
Setelah mengusir Geisha dengan sengaja. Gentala melesat ke Rumah Sakit lain untuk bertemu dengan sahabatnya yang berprofesi sebagai Dokter Spesialis Jiwa, Andre Fayd.
Genta berkata kepada Andre, bahwa dirinya ingin sembuh. Lelaki tidak kuat jika terus-menerus seperti ini. Kenangan masa lalu yang tidak mengenakan saat dirinya di masa kanak-kanak, menjadi momok paling utama.
Sebenarnya Genta sudah berkali-kali mendatangi Andre, untuk minta di obati. Tapi, sahabatnya bilang penyakit seperti ini tidak akan bisa di musnahkan, jika Genta tidak mau berdamai dengan masa lalu, sisi yang paling ia benci di dalam hidupnya. Penyakit itu sudah terlalu kental dan melekat di dalam jiwa dan raga. Hal itu akan terus menjadi pemicu.
Saat ini, Genta sudah berbaring di ranjang pasien poli kejiwaan. Ia di minta untuk menutup mata dan mendengarkan alunan musik yang tenang dari headphone yang kini sudah terpasang di telinganya. Andre berdiri di tepi ranjang sambil terus memberikan arahan agar Genta bisa rileks dan mengikuti setiap ucapannya.
"Keluarkan apa yang masih mengganjal di sini." Andre menekan dada Genta. Genta mengangguk dalam pejaman mata.
"Gue benci mereka!" Genta mulai bersua.
"Bagus, Gen. Terus, keluarkan." Andre menitah.
Bulir air mata Genta menetes turun dari sudut matanya.
"Mereka saling menyakiti. Dan gue benci!" Genta seakan berucap pada bayangannya.
"Keluarkan terus ... Ayo!"
Dahi Genta berkerut-kerut seperti sedang menahan bayangan yang tidak mengenakan. "GUE ENGGAK KUAT, NDRE!"
"Lo, kuat! Tembus bayangan itu, Genta! Tembus dan lawan! Lo itu bukan psikopat! Psikopat tidak punya hati. Sedangkan lo punya. Ayo! Maafkan mereka, Gen!" Andre terus memaksa.
Genta menggeleng-geleng kan kepala. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Ikuti alunan musik itu. Ikuti terus cahaya yang ada di depan mata. Anggap media yang lo benci, tidak pernah ada. Hadapi, Genta. LAWAN!" Andre menekan lagi emosi Genta.
Peluh Genta banjir membasahi wajah dan leher. Ia berusaha untuk melawan gangguan mental dalam dirinya, yang di akibatkan dari perbuatan kedua orang tuanya.
"Mereka mencintaimu, Genta. Amat menyayangimu. Maafkan lah. Maafkan." Andre terus mempengaruhi stigma dalam pola pikir Gentala.
__ADS_1
"Ampun, Papi. Jangan pukul aku!"
"Mami... i'm sick! Please, don't hit me!"
Andre tersenyum, karena Genta sudah bisa mengeluarkan bayangan di masa lalu lewat ucapan. Andre menggiring Genta untuk melawan bayangan gelap di sana.
"Keluarkan, Genta. Keluarkan!" Andre terus membakar emosi Genta untuk bisa terluapkan. Kekecewaannya kepada kedua orang tua yang tidak pernah ia ungkapkan, dan memendamnya lama. Membuat Genta mengalami gangguan kejiwaan.
"Papi jangan pukul, Mami!" Genta kecil memohon di kaki Papi.
"Sana pergi! Wanita seperti ini pantas di hajar!" Papi memukuli Mami tanpa ampun. Dan Genta tidak tahan, ia memukul punggung Papi dengan gagang sapu. Papi berbalik dan mencekik anak itu, menghajar dan menyundut nya dengan rokok panas.
"Ahhhhhhhhhhhhhh!" Genta belia berteriak.
Genta mulai meronta dalam pejaman matanya. Bayangan gelap itu terus menusuk batinnya. Rasa sakit yang ia terima dari setiap pukulan Papi, begitu membekas dan membuatnya trauma.
"Lawan, Genta! LAWAN!"
"Sudah kelas enam masih ngompol! Anak laki-laki macam apa kamu?!"
Kedua orang tua Genta yang memiliki sifat tempramental tinggi selalu menghukum Genta dengan kekerasan fisik. Memukul, menendang, mencambuk walau hanya karena masalah sepele.
Sampai di mana Mami dan Papi memutuskan untuk bercerai. Gentala memilih ikut bersama Grandma. Ibu dari Mami. Dari usia dua belas tahun sampai Grandma menutup mata. Untuk urusan materi, kedua orang tuanya sangat mencukupi. Terbukti, Genta bisa jadi Dokter Spesialis.
Hanya saja, cinta dan kasih sayang tidak mampu mereka berikan. Karena sudah memiliki keluarga masing-masing dan menurut Mami dan Papinya, keluarga yang mereka rengkuh sekarang sungguh lebih indah dan baik. Genta merasa terbuang. Merasa tidak di inginkan.
Rasa sakit yang terus menggulung-gulung dalam batin tanpa bisa di keluarkan. Membuat dirinya merasa menjadi manusia yang paling menyedihkan. Belum lagi iman islam yang tidak pernah di ajarkan oleh orang tua atau nenek sedari kecil.
Else, Mami Genta. Wanita keturunan Inggris dan Rusia. Beliau penganut Ateis. Else bertemu dengan Haritala yang seorang muslim, tapi tidak pernah mengerjakan shalat layaknya muslim lain. Padahal, orang tua Haritala di kenal kuat dengan iman Islamnya. Namun, mereka tidak mampu mengubah Haritala menjadi lelaki yang soleh dalam menegakkan agama yang di anut.
Pertemuan pemuda Indonesia dengan gadis rusia itu, akhirnya membuat mereka saling mencintai, menikah dan akhirnya memiliki Gentala Hanasta Edward.
__ADS_1
Rumah tangga tanpa pondasi agama, akan keruh seperti lorong yang gelap. Islam hanya tertera dalam kartu tanda pengenal mereka saja. Genta, buah hati yang begitu malang, yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Ternyata harus besar tanpa didikan Agama. Membuat anak itu menjadi tidak tenang dalam menjalani hidup, apalagi kenangan masa lalu yang pelik membuatnya semakin terperosok. Dan semua kekecewaan itu, mengubah dirinya menjadi Sadisme.
Sadisme merupakan bentuk gangguan mental yang di idap seseorang dalam golongan parafilik. Sadisme adalah salah satu kategori dari beragam bentuk penyimpangan seksual.
Pengidap penyakit ini akan merasakan kepuasan yang sempurna apabila melakukan aktivitas sexs dengan cara kekerasan. Genta akan merasa puas, jika ia sudah menyakiti pasangan yang ia cintai di ranjang. Dengan cambukan, pukulan, tamparan dan gigitan. Genta akan terbang ke awang-awang, jika lawan mainnya sudah menjerit kesakitan.
Apa yang sering ia lihat pada saat belia, ketika Papi memukul Mami. Atau dirinya yang sering di pukul oleh kedua orang tuanya, membuat Genta mengubah aral denial nya. Kecemasan kastrasi yang tidak terselesaikan dari masa kanak-kanak menyebabkan perubahan rangsangan seksual kepada objek atau aktivitas yang lebih aman, menurut mereka.
Pengidap Sadisme biasanya memandang sexs sebagai sesuatu aktivitas yang penuh derai dosa. Sehingga memberi pukulan dan siksaan kepada pasangan seksualnya, ia merasa dapat mengurangi dosa.
Penyebab lainnya juga, Genta memiliki ketidaknormalan hormon sexs. Hormon testoteron dalam tubuhnya dikatakan tidak konsisten. Hal ini di sebabkan, karena dari remaja Genta sudah sering mengkonsumsi Alkohol. Minuman tersebut dapat melepas fantasinya tanpa hambatan. Bisa melenyapkan bayangan-bayangan traumatis di masa lalu.
"Tolong, Mas! Jangan begini, aku sakit!"
Kahla berteriak saat dada nya digores dengan ujung cutter. Darah segar yang mengalir dan jeritan sakit membuat Genta bernapsu untuk melepaskan hasratnya. Maka sampai saat ini, masih ada bekas jahitan di dada mulus Kahla, akibat jari-jemari Gentala.
"Sakit, Mas!! Ampun!"
Begitupun dengan Avika. Ia pernah menjalani operasi patah tulang di bagian hidung Karena Genta memukulnya tanpa ampun saat mereka sedang berduet di ranjang.
"AHHHHHHHHH!!" Genta berteriak. Ia melepas headphone dan melemparnya ke lantai. Lelaki itu beranjak duduk dalam napas yang berantakan. Ingatan-ingatan yang tidak mengenakan tidak bisa ia lawan.
Andre mengusap bahunya untuk menenangkan. "Atur napas lo, Rileks!"
Genta menggeleng. Ia memegang kepalanya frustrasi. "Berat, Ndre. Gue enggak kuat! Gue enggak bisa!!"
Genta menenggelamkan kepalanya di atas lutut, kedua tangan memeluk kakinya. Lelaki itu terisak dengan bahu membuncang. Genta menangis dan menangis.
Memaksa untuk menghilangkan cinta yang sedang merekah kepada Geisha. Sungguh, membuat lelaki itu tersiksa.
"Pergilah, Sha. Saya merelakan kamu ... Saya tidak bisa melawan penyakit ini. Kamu akan menderita jika bersama saya. Seperti halnya Kahla dan Avika." Genta membatin. Bahkan karena ulahnya, Genta sampai harus kehilangan buah hati yang dulu sempat di kandung Kahla Azizah. Ia tidak mau mengulang hal itu kepada Geisha.
__ADS_1
Dan akhirnya Gentala menyerah.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...