
"Genta bangun, Nak. Ayo shalat subuh ...." Mama Luna mengetuk pintu kamar anak tirinya. "Genta ...," serunya lagi amat lembut. Mama Luna sangat hati-hati sekali jika berujar kata kepada Genta. Tidak mau salah ucap, karena Ia tahu anak lelaki itu sangat sensitif kepadanya sejak dulu.
Tak berapa lama suara serak yang ditunggu sejak tadi, terdengar dari dalam. "Iya, Mah," balas Genta.
Mama Luna termangu, di balik mukena putih bertile yang tengah ia pakai bola matanya melolong takjub.
"Apa tadi? Genta ucap apa? Ma---mama?" tanyanya pelan tidak percaya. Kristal di matanya mulai tampak, ia tersenyum haru, berpuluh-puluh tahun ia menginginkan Genta untuk mau memanggilnya dengan sebutan Mama bukan Tante. Bagaimana pun ia adalah istri Papinya, wanita yang notabenenya juga harus Gentala hormati seperti kepada Mami sendiri.
Setelah tujuh hari berturut-turut melaksanakan shalat istikharah, meminta yang terbaik kepada Allah untuk masa depan putrinya, Ayah Gifa mantap menerima Gentala untuk menjadi menantunya. Tetapi, Genta diwajibkan untuk bisa shalat dan minimal sudah bisa mengaji sampai Iqra 3, sebelum menikah.
Mendengar hal itu, Mama Luna dan Papi Hari berjanji akan membuat Gentala bisa memenuhi syarat dari calon besannya. Dan mulai dua minggu ini, Gentala tinggal serumah bersama Mama Luna, Papi Hari, Zizi dan Zita, untuk diajarkan shalat dan mengenal Al-Quran.
Perhatian, kelembutan, kasih sayang dan mau mengajarkan Genta untuk mengenal agama Islam lebih dalam, membuat hati Gentala terenyuh akan kebaikan Mama Luna. Ada rasa sesal di hatinya, mengapa selama ini ia bisa membenci wanita yang ternyata amat baik padanya. Ia telat menyadari ketulusan yang selalu wanita itu beri. Berkat rasukan dari Mami Else, yang amat membenci Mama Luna, membuat Gentala terprovokasi.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok nangis?" Papi Hari mendapati istrinya yang berhati baik tengah menunduk, menitikkan air mata di depan pintu kamar Gentala. Papi takut Genta menyakiti hati istrinya lagi.
Mama mendongak, lantas memeluk suaminya, lelaki yang lebih tua sepuluh tahun darinya. "Mama senang banget, Pah. Tadi pas Mama bangunin Genta, anak kita itu manggil aku, Mama."
Tetesan air mata istrinya itu membasahi baju kokoh yang masih melekat di tubuh Papi Hari. Papi tersenyum, mengusap punggung istrinya lembut. "Maafkan sikap anakku selama ini, ya, Mah. Aslinya dia itu sayang sama kamu," balas Papi.
Mama Luna mengangguk-angguk di dada Papi.
"Duh, masih subuh. Udah peluk-pelukan?" sindir Gentala dengan kekehan. Ia keluar dari kamar sudah siap dengan sarung dan baju kokoh bersiap akan menunaikan shalat subuh berjamaah. Walau baru hapal gerakan, belum dengan semua bacaan shalat, tapi Genta tidak gentar. Ia akan tetap berusaha untuk shalat jika sudah waktunya.
Papi dan Mama mengurai dekapan mereka. Mama Luna menyeka air mata, ia menoleh malu.
"Aku duluan ke mushola, ya, Mah, Pah," katanya sambil melenggang langkah untuk berlalu. Genta ingin kepo, mengapa bisa mereka berpelukan seperti itu?
"Tuh 'kan, Pah. Papa dengar 'kan? Tadi Genta bilang apa?" raut senang mengalir di wajah Mama Luna, ia masih saja bangga. Papi Hari mengulum senyum, ia usap kepala wanita itu dan menjawab, "Iya, Sayang. Papa dengar. Doakan Genta selalu dalam doamu, ya. Bantu Anakku untuk mengenal Allah," pinta Papi.
Karena dulu wanita ini pula yang bisa membuatnya mengenal Allah seperti sekarang. Papi Hari dan Gentala adalah sesosok lelaki yang sangat haus akan kelembutan seorang wanita. Dan ketika mereka sudah mendapatkannya, kedua lelaki itu akan melakukan apa saja untuk wanita yang mereka cintai, agar tetap tinggal disisi mereka. Seperti Papi kepada Mama Luna dan Genta kepada Geisha.
"Tanpa Papa minta, tiap hari Mama selalu doain Genta," balas Mama Luna. Karena ia sangat menyukai dan selalu bermimpi untuk mempunyai anak lelaki dari suaminya. Tapi sampai saat ini, Allah hanya memberikan ia dua anak perempuan. Maka, ia selalu berdoa agar Gentala mau menganggapnya seperti Mama sendiri. Ia tahu, anak lelaki yang ia impikan telah Allah berikan lewat Gentala.
Hidayah itu sangat unik, bisa datang dari orang yang kita benci sekalipun. Seperti halnya pertemuan Gentala dengan Geisha yang bermula dengan ketidaksukaan dan hubungannya dengan sosok Mama Luna yang selalu ia ingkari, jika wanita baik itu selama ini selalu ada untuknya. Dengan Hidayah dari Allah, Gentala kembali dapatkan hidupnya.
Maka, nikmat Allah mana yang Genta, dustakan?
...๐พ๐พ๐พ...
Di balik kaca mata hitam dengan kisaran harga belasan juta yang tengah ia pakai, Gentala menoleh ke sebelah, mendapati calon istrinya yang tengah duduk dengan wajah tegang menatap ke depan jalanan yang cukup padat.
Biasalah namanya juga hari minggu, banyak orang-orang yang ingin keluar dari rumah masing-masing untuk pergi jalan-jalan, bersilahturahmi atau berbelanja. Seperti yang saat ini Gentala dan Geisha lakukan, mereka akan bertandang ke rumah Mami Else. Genta ingin mengenalkan Geisha kepada Mami sebagai calon istrinya dan akan menikahi Geisha akhir bulan ini.
Genta menurunkan tangan kirinya dari stir mobil, lantas menggenggam tangan Geisha. Ia tarik tangan wanita itu dan diletakkan di atas pangkuannya.
"Jangan gugup, Sayang. Santai aja. Mamiku itu asik 'kok orangnya," ucap Genta. Seakan ia bisa membaca pikiran Geisha dari raut wajah wanita itu.
__ADS_1
"Aku takut, Mamimu enggak suka sama aku, Mas,"
Genta menautkan alis. "Jangan punya pikiran jelek dulu, Sayang. Mami akan mendukung apapun yang akan menjadi kebahagiaanku. Dulu saja beliau tidak banyak beragumen saat aku membawa Kahla dan Avika."
Geisha mengangguk, wajahnya yang sedari tadi kaku kini bergulir berubah, kembali hangat. Ia yakin Genta tidak akan berbohong. "Maaf, ya, Mas. Bukan maksud aku untuk salah sangka." tapi, entah mengapa hatinya berkata seperti itu.
Ia takut, style nya saat ini tidak menyentuh hati calon mertuanya. Karena dari cerita yang ia dengar, bahwa Maminya pun tidak mengenal Agama dalam hidupnya. Dan entah bagaimana jika Mami Else tahu, kalau Mama Luna adalah teman karib dari calon menantunya nanti.
Genta mengecup punggung tangan Geisha. "Wajar kalau gugup, seperti aku waktu itu ingin meminta restu dari Ayah dan Bundamu," balas Genta.
Geisha menghela napas, ia mencoba untuk menormalkan derap jantung yang sejak tadi berdegup tidak karuan. Ia buang jauh-jauh pikiran jelek yang masih saja berkutat di kepala dan hatinya. Melihat senyum Gentala yang tidak surut, dan bahagia sekali karena ingin memperkenalkan dirinya, membuat semangat Geisha kembali muncul.
"Iya, Mas. Aamiin."
"Kamu bawa apa aja, Sayang? Kok banyak banget?" Gentala menatap beberapa bungkusan plastik di bangku belakang dari kaca spion.
"Aku bawa beberapa kue buatan Bunda, Mas. Moga aja Mamimu suka," jawab Geisha.
"Mami pasti suka. Kue buatan Bundamu 'kan enak. Semoga kedepannya, kamu juga bisa pintar bikin kue kayak, Bunda."
Geisha menyengir kuda. "Beberapa hari ini aku lagi belajar masak, Mas. Baru tahu cara masak nasi di rice cooker 'sih."
Gentala tertawa. "Hal kayak gitu, nggak usah terlalu dipikirin. Aku bisa bayar pembantu nanti. Tugas kamu cukup mencintaiku saja setiap hari ...."
Geisha menarik tangannya dari genggaman tangan Genta dan mencubit lengan lelaki itu. "Bisa aja gombalnya! Menikah memang butuh cinta, tapi perut lapar apa bisa diisi dengan cinta doang?" dengus nya. "Masa iya aku kalah sama kamu. Kamu aja lelaki bisa masak ... masa aku enggak? Nanti ketukar lagi, mana yang suami, mana yang istri ...," balas Geisha tertawa.
Ranjang?
Suatu tempat yang akan ia gunakan untuk memadu cinta dengan Geisha setelah menikah. Menciptakan generasi berikutnya dari persatuan darah mereka. Tapi, ranjang itu akan selalu tertata indah jika belaian dan sentuhan yang Gentala berikan dalam batas normal layaknya manusia biasa. Bukan belaian menyakitkan, yang bisa membuat luka terbuka di permukaan kulit, memuncarkan darah dari kebengisan gerak tubuh Gentala yang akan berubah layaknya monster pemakan manusia jika hasratnya sudah tersulut.
"Mampukah kamu menerima saya yang seperti ini, Sha?" tanyanya dalam benak. Ia cengkram stir kemudi kuat-kuat dengan tatapan takut. Tidak mau wanita ini meninggalkannya seperti Kahla dan Avika.
"Kenapa, Sayang? Kok tiba-tiba diam?" Geisha menggoyangkan lengannya. Gentala berdehem untuk menutupi rasa kikuk. "Enggak apa-apa, aku lagi ke ingat sama pasien yang mau aku operasi besok malam," Genta mengalihkan perbincangan mereka sebelumnya.
"Mau aku temani?" Geisha menawarkan.
Melihat senyum Geisha dan ketulusan hati wanita itu mampu menyihir Genta untuk bisa tenang sejenak. Masih ada beberapa minggu lagi menuju hari pernikahan, ia juga sudah dalam pengobatan dokter spesialis jiwa lagi walau bukanlah Andre yang menanganinya. "Saya harus sembuh! Saya pasti bisa! Untuk Geisha dan orang tua saya!" batinnya.
Genta menggeleng. Ia tarik lagi tangan Geisha dan digenggamnya kuat-kuat. "Enggak usah, Sayang. Nanti kamu capek," balasnya.
"Kebetulan besok jadwal koas ku kosong. Jadi bisa istirahat paginya dan malam temenin kamu. Sekalian aku belajar jahit lagi."
Rasa sesak di dada Genta perlahan memudar. Ubun-ubun kepala yang mendadak terasa panas seakan kembali dingin. Jika Geisha sudah sebegini baiknya, kemungkinan wanita itu akan menerima segala kekurangannya, walau ia masih kurang yakin. Maka, dari itu Ia tidak mau menceritakannya sekarang, terlalu riskan. Hatinya belum teguh, ia takut jika keinginan dan kenyataannya tidak lah sama.
Genta mengangguk. "Iya, sayang. Boleh ... aku akan ajarin kamu sampai bisa."
"Duh so sweet nya calon suami aku yang paling ganteng ... jadi enggak sabar nunggu cepat halal, biar bisa peluk-peluk gemes gitu ...." manjanya kembali muncul, Geisha menggoda Genta dengan kedua kelopak mata yang dikedip-kedipkan.
__ADS_1
Genta menyunggingkan senyum, ia mengacak pusaran hijab Geisha. "Nakal kamu, ya!"
...๐พ๐พ๐พ...
"Geisha, tante ...." Geisha mencium punggung tangan Mami Else dengan hormat. Namun, wanita dengan rambut cokelat sebahu dengan memakai dress pendek sepaha yang ia sapa ini hanya memberikan raut datar dan anggukan kepala.
Mami Else menilik penampilan Geisha yang begitu tertutup dan sopan. Memakai dress motif bunga-bunga, dengan model kerutan di bagian pinggang. Dan hijab segitiga yang salah satu anak kainnya di sematkan disisi pundak berlawanan dengan bross berinisial huruf G.
Melihat gostur Geisha, membuat Mami Else teringat dengan istri dari mantan suaminya. "Seperti, Luna," gumam Mami dalam hati.
Genta dapat menilai kalau tatapan Mami kepada Geisha tidak sehangat kepada Kahla dan Avika dulu. Dan Geisha pun dapat menangkapnya. Membuat terkaan jeleknya di sepanjang perjalanan kembali menghantui. Jantung Geisha kembali menderu-deru.
"Silakan duduk." Mami mempersilakan Geisha untuk duduk di hadapannya dengan Gentala di satu sofa, sedangkan Mami di single sofa.
"Mau minum apa, Geisha?" tawar Mami. Ia tetap beretika untuk menerima tamu, walau pada pandangan pertama nya kepada Geisha, Mami Else sudah menjatuhkan rasa tidak suka.
Ia memang tidak menyukai wanita yang berlagak sok alim. Melihat wanita berhijab, mengingatkan dirinya dengan Mama Luna yang ia anggap sudah merebut Papi dulu.
Padahal dalam kenyataannya semua itu hanya salah paham. Setelah bercerai, Papi lebih dulu menikah, dan Mami berspekulasi kalau selama itu, Papi telah berselingkuh darinya.
Padahal, pernikahan Mama Luna dengan Papi diadakan dengan sebuah perjodohan sebagai dasar awalnya. Dan di saat pertemuan pertama kali mereka, Papi langsung jatuh hati kepada Mama Luna.
Papi dapat merasakan keteduhan di hati dari kilat mata Mama Luna. Menikah dengan Mami Else yang cukup keras kepala, mampu merubahnya menjadi lelaki arogan dan semakin melupakan Allah.
"Apa saja tante yang penting tidak merepotkan," balas Geisha dengan senyuman yang tidak pernah surut.
Mami mengangguk lagi dan memanggil art rumahnya untuk menyiapkan minum dan cemilan.
"Tumben bawa teman wanita kemari, ada apa, Nak?" tanya Mami kepada Gentala to the point. Mami memang bukan tipe wanita yang suka basa-basi.
"Genta ingin meminta izin kepada Mami. Kalau dalam waktu dekat, Genta ingin menikahi Geisha. Papi juga sudah merestui hubungan kami, Mih," balas Genta seraya memaksa Mami untuk bisa memberikan restu juga seperti Papi Hari.
"Ha?" Mami melongo. Rautnya yang sedari tadi kurang melegakan hati Geisha, semakin menjadi-jadi. Bukan termangu karena kaget untuk senang, tapi wanita itu seperti mengelak tidak suka.
"Kamu sudah meminta izin kepada Papimu lebih dulu, sebelum Mami, Gen?" Mami membolakan mata, nada suaranya semakin tidak ramah sejak pertama kali mereka bertemu.
"Maaf, Mih. Bukan gitu maksud Genta. Kebetulan Bundanya Geisha, sahabatnya Mama Luna,"
Genta berucap apa adanya. Lelaki itu jujur-sejujurnya. Mendengar Genta menyebut Mama Luna dengan kata Mama saja, sudah membuat hati Mami terbakar. Namun, masih ia simpan agar tidak terlalu terlihat kalau ia tidak suka karena di sini ada orang lain. Mungkin nanti jika tidak ada Geisha, Mami akan menjambak rambut Gentala untuk sadar.
"Sahabat?" ulangnya. "Maa--maksudnya, gimana 'nih?" Mami memastikan lagi. Ia cukup tertohok dengan ucapan Gentala.
"Iya, tante. Tante Luna adalah sahabat Bunda saya dari jaman sekolah. Keluarga Om Hari dan Tante Luna sudah berteman baik dengan keluarga saya sejak dulu. Tapi, saya baru tahu kalau Om Hari pernah menikah sebelumnya dan memiliki, Mas Genta," kini, Geisha yang menjelaskan.
Dada Mami bergerak naik turun dengan hembusan napas yang terasa kasar keluar secara perlahan dari indera penciumannya.
...๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ...
__ADS_1
Kalau komennya dan like banyak, akan aku up lagi besok yaw. Enggak nunggu minggu depan lagi.