
Melihat air mata lelaki yang amat berharga untuknya, membuat Geisha berang menatap Andre. Ia maju untuk memberikan tamparan di wajah lelaki itu yang mana tengah tertawa, menikmati perdebatan di antara ia dan suami. Dan sebelum hal itu terjadi, Gentala mencekal tangan Geisha untuk tidak melakukan hal itu.
"Mas, demi Allah ...," lirih Geisha menatap Genta agar lelaki itu bisa percaya. "Tolong percaya sama aku."
Gentala seka air mata. Ia kuatkan raga untuk bisa berpikir teduh.
"Tidak ada maksud aku untuk---"
"Karena kamu. Geisha menjauh dari keluarga. Bahkan untuk memunculkan dirinya di hadapan keluarga, ia tidak bisa. Berlagak seperti maling di pernikahan Adik sendiri. Agar tidak dikenali, karena membatin dengan luka yang berada di wajahnya----" baru saja Andre menyela Geisha. Wanita itu gegas berteriak nyaring kepada Andre, di mana saat ini Genta tengah melongo bingung.
"Pernikahan?" ulangnya memastikan.
"CUKUP, MAS! Pergi kamu! Sampai kapanpun aku akan tetap mendampingi suamiku!" sentak Geisha.
Ia menggenggam erat tangan Genta. Membuat Andre berdecih jijik. Ia memilih menatap Genta dan kembali berujar. "Kasihan, Geisha, Gen! Lepaskan dia. Biar aku yang membahagiakan. Kamu hanya bisa memberikan ia luka. Bagaimana jika orang tuanya tahu tentang perlakuan mu padanya?Aku yakin dengan sangat, kalau sampai saat ini Geisha pasti belum tahu bagaimana rasa mendapatkan pelepasan di tempat tidur."
Geisha melototkan mata ke arah Andre. Pun dengan Genta yang sejak tadi sudah berusaha sabar dengan ejekan lelaki yang di hadapannya ini. Tangan Genta mengepal kuat dengan rahang yang mengencang.
Bug.
Andre tersungkur ke aspal jalan, hanya dengan satu pukulan Genta. Dengan tatapan beringas, Gentala menunjuk bola mata Andre dengan ujung jarinya.
"Sahabat macam apa kamu? Aku ini sakit. Bukan sengaja untuk membuat istriku hancur! Tidak ada yang pernah merebut Geisha darimu. Kami saling mencintai, sebelum kamu berada di antara kami! Geisha hanya mencintai aku. Selalu menerima kekuranganku!" air mata Gentala menetes.
Walau ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Benarkah wanita ini akan tetap berada di sampingnya, saat ia tidak bisa disembuhkan? Mendengar ujung kalimat yang Andre suarakan, membuat ujung hati Genta amat tercabik-cabik. Ia baru sadar, kalau selama ia berhubungan dengan Geisha. Wanita itu hanya mengerang sakit, tidak mungkin mendapatkan pelepasan yang nikmat seperti dirinya.
Bodo amat dengan Andre yang masih tersungkur memegangi pipi. Geisha gegas menggandeng Gentala untuk masuk ke dalam rumah. Karena dari kejauhan satpam komplek seraya ingin melangkah, mendekati mereka bertiga.
"Tolong kamu tenang, Mas. Akan aku jelaskan dengan jujur, mengapa aku bisa pergi bersama lelaki kurang ajar itu!"
Genta mengangguk pelan. Ia menurut saja saat dirinya digandeng masuk ke dalam rumah.
"Geisha! Tinggalkan lelaki sakit itu!" seru Andre yang mencoba membawa dirinya untuk bangkit.
"Pergi! Yang sebenarnya sakit itu kamu, Mas!" Geisha membalas seruan Andre yang semakin membuatnya malu di hadapan orang yang mulai bergerumun di depan rumah. Lekas menutup pintu rumah dan menguncinya rapat.
"Ada apa, Pak?" Satpam mendekati Andre yang tengah memancarkan raut emosi. Ia kesal karena ekspresi Gentala yang tidak sama sekali menyudutkan istri akan bualan dirinya. Gagal sudah rencana, yang ia pikir, malam ini Genta pasti akan menceraikan Geisha, karena cemburu telah pergi bersama laki-laki lain.
Andre menggeleng kepala dengan napas memburu kuat dan luka memar di bawah mata. Ia melangkah panjang untuk masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat ini.
...๐พ๐พ๐พ๐พ...
Tuk.
Geisha meletakan segelas air di meja makan. Ia duduk di sebelah Gentala yang masih melamun menatap air putih yang sekilas bergoyang di dalam gelas. Geisha sudah membuka hijab dan cadarnya. Ia peluk Gentala dari samping, mulai membuka suara untuk menjelaskan secara rinci mengenai dirinya dan Andre mengapa bisa satu mobil.
"Aku memang salah padamu, Mas. Ada beberapa hal yang tidak aku ceritakan. Salah satunya tentang pernikahan Ginka hari ini."
Dapat Geisha rasakan, jantung Genta berdetak cepat. Saat tahu wanita itu memang membohonginya.
"Jelaskan," balas Genta datar.
"Aku tidak mungkin datang secara terbuka dengan keadaanku yang seperti ini. Apalagi kamu juga sedang di pondok. Aku tidak mempunyai alasan yang kuat untuk berdalih di depan keluargaku. Bagaimanapun, aku tetap ingin melindungi mu, Mas. Aku takut, Bunda dan Ayah kecewa dan tidak segampang itu menerima keadaanmu sepertiku."
Genta mendesahkan napas berat. Seberat rasa pening di kepala yang mulai melanda. Ucapan Geisha benar. Mana ada orang tua yang pasrah saat melihat anaknya mendapat perlakuan kasar, walau penyakit sebagai alasannya.
Geisha usap-usap dada Genta, agar lelaki itu tetap tenang. Ia tahu, Genta pasti akan merasa amat bersalah.
"Dan di sana, Mas Andre mengenaliku. Dia mengancam ku. Akan mengadukan keadaanku kepada Ayah dan Bunda. Jika aku tidak mau di antar pulang olehnya. Maka, aku iyakan dengan rasa terpaksa. Tapi, lelaki itu berdusta. Dia membawaku berkeliling Kota Bogor. Menyita gawai milikku. Tapi, demi Allah ... demi Rasulullah. Aku dan dia, tidak melakukan apapun yang membuat Marwah ku tercoreng," jelas Geisha. Ia peluk lelaki itu erat-erat. Memaksa agar Genta mau mempercayai ucapannya.
Genta menghentikan lamunan. Ia rubah suasana tidak mengenakan ini dengan senyuman yang sedikit ia paksakan. "Aku percaya, Sha ... maaf, karena aku. Kamu tidak bisa menikmati pernikahan Ginka dengan semestinya. Aku yakin, Ayah dan Bunda pasti kecewa," balasnya.
"Aku sudah memilihmu dengan segala kurang mu. Aku tidak akan menangis atau meratap nasib, jika di perjalanan aku mendapatkan keadaan yang seperti ini. Sejatinya aku ada di sana tadi. Ginka, Ayah dan Bunda pasti bisa merasakan. Bisa melihat Ginka tertawa lepas di pelaminan. Sudah cukup untukku, Mas."
Genta terharu. Ia labuh kan banyak kecupan di pucuk rambut harum milik Geisha.
__ADS_1
"Jadinya percaya, kan? Bukan inginku pergi bersama lelaki itu!" gerutu Geisha.
Genta tersenyum, ia menganggukkan kepala.
Tentunya lelaki ini percaya.
Dapat Genta rasakan, bagaimana pengorbanan Geisha selama ini untuknya. Kabur di saat Andre bersiap berjabat tangan di meja akad, Rela di benci Ayah berbulan-bulan karena lebih memilih dirinya dan menerima dengan ikhlas perlakuan kasar Genta di ranjang.
"Benar, Mas?" Geisha mengurai dekapan, agar bisa menatap Genta lebih jelas. Ia tidak ingin lelaki ini berdusta dan menyimpan dendam.
Genta kecup bibir istrinya. Ia rasakan kawat besi masih menempel di gigi Geisha. "Benar, sayang. Aku percaya," pungkasnya setelah mengecup.
Geisha tersenyum senang. Ia hujani Genta dengan berbagai kecupan dari bibirnya.
"Aku ingin kamu jujur, Sha," ucap Genta dengan tatapan serius. Geisha kembali mengikis senyum yang sejak tadi menjulang.
"Jujur apa, Mas?" tanyanya dengan gurat takut.
"Apa benar selama kita berhubungan, kamu tidak pernah mendapatkan---"
"Lelaki itu bohong! Dia hanya ingin memanas-manaskan hatimu, Mas!" sela Geisha. Ia meletakan satu jari di bibir Genta untuk berhenti berbicara.
Gentala menurunkan tangan Geisha pelan. "Katakan dengan jujur, Sha." karena yang ia dapatkan dari sorot mata Geisha, hanyalah tatapan bohong. Mana ada wanita yang akan mencapai klimaks, jika diri disakiti, mendapatkan berbagai pukulan yang menyakitkan.
"Iya, Mas," jawab Geisha amat pelan.
"AH, SIAL!" Genta mengamuk. Ia lempar gelas berisi air itu ke lantai. Dan pecah, berhamburan. Ia sudah tahu akan jawaban Geisha. Tapi, mendengar jawaban yang menyesakan hati benar-benar terucap oleh istrinya, ia memekik. Seakan tidak terima.
"Aku harus bagaimana, Sha. Aku harus bagaimana?" tanyanya frustrasi. Lelaki itu bergumam lirih sambil terisak. Tidak henti-hentinya memukul kepala. Gegas, Geisha menghentikan kepalan tangan yang terus menghujam kepala lelaki itu. Memeluk Genta dan menguatkan.
"Kamu akan sembuh, Mas. Percaya itu ...."
"Gimana mau sembuh? Kalau aku aja enggak sanggup untuk mengikuti pengobatan di Ponpes. Pengobatan ala medis pun rasanya seperti jalan di tempat," balas Genta dengan lirihan patah semangat. Ia tatap Geisha yang sama-sama menangis seperti dirinya.
"Aku enggak mau balik ke sana, Sha. Aku nggak mau. Aku nggak bisa jauh dari kamu. Apa tidak ada cara lain selain menetap di Ponpes? Aku janji akan rajin shalat, tapi aku ingin kamu yang ajarin aku. Jauh dari kamu, buat aku depresi."
Geisha hening. Ia tatap dinding kosong seraya berpikir. Mungkin benar ucapan suaminya. Gentala ini bukan muslim biasa, lalu bengkok, menjadi jauh dari agama. Ia adalah lelaki yang tidak beriman dari kecilnya. Maka, untuk menerima ajaran Islam di ponpes yang amat ketat. Sangat menguras psikisnya. Gentala butuh proses. Dan Geisha pun teringat akan janjinya, yang mana setelah menikah, ia yang akan mendidik Genta.
"Iya, Mas. Aku yang akan ajari kamu." ia tidak ingin membuat lelaki ini stress.
Genta memeluk Geisha. Menangis terseguk-seguk karena bahagia. Ia tahu, Geisha pasti tidak akan tega melihat dirinya menderita.
"Aku janji. Aku bisa nahan diri untuk enggak sentuh kamu dulu."
Geisha menggeleng. "Aku selalu siap, jika kamu mau."
"Aku janji ...."
"Aku mau."
"Enggak, Sha. Jangan ...,"
"Sentuh aku, Mas. Aku ingin."
"Aku belum bisa ngontrol diri aku, Sha. Kamu akan semakin tersiksa," balas Genta.
"Aku akan bantu kamu untuk ngontrol dirimu ketika kita sedang bersatu," ucap Geisha meyakinkan.
Genta menyerengitkan dahi. Apa yang akan istrinya lakukan?
Geisha mengusap-usap dada Genta dengan belaian halus. Mendekatkan bibirnya untuk menyesap permukaan leher Gentala. Memancing libido lelaki itu agar bangkit.
Dan.
"Emm ...." Genta melenguhh, saat junior di bawahnya, Geisha cengkram.
__ADS_1
"Tenang, sayang. Rileks. Jauhi bisikan iblis itu. Jauhi!" Geisha terus berbisik dengan nada sexy. Mencoba sekuat mungkin, untuk menggelamkan sisi monster Genta yang mungkin sebentar lagi akan mencuar.
Dan benar, Geisha lekas mencekal tangan Genta sekuat mungkin, saat jari-jemari itu mulai mencakar tangannya. Sadisme lelaki itu sudah datang.
Geisha bangkit berdiri. Menghentikan foreplay yang ia berikan untuk sang suami. Tatapan Genta amat bergairah penuh damba. Seperti harimau lapar yang ingin memangsa. Bergegas cepat membaringkan tubuh mungil Geisha di meja makan.
"Tenang, Mas. Tenang," sekuat-kuatnya Geisha menghalau wajah Genta yang ingin mencumbunya dengan gerakan kasar.
"Ingat Allah dalam hatimu. Ingat aku sebagai cintamu. Ingat Mami dan Papimu. Ingat kamu ingin sembuh untuk kami semua." Geisha terus berucap, mencoba menggoyahkan stigma sadisme yang melekat di dalam raganya.
"Ikuti aku, Mas. Bismillah ...."
Gentala dengan dengusan napas kasar, mencoba membuka mulut walau rasanya amat berat. "Bismi---bismillah ...."
Geisha tersenyum. Ia usap-usap pipi suaminya yang sudah setengah memanjat tubuhnya.
"Astaghfirullahaladzim ....," Geisha membawa Genta untuk mau berucap istighfar sepertinya.
Gentala menutup mata, seraya menahan sakit di kepala. Rasanya ia tidak tahan untuk melawan sadisme tersebut.
"Ayo, Mas. Ikuti aku ...."
Gentala mengerjap mata. Ia menatap Geisha lekat-lekat. "Aku jadi tidak bergairah, Sha."
Geisha menggeleng. "Kamu harus lawan, Mas. Lawan! Lawan setan yang ada di dalam dirimu!" Geisha menunjuk dada Gentala.
"Enggak bisa, Sha. Aku enggak mampu," ucap Genta frustrasi. Ia bangkit dari tubuh Geisha dan berlari ke kamar.
Selama ini, nafsu yang ia miliki dikendalikan oleh kepribadian sadisme yang melekat di jiwa nya. Dan saat kepribadian itu goyah. Genta seakan tidak memiliki hasrat untuk menyentuh sang istri.
...๐พ๐พ๐พ๐พ...
Genta memilih berbaring terlentang di ranjang, menutup wajahnya dengan bantal. Intinya tidak lagi berdegup. Hasrat yang sempat mendidih, begitu saja terhempas.
Brug.
Merasa ada yang menindih tubuhnya, lekas melepas bantal, ia terkesiap saat Geisha sudah berada di atas tubuhnya.
"Kamu mau ngapain, Sha?" lelaki itu kaget saat Geisha tengah berusaha mengikat pergelangan kedua kakinya dengan tambang.
Dan semakin melongo, ketika kini Geisha beralih kepada kedua tangannya. Di ikat erat dengan tambang juga seperti kaki.
"Diam saja, Mas! Ikuti kemauanku! Aku ingin juga mendapatkan hak ku! Layani aku, Mas!" ucap Geisha tegas. Ia tutup mulut Genta dengan lakban.
Netra pekat milik Genta membola. Ketika Geisha menggugurkan baju yang ia pakai sekarang.
Geisha terkekeh. "Pejamkan saja matamu. Jangan lihat aku. Aku malu, Mas."
Genta berusaha meronta dengan gelengan kepala tidak percaya. Istrinya ini, mengapa jadi barbar begini?
"Kebetulan sedang masa suburku, Mas. Aku ingin secepatnya hamil. Aku ingin beri kamu anak." Geisha menurunkan celana Genta, membuat lelaki itu polos di bagian bawah. Tidak perduli ia akan disebut pemerkosaa suami. Bodo amat pikirnya. Ia harus membuktikan ucapan Andre. Kalau dirinya juga bisa mendapatkan pelepasan dari lelaki ini.
"Maafkan aku, Sha. Maafkan aku ... kamu pasti akan memintaku pergi jika tahu----" Genta membatin. Lelaki itu menggenangkan air mata. Ia teringat bahwa dirinya sudah memvasektokmi alat reproduksinya. Hal terberat yang mungkin akan membuat Geisha membenci dirinya.
"Aku belum ingin memiliki anak, Sha. Belum. Waktunya belum tepat ...." jeritnya dalam hati. Ia hanya diam pasrah, tidak berenergi. Padahal di atas tubuhnya. Geisha tengah melenguh nikmat.
...๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ...
Siapa yang kaget ada notif Two G? Hehe. Ya gitu lah aku, guys. Pengin kasih kejutan dan juga inpoh.
Mungkin beberapa bab lagi akan TAMAT di sini, dan aku pindahkan ke BUKU CETAK. kisaran harga 85-89 ribu, guys. Aku kasih tau gini, biar kalian bisa nabung. Tebal buku nanti sekitar 450 halaman.
Aku akan open PO BUKU, Insya Allah akhir Juli. Gitu aja inpoh dari aku, ya. Biar kalian enggak ngerasa dadakan.
Thankyouuuuu, sayang-sayangg.
__ADS_1