Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Tidak Ada Yang Bisa.


__ADS_3

Melihat kedatangan keluarga nya membuat Geisha menghentikan tangis. Ia menoleh ke arah mereka dengan tatapan tidak percaya, kalau dirinya akan di susul.


"Kalian di sini saja dulu." titah Ayah Gifa kepada Dipta dan Ginka. Keduanya pun menurut. Sedangkan Bunda Maura sudah lebih dulu menerobos masuk ke dalam kamar.


"Maaf Gana. Malam-malam begini Anakku repotin kamu," ujar Bunda kepada adik iparnya.


Tante Gana beranjak berdiri, ingin meninggalkan Geisha dengan Bunda dan Ayah. "Enggak apa-apa, Kak. Namanya juga lagi galau." kekeh Tante. Geisha yang masih terduduk di tepi ranjang hanya tertunduk dengan sisa air matanya. Bunda bergegas duduk di sebelah Geisha, membelai sang anak.


"Makasih, Dek." sambung Ayah.


"Sama-sama, Kak." berlalu lah Tante dari pandangan mata mereka. Kini, hanya ada Bunda dan Ayah yang duduk bersisihan dengan Geisha di ranjang, untuk menenangkan anak perempuan tersebut.


"Kakak ...." baru saja bahunya di elus sang Bunda. Geisha menangis lagi. Ia beringsut memeluk Bunda.


Hiks ... hiks.


"Kakak juga mau nikah, Bunda! Kakak mau!" Bunda pun menangis mendengar anaknya mengeluh.


"Sabar, Nak. Sabar. Jodoh Geisha sedang Allah jaga," tutur Ayah sambil mengusap lembut punggung Geisha naik turun.


"Apa aku batalin aja lamaran besok, Kak? Aku kasian sama, Kak Geisha," ucap Ginka kepada Dipta di depan pintu kamar.


Pradipta menggeleng. Ia merangkul Adiknya. "Kamu sabar dulu. Kak Geisha juga kepengin kamu nikah 'kok. Hanya aja dia enggak mau di langkah."


Ginka menatap Dipta. "Maafin aku juga karena harus langkah Kakak, ya."


Pradipta menggerakan kepalanya naik turun dengan seulas senyum. "Aku 'sih enggak masalah. Kan udah pilihan aku untuk tunggu Rayna sampai selesai sekolah. Lagian kami juga sudah bertunangan." Dipta meyakinkan sang Adik agar tidak galau seperti memikirkan Geisha. Dipta mengusak kepala Ginka yang bertutupkan dengan kerudung rumahan.


Pradipta saudara kembar Geisha memang sudah melangsungkan pertunangan dengan wanita berhijab di London. Cucu tiri dari Kakeknya, Rayna Salsabila Araziq. Rencananya mereka akan menikah setelah Rayna lulus S2. Itu memang permintaan orang tuanya. Maka di sini sebisa mungkin Pradipta harus bisa menjaga hati karena jarak di antara mereka cukup jauh.


Ginka berbalik senyum. Setidaknya ia lega karena dari dua Kakaknya yang akan ia langkah, satunya sudah terlihat jodohnya. Tinggal Geisha saja.


"Bunda, Ayah, Kakak dan Adik-adikmu selalu doain kamu. Moga cepat menikah, mendapatkan jodoh yang sesuai hati, sesuai keluarga, sesuai agama. Tapi, karena sampai saat ini semua itu masih menjadi rahasia Allah. Maka, Geisha harus bersabar.


Karena sekeras apapun kita memaksa Allah, kalau Allah belum berkehendak. Kita mau apa, Nak? Jangan selalu memandang rendah diri walau belum menikah. Geisha tetap berliannya Bunda dan Ayah." Bunda tegar hati menasehati Geisha walau air matanya sudah berduyun-duyun jatuh. Pun dengan Geisha yang masih terseguk-seguk memeluk Bundanya.


"Iya, Nak. Jodoh itu emang enggak bisa di tebak. Contohnya saja Kakakmu, Bisma. Di saat dia enggak mau banget nikah. Eh, tapi malah jadi nikah. Dengan hal itu kita bisa belajar. Kalau jodoh akan datang sendiri jika waktunya sudah tepat."


Bukan hanya Pradipta saudara kembar Geisha. Tetapi ada juga yang bernama Bisma. Mereka bertiga di lahirkan bersamaan dari perut Bunda dua puluh empat tahun lalu saat Bunda baru berusia sembilan belas tahun. Kala itu Ayah dan Bunda memang masih sangar belia untuk menikah. Menghadapi berbagai ujian pelik selama mengarungi bahtera rumah tangga di London puluhan tahun yang lalu.


Gardapati Bisma Hadnan. Kakak lelaki yang mereka tua kan. Adalah seorang angkatan darat yang saat ini sedang bertugas di sebuah pulau terpencil di daerah Indonesia timur.

__ADS_1


Setahun lalu dalam masa pendidikan, Bisma mendapati jodohnya dalam hal yang tidak biasa. Bunda dan Ayah akhirnya setuju, walau Bisma harus bersikeras untuk menerjang badai dan rintangan agar bisa mengukuhkan restu orang tuanya. Dan saat ini, di seberang sana istri Bisma sedang mengandung.


Geisha termenung lama. Ia fokus mendengarkan nasihat kedua orang tuanya. Apa yang terucap dari bibir Ayah dan Bunda memang suatu kebenaran yang tidak bisa ia tampik.


"Bukan mau Bunda dan Ayah, kalau akhirnya kamu di langkah lagi, Nak. Yang kami tau kalau sudah ada niat baik dari----"


"Enggak apa-apa, Bunda." Geisha menyelak ucapan Bunda. Ia mengurai dekapan dan menatap senyum kedua orang tuanya. "Kakak udah enggak apa-apa 'kok. Mungkin tadi Kakak hanya kaget aja pas sampai rumah. Kondisi juga lagi capek, habis pulang dari Rumah Sakit. Dan kesalafahaman ini memang Kakak yang ciptain sendiri." Geisha tersenyum dari balik wajahnya yang masih basah. Ayah merangkulnya. Mendekap, mencium anak itu.


"Mungkin Allah lagi simpan jodoh, Kakak. Karena ingin Kakak mengurus Bunda dan Ayah lebih lama lagi sebelum menikah." sambung Geisha.


Bunda dan Ayah menatap haru anaknya. Dan akhirnya bisa bernapas lega. Karena Geisha sudah luluh. Begitupun dengan Geisha, seakan ia tidak sesak lagi. Mata dan hati seraya terbuka. Bahwa kebahagiaan seseorang perempuan tidak hanya dari segi pernikahan saja. Tapi juga bisa meraih kebahagiaan dengan cara berbakti kepada Orang Tua.


"Kakak ...." sapa Ginka dan Dipta yang akhirnya ikut berkumpul bersama mereka di kamar ini.


Geisha melepas pelukan Ayah dan mendongak ke arah Ginka yang langsung menerjangnya dengan pelukan.


"Maafin Adek, Kak. Bukannya Adek enggak mau bicara. Tapi Adek bingung. Adek hanya ingin jaga perasaan----"


"Udah ... udah! Aku enggak apa-apa. Kamu lamaran aja besok, ya." sergah Geisha. Ia memejam mata memeluk Adiknya.


Semua tersenyum menatap mereka berdua yang sedang mendekap.


"Udah peluk-pelukan 'tuh. Kapan 'nih mereka pulang? Si Harley udah kebelet 'nih." Tante Gana yang sejak tadi mengintip ke dalam kamarnya. Ingin kepo dengan bahasan keluarga Kakaknya, mendelik tajam ke arah suaminya yang tiba-tiba sudah muncul di belakang punggungnya entah sejak kapan. Si Om tersenyum jahil diiringi rengekan.


"Ha?" Om melongo. Tante begitu saja pergi meninggalkan Om yang masih menautkan alis. Dan lelaki itu terkekeh pelan. Ia kembali menatap haru keponakan dan para Kakaknya yang masih menenangkan Geisha di dalam kamarnya. Walau malam indahnya bersama istri terjeda, tapi melihat Geisha mau mengubah sikap untuk lebih dewasa. Om bahagia.


"Semoga kamu cepat nikah, Sha. Aamiin." doa Om dalam hatinya.


...🌾🌾🌾...


"Lepasin!"


"Kamu mau kemana, Sayang?"


Wanita itu menepis tangan suaminya kasar, lantas melototkan mata tajam. "Tolong ceraikan aku, Mas! Aku udah enggak tahan hidup sama kamu!"


"Aku bisa berubah. Aku janji, Vika! Aku sayang banget sama kamu. Jangan tinggalin aku, ya."


Dan si wanita itu mendorong suaminya sampai terhuyung jatuh ke lantai. Ia melenggang langkah keluar rumah dan meninggalkan suaminya yang mulai menitikan air mata menahan perih di hati. Suaminya tetap tidak patah arang, ia mengejar istrinya yang sudah mengemudikan mobil keluar dari pekarangan rumah.


Dan.

__ADS_1


"AVIKAAAAAA!!"


Genta berteriak dengan menyebut nama mantan istrinya dari pejaman mata. Lelaki blesteran Indonesia-Rusia itu mendadak bangun karena di terpa mimpi buruk dengan kejadian yang sudah terlewati setahun ini. Napas Genta terengah-engah. Ia usap keringat yang membasahi wajah, leher dan rambut gondrongnya.


"Aku mau kita balikan, Mas!"


"Maaf, Vika. Tapi aku udah enggak bisa."


"Apa sudah ada yang lain, Mas?"


"Enggak!"


Karena pembicaraan tadi sore di kafe antara dirinya dengan Vika yang membawa-bawa wanita lain, membuat Genta terbayang-bayang dan memimpikan kenangan masa lalunya bersama Avika, wanita yang ia nikahi setelah bercerai dengan Kahla. Kahla Mutiara, seorang perawat anak.


Gentala dan Kahla sama-sama bertugas di tempat yang sama, Alika Hospital. Rumah Sakit milik Eyang nya Geisha.


Drrt drrt drrt.


Gawai Genta bergetar di atas nakas, membuat lelaki itu menoleh dan meraihnya.


"Mami?" ia melihat nama Mami Else yang tertera di layar.


"Hallo, Mam ...."


"What's wrong with you, Dear? Mimpi buruk lagi kamu?" tanya Mami Else di seberang sana ketika mendengar napas putranya berantakan.


Dada Genta masih terlihat naik turun menahan sesak. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dari pusaran ranjang.


"Genta ingin Mami pulang." lirihnya.


"Iya, Nak. Nanti Mami pulang. Adikmu belum---"


Dan belum selesai sang Mami menuntaskan ucapannya di sambungan telepon. Gawai yang Genta apit sedari tadi di telinga. Ia banting begitu saja ke lantai. Walau gawai tersebut tidak langsung mati dan hancur.


Genta menekuk Kaki. Ia tenggelamkan kepalanya di atas lutut. Lelaki itu mulai menangis.


Terlahir menjadi anak broken home, yang membuatnya harus mandiri dan kuat di segala kondisi, amatlah berat. Apalagi Mami dan Papinya sudah mempunyai keluarga masing-masing, sungguh membuat Genta hidup tersiksa akan iri. Ia iri dengan Adik-adik tirinya yang selalu mendapatkan curah dan kasih sayang dari Papi dan Maminya dalam waktu yang tidak mempunyai batas.


Di tambah lagi dengan pernikahannya yang selalu kandas di tengah jalan. Membuat lelaki yang berprofesi sebagai Dokter Bedah itu selalu membenci takdir. Tidak ada Tuhan dalam kamus hidupnya. Ia merasa selama ia hidup di dunia, dirinya tidak akan pernah bahagia.


"Tidak ada yang bisa menerimaku apa adanya!" keluh Genta Hanasta Edward.

__ADS_1


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Hayy sayang-sayang. Aku kembali membawakan kisah mereka. Semoga suka ya❤️. Aku belum bisa pastiin jam berapanya aku update cerita ini seperti Ammar dulu yang kebanyakan terbit di waktu 00:02. Jadi tungguin aja notifikasinya ya. Gitu aja dari aku, sehat selalu yaa kalian. Aamiin


__ADS_2