
Kelopak mata kanan yang lebam membiru, Geisha paksakan untuk terbuka. Walau rasanya sakit seperti di sayat sembilu. Ia sedang menyandar lemah di punggung ranjang dengan dengusan napas kasar. Bukti dirinya tengah memendam rasa kesal, marah dan kecewa. Siapa wanita di muka bumi ini yang mau disakiti dan diperlakukan sadis oleh pasangan sendiri?
Geisha tilik bulat-bulat manik mata Gentala yang memerah tengah memuncarkan air bening.
Hiks. Lelaki itu terisak, terus meminta ampun atas perlakuan yang ia lakukan tadi malam saat mereka melebur menjadi satu.
Geisha bukanlah orang awam. Walau ia belum lulus menjadi dokter, tapi dirinya tahu kalau Gentala tengah mengidap kelainan sex. Ciri-ciri Genta mirip pasien-pasien yang sering bertandang ke poli kejiwaan dengan beragam kasus penyimpangan seksuall. Dan Geisha mendapatkan ilmu tersebut selama di kampus dan menjalani koas di Rumah Sakit.
Awalnya Geisha takut, ia ingin melarikan diri. Dirinya belum bisa mencerna apa yang terjadi dengan Genta, saat mereka tengah menyatu. Yang ia pikir, Genta kerasukan setan. Maka dari itu ia ingin lari dan kabur sesaat sudah sadar.
Dan setelah Genta berubah kembali normal, kembali hangat, kembali seperti apa adanya, sadar atas perlakuannya, di saat itu pula Geisha terlonjak, ini benar suaminya. Suaminya yang tengah sakit. Di tambah lelaki itu pun akhirnya mengaku, dan minta untuk di maafkan.
"Maafkan aku, Sha," ucap Genta. Pipinya banjir, karena air mata yang menganak sungai membasahi. Ia hanyalah lelaki yang mengalami kelainan saat berhubungan badan, tapi tidak mempunyai hati yang jahat layaknya ingin membunuh seperti psikopat.
Genta duduk di tepi ranjang, menatap Geisha. Menggenggam lekat tangan istrinya yang sudah ia mandikan dan ia pakaikan baju. Awalnya Geisha menolak, ia tidak mau disentuh. Tapi, Gentala memaksa. Ia bantu istri nya untuk membersihkan diri, mengobati luka dan menyuapi makan walau mangkuk dari makanan itu, Geisha tampik.
"Kenapa kamu tutupi, Mas? Kenapa kamu tidak jujur dari awal?" tanya Geisha dengan tatapan tajam. Bagaimanapun rasa kecewa tetap mencacah batinnya. Bisa-bisanya lelaki ini berkilah padanya, padahal Geisha selalu terbuka apapun kekurangan yang ia miliki.
"Aku hanya tidak ingin kamu pergi jika sudah tahu aku seperti ini, Sha," jawabnya jujur dengan mimik takut. Genta tertunduk malu.
"Apa kamu akan mengaku, jika aku sudah berada di sisa-sisa napas terakhir?"
Genta mendongak cepat, lantas menggeleng. Ia tatap tegas wajah Geisha yang juga sama menatapnya seperti dia. "Demi Tuhan. Bukan maksud aku kayak gitu. Aku juga ingin sembuh, Sha. Aku sudah mencoba, tapi aku belum bisa. Aku----"
"Keluar, Mas!" Geisha menyela Genta yang sedang meyakinkannya. Wanita itu mengusir Gentala dengan satu jari menunjuk ke arah pintu.
Genta melongo, ia menggeleng samar dengan raut memelas. "Sha ... aku sayang kamu."
"KELUARR!" taring Geisha seakan keluar.
Genta sampai mengedikan pangkal bahu. Ia tersentak, lantas mendekatkan tubuh, ingin memeluk istrinya. Tapi wanita itu menepis.
"Kepalaku, tubuhku dan hatiku masih terguncang. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan menerima hal ini. Aku minta kamu keluar! KELUAR, MAS!" ia tatap Genta dengan air mata. Ia usir lelaki yang sudah mengambil kehormatannya dengan kekerasan dan trauma amat fatal.
"Sha, aku mohon jangan tinggalin aku----"
"Makanya kamu keluar dulu!" selak Geisha dengan teriakan. "KELUAR!" seketika Geisha memejam mata, memegang bibirnya yang terasa ama sakit saat berucap dengan lantang.
"Kita ke dokter, ya, Sayang," ajak Genta. Ia tidak perduli jika dirinya habis dimaki-maki oleh istri nya.
Geisha menggeleng dan mendorong dada Genta kasar. "Aku mau kamu keluar! Atau aku yang akan keluar, PILIH MANA?" tanyanya dengan bola mata melotot.
Sakit. Genta sakit sekali. Bukan sakit karena di usir, dimaki atau di bentak-bentak. Tapi, ia sakit melihat istrinya yang selalu baik dan bertutur kata lembut menjadi berubah, berbeda dan menggelap dari aura cinta.
"Baik, aku akan keluar. Kalau ada apa-apa. Tolong panggil aku, Sha," ucapnya terpaksa.
Geisha hanya diam, kembali memalingkan wajah ke dinding putih yang polos. Ia tatap bingkai foto berisikan gambarnya dan Genta saat duduk di meja akad.
Dan tangisan Geisha pecah saat melihat lelaki itu benar-benar pergi meninggalkannya. "Ini kah yang harus aku bayar untuk hidup bahagia dengan lelaki pilihanku, Ya Allah?" Geisha membatin dalam tangis. Rekaman saat ia meninggalkan Andre, berseteru dengan Ayah saat memilih Genta, kembali berputar.
"AYAH ...," serunya. Seraya memohon ampun dan pertolongan. Ia teringat wajah Ayah saat berjabat dengan sang suami saat proses Ijab Qabul.
...🌾🌾🌾...
Genta duduk di bibir ranjang. Ia elus punggung istrinya. "Mandi yuk, Sayang. Berendam air hangat di bath up."
Geisha yang masih melamun sejak pagi sampai sore hanya diam. Ia memunggungi lelaki itu.
"Atau mau makan? Aku buatkan nasi goreng kesukaan kamu, ya?" Genta lihat makanan yang ia letakan di atas nakas tadi siang tidak disentuh oleh Geisha.
__ADS_1
Dan sang istri tetap membeku. Bergeming tanpa mau menggerakan mulut untuk berkata. Geisha memeluk guling lekat, sebagai tumpuan untuk melindunginya.
Gentala memilih merangkak naik dan berbaring di belakang wanita yang sudah mendiaminya berjam-jam. Ia jadi tidak praktek karena keadaan Geisha yang tidak memungkinkan untuk ia tinggal.
Baru saja ingin melingkarkan tangan di perut Geisha, wanita itu menoleh dan mendelikkan mata. "Pergi kataku! Jangan dekati aku dulu!" perintahnya.
Genta memandang nanar. "Tapi aku enggak bisa jauh dari kamu, Sha."
"PERGI!" Geisha masih syok. Menyimpan rasa hancur di dada sendirian, membuat dirinya seakan hilang akal. Tidak ada lagi rasa segan, simpati kepada Gentala. "Aku mohon, Mas. Keluar lah!"
Genta memilih memeluk paksa istrinya. Ia menggeleng. "Mau kamu tusuk aku pakai pisau sekalipun, aku tetap di sini. Aku mau kamu makan, biar kamu bisa minum obat. Tolong jangan buat aku merasa tertekan, Sha," pinta Genta. Air matanya luruh lagi. "Demi Tuhan, ini bukan mauku. Bukan inginku menjadi monster!" erang Genta. Ia menangis di balik tengkuk istrinya.
Geisha menghela napas. Ia pun sesak, tidak tega bersikap seperti ini kepada lelaki yang sudah menjadi imamnya. Rasa cinta kepada Genta amat besar. "Tidur di lantai!"
"Ya enggak apa-apa, Sayang. Di lantai pun aku mau, yang penting masih di kamar ini bersama kamu," jawab Genta dengan wajah riang, ia yakin Geisha pasti mau memaafkan dan menerimanya.
...🌾🌾🌾...
Usapan lembut di punggung dengan gerakan turun naik, Kahla berikan untuk Geisha. Wanita hamil itu akhirnya datang ke rumah ini karena Gentala yang menelpon.
Genta pikir, Geisha akan gampang untuk di rayu. Ternyata tidak. Lelaki itu sudah kehabisan akal untuk membujuk Geisha agar mau berbicara dengannya. Sudah mau empat puluh delapan jam, Geisha hanya menghabiskan waktu di ranjang, mengurung diri di kamar. Tidak mau makan. Tidak mandi, hanya wudhu untuk shalat.Inginnya meringkuk dalam selimut.
Terus meratapi nasib pernikahannya yang baru beberapa hari tapi sudah menyakitkan. Genta sampai mengusap dada, hatinya pelik saat melihat sang istri bersimpuh di atas sajadah dengan riak tangis.
Geisha tahu penyakit yang Genta idap, tidak akan sebegitu mudahnya untuk sembuh. Dan ia tidak mungkin menghindar saat suaminya menginginkan dirinya. Tapi, ia juga bukan robot. Ia adalah manusia dengan memiliki titik sensitif dan perasa. Ia akan berteriak apabila permukaan kulitnya di koyak-koyak seperti saat mereka melakukan malam pertama.
"Sabar, Sha. Ini lah kekurangan Mas Genta yang harus kamu terima dengan lapang dada. Jika bukan kamu yang membatunya, lantas siapa lagi?"
Geisha memeluk erat Kahla dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Geisha menangis di ceruk leher Kahla. Hanya wanita ini sebagai tumpuan untuk mengadukan rasa perih dan kecewa di hati. Tidak mungkin ia mengadukan hal ini kepada keluarga.
"Apakah aku sanggup, Mbak? Pernikahan ini untuk seumur hidup. Apa aku bisa menjalaninya?"
Kahla mengangguk. Ia usap-usap rambut Geisha, terasa ada benjol di kulit kepala, Kahla tahu itu berkat lukisan tangan dari Gentala.
Dulu aku mencoba bersabar, sampai di mana anak kami meninggal dan membuatku frustrasi. Aku membencinya, menginginkan pergi dari hidupnya. Dan setelah itu aku menyesal, karena tidak becus menjadi istri untuk bisa menerima keadaan suami sampai ke titik terendahnya. Aku membuat ia kembali menyakiti wanita, Avika dan kamu."
“ Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga *********** (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini,“ Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka. (HR Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471.
Bunda selalu mengingatkan anak-anak perempuannya untuk mau taat kepada suami selagi suami tersebut tidak melakukan kedzaliman dan tidak membuat kita membangkang akan syariat Islam. Pernikahan adalah ibadah terpanjang, yang efeknya sampai ke Akhirat. Suami ada di tangga ketiga setelah Allah dan Rasullullah, untuk kita taati keberadaannya.
"Wahai wanita, seandainya saja kalian mengetahui hak suami yang ada pada kalian, niscaya salah seorang dari kalian akan membersihkan debu di telapak kaki suami dengan wajah kalian." Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah.
Geisha mengurai pelukan, saat ia menyadari ada sepasang mata yang tengah mengintip mereka dari balik pintu. Merasa diketahui, lelaki yang nasibnya amat nelangsa itu buru-buru ingin meninggalkan tempat tersebut. Ia tidak mau membuat Geisha semakin muak padanya.
"Mas!" seru Geisha. Ia lekas turun dari ranjang dan menghampiri suaminya yang tidak jadi melangkah untuk meninggalkan kamar.
"Sha ...." pelan sekali nada suara Genta. Terlihat kantung mata lelaki itu menghitam dan besar. Dua hari ini tidak nyenyak tidur, tubuhnya sakit karena harus tidur di lantai.
Genta dan Geisha saling menatap dalam kesenduan. Keduanya menggenangkan air mata dalam rindu yang sudah berkumpul berhari-hari.
Geisha tangkup pipi suaminya. Ia tilik wajah lelaki yang selama hidup tidak pernah lama merasakan kebahagiaan. Korban perceraian, korban kekerasan, korban gagal paham Agama dari usia dini, dan sekarang mengidap penyakit berbahaya.
"Aku selalu bertanya, selalu berteriak. Saat Allah dengan gampangnya memberikan jodoh pada orang lain, tapi tidak kepadaku. Aku harus dilangkahi Adik, didahului teman-teman dengan perkara jodoh. Sampai aku tahu dan baru paham.
Dengan keadaan yang seperti itu, seolah aku diminta untuk menunggu. Jodohmu sedang di proses. Ada lelaki yang memang harus kamu sembuhkan, kamu tolong jiwa dan raganya, begitu maksud Allah yang belum aku ketahui. Allah bilang, aku yang mampu temani kamu, Mas. Menjadi pendamping yang kuat untuk kesembuhan kamu. Maka dari itu kamu juga harus berjuang, agar bisa sembuh," ucap Geisha dengan leleran air mata.
Gentala langsung menekan Geisha ke dalam dada dan memeluknya erat. Hanya sesegukan air mata yang terdengar. Lelaki itu tidak mampu menjawab selain menangis. Lega dadanya, hampang jiwanya. Wanita yang sejak dua hari ia takuti akan meminta cerai, diluar bayangannya.
"Kamu ikhlas menerimaku yang seperti ini, Sha?" karena hanya Geisha yang bisa menerimanya lebih dari apapun.
__ADS_1
Geisha mengangguk. "Insya Allah, Mas,"
Kahla tersenyum, menatap pasangan pengantin baru itu dari dalam kamar. Ia ikut lega. Karena berhasil mengukuhkan niat Geisha untuk mau belajar menerima suami apa adanya.
"Tidak sia-sia, aku berdebar dengan Avika. Sejatinya aku tahu sosok Geisha yang memang diinginkan oleh Mas Gentala," batin Kahla.
"Kamu kurus banget sih, Mas!"
Gentala mendengus malas.
"Dua hari ini kamu enggak urusin aku, Sha. Aku rindu sama teh garam kamu," balas Genta dengan kekehan.
...🌾🌾🌾...
Genta sudah rapih dengan kemeja garis-garis biru berlengan pendek yang dimasukan ke dalam celana jeans, ditutup dengan sabuk hitam, tengah duduk di tepi ranjang. Menatap istrinya yang tengah berdiri di depan kaca rias, tengah memasang masker di wajah dan menyematkan kaca mata hitam. Ingin menutupi wajahnya, yang mana jejak-jejak lebam masih saja kentara, padahal sudah seminggu berlalu.
Dengan gamis panjang berwarna pink nude, di tutup dengan kerudung segitiga yang menjuntai lurus di depan dada, Geisha sudah siap menemani Gentala untuk kembali kontrol ke Dokter Gilang hari ini, sekaligus Genta juga ingin memeriksakan keadaan Geisha. Ia takut istrinya mengalami luka-luka di bagian yang tidak terlihat.
"Giginya masih terasa goyang, Sayang?" tanya Gentala. Pukulan yang mengenai bibir, memberikan efek pergerakan pada gigi-geliginya.
Geisha mengangguk. "Masih, Mas. Tapi, sekarang sudah mendingan," jawabnya.
"Maafkan aku, ya, Sha. Kamu begini karena aku." Genta sendu lagi.
Geisha menghela napas. Ia mendekat dan membawa Genta untuk memeluk perutnya. Geisha kecup rambut Genta berulang kali, menikmati aroma wangi dari pusaran surai lelaki itu.
"Asal kamu ingin sembuh. Aku menerima, Mas. Ana Uhibukka Fillah. Aku mencintaimu karena Allah."
Gentala mendung. Ia memeluk istrinya kuat-kuat.
"Aku Mau, Sha. Aku mau banget. Mau sembuh! Begini pun aku tersiksa," balasnya.
"Enggak boleh cengeng! Kamu harus semangat. Ada aku 'kok yang temenin kamu. Ya udah, sekarang kamu turun duluan, panasin mobil dulu," titah sang istri. Genta mengangguk, lantas berlalu setelah mengecup pipi istrinya.
Geisha duduk di posisi bekas suaminya barusan. Ia merogoh tas dan mengambil gawai dari dalamnya.
Ia mencari kontak seseorang yang ia ingin hubungi sekarang.
"Waalaikumsallam, Ibu ...." Geisha menjawab salam, saat wanita yang ia tuju di seberang sana berucap hallo dan salam.
"Keputusanmu sudah matang, Sha? Tidak berubah pikiran? Sayang loh, koas kamu sudah di pertengahan."
Geisha mengangguk mantap. Ia genggam kuat-kuat gawai itu dengan semangat empat lima. "Insya Allah saya sudah matang, Bu. Saya akan cuti dulu dari aktivitas koas," balasnya kepada pengurus administrasi akademik kampus.
Demi suami tercinta. Demi kesembuhan Gentala. Geisha memutuskan untuk mengambil cuti dari koas nya. Ia harus ekstra mendampingi Genta berobat, ingin membawa Genta ke suatu tempat yang sudah mereka diskusikan beberapa hari ini. Geisha juga harus tetap melayani hak biologis sang suami.
Ia akan mencoba untuk kuat, seperti nasihat Kahla dulu, bahwa ia mau tidak mau harus menghadapinya. Jangan mengeluh sakit, jangan berikan ekspresi yang Gentala inginkan saat berubah dengan sadisme nya. Geisha akan mencobanya nanti malam. Walau pukulan akan kembali ia dapatkan, dan pasti tidak memungkinkan untuk pergi ke Rumah Sakit dengan wajah yang rusak.
Gentala harus tetap ia dekap.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
Kalau kalian tanya, ada enggak sih sosok kayak Genta? Lelaki yang mempunyai penyakit seperti ini?
Jawabannya : ADA dan banyak. Aku saksi hidup perjalanan salah satu pasien yang ingin sembuh. Maka aku angkat sebagai cerita, biar ilmu nya ada. Bagi kalian yang mungkin awam bisa tahu, bisa kenal dan bisa waspada. Karena kita enggak tahu, di turunan kita, generasi kita atau sanak saudara kita mungkin ada yang mengalami hal seperti ini dan kita bisa waspada.
Ih serem ya? Sadis! Ya, betul. Bagi kalian yang beruntung dan bersyukur tidak mendapatkan pasangan seperti ini rasanya gampang untuk berucap. Tapi bagi sesama kita yang sedang mendapatkan ujian luar biasa untuk naik kelas, mendapatkan cobaan seperti ini. Malah tersenyum dan menerima. Ini lah Qadarullah mereka yang harus di terima dengan lapang dada.
Cerita ini akan banyak mengandung kekerasan fisik, karena kesembuhan itu tidak semudah seperti kita membalikkan telapak tangan. Banyak proses yang harus dilalui Gentala dan Geisha. Entah bagaimana nanti di ujungnya, apakah Geisha Alyra Hadnan sanggup? Atau menyusul seperti Avika dan Kahla.
__ADS_1
Stay tune terus, ya, guys. Bagi kalian yang mentalnya kuat❤️❤️. Sampai ketemu minggu depan.