
Bagai melihat sosok keramat, Geisha bergegas cepat mengurai dekapan Gentala. Ia tatap Ayah, Kakak dan Andre di ambang pintu. Rasanya urat malu sudah terhempas. Mau bagaimana lagi, Gentala memang lah pilihannya sekarang.
"Kita juang sama-sama, ya. Jangan takut," bisik Genta.
Dan baru saja ingin menjawab ucapan Genta, Seketika Geisha meringis sakit, manakala Bisma dengan langkah panjang menghampiri mereka berdua. Ia menarik tangan Geisha untuk di seret paksa agar menyembah kaki Ayahnya.
"Adik kurang aja kamu!" sentak Bisma. Genta yang ingin memutus tarikan tangan tersebut malah terjungkal.
"Sha ...." panggil Genta. Ia tidak kuat karena kedua kakinya tidak bisa menapak akibat luka bekas beling yang menancap. Gentala hanya bisa menahan iba ketika Geisha di seret bagai bangkai oleh saudara kembarnya sendiri.
"Ayah!" seru Geisha dengan erangan tangis untuk menutupi malu dan perih hati karena sudah mempermalukan Ayahnya. Ia berjongkok, memeluk kaki Ayah.
"Kakak minta maaf, Yah. Kakak salah. Kakak enggak bisa nikah sama, Mas Andre," jelas Geisha terseguk-seguk, bahunya membuncang seiring isak yang tidak bisa ditahan.
"Jangan minta maaf kepada, Ayah. Minta lah maaf kepada Andre. Kamu sudah melukai hati lelaki soleh. Kamu sudah mempermalukannya. Tidak ada dalam baris turunan keluarga kita, pernah melakukan hal tidak terpuji seperti ini. Minta maaf lah padanya, jika Andre memaafkanmu. Ayah pun akan memaafkan," Ayah berusaha bijak walau hatinya hancur. Seapapun perbuatan Geisha, ia tetap buah hatinya. Tapi, ia tahu bagaimana hati Andre saat ini. Rasanya, Geisha pantas untuk mendapatkan hukuman.
Geisha melepas tangannya dari kaki Ayah. Lantas mendongak ke arah Andre yang sedang menatapnya dari atas. Sedari tadi Andre menatap dingin Gentala dari jauh tanpa ucapan. Raut kecewa dari wajah Andre bisa Genta terima.
"Mas ...," panggil Geisha. Ia mencoba berdiri, melihat Geisha sulit menegakkan tubuh karena kain kebaya yang menjuntai, Andre membantunya. Ayah sampai memejam mata karena Andre masih saja mau bersikap baik. Ia tidak menyangka, Geisha bisa begitu tega menyakiti Andre dan keluarga besarnya.
"Lenganmu berdarah, Sayang," ucap Andre khawatir. Mendengar sebutan di akhir kalimat membuat Gentala berang. Ia menatap tidak suka kepada Andre.
Geisha menggeleng dengan raut memelas. "Jangan baik padaku, Mas. Aku sudah jahat padamu,"
"Aku sudah memaafkan. Ayo kita kembali ke hotel, kita akan tetap menikah hari ini!" Andre seakan menolak lupa bahwa Geisha sudah lebih memilih Gentala.
"Ayo, kita pulang!" ajaknya lagi.
Andre tekan rasa sakit dan malu karena begitu memohon kepada Geisha. Ia hanya ingin tetap menikah dengan wanita itu, walau ia tahu cinta Geisha akan sulit ia raih. Tapi ia berjanji akan mencoba membuat Geisha melupakan lelaki monster seperti Genta.
Dari jarak beberapa meter. Genta menatap mereka dengan raut cemas. Ia takut Geisha akan terpengaruh.
Namun.
Geisha tetap memilih Gentala. Ia menurunkan tangan Andre dari lengannya secara halus. Geisha pandang bola mata Andre yang bergoyang-goyang menahan agar air bening nya tidak luruh.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menikah dengan kamu. Aku mencintai Dokter Genta. Kami saling mencintai," balas Geisha amat memohon.
Ayah dan Bisma, serta Eldy dan Om Ammar yang langkahnya baru tiba, begitu sakit mendengar ucapan Geisha. Apalagi Andre? lelaki itu semakin jatuh ke dalam lubang penghinaan. Terasa dilibas dengan sembilu, tidak sanggup untuk hidup.
__ADS_1
Di tinggalkan ketika ujung lidah akan mengucap kata Ijab, mencoba memaafkan dan merendahkan lagi harga diri agar Geisha mau kembali, nyatanya semua pengorbanan dan rasa sakit yang mendera tidak bisa mengembalikan Geisha padanya.
"Tapi, aku sudah mencintaimu. Jika kamu memang tidak mau hidup denganku, mengapa baru menyerah di hari ini, Sha? Di saat semua orang tahu, kamu akan menjadi istriku. Calon Mama dari anak-anakku ...." air mata Andre pun luruh. Pun sama dengan Genta. Ia menangis menatap Andre yang begitu mengemis cinta.
Andre itu sahabat nya. Sahabat kecilnya, mereka saja tidak pernah berkelahi. Malah saling membantu untuk menguatkan. Jasa Andre pun banyak untuknya. Tapi, kehadiran Geisha malah mempora-porandakan hubungan mereka. Dan keduanya tidak ada yang mau mengalah.
"Karena hatiku masih kuat untuk Dokter Genta, Mas. Aku tidak bisa menikah tanpa cinta. Maafkan aku, Mas. Aku salah. Aku jahat! Aku sudah membuatmu malu. Tapi, aku benar-benar mencintainya. Tolong maafkan aku." Geisha menyakinkan Andre untuk mau melepasnya.
"Jadi kamu lebih memilih, Genta?" Andre berbalik tanya. Dan dari pertanyaannya seakan Genta paham, jika Andre ingin mengatakan apa yang tengah Geisha pilih adalah suatu kesalahan. Andre tahu betul siapa dirinya. Apa yang terjadi selama ini dengannya.
"Iya, Mas," balasnya mantap.
"Jangan, Sha!" Andre menggeleng. "Jangan sakiti diri kamu ...," imbuhnya lagi.
"Maksud kamu apa, Mas?" Geisha menekan air matanya. Ia tilik Andre dengan tatapan mata menuntut. Seakan ada hal yang Andre tengah tutupi.
Dari jauh, Genta menatap Andre dengan gelengan kepala, meminta belas kasih agar tidak mempermalukan dirinya. Dan Andre yang berhati mulia seakan menyetujuinya. Ia bungkam seribu bahasa.
Genta bukan hanya sekedar sahabat tapi juga pasiennya. Etika profesi Dokter harus tetap Andre jalani. Ia tidak boleh menceritakan penyakit pasien ke sembarang orang tanpa adanya persetujuan dari yang bersangkutan.
Melihat Andre diam, Geisha melupakan apa yang sekilas Andre ucap. Ia yakin Andre memang hanya sedang kecewa.
"Aku yakin, Mas. Dokter Genta pasti akan membahagiakan aku," Geisha memaksa. Dan Ayah semakin kecewa mendengar penuturan Geisha. Walau ia tahu, cinta tidak dapat di paksa. Tapi sikap Geisha yang tidak beretika dan merendahkan Andre, membuat rasa sabar Ayah mengempis.
"Jawab, Ayah!" Ayah menatap tajam Geisha dengan semburat kemarahan. Bisa-bisanya Geisha memilih lelaki pemabuk seperti Genta. beberap botol-botol minuman yang terjungkal di lantai, bisa membuat Ayah menafsirkan kalau Genta bukan lah lelaki beriman.
Geisha hening. Ia menunduk, takut melihat kemurkaan lelaki pendiam seperti Ayah. "JAWAB!" Ayah mengulang. Dalam tunduknya, Geisha sampai memejam mata.
"Geisha pilih Gentala, Yah," jawab Geisha pelan. Dari posisinya, Genta mengelus dada. Rasanya plong sekali, karena Geisha lebih memilihnya.
Ayah semakin melototkan mata.
"TOLONG ULANGI UCAPANMU!"
"Geisha pilih Gentala, Yah."
"SEKALI LAGI! ULANGI ... YANG KENCANG!" seru Ayah dengan nada nyaring. Hati Ayah terasa di robek-robek oleh Anak sendiri. Bisma saja sampai tidak percaya kalau Ayah akan semarah itu. Ayahnya, yang selalu tersenyum jika Bunda dan para saudaranya merajuk, harus murka di hari ini. Demi Genta, Geisha membuat goresan luka di hati Ayah dan Bunda.
Geisha menatap Ayah dengan linangan air mata. "Maafkan, Geisha, Yah." dan tangan Geisha begitu saja di tepis oleh Ayah, saat anak itu ingin menggenggam tangannya untuk meminta maaf.
__ADS_1
"Pilih keluarga atau pilih lelaki itu!" Ayah menunjuk ke arah Genta.
Geisha menggeleng tidak percaya kalau Ayah akan memberikan pilihan yang amat menohok jantungnya. "Geisha enggak bisa memilih, Yah. Geisha sayang sama keluarga dan juga Genta."
Oh, sakit sekali! Sungguh sakit. Andre sebagai calon suami tidak disingung sebagai apa-apa dalam pilihan tersebut.
"TOLONG PILIH!" Ayah kembali mengulang.
"PILIH!"
Semua sampai menaikan pangkal bahu karena hardikan Ayah begitu keras kepada Geisha.
"Genta, Yah."
DAR.
Seakan pengorbanan Ayah dan Bunda dalam mengurus Geisha sedari lahir tidak ada artinya. Ia lebih memilih Gentala. Lelaki yang baru saja ia kenal dalam beberapa bulan. Bagaimana jadinya nanti, saat ia tahu lelaki yang ia pilih hanya akan menyakiti dirinya.
Ayah memejam mata. Mencoba menahan sesak yang sudah bergerumun di dada. Ia tahan air mata agar tidak menggelosor jatuh. Jika kebablasan untuk menyalurkan emosi, di takutkan ia akan menampar Geisha.
"Baik kalau begitu. Hiduplah kamu dengan pilihanmu. Kehilangan satu anak, tidak akan membuat Ayah mati. Ayah masih punya empat anak lagi yang bisa menjaga martabat Ayah dan Bunda," tutur Ayah pada Geisha dengan seribu luka di hati.
Geisha mencoba menggenggam tangan Ayah. Hatinya pun perih di saat diminta untuk memilih. Dan pilihannya jatuh kepada Gentala.
Ayah rangkul Andre. "Lupakan anak Ayah, Nak. Geisha tidak pantas untukmu. Kamu terlalu baik. Masih banyak wanita yang bisa menerima segala kekurangan dan kebaikanmu. Atas nama Geisha. Ayah meminta maaf," air bening luruh dari mata Ayah saat menatap Andre. Ia peluk lelaki itu untuk menguatkan. Melihat hal itu, Genta baru tahu, kalau Ayah lebih memilih Andre dari pada anak sendiri.
"Ayo kita semua pergi dari sini. Biarkan saja Geisha dengan lelaki pilihannya!" titah Ayah kepada semua yang hadir. Ia merangkul Andre yang masih melongo tidak percaya kalau dirinya sudah kalah.
Geisha mengerang. Ia menarik kain beskap Ayah di bagian punggung. Menahan agar lelaki itu tidak melangkah jauh. Melihat Andre yang terlihat lemas. Buru-buru Bisma membawa Andre untuk melangkah masuk ke dalam mobil.
"Tolong, Yah. Ampuni aku."
Ayah menepis tangan Geisha. Geisha tetap mengekor Ayah sampai ke halaman. Genta berusaha untuk merayap di lantai, ia ingin meminta maaf kepada Ayah Gifali.
"Jangan pernah injak kan kaki ke rumah! Ayah tidak menerimamu lagi!" seru Ayah. Lelaki itu melangkah panjang menuju mobil.
"Om ... El!" panggil Geisha. Om Ammar hanya bisa menggeleng kepala samar seakan tidak percaya kalau keponakan tersayangnya itu akan membuat keluarga Artanegara malu di jejeran sosial media. Om berlalu sambil merangkul Eldy. Eldy sempat bahagia karena Geisha kabur saat ingin di nikahkan oleh Andre, karena ia merasa dirinya punya peluang. Nyatanya, ia kembali tertampar lahar panas. Geisha lebih memilih Gentala.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Sha," tutur Eldy.
__ADS_1
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
Maap ya baru update lagi. Beberapa hari kemarin aku sakit, guys. Moga kalian sehat selalu yaaw.