
Geisha pikir Kahla akan langsung bercerita. Ternyata wanita ini malah membisu. Jika sejak tadi tangan Geisha yang berair karena peluh. Kini, Kahla pun sama. Ia seakan gugup untuk menceritakan hal jujur kepada Geisha tentang Gentala.
"Apa aku pantas untuk mengatakan hal ini kepada Geisha? Jika Geisha tidak bisa menerima, aku takut ia akan membatalkan pernikahan ini. Tapi, kalau tidak diberitahu. Aku seakan berkhianat padanya. Aku kasihan." Kahla membatin.
"Mbak?"
Kahla mengangguk. "Maaf aku melamun,"
Geisha mengerutkan dahi karena bingung. "Mbak mau bahas apa tentang, Mas Genta? Kok kayaknya gugup gitu?"
Kahla tersenyum, berusaha untuk menata hatinya yang sedang gegana. Ia tatap bola mata Geisha yang sudah ditimpa softlens berwarna cokelat, lekat-lekat.
"Aku ingin memberikan nasihat pernikahan padamu, Sha. Semoga hal ini bisa kamu terima,"
"Dengan senang hati, Mbak," jawabnya tersenyum. Walau dalam hati ia ingin menyergah. Mengapa konteks pembicaraan jadi berubah. Telinga Geisha masih bisa mendengar dengan jelas jika di awal Kahla ingin membicarakan tentang Genta. Tapi, sebisa mungkin Geisha harus bisa menghargai apa yang akan Kahla sampaikan. Ia mangut saja.
"Namanya juga suami istri, pasti akan ada kekurangan dan kelebihan yang akan kita temui dan sebisa mungkin harus kita terima dari pasangan halal kita. Mungkin dulu aku kurang sabar untuk menerima kekurangan Mas Genta begitupun beliau kepadaku.
Tapi, roda kehidupan kan terus berputar, di sepanjang perjalanan hidup, semua manusia akan berada dititik di mana ia akan berubah untuk menjadi lebih baik.
Aku ingin kamu menjadi pendamping terakhirnya. Menerima apapun kekurangan yang mungkin akan membuat kamu untuk menyerah. Tolong bimbing dia. Temani dia. Berikan selalu perhatian, kasih sayang dan cintamu sepanjang waktu untuknya. Mengerti 'kan maksud ku?" panjang kali lebar Kahla memberikan nasihat, seakan memaksa Geisha untuk mau menerima Gentala nanti.
"Kekurangan apa yang bisa membuat aku menyerah, Mbak?" tatapan mata Geisha menuntut. Kahla menekan napas yang terasa sesak. Pertama karena kehamilannya dan kedua karena ganjalan hati yang ingin sekali untuk jujur.
"Kamu kan sudah memutuskan untuk menikah dengannya. Mengabdikan diri selamanya untuk menjadi pendamping hidupnya. Maka, apapun kekurangan yang nanti akan kamu temukan. Kamu harus menerimanya dengan lapang dada. Aku yakin kamu bisa mengubahnya," balas Kahla.
Geisha semakin tidak mengerti. Sudah gugup karena menunggu waktu Ijab ditambah lagi dengan penuturan Kahla yang membuat jantungnya semakin berdegup tidak karuan.
"Boleh kasih aku contoh, Mbak? Kekurangan dalam hal apa?" Geisha mencecar Kahla.
Kahla menggeleng. "Aku tidak lagi punya hak untuk menceritakannya. Aku bukan lagi istrinya. Tidak semudah itu membeberkan aib nya kepada orang lain, walau kamu sebentar lagi akan sah menjadi istrinya."
Kahla bisa bernapas lega karena ia tidak jadi mengikuti hawa napsu nya untuk menceritakan kekurangan Genta yang menyakitkan, semoga dengan nasihatnya yang hanya seperti ini, bisa membuat mata hati Geisha terbuka saat ia shock setelah mengetahui siapa Gentala sebenarnya.
Geisha hanya mengangguk datar. Sambil menerka-nerka, apa lagi yang belum ia ketahui sisi lain dari Gentala? Kekurangan apa? Geisha terus berpikir, ia sampai melamun. Kahla menggoyangkan bahu Geisha agar wanita itu terlonjak sadar.
"Jangan takut, Sha. Kamu bisa melewati semua ini. Kamu lebih kuat dari aku dan Avika. Pokoknya jika kamu sedang merasakan sakit, tolong jangan mengeluh! Kamu harus lawan rasa sakit itu! Sebisa mungkin kamu tahan dan perlihatkan kalau kamu tidak sakit. Hanya itu satu-satunya jalan untuk membantu, Mas Genta. Dulu aku gagal melakukan itu. Tapi, aku yakin kalau kamu lebih kuat dari aku. Cintai kekurangannya."
DEG.
Jantung Geisha terus berdebar-debar. Napasnya mulai kacau, Ia seperti tengah melakukan perlombaan lari di siang terik matahari. "Maaa---maksudnya gimana, Mbak? Sakit?" tanya Geisha lagi dengan bibir bergetar. Belum apa-apa saja, wanita ini sudah takut. "Tolong ceritakan padaku semuanya dengan jelas," pinta Geisha memelas.
"Jangan takut----"
"Kak, penghulu sudah datang. Beliau memanggil Kakak untuk mendatangi meja akad," Ginka menyela ucapan Kahla. Ia kembali datang ke dalam ruangan ini dan meminta Kakaknya untuk bangkit dari sofa.
Geisha menatap Kahla dengan wajah mengiba. Dan Kahla menanggapinya dengan senyuman renjana, lantas memeluk Geisha.
"Tolong ingat pesanku, Sha. Mas Genta itu sayang banget sama kamu. Hanya aja dia punya kekurangan yang harus kamu naungi. Kalau kamu enggak kuat, tolong cerita sama aku. Bukan dengan yang lain! Mengerti 'kan?" bisik Kahla. Ia mengusap punggung Geisha naik turun dengan lembut.
Geisha mengangguk datar dan lemah. Kakinya terasa lemas. Tapi, menikah dengan Genta sudah menjadi pilihannya. Apapun yang terjadi nanti, Ia harus tetap menerimanya dengan lapang dada.
Kahla mengurai dekapan, ia mencium pipi Geisha. "Ayo sana, kamu sudah ditunggu calon suamimu."
"Makasih banyak, Mbak. Makasih karena sudah menasehati ku. Doakan aku dan Mas Genta semoga lancar hari ini." Geisha kembali mencium punggung tangan Kahla, lantas berlalu dengan Ginka dan Ghea menuju meja akad.
"Aamiin, Sha. Sudah aku doakan," balasnya.
...๐พ๐พ๐พ...
Gentala menoleh dengan senyum bahagia saat Geisha sudah duduk disampingnya. Wanita itu akan mendampinginya untuk mengucap Ijab Qabul. Sepertinya rasa gugup di hati Geisha sudah berganti, bukan lagi memikirkan tentang jalannya Ijab, tetapi ia risau dengan penjelasan Kahla tentang jatidiri suaminya yang mulai membuat nya takut.
"Silakan berjabat tangan," titah Bapak penghulu kepada Ayah dan Genta. Geisha terlonjak dari lamunan, ia tatap telapak tangan yang begitu kekar milik Ayah dan Genta tengah bersatu.
Tatapan Ayah begitu teduh namun tegas kepada Genta. Genta pun membalas dengan tilikan yakin. Yakin, kalau dia bisa menjadi pengganti Ayah untuk membahagiakan Geisha setelah ini. Namun, berbeda dengan Geisha. Jantungnya tengah berdebar-debar tidak karuan.
Benarkah pernikahan ini yang memang ia inginkan?
Mengapa hanya rasa takut yang menggema?
__ADS_1
Bukan rasa suka, bahagia dan gembira karena akhirnya menikah dengan lelaki yang ia inginkan. Lelaki yang sudah sejauh ini, ia tuntun untuk mendalami Islam.
Geisha menatap ke depan, ia temukan Bunda yang tengah berkaca-kaca menatapnya di tengah-tengah kursi para hadirin. Sedang berdoa, meminta kelancaran pernikahan putrinya untuk hari ini, esok dan seterusnya.
Mendung menerpa manik mata Geisha, sesaat pandangannya dengan Andre bersibobrok. Lelaki itu menatapnya dengan kesenduan yang amat dalam.
"Senyum, Sha." dari jauh Kahla memberikan kode dengan gerakan bibir tanpa suara.
Kahla tahu, dirinya sudah salah menceritakan hal ini kepada Geisha di waktu yang tidak tepat. Tapi, jika tidak sekarang, lantas kapan lagi? Dan kalau bukan dirinya, lalu siapa lagi? Karena hanya Kahla yang pernah merasakan apa yang akan Geisha rasakan setelah ini.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Geisha Alyra Hadnan binti Gifali Hadnan kepadamu, Gentala Hanasta Edward dengan seperangkat alat shalat, 100 krat berlian, 4000 hektar tanah, uang 1,5 miliyar dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Geisha Alyra Hadnan binti Gifali Hadnan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Dengan satu tarikan napas, nada suara yang terdengar tegas, lugas dan jelas serta dalam jabat tangan yang erat dengan Ayah, Gentala mampu mengucap Ijab Qabul dengan sempurna. Dada Geisha dan Genta seakan plong saat mendengar semua khalayak berseru kata ...
"SAH!"
"Alhamdulillah ...." semuanya beriringan mengucap syukur setelahnya.
Luruh lah air mata Genta. Menetes tipis-tipis dari sudut netra nya. Menangkap keharuan hati sang suami, membuat hati Geisha berdesir. Pupus sudah rasa takut yang menggelora sejak tadi di raganya. Ia tilik lelaki itu dengan senyuman cinta seperti kemarin-kemarin.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Telah engkau persatukan kami. Jadikan hamba istri yang solehah untuknya. Kuat kan hamba, untuk terus bisa mendampinginya dan menerima segala kekurangan dan kelebihannya sampai ajal menjemput," Geisha berdoa dalam hati. Air bening dari netra nya pun turun menganak sungai. Rasa lega mendera didad, ia sudah resmi menjadi seorang istri. Hal yang selalu ia damba-dambakan dan bisa ia banggakan kepada dunia.
Geisha seka air mata Genta dari samping yang terus mengalir dari sudut mata dengan jari-jemarinya. Padahal lelaki itu tengah menebar senyum ke semua penjuru mata yang tengah memandang mereka di meja akad. Bahkan Papi sampai memberikan dua jempol kepada anak laki-lakinya dari jauh sebagai tanda ikut berbahagia. Genta begitu terharu, di balik rasa bahagianya ia sampai menangis.
Genta menurunkan tangannya ke bawah, ia menggenggam tangan Geisha yang sejak tadi berada di pangkuan. Geisha dapat merasakan kalau kepalan tangan Genta begitu dingin dan basah. Degup jantung Genta saja seakan kentara dengan gerakan dada yang terlihat cepat.
"Aku berhasil, Sha," bisik nya pelan. Ada rasa bangga terlihat di wajahnya.
Geisha mengangguk, berbalas senyum yang amat meneduhkan. Seakan ucapan Kahla tidak menakutkan lagi. Ini lah suaminya sekarang, lelaki yang harus ia hormati seperti halnya kepada orang tua. "Iya, Mas. Kamu hebat. Terima kasih karena sudah mau menjadi suamiku untuk selamanya."
"Aku janji akan selalu bahagiakan kamu."
"Aku pegang janji kamu, Mas," balas Geisha.
...๐พ๐พ๐พ...
Hotel berbintang yang megah dan mahal, dekorasi pernikahan yang mewah, menu santapan dengan kualitas premium, tata busana pengantin, polesan make up sampai mahar yang diberikan oleh Genta semua sangat berkesan.
Melebihi yang pernah Andre berikan kepada Geisha dahulu, dan juga melebihi pemberian kepada mantan-mantan istrinya. Sebisa mungkin, Genta memberikan yang terbaik, termahal sesuai perkembangan zaman sekarang. Keinginannya membuat Geisha menjadi ratu sehari, akhirnya tercapai.
Acara resepsi sudah berakhir sebelum waktu Ashar. Para keluarga besar dan handai taulan sudah kembali ke rumah masing-masing. Berbeda dengan para orang tua, adik-adik dan Kakak yang masih stay di hotel untuk menginap. Menikmati fasilitas dari tempat yang mereka sudah sewa untuk pernikahan hari ini.
"Ayo mandi, Mas ...." Gentala yang sedang berdiri dengan tangan bersedekap menatap hamparan langit dari dalam kamar nya, menoleh ke arah istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di dada. Geisha melangkah menuju sofa untuk membuka koper berisi baju-baju yang akan ia gunakan selama menginap di hotel ini untuk beberapa hari.
Seteguk saliva, Genta dorong ke dalam kerongkongan, manakala hasratnya mulai tersulut, saat melihat lekuk tubuh Geisha yang amat menggugah selera.
Bongkahan dada yang terlihat kencang dari balik handuk, paha yang putih dan mulus terlihat basah karena sisa-sisa air yang masih melekat dan leher jenjang dan bersih terpampang jelas di matanya, membuat intinya seketika berdenyut.
"Mas ...." merasa tidak ada respon dari suaminya, lantas ia menoleh menatap Gentala yang sedang termangu kagum.
Lelaki itu tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang," jawabnya. Gentala melangkah mendekati Geisha, memeluk wanita itu dari belakang. Ia sesap aroma sabun yang begitu nikmat bertengger di sekitar permukaan kulit istrinya.
Geisha yang masih malu-malu dan belum biasa diperlakukan seperti ini, sedikit bergeliat menjauh. "Geli, Mas," ucapnya.
Genta hanya tersenyum dengan kedua mata yang memejam. Ia fokus menikmati harum tubuh istrinya. "Kita beneran udah nikah 'kan, Sha? Hari ini bukan mimpi?" rasa bahagia masih sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata, Genta tidak menyangka ia sudah lepas dari status duda nya. Genta mengusap-usap perut Geisha dan berangsur turun memegang pusat intinya.
"I---iya, Mas," balas Geisha. Ia meringis geli, karena hembusan napas Genta begitu membuat bulu-bulu halus di sekitar tengkuknya meremang, belum lagi dengan tangan Genta yang terus menjalar kesana-kemari. Geisha sampai memejam mata, baju yang sudah ia genggam tadi, ia biarkan jatuh di lantai.
Ini sungguh memabukkan untuk wanita perawan sepertinya.
Genta membalikan tubuh Geisha. Kini, mereka berdiri saling bertatapan. Degup jantung Geisha memburu hebat. "Masih sore, Mas. Lebih baik kamu mandi dulu, lalu kita shalat jam----" Geisha seakan tahu apa yang dimaui suaminya saat ini.
"I want you to the bone (Aku sungguh menginginkanmu)," bisikan Genta itu mampu membuat aliran darah Geisha memanas.
Cup.
Bibir Genta mengerucut, menempel di bibir istrinya yang tengah mematung kaku menahan takut. Ini adalah pertama untuk Geisha. Selama ia hidup bibir manisnya itu tidak pernah terjamah siapapun.
__ADS_1
Bibir mereka hanya menempel, belum ada yang memulai pergerakan. Genta masih diam, pun dengan Geisha. Kedua nya membuka kelopak mata, saling menilik bola mata masing-masing, sembari melemparkan senyum penuh kasih.
"Ini pertama untuk aku, Mas. Maaf kalau aku amatir," ucap Geisha.
Di balik senyumnya, Gentala mengangguk. "Alhamdulillah aku masih yang pertama." Genta usap bibir istrinya. "Aku akan ajarin kamu sampai lihai, Sayang," ucap Genta genit.
Lelaki itu menggenggam tangan Geisha. Kepalanya kembali mendekat, lantas miring sedikit agar bibirnya bisa mendarat dengan baik di bibir tipis milik bidadari surganya.
Hembusan napas dari lubang hidung Genta semakin jelas menerpa wajah Geisha, membuat wanita itu menutup mata untuk mengikuti irama permainan bibir yang akan Gentala berikan sebentar lagi.
"Buka sedikit," titah Genta, sebelum bibirnya benar-benar merapat.
Dalam pejaman mata itu, Geisha mengangguk dan menurut. Dengan rasa gugup yang masih terang benderang, Ia membuka katupan bibirnya sedikit dan pertengahan yang menganga itu, Genta terobos dengan bibir tebalnya.
Melumatt bibir Geisha, menyesap rasa manis di sana. Menumpahkan hasrat yang semakin berkecamuk untuk dikeluarkan.
Ah, rasanya ... mantap!
Geisha yang baru pertama kali merasakan cumbuan seperti ini, langsung tersulut akan permainan bibir suaminya. Ia menikmati sampai tidak sadar kalau dirinya terus mendesahh. Suara Geisha yang khas membuat libido Gentala semakin memuncak.
Tangan yang sejak tadi menggenggam, Geisha urai. Kedua tangannya berpindah untuk melingkar di leher Gentala. Wanita itu melenguh, merasakan nikmat yang sedang Genta berikan. Apalagi di saat lidah Genta di dalam rongga mulutnya tengah menginvasi.
"Balas aku," ucap Genta, menghentikan ciumannya. Geisha hanya diam, memejam mata. Melihat istrinya menyukai, Genta kembali melumatt.
"Eumm ... Mas ...." Geisha mendesah. Ia semakin dimabuk kepayang. Dalam hati ia terus berucap syukur kepada Allah, karena akhirnya ia di izinkan untuk bisa menikmati rasa yang memabukkan, yang saat ini tengah ia dapatkan dari pasangan halalnya.
Walau begitu, Geisha belum mampu membalas. Karena permainan masih didominasi oleh Gentala. Seakan lelaki itu tidak memberi celah agar Geisha bisa menikmati rasa dari bibirnya.
Kadang ciumann itu sedikit mengetat, lalu kendur dan mengetat lagi.
Genta sedang berusaha menata diri, ia tidak mau kebablasan lebih jauh untuk mengeksplor kenikmatan. Hal itu dikhawatirkan bisa memancing tindakan sadisme nya untuk keluar sekarang. Dirinya sudah berlatih untuk menjaga emosi. Genta yakin, dirinya bisa tenang. Usahanya selama sebulan ini berobat ke Dokter harus membuahkan hasil.
Tapi, Geisha begitu memabukkan untuknya. Geisha terasa berbeda dari Kahla dan Avika. Mungkin, karena Geisha masih polos dan hanya menurut saja. Membuat sisi kejantanan Genta semakin menguak. Apalagi dirinya sudah lama berpuasa untuk tidak melakukan cumbu rayu seperti ini kepada wanita lain setelah bercerai dengan Avika.
Gentala semakin terhipnotis.
Kedua tangan Genta yang sejak tadi statis di bawah lantas naik, memeras bongkahan dada Geisha yang tertutup handuk. Geisha semakin terbang ke awang-awang. Walau ia merasa sedikit sesak karena kehilangan oksigen, namun ia tidak perduli. Ia terus mendamba belaian yang Gentala berikan.
Tak berapa lama, dahi Geisha terlihat berkedut-kedut. Ada yang aneh pikirnya. Ingin membuka mata, tapi wajahnya menempel lekat dengan wajah Gentala. Rasa yang ia rasakan sekarang, seakan bukan lagi kelembutan seperti di awal mereka berciumann.
Dan.
"Ah, Sakit!" pekik Geisha. Ia memaksa untuk memutus ciuman itu dan menjauhkan kepalanya. Sudah bibir sakit, dada pun terasa panas, karena tanpa sadar Gentala mencengkram dengan buku-buku jarinya. Genta terlalu meraup rakus bibir dan dada sang istri.
"Kok sakit sih, Mas? Kenapa gigit bibir aku? Terus kenapa dada aku dicakar?" tanya Geisha dengan wajah memelas. Ia memegang bibir nya, merasakan rasa panas dan bengkak di bagian lunak tersebut. Dan tatapannya semakin menuntut Gentala, saat lidahnya bisa merasakan ada percikan darah yang menempel di bibirnya.
"Bibir aku berdarah, Mas?" tanya Geisha dengan nada kaget. Geisha juga melongo ke dalam handuknya, ingin memastikan mengapa dadanya terasa panas seperti tersayat. "Ah, kulitnya terkelupas!"
Gentala yang sudah sadar dari euforianya yang buruk itu, mengangguk datar. Ia terlihat takut, cemas dan gelisah. "Maa---maaf, Sha." suaranya bergetar.
"Apakah berciumann memang akan seperti ini, Mas? Gigit menggigit? Cakar-mencakar tanyanya polos.
Gentala kikuk. Ia memandang sendu Geisha, Ia berhasil menyakiti wanita lugu ini. Dan saat ingin menangkup wajah istrinya. Gentala berteriak histeris. Ia memukul-mukul kepalanya. "Arggghhhhh, brengsekk!"
Lelaki itu memaki dirinya habis-habisan. Mengutuk sosok hitam di dalam tubuhnya yang tidak pernah mau pergi. Rasa takut akan diketahui penyakitnya dan tidak mau ditinggalkan Geisha, membuat lelaki itu mengerang dalam makian.
"Arrghh keparatt!!"
"Lho, Mas, kamu kenapa?" Geisha sekuat tenaga memegangi tangan Genta untuk berhenti memukul kepalanya sendiri. Wanita itu bingung dan kaget setengah mati mengapa Gentala bisa berubah seperti lelaki yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Lepas, Sha!" Genta tanpa sadar mendorong Geisha sampai terpental, punggungnya mengenai ujung sofa.
"Ya Allah," aduh nya.
...๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ...
Ini aku up malem, ya, guys. maapin kalo ada yang baca pagi atau siang. Pantengin story IG aku, ya. Aku suka kasih tau kapan aku update. Kadang aku kek bunglon, suka berubah2. Niat mau update sabtu tapi sekarang pengin di up, wkwkw.
Like dan Komennya yaw.
__ADS_1