! Dokter mau mati muda?"
Genta menautkan alis takut. Meneguk salivanya lamat-lamat. Baru kali ini ia di sentak dalam sindiran halus tapi nyelekit.
"Ayo, Dok. Minum." Geisha tetap memaksa. Ia menyodorkan botol minum tersebut tepat di bibir Genta.
"Jangan lupa baca bismillah, biar setan enggak ikut minum." senyuman Geisha merekah menatap Genta. Pun sama dengan Genta, ia menatap Geisha dengan tatapan menuntut, mengapa mulu dan hatinya tidak bisa membantah.
Gleg. Tanpa bismillah, lelaki itu meneguknya.
"Howe." baru tegukan pertama, Genta bergegas bangkit dari kursi dan memuntahkannya ke wastafel.
__ADS_1
"Saya enggak suka air putih. Rasanya enggak enak! Saya mual jadinya."
Geisha jadi salah tingkah. Ia pasti di marahi karena terus memaksa. Ia melangkah ke lemari dan meraih tas nya. Ia ingat, kalau Bunda memberikannya susu kotak sebelum berangkat tadi pagi.
Genta berbalik, dan menatap Geisha yang berdiri dengan sekotak susu di tangannya.
"Kalau susu enggak mual 'kan, Dok?"
Genta menggeleng. Refleks Geisha menggandeng Genta untuk duduk kembali. "Minum nya sambil duduk, ya, Dok."
Lagi-lagi Genta hanya bisa menurut. Ia menatap Geisha yang tengah menancapkan sedotan di lubang kotak susu. Dan kembali menyodorkannya kepada Genta.
"Ayo, Dok. Habiskan."
"Ini punya kamu. Enggak apa-apa saya minum? Nanti saya ganti, ya." Genta berucap seperti batita polos.
Geisha menggelengkan kepala. "Saya masih punya stok banyak, Dok."
Genta mengiyakan. Ia mulai fokus menghabiskan susunya. Sekilas ia tatap Geisha yang sekarang sedang memainkan gawai. Genta juga ikut melirik ke layar gawai Geisha secara sembunyi-bunyi.
Lucu sekali. Gondrong ganteng minum susu. Haha.
"Ini." Geisha mendongak saat Genta menyodorkan kotak susunya yang sudah habis. Geisha meraihnya dan membuang ke tempat sampah.
"Makasih banyak, ya." Genta beranjak berdiri, dirinya bersiap untuk meninggalkan poliklinik. Tatapannya kepada Geisha tidak sedingin biasanya, dan Geisha ingin bersorak gembira. Seakan menang lotre ratusan juta.
"Kamu mau ikut?"
Netra pekat milik Geisha berbinar-binar. Tidak menyangka dirinya kalau lelaki yang ia sukai akan mengajaknya berkeliling memeriksa pasien bersama.
"Jika boleh, Dok."
"Ya, boleh."
Yes!
Genta mulai melangkah lebih dulu ke luar poli dan Geisha mengekor dari belakang.
"Dok!" seru Suster Lala dari meja Nurse Station.
"Ikut visit." jawab Geisha dengan gerakan mulut tanpa suara. Ia selalu ingin menyamakan langkah Genta, dan tidak pernah bisa. Langkah panjang Genta membuat Geisha kewalahan, wanita itu akan selalu tertinggal di belakang.
Ayo, Sha. Yang gesit!
...🌾🌾🌾...
Ada puluhan pasien yang harus Genta datangi, pasca operasi di kamar perawatan. Dan kebanyakan pasien berada di lantai empat. Setiap hari Genta akan naik tangga untuk melewati setiap lantai.
Tujuannya, selain untuk berolahraga, juga mengutamakan pasien yang memang sedang membutuhkan lift. Lift di Rumah Sakit biasanya di utamakan untuk para pasien berkursi roda, brangkar pasien yang akan di pindah ke kamar perawatan dari IGD dan sebagainya.
__ADS_1
Dan Geisha tidak biasa dengan hal ini. Ia saja memilih kamar tidur di lantai bawah, agar tidak bolak-balik ke lantai atas, jika di rumah.
Walau dadanya sudah sesak, tubuhnya letih, keringat terus menetes dan kakinya pegal. Tetap ia lakukan demi Genta. Ia ingin dianggap superwoman oleh lelaki tersebut.
"Cinta ini membunuhku ...." dalam kelelahannya, Geisha masih sempat-sempatnya bergumam pelan dengan lagu yang ia nyanyikan. Haha.
"Kamu enggak apa-apa?" Genta menoleh ke arah Geisha yang sekarang berjarak lima anak tangga darinya, sedang berusaha mengikuti jejaknya dengan napas terengah-engah.
Geisha mengulas senyum renjana palsu. "Enggak apa-apa, Dok."
"Kalau enggak kuat naik tangga, mending kamu naik lift aja." Genta menghentikan langkah di anak tangga ke delapan. Ia menunggui Geisha agar sampai di anak tangga yang sedang ia pijak. Saat ini mereka masih berada di lantai dua.
"Enggak, Dok. Saya kuat 'kok." Geisha mempercepat langkahnya untuk menyusul walau sebenarnya ia sudah ingin berteriak, kalau dirinya sudah tidak sanggup.
Dan.
"Mas!"
Genta dan Geisha mengubah pandangan ke atas, manakala ada Kahla yang hendak menuruni tangga, di persimpangan mereka.
Geisha menautkan alis. Deburan jantung yang kuat bukan lagi karena menahan rasa sesak, tetapi karena sapaan dari perawat hamil yang baru ia tatap sekarang kepada Genta.
Genta tersenyum manis. Dan Geisha cemburu.
"Kamu 'kok naik tangga? Kalau jatuh, bagaimana?" lembut sekali Genta bertutur, membuat Geisha meringis tidak percaya. Bahkan kelembutan yang ia rasakan tadi di poli jika dibandingkan dengan yang sekarang masih belum ada apa-apanya.
"Lift nya penuh, Mas. Aku harus segera ambil obat ke Apotik."
"Aku? Mas? Apa hubungan mereka?" Geisha membatin. Ia bingung dengan sebutan di antara Genta dan Kahla.
"Tapi kamu capek turun-naik tangga begini. Tuh lihat wajahmu berkeringat."
Geisha semakin membulatkan mata sesaat Genta mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya, dan mengusapkannya tepat di dahi Kahla.
Kahla yang tidak enak hati karena ada orang lain yang melihat perhatian Genta kepadanya, hanya memberikan senyum tipis kepada Geisha. Kahla menghentikan tangan Genta yang masih mengelap keringatnya. "Sudah, Mas. Malu."
"Sama ini." Genta menoleh ke arah Geisha yang berdiri sedikit di belakang tubuhnya. Kahla mengangguk dan masih tersenyum ke arah Geisha yang mana wajah gadis ini, samar-samar berubah memerah menahan iri.
"Kamu duluan ke lantai empat, ya. Saya mau antar Suster Kahla dulu ke Apotik!"
Geisha melongo dan Kahla pun sama.
"Mas, enggak usah!" sergah Kahla. Wanita hamil itu memilih meninggalkan Genta dan mulai menuruni anak tangga. Genta tetap dengan pendiriannya, ia mengejar Kahla dan menuruni tangga bersama-sama.
Geisha menatap punggung mereka berdua. Tepatnya kepada lelaki yang beberapa waktu lalu ia obati, ia tunggui ketika sedang tidur dan ia berikan susu kotak miliknya.
"Ya Allah, kok hati aku sakit banget lihatnya." Geisha menghela napas panjang sambil mengusap keringatnya sendiri dengan punggung tangan. Ia kembali melangkah menaiki anak tangga, walau kakinya sudah terasa lemas.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
__ADS_1