Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Kamu Islam 'kan?


__ADS_3

Kini, Gentala sudah duduk bersisihan dengan Geisha di sofa berhadapan dengan Ayah dan Bunda. Jantung keduanya sudah berdebar-debar tidak karuan. Terutama Gentala yang sedari tadi nervous, akral nya dingin menahan gugup dengan dada yang terus bergemuruh, karena sebentar lagi lelaki itu akan meminta Geisha kepada Ayah untuk dijadikan istri.


"Ayo, Gen. Jangan gugup, udah biasa 'kan? seakan dewa dalam dirinya mengingatkan. Mengingat, meminta restu kepada orang tua calon istri sudah dua kali ia lakukan dulu. Untuk Kahla dan juga Avika, sekarang kembali ia ulang untuk Geisha Alyra.


"Begini, Om ... maksud kedatangan saya---"


"Bismillah dulu, awali dengan Bismillah," Ayah menyela.


Geisha berbisik pelan. "Bismillah." mencoba mengulang.


Genta semakin gugup, meneguk saliva banyak-banyak ke dalam kerongkongan. Padahal selama dua minggu ini, ia sudah bisa menghafal tiga ayat surah Al-Fatihah. Kata Bismillah sudah sering ia ulang-ulang, tapi mengapa rasanya sekarang amat kelu?


Peluh bergerumun di pertengahan dahinya. Genta termangu menatap Ayah untuk mulai mengucap kata Bismillah.


"Bismillahirrahmanirrahim, Mas. Kan udah biasa," bisik Geisha lagi. Gentala yang seperti tengah menanggung beban berat mengangguk lemah.


"Bismi ... Biss---mil ... Bismillah," ucapnya terbata-bata.


Ayah menatap Bunda dengan gelengan kepala dan hembusan napas panjang. Bunda juga berucap dalam hati, kok bisa anak Mama Luna dan Papi Hari, seperti ini? Seakan tidak pernah mengenal agama.


Kepala Ayah semakin pusing. Jika, sikap Genta seperti ini, itu menandakan bahwa mengucap kata Bismillah saja, ia tidak sanggup.


"Kamu Islam 'kan?" Ayah menyindir to the poin.


"Ya, Islam dong, Yah---" Ayah memberikan gerakan tangan agar Geisha tidak menyela ucapannya. Ia beralih menatap Gentala.


"Saya lihat tadi kamu sedikit sulit mengucap Bismillah, benar begitu? Atau hanya perasaan saya saja?" lelaki teduh itu tidak mau secara gamblang menuduh.


Akral Genta semakin dingin, kain kemeja di bagian punggung semakin basah karena peluh. Jika saja bisa, Geisha ingin sekali menggenggam tangan Gentala untuk menguatkan lelaki itu.


Gentala hening sebentar untuk berpikir. Rasanya ia harus jujur apa adanya, ia yakin kedua orang tua yang baik hati itu akan mampu menerima jatidirinya yang apa adanya.


"Di dalam KTP, agama saya Islam, Om. Tetapi nyatanya, selama ini saya menganut paham Atheisme. Ajaran Nenek saya. Belajar tentang Islam juga baru dua minggu ini bersama Geisha." hanya sebatas itu yang Genta tuturkan, ia tidak mau mengucap bahwa perceraian orang tuanya lah yang membuat ia harus hidup bersama Nenek.


Geisha menoleh dengan tatapan menuntut ke arah Genta. Bukan seperti ini maunya, ia tidak ingin Gentala jujur. Ia takut Ayah tidak akan menyetujui.


Ayah menggeleng tidak percaya sedangkan Bunda hanya mengusap dada, benarkah ucapan Genta barusan? Ayah hening, menyandar di sandaran sofa dengan kedua tangan bersedekap, ia menatap Genta dengan tatapan sedih. Bunda pun sama, ia memang sudah lebih dulu memberikan restu kepada Gentala, tapi yang ia pikir Gentala adalah muslim sejati.


Bisa-bisanya Geisha lebih memilih Gentala dibandingkan dengan Andre. Pikir Ayah.

__ADS_1


Karena tahu Gentala bukanlah muslim pada umumnya, maka tidak ada yang bisa Ayah pertanyakan lagi, seperti sering shalat sunah 'kah atau sekarang sudah mengaji sampai surah apa.


"Saya tau dari Bundanya Geisha, kamu sudah duda dua kali, apa itu benar?" Ayah mencoba mengulik sisi Genta yang lain.


Genta mengangguk jujur dan sedikit menekan rasa cemas. Tapi, dari rautnya tidak mau terlalu kentara. Sebisa mungkin ia harus tetap tenang. Walau ia tahu calon mertuanya pasti akan menanyakan hal yang sudah bisa ia tebak setelah ini.


"Benar, Om. Saya sudah menikah sebanyak dua kali dan gagal ...."


"Maaf kalau terdengar lancang, karena keingintahuan saya ini mungkin akan menyinggung perasaan kamu."


"Ayah ...," sela Geisha, seraya kode kalau Ayah jangan terlalu menekan Gentala.


Dan lelaki yang ia cinta menoleh. "Nggak apa-apa, Sha." Genta kembali menatap ke arah Ayah dengan senyuman hormat. "Apa yang ingin Om tanyakan?" begitu lembut untuk didengar.


"Apa yang menyebabkan rumah tangga kalian tidak bisa diselamatkan? Dari segi masalah apa?"


Sebagai orang tua, Ayah ingin menilai apakah lelaki ini bisa memegang amanah yang akan ia berikan untuk menjaga Geisha nanti. Wajar saja, Ayah takut. Karena lelaki ini sudah gagal berkali-kali.


Dan benar saja tebakan Gentala, Ayah pasti akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Persis seperti orang tua Avika pada saat mereka tahu, Gentala bercerai dari Kahla. Tanpa aiueo, Genta menjawab pertanyaan Ayah dengan singkat dan jelas. Seperti yang juga ia jelaskan kepada Geisha beberapa waktu lalu. "Tidak ada kecocokan, Om," dalihnya.


Ayah menautkan alis. "Bisa jelaskan lebih detail?"


Genta kembali menelan ludah. Lelaki itu pun menggerakan kepala naik turun. "Masalahnya ada di saya, Om. Mantan istri saya, semuanya baik-baik. Hanya saja saya yang terlalu egois, keras kepala dan belum terbuka untuk mengenal Tuhan," walau ia masih berdalih, tapi dirinya tidak mau menjatuhkan nama Kahla dan Avika. Karena dirinya yang salah, bagaimanapun kedua wanita itu nyatanya wanita baik-baik, yang mencintai Gentala dan akhirnya tetap tidak kuat menerima penyakit mental yang ia idap.


"Tapi, saat pertama kali saya mengenal Geisha. Seakan hidup saya yang terasa gelap, agak bercahaya, Om. Saya sudah bisa belajar sabar untuk menahan ego, dan jujur, perhatian yang Geisha berikan melebihi kedua mantan istri saya.


Serta dorongan semangat yang Geisha berikan untuk mau mengenal Tuhan, telah mengetuk pintu hati saya. Berdekatan dengan Geisha membuat saya tenang, dan akhirnya mengerti arti hidup. Kalau hidup itu tidak selamanya kejam, rusak dan berantakan. Tapi, ada sisi manis yang Tuhan akan selalu beri, seperti tengah memberi Geisha pada saya. Untuk itu, saya ingin meminta restu kepada Om dan tante, agar mau mengizinkan saya menikahi Geisha. Menjadi pendamping hidup saya," imbuhnya lagi.


Kilat binar dari mata Bunda memantul manakala ia dengar, kalau Geisha sudah menjadi perantara hidayah untuk Gentala. Lelaki yang awalnya tidak beriman sama sekali. Lantas ingin merubah diri menjadi muslim sejati. Pahala yang akan anaknya dapatkan pasti bertubi-tubi dari Allah SWT.


Ayah Gifa hanya mengangguk-angguk, mencerna per kata yang Genta ucapkan. Walau ia berpikiran seperti Bunda, tetap saja hatinya masih terganjal. Benar kah sosok Genta cocok untuk Geisha?


Walau Geisha terenyuh dengan pemaparan kata-kata syahdu yang mengalun indah dari bibir lelaki itu, tetap saja ia tegang. Ia takut Ayahnya masih belum mau menerima.


"Baik, akan saya pikirkan. Sekarang kamu pergilah ke kamar mandi, bersihkan wajahmu. Banyak keringat," titah Ayah kepada Gentala.


Genta yang sedari tadi sudah bisa menguasai hati saat berbicara pada Ayah, kembali kikuk. Ia menatap Ayah dengan tatapan sulit dimengerti. Ucapannya tadi apakah sudah memuaskan apa belum. Dirinya tidak tahu harus bersikap apa setelah kejujuran yang ia kemukakan tadi, hanya mengangguk, lelaki itu menurut untuk pergi ke kamar mandi. Nyalinya serasa menciut. Baru kali ini meminta restu untuk menikah seperti sedang uni nyali.


"Ayo, Mas. Aku antar," ucap Geisha.

__ADS_1


"Kakak di sini. Biar Genta sendiri," Ayah menyela. "Kamu lurus aja, nanti belok kanan." Ayah menunjuk ke arah kamar mandi tamu.


"Makasih, Om," jawabnya.


"Ya."


Setelah tubuh Genta tidak terlihat. Geisha beringsut mendekati Ayah dan Bunda. Lebih tepatnya duduk di sebelah Ayah, ingin meminta belas kasih darinya, karena ia tahu Ayah pasti akan menolak Genta.


"Ayah, Bunda. Tolong restui Kakak, ya," pinta Geisha amat memohon. Ia genggam tangan Ayah dan Bundanya menjadi satu.


Bunda bergeming, hanya bisa menatap ekspresi wajah Ayah yang abu-abu menatap langit-langit rumah. "Yakin, Kak? Mau tetap menikah sama Genta? Sudah dipikir matang-matang?" tanya Ayah.


Geisha mencebikkan bibir. Maju ke depan seperti anak itik. "Ya sudah dong, Yah. Sampai Kakak harus batalin pernikahan sama Andre, apakah masih harus ditanya?"


"Semua orang memang punya masa kelam. Dan kita harus mencoba menerima dan menyadarkannya. Apalagi, Genta sedang dalam fase mencari Allah, Yah. Kenapa enggak kita bimbing? Kalau Allah sudah terpatri dalam hatinya. Insya Allah, keras kepala yang selama ini ia katakan, pasti akan memudar lambat laut. Dan tentu, semua manusia di muka bumi ini, pasti mempunyai rasa keras kepala dalam porsi beda-beda." Bunda mencoba memberikan masukan kepada Ayah. Geisha tersenyum bahagia mendengarnya.


Ayah menghela napas kasar. Memijat-mijat kepalanya yang semakin terasa berat. Sudah sakit ditambah lagi dengan keaslian dari Gentala.


"Ucapan Bunda memang betul. Tapi, membimbing orang dalam mengenal Tuhan, bukanlah perkara mudah. Butuh waktu yang panjang. Apalagi dari kecil ia tidak pernah shalat." Ayah mengusap wajahnya gusar. Ia menoleh lagi ke arah Geisha. "Kamu sudah yakin, Kak? Tidak menyesal? Pernikahan bukan hanya tetang cinta. Atau begini saja, pernikahannya disegerakan jika Genta sudah bisa shalat dan mengaji?"


Ayah masih saja takut untuk memberikan restu kepada Geisha dan Genta. Lelaki paruh baya itu, tidak mau kalau masa depan anaknya tidak cerah. Menikah dengan lelaki yang tidak paham akan iman, walau dalam artian dasar, tidak akan membuat rumah tangga itu terang. Hanya akan membawa pancaran gelap. Apalagi Gentala memiliki perbedaan umur yang jauh dengan Geisha dan pernah gagal dalam pernikahan yang terdahulu.


Geisha menggeleng. "Tapi 'kan saat ini Mas Genta sudah kembali ke Islam, Yah. Geisha bisa kok bimbing, Mas Genta." ia ingin secepatnya menikah dengan lelaki itu. Sepertinya kalau menunggu Genta bisa shalat dan mengaji pasti akan membutuhkan waktu yang lama.


"Bukan seperti itu maksud, Ayah, Nak."


"Terus yang Ayah maksud kaya gimana?" Geisha memelas, seraya ingin menangis. Melihat Khumairah-nya yang lebih cantik sekarang karena sudah setia dengan hijabnya, membuat Ayah tidak tega.


"Tolong berikan Ayah tujuh hari untuk berpikir. Ayah mau shalat Istikharah dulu," balas Ayah.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Kemungkinan cerita ini akan aku up tiga hari-seminggu sekali, ya, guys selama puasa. Karena jujur, selain buat cerita ini, aku juga buat cerita Ganaya, yang harus tetap ongoing setiap hari.


Jadwal nulis Gana itu tiap malam. Kalau Geisha pagi atau siang, berhubung kalau lagi puasa, perut kosong dan haus. Aku enggak bisa mikir🤭. Dan juga, aku ingin memperbanyak Ibadah di jam-jam puasa. Tidak melulu selalu novel. Moga kalian jg sama seperti aku.


Sepertinya Ganaya akan tamat di Mei. Entah pertengahan atau akhir. Dan setelah itu aku akan rajin up Gentala sampai tamat. Episodenya juga gak akan banyak karena aku akan menyesuaikan dengan halaman buku nantinya guys.


Gitu aja info dari aku. Jadi, tungguin notifnya aja, ya. Bbye, sehat selalu❤️

__ADS_1


__ADS_2