Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Jatuh Hati Berjuta Rasanya.


__ADS_3

"Kalau si dogen udah lewat sini, kasih tau, ya. Ibu mau nyarap dulu." titah Suster Lala kepada Suster Andin dan Suster Dini. Dogen adalah singkatan untuk Dokter Genta di Rumah Sakit ini.


Yang di pinta menaikan satu alis mereka, bingung. "Baru juga sepuluh menit lalu kita makan lontong sayur, Bu. Masa sekarang Ibu sarapan lagi?"


"Kan nge-bakwan sama minun kopi pagi nya belum. Biar kuat saya menghadapi pasiennya dogen. Tuh lihat udah tujuh puluh." Suster Lala menunjuk berkas rekam medis pasien poli bedah, yang sudah menumpuk di meja.


"Iya deh, Bu. Moga aja sampai seribu pasiennya." ledek Suster Andin.


"Dari pagi sampai malam di poli aja, jangan kemana-kemana. Nginep!" gelak tawa Suster Andin dan Dini menyembul. Seakan menular, Suster Lala pun tertawa. "Dasar anak-anak sarap!" Ia melenggang masuk ke dalam kamar Nurse station untuk menyeduh kopi.


Sembari menunggu pasien yang datang untuk di tensi, Suster Andin dan Dini kembali mengisi lembar rekap pasien.


Dan.


"Apaan, sih. Sakit 'ah!" dengkus Suster Dini, ketika lengannya di pukul-pukul oleh Andin.


Suster Dini mendongak dan menatap Andin yang masih melongo tidak percaya. "Lo kenapa?"


"Dogen coy! Dogen!"


Dini sekilas tahu Genta sudah datang dan melewati Nurse station untuk masuk ke dalam poli nya. Walau ia sedang menunduk. Karena parfum Genta yang sangat wangi dan sangat khas untuk di ingat. Sekalipun orangnya sudah pergi jauh, tetapi aromanya masih saja tertinggal. Itu lah yang membuat Geisha jatuh hati pada pandangan pertama.


"Iya kenapa emangnya?" Dini jadi ikut panik.


"Potong rambut, njirr. Ganteng banget sumpah. Gue pikir tadi Cristian Sugiono yang lewat."


Bola mata Dini membulat. "Ah, yang bener?"


"Lo salah lihat kali?"


"Beneran, demi Allah! Gue aja kaget. Ganteng banget, sumpah. Enggak bohong!" Andin terus meyakinkan Dini. Seakan Genta terlahir menjadi manusia baru. Semua mata memandang penuh takjub. Gondrong saja ganteng, apalagi di potong rapih? Para kecoa saja pasti glepar-glepar melihat pesonanya.


Sebenarnya Genta agak kurang percaya diri dengan tampilannya yang baru. Semua orang mengenalnya dengan perawakannya yang garang. Kahla dan Avika saja tidak mampu mengubah style-nya.


Lalu? Mengapa hanya seorang Geisha? Gadis dua puluh empat tahun yang selama ini selalu ia marah-marahi dan tidak di anggap kepintarannya, bisa merubahnya seperti itu. Seakan pesona Geisha sungguh memabukkan hati Gentala.


"Coba panggil Titi Kamal nya dulu tuh. Bilangin suaminya udah datang." titah Dini kepada Andin. "Nanti kita ikut juga ke poli, ngintip ajah. Pastiin doang." imbuh nya lagi.


Andin mengangguk-anggukan kepala dan beranjak bangkit menuju suster kepala.


"Bu, Dogen udah datang. Doi potong rambut."


"MASA?" gorengan uli sampai terjatuh dari tangan Suster Lala. "Iya, bu. Beneran."


Suster Lala meriah tissue untuk membersihkan tangannya yang sedikit berminyak.


"Kok uli? Katanya Ibu mau makan bakwan?" Suster Andin menyerengitkan dahi.


Suster Lala meneguk kopinya sampai habis. Lalu bangkit berdiri. "Sama aja lah. Sama-sama gorengan." Suster Lala bergegas keluar dan Andin mengekor. Terlihat tumpukan rekam medis sudah Dini pegang di luar.


"Kita anterin, Bu. Ke poli. Mau lihat dogen." Dini terkekeh begitupun dengan Andin. Suster Lala mencebik melihat aksi para anak buahnya yang mendadak genit.


"Masa sih potong rambut? Bertahun-tahun saya Asistenin dia. Gondrong terus rambutnya." gumam Suster Lala pelan. Mereka bertiga pun melenggang langkah menuju poli bedah. Kesambet arwah anak monyet di mana, pikirnya. Haha.


Genta sudah duduk di kursi kerajaannya. Wajahnya terlihat tertekuk. Manakala saat dirinya sampai, lelaki itu tidak melihat Geisha di sini. Padahal Genta ingin sekali melihat ekspresi Geisha dengan tampilan barunya.

__ADS_1


[Kamu di mana?]


[Jaga UGD dulu, Dok. Besok baru ke poli. Oh, iya. Air lemon nya sudah saya buatkan. Ada roti panggang juga, ada di dalam lemari, ya.]


[Baik, terima kasih]


Karena sedari tadi menahan khawatir. Akhirnya Genta memilih untuk mengirimkan pesan terlebih dulu kepada Geisha. Ia lupakan rasa malu dalam dirinya. Yang penting hatinya lega, sudah tahu kemana perginya wanita yang bisa mengubahnya seperti ini. Kemajuan yang amat drastis dalam hidupnya, sampai harus memotong rambut. Memberikan wajah baru dalam semangat baru untuk mengejar cinta yang baru pula.


Tadi malam setelah bertukar pesan. Genta menelepon Geisha. Keduanya berbincang ngalur-ngidul tidak tentu arah. Sampai di mana Genta bilang, ia ingin dibuatkan lagi air lemon. Geisha bersorak senang, ia berjanji akan membuatkannya setiap hari.


Tadi malam keduanya tidak bisa tidur. Sama-sama memandang atap kamar dengan senyum yang terus merekah. Guling-guling kesana kemari di pusaran kasur, saling memikirkan satu sama lain.


Apalagi Geisha. Seakan mendapatkan durian runtuh. Dokter ganteng yang selama ini hanya seperti mimpi baginya, seakan nyata dan bisa untuk di raih. Genta dan Geisha saling tahu, kalau keduanya sudah memendam rasa suka satu sama lain.


Ya begitu lah indahnya jika sedang jatuh cinta.


Gentala bangkit dari kursinya dengan wajah bahagia. Ia mendekat ke lemari dan meraih satu botol dengan ukuran satu liter berisi air lemon dan sekotak roti panggang. Lantas, ia kecup kotak makanan tersebut.


"Ibaratnya aja ini kamu, Sha." Genta terkekeh. Ia meledek dirinya sendiri.


Ia terus menatap kedua benda tersebut, sampai tidak sadar jika Suster Lala sudah membuka pintu poli dan ada Suster Andin dan Dini di belakangnya. Ketiga nya terpesona. Ada pangeran katanya.


Dan yang ditatap. Hanya tertawa karena ketiga perawatnya melongo. Genta membawa botol minum dan bekal roti untuk di letakan di atas meja.


"Masya Allah, Dok. Ibu beneran enggak saya lihat? Dokter potong rambut?" Suster Lala menghampiri Genta yang masih berdiri di tepi meja. Begitupun Andin dan Dini yang meletakan tumpukan berkas rekam medis pasien di meja periksa. Bola mata keduanya tidak kunjung surut untuk berhenti menilik Genta. Mereka tergugah.


"Mirip Ammar Zoni, Beb." desah Andin.


"Cristian Sugiono, Cyin." timpal Dini. Keduanya bergumam seperti itu saat berbalik keluar dari poli.


Entah apa yang akan di sebut Geisha jika melihat Genta seperti ini.


Bahkan malam-malam Genta harus membangunkan temannya, yang seorang owner barber shop, untuk memangkas rambutnya sesuai keinginannya.


"Bukan cocok lagi, Dok. Ganteng banget. Kelihatan segar dan muda." Suster Lala senang, karena selera hidup Genta sepertinya kembali, malah berubah lebih baik.


"Makasih banyak, Bu. Semoga aja Geisha suka."


"Hem? Apa tadi, Dok?" Suster Lala memastikan. Takut-takut telinganya ketutupan kotoran, sehingga salah mendengar.


Genta menggeleng. Buru-buru ia bungkam. Lelaki itu ketelepasan lagi. Ia memilih meminum air lemon buatan Geisha. Yang Suster Lala tahu kalau minuman itu yang tadi pagi di bawakan Geisha ke poli dan dititip kepadanya untuk diberikan kepada Genta.


Suster Lala hanya senyam-senyum saja, melihat Genta yang amat berubah. Raut nya terlihat gembira. Tatapan matanya penuh merindu kepada seseorang. Seakan Suster Lala tahu lelaki ini sedang jatuh hati. Walau saat ia ingin menikahi Avika, Suster Lala tidak melihat perbedaan seperti ini pada wajah Gentala.


"Dokter minum air putih?" bertahun-tahun menemani dirinya memeriksa pasien, tentunya Suster Lala tahu kebiasaan Genta.


Genta tertawa malu. "Ini air lemon."


"Kan sama aja awalnya air putih, Dok."


Genta mengangguk-angguk setuju. Ia kembali menyesap air lemon dari botol. "Mulai sekarang saya suka air putih campur lemon." Genta mengusap sudut bibirnya yang basah.


"Dokter Geisha, Dok. Yang buat?"


Genta seakan tersedak. Ia memilih menutup botol minum yang terbuka. Lantas meraih status pasien nomor satu.

__ADS_1


"Kita mulai, Bu." titahnya.


Genta ingin jujur, tapi ia malu. Suster Lala adalah wanita yang sudah ia anggap seperti Mama sendiri. Wanita itu tahu apa saja yang terjadi kepada Gentala selama dua kali pernikahannya. Dan dirinya juga yang selalu menasehati Genta untuk berubah dan mau berobat.


"Baik, Dok." Suster Lala mengulas senyum. Ia tahu lelaki dingin ini sedang jatuh cinta, tapi malu untuk mengungkapkan. Seperti yang sudah-sudah, lelaki ini pasti akan bercerita jika waktunya sudah tepat.


"Ternyata ucapan saya ke Geisha, salah." gumam Suster Lala.


"Jangan sampai jatuh hati kepada Dokter Genta, Dok. Beliau adalah pribadi yang susah untuk didekati. Banyak anak-anak koas yang ikut patah hati, karena hati nya yang tidak bisa ditahlukkan."


Dan pada akhirnya berkat buah sabar Geisha, senandung doa yang ia ucapkan kepada Allah untuk meminta jodoh. Serta hatinya yang begitu kuat kepada Genta. Tidak di sangka, hati lelaki itu akhirnya merespon.


...🌾🌾🌾...


Merasa ada yang kurang karena tidak ditemani Geisha saat memeriksa pasien, membuat waktu Genta terasa lama sekali di poli. Tidak ada kesannya. Padahal selama ini, ia selalu memaki Geisha setiap kali menemaninya. Mengatakan lambat, bodoh dan tidak cocok sebagai Dokter karena tidak becus. Nyatanya hal itu yang Genta rindukan.


"Ibu duluan, ya, Dok."


"Iya, Bu."


Suster Lala berlalu pamit dari poli, karena jam praktek Genta siang ini sudah selesai. Genta membuka bekal isi roti gandum buatan Geisha.


Yang mana, bekal roti tersebut adalah buatan Bunda untuk sarapan paginya. Tapi, demi Genta. Geisha memberikannya lagi untuk lelaki itu. Geisha bisa menahan lapar sampai siang. Yang penting Genta makan dan minuman yang sehat. Jika saja Genta tahu, si gondrong yang sekarang tidak lagi gondrong pasti semakin bucin.


"Enak rotinya." puji Genta. Ia memakan santai dan menikmati setiap gigitannya. Dan rasa rindu kepada Geisha semakin membuncah.


"Saya kangen sama dia." Genta tatap lagi foto profil Wa milik Geisha. Ia pandangi si cantik di sana.


[Kamu bisa ke poli sebentar?]


Genta mengirim pesan tersebut. Dan Geisha yang sedang online, langsung membalas.


[Ada apa, Dok?]


Genta bingung. Alasan apa yang bisa membuat Geisha datang menemuinya? Genta merasa, percuma saja ia potong rambut hari ini jika Geisha tidak melihatnya. Seolah lupa jika masih ada hari esok dan esoknya lagi.


[Saya mimisan lagi, Sha.]


Setelah membaca pesan tersebut. Satus pesan WhatsApp Geisha langsung offline. Gadis itu bergegas melesat menuju poli. Dan Genta kalang kabut mencari cairan apa yang bisa ia teteskan di lubang hidung agar mirip seperti mimisan.


Haha. Itu lah cinta. Bisa membuat yang pintar menjadi bodoh. Bodoh menjadi pintar. Yang bisa melihat dan mendengar seolah buta dan tuli.


Padahal yang paling mencintai kita itu adalah Malaikat maut. Ia dikisahkan datang tujuh puluh kali dalam sehari. Rutin, untuk melihat wajah kita. Melebihi siapapun manusia yang mengaku mencintai kita.


Krek.


Pintu poli terbuka kasar. Ada Geisha yang tiba di ambang pintu dengan napas terengah-engah. Dari rautnya ia begitu khawatir. Namun, bukannya cemas. Gadis itu malah melongo. Genta yang baru saja ingin pura-pura memejam mata dengan kapas sudah tersumbat di lubang hidung pun tidak jadi menutup mata. Ia juga melongo.


"Ha?" keduanya takjub menilik diri masing-masing.


Geisha masih belum percaya, benar kah yang ia tatap sekarang adalah Gentala? Si gondrong sayang? Mengapa semakin gagah?


Pun sama dengan Genta, baru kali ini ia lihat rambut Geisha terurai tanpa ikatan. Geisha juga memakai dress polos biru navy sampai selutut, yang di timpa lagi dengan jas dokter. Memperlihatkan kaki putih dan mulus miliknya.


Jantung keduanya berdebar-debar, guratan saling puji dari raut keduanya pun menyibak. Mereka saling tatap dalam senyum penuh damba untuk saling mengisi kekosongan di hati. Jatuh cinta sungguh berjuta rasanya.

__ADS_1


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Novel ini tidak akan aku kontrakan. Insya Allah novel ini akan tersedia dalam versi cetak. Biar kalian bisa peluk bukunya, seperti aku. Nabung aja dari sekarang ya❤️


__ADS_2