Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Tolong Temani Saya!


__ADS_3

"Fokus! Yang harusnya kamu dep itu itu luka operasinya. Bukan keringat saya!" Genta berdecak kesal saat menjahit luka menganga di kulit perut bawah pasien sebelah kanan, tanpa menatap Geisha yang tengah membantunya menjadi asisten instrumen, di hadapannya sekarang.


"Cucunya yang punya Rumah Sakit, Dok." Suster Indah berbisik, seraya mengingatkan bahwa yang ia hardik adalah cucu sultan. Genta sekilas tersentak, karena ia baru tahu. Tapi dirinya pandai menutupi. Ingin tetap di takuti karena Geisha selalu salah.


Genta berdecih di balik maskernya. "Saya enggak perduli!"


Geisha hanya menghela napas berat yang ia tahan kuat-kuat. Walaupun ia dikenal sebagai cucu dari owner, hal itu tidak membuat ia besar kepala. Malah membuat ia malu. Malu karena cucu dari perawat yang begitu jenius, mengapa bisa bodoh seperti dirinya.


Ia pun kesal dengan kepalanya, kenapa masih saja tidak fokus. Karena melihat suster Indah mengelap keringat Genta agar tidak menetes, Geisha pun secara refleks mengikuti. Dan Genta marah besar.


Padahal mendampingi Genta di kamar operasi adalah waktu yang di nanti-nanti. Walau sudah dini hari, Geisha tetap datang ke Rumah Sakit walau ia harus membangunkan Ayahnya untuk minta di antar, menembus jalanan malam amat menakutkan. Semua itu ia tempuh, karena ingin sekali melihat cara kerja Genta pada saat melakukan pengangkatan usus buntu pasien yang sudah pecah.


Genta menyodorkan alat yang sedari tadi ia pakai untuk menjahit luka kepada Geisha. "Coba jahit!"


Tangan Geisha seakan tremor meraih sodoran alat tersebut. Di bawah lampu operasi yang terang yang menyorot dirinya, ia mulai mencoba menjahit luka yang tinggal seinchi.


"Ya Allah, Bunda, Ayah, tolong Kakak." doa Geisha. Ia sudah kepalang malu sekali di bentak-bentak Genta sedari awal perjalanan operasi. Semoga saja kali ini dirinya selamat.


Dan beberapa detik kemudian. Suara Genta melengking lagi. Bukan hanya pangkal bahu Geisha yang naik, tapi juga para tim operasi yang bertugas.


"BODOH! JAHIT AJA ENGGAK BISA KAMU? KELUAR SEKARANG! KELUARRRR!!"


"Tapi, Dok. Saya ...."


Genta meraih lagi paksa alat yang tengah Geisha pegang. Lelaki itu murka karena hal kecil seperti itu saja Geisha tidak bisa melakukannya. Padahal menurut Genta, koas yang lain sangat kompeten, jago dan lihai. Mengapa hanya Geisha yang berbeda.


"Saya bilang keluar!"


Suster Indah menggerakan bola matanya ke arah Geisha, seraya kode untuk menurut.


"Baik, Dok." Geisha yang berjiwa besar lantas keluar dari kamar operasi, dengan hati yang malu.


Di depan banyak orang Genta terus memarahinya. Apalagi dari sebagian perawat yang tadi bertugas mengetahui siapa jatidirinya. Mengapa bisa rasa kagum kepada Genta, membuat dia bodoh seperti ini. Padahal kemarin saat mengikuti stase kebidanan, dirinya di puji oleh Dokter Adi.


Ia membuka sarung tangan, masker dan topi operasi. Geisha menangis, saat mencuci tangannya. "Ya Allah, Nek. Geisha udah buat malu, Nenek." senyum Neneknya terbayang, membuat air mata Geisha semakin pecah. Ia berjongkok di bawah wastafel. Merenungi kesalahannya.


"Padahal kemarin dia udah puji gue, tapi sekarang malah begini." sebelum masuk ke kamar operasi. Ilmu Geisha di perdalam dulu di ruang poli. Dan Genta mulai memuji dengan kecekatannya yang mulai muncul.


Tapi, tidak untuk malam ini. Semua gagal. Geisha tidak bisa menahan rasa takjubnya saat melihat Genta yang begitu tampan, datang dengan piyama tidur. Operasi cito memang mengganggu tidur Genta yang sedang pulas-pulasnya di rumah. Tapi, demi tanggung jawab. Ia tetap datang ke Rumah Sakit, dan dua malam ini memang jadwal Geisha dan Lauren untuk stand by jika Genta ada operasi malam. Namun Lauren tidak datang, sepertinya anak itu ketiduran di rumahnya.


Buru-buru Geisha bangkit dan berlalu dari ruang cuci tangan, saat samar-samar dirinya mendengar kalau dari dalam ruang operasi sudah selesai. Ia ingin membereskan berkas operasi di ruangan Dokter, agar Genta bisa mengisinya dengan baik.


"Dokter Genta, duda, Bu?"


"Iya, Dok. Dan----"


Percakapan singkat antara Suster Lala dengan Geisha, beberapa waktu lalu yang langsung terjeda karena kedatangan beberapa suster lain di Nurse Station membuat Geisha dan Suster Lala bungkam.

__ADS_1


Walau tidak sepenuhnya mendengar cerita Suster Lala. Tapi, Geisha senang. Karena lelaki tampan ini belum menikah. Pikirnya, ia masih ada kesempatan untuk mencuri hati Genta, walau Genta berstatus duda sekalipun.


Selama dua minggu menjadi asisten lelaki itu di poli. Rasa suka Geisha terus bergulir. Walau ia tahu awal menyukai Genta hanya karena lelaki itu tampan saja. Tetapi yang menyebalkan nya, wajah Genta selalu terbayang saat Geisha hendak tidur. Membuat rasa suka seakan merubah menjadi rasa cinta.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Krek.


Pintu ruangan dokter terbuka. Genta melangkah masuk ke dalam dan duduk di kursi, menatap berkas operasi yang sudah di tata rapih oleh Geisha di meja.


Geisha tidak menyambut kedatangannya. Wanita ini hanya menunduk saja, menyembunyikan kesedihannya. Genta seakan lurus saja, ia tidak perduli dan seakan melupakan kejadian tiga puluh menit lalu. Begitu memang cara ia membimbing. Agar mental anak bimbingnya kuat. Dan mau terus belajar.


Selama mengisi berkas operasi. Genta tetap mengajari Geisha. Dan Geisha hanya manggut-manggut saja. Ia tidak mau mendongak menatap Genta. Sekilas dari sudut matanya, ia tetap memuji ketampanan Genta di balik baju operasi yang masih lelaki itu pakai. Tadi saja di ruang ganti Dokter. Geisha sempat mengelus piyama tidur Genta yang tergantung. Begitu wangi.


"Kamu sakit gigi? Dari tadi saya jelaskan, hanya diam saja." Genta mendongak, ia beralih dari berkas yang sedang ia isi ke arah Geisha yang sedang terduduk di hadapannya dan menunduk. Refleks Geisha mengangkat kepalanya. Dan Genta melongo melihat kelopak mata Geisha yang bengkak.


"Kamu nangis?" suara bariton menyeramkan itu membuat Geisha bergedik takut. Dan Genta tidak menyadarinya kalau gadis ini memang menangis karena ulahnya.


Geisha menggeleng, dengan suara parau ia menjawab. "Tadi kelilipan, Dok. Kayak ada debu, saya kucek-kucek. Eh malah gini." sekilas senyum palsu Geisha paksakan untuk timbul.


Dan jantung Geisha seakan ingin terserak. Mana kala tangan Genta terulur untuk memeriksa kelopak matanya. Genta bangkit dari duduk, beringsut untuk memajukan tubuhnya kedepan agar bisa menilik mata Geisha yang masih memerah. "Perih enggak?"


Geisha gugup tapi dirinya juga tersipu. Aroma mulut Genta yang begitu wangi, seperti hembusan angin segar yang menyapu wajahnya. Dan bodohnya Geisha mengangguk.


"Boleh saya bantu tiup?" Genta menawarkan.


Oh, Genta. Rasanya Geisha ingin terbang bersama ubur-ubur yang siap di tangkap oleh pasangan suami istri, Spongesbob and Patrcik. Haha.


Puh.


Puh.


Dada Geisha kembali berdenyut tegang. Sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa grogi, padahal ia sedang gembira luar biasa. Seperti budak cinta, akan menerima saja ketika di sakiti dan kembali sayang ketika di perhatikan.


Geisha pun baru tahu, bahwa ucapan Suster Lala ada benarnya.


"Walau pada bilang dia itu Dokter galak. Tapi Dokter Genta itu perhatian banget sama kita-kita kalau lagi sakit. Dokter lain mah jarang banget mau besuk perawat Poli kalau lagi sakit. Tapi kalau beliau beda, sesibuk apapun kalau dia tau nih ada perawat poli yang sakit, Dokter Genta pasti jenguk. Terus kasih uang.


Dan seminggu sekali pasti ngasih uang untuk makan siang kita-kita. Dokter Genta aslinya baik, kalau kita sudah kenal."


Puh.


Puh.


Genta menghentikan tiupan dari mulutnya ke iris mata Geisha. "Sudah enakan?"


Wajah mereka amat dekat. Jika saja Geisha sudah menjadi kekasih Genta, wanita itu pasti akan nyosor duluan untuk mencium bibir Genta.

__ADS_1


Geisha mengulas senyum. Ingin menjawab, tapi 'kok rasa lidah di mulutnya seakan pahit sekali, karena habis menangis. Ia takut jadi bau mulut dan membuat Genta ilfil. Dan Geisha hanya bisa mengangguk. Genta kembali duduk menatap berkas.


"Kamu baik ternyata." Geisha tersenyum dalam hati.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Praktek poli sudah selesai. Geisha membantu Suster Lala untuk mencuci alat di wastafel.


"Dok terusin, ya. Ibu mau pipis dulu." bisik Suster Lala.


Geisha mengangguk. "Baik, Bu." ia tetap menyikat alat-alat bedah sampai bersih. Aktivitas yang baru ia tekuni selama di sini, padahal selama ia hidup. Geisha tidak pernah mencuci apapun, baju, piring, atau alat-alat seperti ini. Ia saja tidak bisa masak mie instan. Membereskan tempat tidur saja tidak pernah. Geisha seakan anak manja, padahal Bunda dan Ayah tidak pernah memanjakannya seperti ratu. Hanya saja rasa malas Geisha begitu keterlaluan sekali. Mungkin hal itu pula yang menghambat jodohnya selama ini.


Salur-salur ia dengar dengkuran napas halus dari sosok lelaki yang makin terasa di hatinya, sedang tertidur menyandar di kursi Dokter dengan tangan bersedekap.


Genta terlihat amat lelah, bayangkan saja operasi tadi malam baru selesai mendekati subuh. Dan pagi-pagi nya sudah harus praktek poli. Begitupun dengan Geisha, ia juga sama. Sangat lelah.


"Pulas banget tidurnya. Kasian, ya." Geisha tilik wajah Genta yang blesteran bule lamat-lamat dari kejauhan. Jika sedang tidur, begitu meneduhkan. Hilang sudah sosok Genta yang mempunyai mulut pedas seperti cabai.


Dan alis Geisha tiba-tiba menaut dengan mata membola saat ia melihat darah keluar dari salah satu lubang hidung Genta.


"Ya Allah, darah? Mimisan?" gumamnya. Buru-buru Geisha meraih beberapa helai tissue dan mendekat. Pada saat ingin mengusap darah tersebut, bola mata Genta terbuka.


Geisha dan Genta sama-sama kaget. "Maa--maaf, Dok. Saya hanya ingin mengusap darah ini." Geisha tetap mengusap darah yang akan melaju sampai ke atap bibir. "Dokter mimisan." imbuh Geisha lagi.


Genta mengangguk tenang tanpa kata. Ia menatap Geisha yang sedang mencoba menghentikan pendarahan di hidungnya. Jarak mereka kembali dekat seperti tadi malam.


"Kenapa jika dekat begini, rasa takutku ke kamu seakan menghilang, Dok?" Geisha membatin.


Jantung Geisha terus menggebu-gebu. Ingin sekali ia peluk lelaki ini. Karisma yang Genta miliki jangan sampai menyihir hormon kewanitaan yang Geisha miliki. Bisa gawat, haha.


"Semoga kamu enggak apa-apa, ya, sayang." Geisha hanya bisa berkata dalam jiwa.


"Kamu enggak usah cemas. Saya biasa seperti ini."


Geisha membeliakan mata, ia tersentak kaget. Seakan Genta dapat membaca hatinya. Genta dapat merasakan deruan napas cemas yang Geisha keluarkan.


"Dokter kelelahan, ya? Tadi pagi udah sarapan, Dok?"


Genta mengangguk. "Sudah."


"Istirahat dulu aja, Dok. Biar darahnya saya yang dep 'kan."


Genta memejam mata, mengikuti perintah Geisha untuk kembali tidur saja. Biar mimisannya, Geisha yang tangani. Geisha menyumpal hidung Genta dengan kapas bersih agar darah tidak lagi menetes.


Di rasa darah sudah tidak keluar. Geisha yang bermaksud berlalu dari pandangannya untuk memesan segelas teh hangat di Nurse Station, lantas menoleh ke belakang, ia melongo kaget saat tangannya di genggam oleh Genta. Dalam pejaman mata lelaki itu berucap.


"Temani saya. Kamu ambil kursi lain dan letakan di sebelah kursi saya. Duduk lah dulu di sini."

__ADS_1


Seakan usapan lembut yang Geisha berikan membuat Genta merasa nyaman.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


__ADS_2