
Terlihat wanita bergamis, yang menutup wajahnya dengan cadar tengah menitikkan air bening dari sudut mata. Tersedu-sedu di barisan kursi belakang. Menjauh dari pemukiman keluarga yang berada dibarisan depan.
"Ayah ... Khumairah rindu," lirihnya. Ia tatap lelaki paru bayah yang sudah memiliki kerutan di bawah kelopak mata.
Namun, masih gagah dan tegap. Dari raut Ayah Gifa yang tengah bersiap bersalaman dengan calon suaminya Ginka di meja akad, dapat terlihat dua mimik yang berbeda.
Ada rasa bahagia karena melepas Ginka untuk menikah dengan lelaki pilihannya. Dan juga rasa sedih, karena ketidakhadiran Geisha di tempat ini. Tega sekali anak itu. Begitulah yang Ayah ucap kepada Bunda sebagai bentuk kekecewaan.
Demi Gentala. Geisha rela berkorban. Rela di anggap Anak dan Kakak yang tidak punya rasa belas kasih. Geisha alihkan tatapan matanya ke arah punggung wanita berhijab yang sudah mengandung dan melahirkannya, tengah memejam mata seraya mendoakan pernikahan Ginka agar lancar lagi ini.
"Bunda ... Geisha di sini. Aku datang, Bun. Aku rindu ...." sebisa mungkin riak tangis itu ia tahan, agar tidak mencuat. Walau rasa sesak di dada sudah amat mencekik.
Dan semua kesenduan itu terlonjak, saat lelaki yang sedari tadi Geisha hindari, berpindah duduk di sebelahnya, lekas menggenggam tangannya.
"Sekali lagi aku katakan. Aku ini istri orang, Mas!" sentak Geisha kepada Andre. Lelaki itu tidak perduli. Andre semakin merekatkan genggaman tangan yang ia letakan di atas pangkuannya.
"Menurut! Atau aku akan berteriak kepada seluruh keluargamu. Kalau kamu ada di sini. Biar mereka tahu, bagaimana bentuk wajahmu sekarang!"
"Dosa kamu, Mas! Menyentuh aku yang tidak halal bagimu!" Geisha tetap mendelikan matanya. "Aku ini istri sahabatmu!" Geisha terus saja memekik walau pelan dari balik cadarnya.
Andre berdecih. "Lebih dosa suamimu yang sudah menganiayamu seperti ini, Sha!"
Geisha tersulut emosi. Ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman itu. Ia tidak suka suaminya di hina.
Andre menahan dengan tenaganya yang kuat. "Suamiku sakit! Dan kamu pun tau, Mas!" tetap berusaha melepaskan cekalan dengan bangkit berdiri dari kursi.
"Duduk!" sentak Andre. Ia menajamkan matanya. Geisha berang, ia tatap Andre dengan wajah bengis.
"Kamu egois, Mas. Untung saja aku tidak jadi menikah denganmu!"
Andre tertawa pelan. "Kamu bisa buktikan nanti. Aku atau suamimu yang egois. Gentala tidak akan bisa lama di ponpes. Dia pasti akan menyerah!"
"Enggak!" sentak Geisha kencang. Ia sampai menghentak bahu Andre karena kesal. Sampai di mana yang berada di barisan depan menoleh ke belakang. Karena mendengar kegaduhan. Buru-buru Geisha menunduk untuk menghindari tatapan mata para keluarganya.
Jika saja akad ini sudah selesai. Geisha ingin sekali secepatnya enyah dari pandangan Andre. Walau, ia masih ingin di sini menikmati pernikahan Adik tercintanya.
...๐พ๐พ๐พ๐พ...
Menahan mendung di sudut hati, rasanya sulit. Ia memilih menghempaskan langkah untuk keluar dari gedung, saat keluarga besarnya berfoto ria di atas pelaminan. Inginnya ia di sana bersama Gentala. Membagi rasa bahagia dan rasa suka. Tapi nyatanya, ia hanya bisa memberikan goresan luka di hati mereka semua.
"Aku yang akan antar kamu," ucap Andre dengan napas tersengal-sengal. Lagi-lagi, lelaki itu membelenggunya. Andre berlari mengejar Geisha yang berhasil lolos dari pandangannya. Geisha menitah Andre untuk mengambilkannya air minum. Dan kesempatan itu Geisha gunakan untuk kabur.
"Apa lagi sih, Mas?" Geisha menepis kasar tangan Andre yang tengah memegang bahunya untuk menghentikan langkah wanita ini.
"Aku mau antar kamu pulang."
"Enggak!" Geisha kukuh tidak mau. Kakinya kembali tercekal saat ingin melanjutkan langkah ke jalan raya untuk mencari taxi. Saat datang ke pernikahan, Geisha memang memilih memakai taxi, karena ia tidak ingin di kenali dengan mobil yang biasanya akan ia bawa.
"Tunggu di sini! Atau aku seret kamu masuk ke dalam!" Andre terus saja memberikan dirinya luka lewat ancaman.
"Tega banget kamu, Mas, sama aku?" Andre memilih memalingkan wajah saat ia tilik ada air mata mulai menyeruak dari wanita yang terus ia ikat langkahnya. Ia tidak tega melihat perempuan menangis. Tapi, caranya yang memaksa selalu membuat Geisha ingin menangis karena kesal.
"Jangan menangis! Atau aku telepon Bundamu." ia rogoh kantung celana untuk meraih ponsel dan Geisha menyergah.
"Baik, Mas. Antar aku pulang," ujar Geisha terpaksa.
Andre mengangkat wajah, ia tatap lagi bidadari hati nya. "Ayo ikut aku ke mobil," ajak Andre sembari menggandeng tangan Geisha.
"Enggak usah gandengan, Mas!"
"Diam!"
Geisha hanya bisa pasrah. Ingin menjerit agar orang-orang menolongnya dari jeratan Andre. Namun, tidak mungkin ia lakukan.
__ADS_1
"Kamu itu baik, Mas. Kenapa berubah seperti ini?" tanya Geisha, sesaat mereka sudah tiba di dalam mobil. Andre lekas memasangkan seat belt di dada Geisha. Andre tatap bola mata indah milik Geisha dengan picingan tajam penuh rasa sakit hati.
"Karena cintamu menyakiti hatiku!" Andre kembali duduk tegap di kursi kemudi. Mulai melajukan kereta besi untuk berlalu dari gedung hotel ini.
"Apa yang harus aku lakukan, agar kamu bisa memaafkan aku, Mas? Aku pikir sudah tidak ada dendam di antara kita," balas Geisha memelas. Nada sendu yang terdengar amat mengiris jiwa Andre.
"Tinggalkan Genta. Dan menikah denganku."
"Astaghfirullah, Mas. Kamu ini orang baik. Orang yang paham akan Agama. Rajin shalat. Pintar mengaji. Kamu tau bagaimana Agama kita melarang untuk sengaja membuat pasangan suami istri bercerai. Dosa besar, Mas. Hanya karena cinta buta mu. Kamu rela membuat dirimu terperosok dalam neraka?"
Andre tetap mengemudi dengan jantung yang menderu-deru. Ucapan Geisha bukan seumpama tamparan, melainkan halilintar dan guntur yang saling bersaut, menghantam raganya.
Mengapa dirinya bisa berubah seperti ini?
Andre hanya diam, hening dan bisu. Ucapan Geisha semuanya benar, namun ia menolak untuk membenarkan. Napsu untuk memiliki Geisha, seakan sudah di atas logikanya.
...๐พ๐พ๐พ๐พ...
"Sudah mau Maghrib, Mas! Tolong bawa aku pulang!!!" maki Geisha.
Ia sudah tidak tahan dengan sikap Andre yang ke kanak-kanakan. Awalnya lelaki itu berjanji untuk mengantarnya pulang. Tapi, Andre berdusta. Ia malah membawa Geisha pergi ke arah Kota Bogor. Dari siang mereka berkeliling-keliling tanpa tujuan yang jelas. Setiap Geisha meronta, Andre akan selalu mengancam untuk menelepon Bunda atau Ayah.
Seharian ini pikirannya carut marut. Sudah sedih karena tidak bisa menikmati sampai selesai acara pernikahan sang Adik. Pun dengan Gentala di sana. Bagaimana kabar lelaki itu. Karena mereka terakhir berkomunikasi malam kemarin. Ponsel yang kepalang ia matikan sejak pagi karena tau akan dihubungi oleh keluarga. Dan saat ingin menyalakan, Andre tidak mengizinkan. Ia rebut gawai Geisha dan disembunyikan di kantung celananya.
"Aku masih ingin bersamamu, Sha. Aku kangen," ujar Andre memelas.
"Ya Allah, Mas. Jangan kayak gini. Kamu harus terima kenyataan. Aku ini istri orang. Istri sahabat kamu!"
"Sejak dia mengambil kamu. Dia tidak pernah aku anggap lagi sebagai sahabat!" runtuh rasa legowo yang awal-awal tersemat saat Genta meminta maaf personal kepada dirinya. Tapi, saat melihat Geisha tersakiti. Lelaki ini seakan tidak rela. Ia sampai ikhlas jika hanya menerima bekas dari Gentala.
"Mas, tolong ...." kembali Geisha memohon. Meminta belas kasih. "Maafkan aku dan Mas Genta."
Andre menyeka air mata yang mulai bergerumun di pelupuk mata. Ia menggeleng. "Seberat apapun cintamu padaku, Mas. Seluas apapun, walau melebihi cintanya, Mas Genta. Aku akan tetap memilih untuk setia. Apapun kekurangan yang suamiku miliki. Aku akan menghadapinya, menemaninya, me----"
Terperanjat. Pangkal bahu Geisha naik menahan kaget. Mengusak dada karena mulai takut.
"Sekali lagi kamu membuat hatiku panas. Aku perkosa kamu!"
Deg.
Jantung Geisha berdetak kencang. Napasnya keluar dengan dengusan kasar. Apa jadinya jika lelaki ini benar-benar kehilangan akal? Geisha memilih diam. Tidak lagi mau membantah dengan ucapannya yang terasa menyakitkan Andre.
"Maaf, Sha. Aku lepas kendali," sepuluh menit kemudian, lelaki itu bersua. Membuat Geisha yang sejak tadi memandang ruas jalan dari sisi sebelahnya menoleh. Walau rasa takut masih saja mengalir dari otak sampai ke ujung kaki.
"Iya, Mas."
"Kamu pasti lapar kan? Mau makan apa?" Andre mencoba membuat Geisha agar luluh padanya.
Geisha hening seraya berpikir. Bukan tengah memikirkan makanan yang sedang ingin ia santap. Tapi, tengah memikirkan ide apa yang cemerlang untuk keluar dari tawanan Andre.
"Aku masakin nasi goreng aja mau enggak, Mas?"
Kilat binar cinta di mata Andre tampak. Senyum nya sumringah bahagia, mendengar tawaran Geisha padanya. Dan Geisha merasa sedih. Karena lelaki sebaik Andre, bisa frustrasi karena cinta kepadanya.
"Kita pulang ke rumah. Aku akan masakin kamu nasi goreng yang enak."
Andre meraih tangan Geisha untuk ia kecup. Dan Geisha risih sekali. "Makasih, ya, Sha. Makasih karena udah mau buka hati kamu buat aku," balas Andre.
Geisha bergeming. Ia tidak merespon. Ia malah kembali jijik dan benci dengan lelaki ini. Yang begitu percaya diri. Padahal jika sudah sampai rumah. Ia akan langsung mengusir lelaki ini, jika perlu akan ia adukan ke Pak RT dan para tetangga.
...๐พ๐พ๐พ...
"Ha?" keduanya melongo hebat. Saat menilik sosok lelaki yang tengah berjongkok di depan gerbang rumah dengan raut kacau dari beberapa jarak meter.
__ADS_1
"Lihat kan? Siapa yang egois? Aku atau suamimu?" tanya Andre dengan decihan remeh.
"Mas Genta? Kok bisa dia pulang?" Geisha tertohok tidak percaya. Lelaki ini? Nyata kan? Bukan ilusi?
Lelaki itu berhasil kabur dari Ponpes, ketika resah memikirkan Geisha di sini. Nomor ponsel sang istri tidak aktif. Yang Gentala tahu, pernikahan Ginka di adakan bulan depan. Tentu, semua itu adalah dalihan Geisha agar lelaki itu mau untuk tetap di ponpes. Dan Gentala yang menyerah untuk tidak mau lagi tinggal di ponpes. Mantan Atheisme ini merasa dunia ponpes terlalu kejam baginya. Ia akan merayu Geisha untuk mengikuti terapi dari Dokter saja.
"Ambyar kan saja sekarang. Mari kita beradu, Gen!" decak Andre dengan wajah jumawa. Seakan ia percaya diri untuk bisa memisahkan Geisha dengan suaminya.
Genta pasti akan marah. Jika melihat Geisha pergi satu mobil dengan Andre. Apalagi Gentala sudah seperti orang gila menunggu Geisha di pintu gerbang sejak siang hari.
"Tolong, Mas. Lewati rumahku. Jangan berhenti. Mas Genta bisa berpikiran macam-macam tentang kita," pinta Geisha memelas.
Andre tersenyum senang. "Ini waktu yang tepat, sayang ...."
"Kurang ajar kamu, Mas!" sentak Geisha. Ia sampai memukul lengan lelaki itu untuk terus melajukan mobilnya.
Dan lelaki yang berubah hilang akal ini, tetap mendaratkan mobil dengan cantik di depan gerbang. Gentala yang sejak tadi berjongkok, lantas berdiri. Menilik mobil yang kacanya amat gelap tidak tembus pandang. Dan ia tahu sekali mobil siapakah ini.
"Andre? Mau apa?" tanya Genta dalam benaknya.
Tidak tahu saja dirinya jika di dalam mobil itu juga ada istrinya. Geisha tengah meronta untuk meminta Andre menjalankan mesin mobil. Andre tidak perduli. Ia turun dari kemudi dan menatap Genta dengan senyuman bangga. Bangga karena ingin menghancurkan keharmonisan rumah tangga pasutri ini.
"Ndre?"
Andre mengulum senyum. "Tidak betah di sana?"
Gentala melongo. Keningnya mengerut. Dari arah pembicaraan lelaki ini seakan Andre tahu, bahwa Genta beberapa hari ini tengah berada di luar rumah.
"Tau dari mana kamu?"
Andre melirik ke dalam mobil. Di mana Geisha masih enggan untuk turun.
"Istrimu yang cerita padaku ...."
Deg.
Ubun-ubun Gentala seakan diguyur oleh siraman air panas. Dada nya mendadak sesak, seakan diikat oleh tambang.
"Geisha?" lelaki itu mengulang.
Andre dengan tangan bersedekap, tertawa renyah. "Memangnya siapa lagi istrimu?"
Di dalam mobil. Geisha menangis. Mengutuk dan amat membenci Andre.
Gentala menoleh tidak percaya ke dalam mobil. Raga nya seakan terjungkal. Tersayat oleh bara api. Wanita ini? Yang entah kemana seharian tanpa kabar, membuat ia merana di luar rumah. Tengah asik pergi bersama lelaki lain, pikir Gentala.
Keadaan terjepit. Dirinya sudah tidak mampu berkutik untuk bersembunyi. Geisha pun turun dari dalam mobil. Ia menatap suaminya yang tengah menatapnya lurus dengan rahang mengencang karena cemburu.
"Mas kok kamu bisa pu----"
"Tolong jelaskan padaku!" selak Genta. Sisi monster dirinya seakan muncul.
"Aku ajak istrimu untuk jalan-jalan." Geisha mendelikan mata ke arah Andre, saat lelaki itu menerobos percakapan mereka dengan nada santai.
"Apa?" telapak kaki Genta seakan tidak bisa berpijak. Gelap dunianya. Saat istri yang amat ia agung-agungkan melebihi Kahla dan Avika, ternyata tidak setia.
"Bohong, Mas!" Geisha langsung menyergah.
"Teganya kamu padaku, Sha ...." dan kesekian kalinya, air mata Gentala luruh.
...๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ...
...Sampai jumpa minggu depan๐๐...
__ADS_1