Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Aku Selalu Ingat, Mas.


__ADS_3

Jantung Geisha masih saja menderu-deru tidak karuan. Ia terduduk manis sambil termenung dengan wajah senang di kursi Dokter yang sejak tadi Genta duduki.


"Di marahin kok seneng 'sih, Dok?" tanya Suster Lala. Ia sedang membungkus alat bedah yang sudah di cuci dan akan ia antar ke ruang steril alat. Jam praktek Genta sudah berakhir lima belas menit yang lalu, dan selama itu pulang Geisha melamun bahagia.


"Jantung aku kayaknya mau lepas, Bu." jawab Geisha sambil memegang dadanya. Suster Lala melongo."Sedih? Karena di omelin?"


Geisha menggelengkan kepalanya. "Enggak, Bu. Aku malah senang."


"Ha?" Suster Lala menautkan alis bingung.


"Ibu tadi dengar nggak, sebelum pulang, beliau bilang apa?"


"Kamu bodoh ... gitu 'kan katanya?"


Geisha memiringkan bibirnya. "Itu aja yang diingat." menghembuskan napas pelan. Suster Lala tertawa. "Bercanda cah ayu."


Geisha kembali menatap Suster Lala dengan wajah senang. "Ternyata Dokter Genta ingat sama aku, Bu. Dia tau Aku yang tabrak dan maki dia waktu itu."


"Masa? Tau dari mana? Perasaan dari tadi enggak ada ngomong apa-apa." sergah Suster Lala. "Yang Dokter Genta bilang, kalau kamu masih belum bisa ikut ke kamar operasi, karena masih lelet?" sambungnya lagi.


Geisha memajukan bibirnya ke depan. Ia jengah dengan ucapan Suster Lala.


"Kamu masih lelet, lama, enggak gesit. Tubuh aja kurus, kalah sama yang gendut Enggak cekatan!"


Geisha tersenyum saja saat mendengarkan. Ia meraup perkataan Genta seperti alunan lagu yang indah menyusup di hati. Matanya seakan sudah ketutup belek, eh, cinta. Haha.


Sebelum Genta benar-benar menekan handle pintu ingin keluar dari poli, lelaki itu berbalik. Menoleh ke belakang. "Saya tau, kamu wanita berkerudung pink yang menabrak saya dan kucing saya, tempo lalu."


Bibir Geisha bergetar dengan raut berubah takut. Jantungnya memburu hebat. Ia salah jika terlepas dari kesialan. Dokter Genta tersenyum tipis.


"Sudah saya maafkan ... dan kamu lebih rapih jika memakai kerudung seperti itu." berlalu lah Genta dari pandangan Geisha setelah mengucapkan kata-kata makian yang berbalut pujian. Membuat Geisha mematung bisu. Ia serasa tenggelam dalam samudera cinta yang paling dalam.


"HEH!!"


Geisha langsung tersentak saat Vina dan Lauren yang sekarang sudah berada di hadapannya. Menggebrak meja dokter.


"Lho 'kok kalian? Bu Lala mana?"

__ADS_1


"Bu Lala udah berkali-kali teriak nyadarin, lo, Sha! Lo nya bengong ajah!" sungut Vina.


"Lo kenapa 'sih? Kemasukan setan? Enak banget deh dari tadi asisten sendirian." decak Lauren.


Senyum Geisha merekah. "Ya 'kan kalian udah ikut ke kamar operasi. Gantian lah sekarang sama gue."


Lauren dan Vina memutar bola mata jengah. Mereka sudah menebak pasti Geisha kesemsem dengan ketampanan Genta. Dan Geisha tidak perduli dengan tanggapan Lauren dan Vina.


Yang sekarang ia pikirkan adalah, mengolah sedikit saja otak di kepalanya untuk bisa fokus saat sedang bersama Genta. Biar tidak dianggap bodoh beneran.


"Begini kali, ya. Jatuh hati pada pandangan pertama. Dari mata turun ke tenggorokan." Geisha terkekeh senang dalam batinnya.


"Et, tapi dia udah nikah belum, ya?"


...🌾🌾🌾...


"Kahla!" Kahla yang sedang berjalan membawa kotak obat pasien dari Farmasi menuju lantai perawatan, lantas menoleh ke belakang. Ia tersenyum mana kala lelaki tampan yang pernah menikahinya tiga tahun lalu mendekat.


"Mau visite, Mas?" tanya Kahla.


Kahla mengangguk. "Sudah dihabiskan bekalnya?" lembut sekali didengar. Tatapan teduh terlihat dari pancaran mata Kahla. Dulu, keteduhan itu yang membuat Genta jatuh cinta pada wanita ini.


Suster yang terkenal cantik di antara puluhan suster di Rumah Sakit ini. Kahla dan Genta adalah pasangan satu sever dulu. Sama-sama rapih, apik dan wangi. Terbukti tidak ada satu helai rambut yang keluar dalam gulungan hairnet dan kap yang sedang melekat di atas kepalanya.


"Sudah ... makasih, ya. Enak banget, dan selalu enak." puji Genta.


Kahla hanya tersenyum tipis. Di rumah ia memang sedang memasak semur ayam, dan ia tahu itu adalah makanan kesukaan Genta.


Genta menatap perut Kahla yang mulai membuncit. Saat ini wanita itu sedang mengandung empat bulan.


"Aku boleh enggak usap perutmu."


Kahla hening. Bola matanya berpendar kesana kemari, dan melirik ke sudut lorong karena ada cctv di sana. "Boleh, tapi jangan di sini ya. Ayo ikut aku." Kahla lebih dulu melangkah dan Genta mengikutinya dari belakang.


Mereka berdua berjalan menuju lorong sepi yang jarang di lewati para pengunjung atau karyawan Rumah Sakit. Semua orang di RS ini memang tahu mereka adalah mantan suami istri. Kahla adalah wanita pertama yang Genta nikahi. Tetapi sepertinya jika terlalu akrab, rasanya tidak boleh. Kahla sudah menikah, dan suaminya sedang bertugas jauh di Pontianak.


Saat ini mereka sedang duduk bersisihan dalam kursi panjang.

__ADS_1


"Ayo usap." titah Kahla. Genta menurut. Ia usap berulang kali. Air mata Genta menggenang saat mengusap perut Kahla. Genta rindu bayi laki-laki yang pernah ia tungu-tunggu kelahirannya.


"Setelah mengandung bayi ini, apa kamu sudah melupakan anak kita?" tanya Genta. Lelaki yang di kenal amat dingin dan galak itu, menitikan air mata di hadapan Kahla. Sejatinya hatinya lembut namun selalu tertutup.


Kahla menggeleng. Wanita cantik ini tersenyum, ia elus lembut lengan Genta. "Akan selalu ingat, Mas. Dia adalah buah hati kita. Dan sekarang sudah tenang di sisi Allah."


Genta mengangguk sedih. Ia tertunduk lama. Kejadian tiga tahun lalu membuatnya selalu menyesal.


"Rujuk lah dengan Vika, Mas. Aku yakin kalian akan bahagia seperti aku dan Mas Adam. Kembali lah percaya akan Allah. Biar hati mu tenang. Hidup tanpa Agama, bagai rumah tanpa tiang. Tidak akan kokoh. Akan selalu gelap."


Avika tahu saat ini hubungan Genta dan Kahla memang baik. Walau tidak ada rasa cinta lagi di antara mereka. Maka Vika selalu saja mengirim pesan kepada Kahla untuk menasehati Genta agar mau kembali kepadanya.


Kahla dan Genta, sama-sama pernah mengalami hal terburuk dalam hubungan pernikahan mereka, sampai Kahla menggugat cerai Gentala.


Kahla pernah membenci Genta sampai ingin pindah dari Rumah Sakit ini. Tapi, Kahla sadar. Jalan hidupnya yang tragis bersama Genta memang sudah ketetapan dari Allah SWT.


Bukti sabar nya dalam menghadapi Genta dulu, membawanya bertemu Adam, lelaki baik hati dan juga penyabar. Terbukti saat ini Kahla sedang mengandung anak pertamanya dengan Adam. Maka dengan perjalanan waktu, Kahla sudah memaafkan Genta. Dan kembali berhubungan baik dalam kata persahabatan.


Walau sebenarnya tidak ada kamus persahabatan bagi wanita yang sudah menikah dengan laki-laki lain.


Dulu, saat Genta ingin menikahi Vika. Lelaki itu juga meminta izin terlebih dulu kepada Kahla yang saat itu masih dalam posisi single. Dan Kahla mengizinkannya. Walau sebenarnya ia sudah tidak mempunyai hak.


Kahla pikir, ketika Genta sudah menikah dengan Avika. Mantan suaminya itu akan bahagia. Nyatanya tidak. Genta tetap tidak bisa berubah. Dan di saat Avika sudah bisa menerima kekurangan Genta. Genta bersikukuh tidak mau menerima wanita itu lagi. Hatinya untuk Avika sudah memudar. Ada tabiat Vika yang selalu menyakiti mentalnya. Tidak seperti Kahla.


Genta menggeleng. Ia seka air matanya dan kembali mengubah raut wajah dalam keangkuhan. "Aku tidak percaya adanya Tuhan. Sudahlah lupakan. Jangan membahas masalah itu!"


"Ya Allah, Mas. Kamu sudah melangkah terlalu jauh, hidup dalam luka terus menerus itu tidak baik. Tidak ada gunanya menyimpan dendam karena perceraian orang tuamu. Bangkit lah, Mas. Lupakan masa lalu yang menyakitkan. Kamu juga harus bahagia! Ada Vika yang siap mengobatimu."


Air bening dari pelupuk mata Genta menggenang lagi. Sukmanya tersentuh dengan nasihat Kahla. Namun tetap saja kepalanya menggeleng. "Menikahinya lagi sama saja akan mengulang luka lama. Seperti luka yang pernah aku goreskan padamu, La."


Kahla menggeleng kuat. "Kamu harus yakin, Mas. Kalau kamu yakin, kamu pasti bisa!"


Genta beranjak bangkit. Ia membantu Kahla untuk berdiri dari kursi. Memaksa untuk menyudahi percakapan ini.


"Ayo aku antar ke ruangan." ajak Genta. Dan Kahla hanya bisa menghela napas panjang dengan hembusan napas lemah.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...

__ADS_1


__ADS_2