
Senja mulai tampak, menandakan langit akan menggelap menjemput malam. Di sepanjang perjalanan, hembusan angin menyapu bersih wajah Geisha yang sedang di bonceng tanpa memakai helm. Karena kunciran rambutnya mendadak jatuh, membuat surai miliknya yang berwarna cokelat dan tebal, terkibas-kibas.
Di balik helm full face nya. Eldy memasang wajah cemburu. Bertanya-tanya dalam benaknya siapa lelaki tadi? Mengapa Geisha harus menasehatinya untuk shalat? Dan dari mana mereka berdua?
"Pergi berduaan 'kan, pasti?" dengkus Eldy menahan cemburu.
Bahu sebelah kirinya terasa berat. Ia menilik kaca spion dan benar saja, Geisha tertidur. Karena sedang berhenti di lampu merah, Eldy mengeratkan tangan Geisha untuk memeluk perutnya.
"Pegangan, sayang. Nanti kamu jatuh." Eldy bergumam pelan. Ia tersenyum suka. Walau Geisha dalam keadaan tidur, tapi tetap saja ia merasa seperti di peluk betulan. Eldy melambatkan deru mesin motornya. Ia menurunkan satu tangan untuk memegang tangan Geisha, yang masih bertengger di perutnya.
"Kamu 'tuh punya aku, Sha! Enggak ada yang bisa rebut kamu dari aku!" gumam Eldy. Ia kembali kesal jika terbayang dengan wajah Genta.
"Siapa 'sih, dia??"
Estimasi perjalanan ke rumah sebenarnya bisa ditempuh dengan waktu tiga puluh menit, tetapi Eldy membuatnya menjadi satu jam setengah hampir mendekati magrib. Lelaki itu sengaja berputar-putar dulu kemana saja, ia masih ingin berduaan seperti ini dengan Geisha.
Cit.
Deru mesin motor, Eldy matikan. Saat ini mereka sudah sampai di pelataran halaman rumah Ayah dan Bunda. Eldy melepas helm dan ia letakan di dada motor. Si bujang meraih punggung tangan Geisha, dekatkan ke bibir untuk mengecupnya. Dan baru saja ingin menempel, Geisha di belakang sudah bergeliat bangun.
Buru-buru tangan gadis itu ia lepas. "Bangun, Sha! Gampang banget 'sih molornya! Bahu gue sampai pegel!" gerutu Eldy pura-pura.
"Udah sampai, ya, El?" Geisha mengucek-ngucek matanya.
"Hem."
"Maaf, ya, gue ketiduran." timpalnya.
Eldy mengangguk. Dan sesaat kemudian menepuk lutut Geisha saat ia tahu gadis itu melamun lama. Geisha kembali teringat dengan wanita yang pergi bersama Genta barusan. Hatinya perih lagi.
"Bengong?"
Geisha menggeleng. Ia bergegas turun sambil membawa dua bungkusan plastik bebek. "Makan dulu yuk, El. Sekalian shalat magrib di sini." ajak Geisha. Dengan senang hati Eldy mengiyakan walau dalam raut jaimnya.
"Oke."
Eldy dan Geisha melenggang langkah menuju pintu utama. Eldy bisa menangkap raut Geisha yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Pasti om-om kuncir, tadi!" Eldy menghela napas, dadanya terasa sesak.
...๐พ๐พ๐พ...
"Ayo, turun!" sudah ke seratus kali, Genta meminta Avika untuk turun dari dalam mobilnya. Saat ini, Genta sudah berada di depan gerbang rumah Avika. Rumah yang dulu dibeli Genta untuk tempat tinggal mereka bersama, saat masih menikah.
"ENGGAK MAU!" Avika masih berpegang teguh dengan pendiriannya. Ia memandang lurus kedepan dengan kedua tangan bersedekap.
"Aku enggak mau turun, kalau Mas enggak mau nurutin permintaan aku!" Avika masih memasak agar Genta mau kembali padanya.
"Aku ingin pulang. Mau istirahat. Ada jadwal operasi malam," tutur Genta dingin.
__ADS_1
Avika tetap menggeleng. "Terserah, pokoknya aku tetap enggak mau turun!"
Genta mengusap wajahnya gusar, sembari meluapakan napas kasar. Memijat-mijat celah dahi yang terasa pening. Sebenarnya ia pening bukan karena memikirkan sikap Avika sekarang. Melainkan, tengah memikirkan Geisha. Sama seperti halnya Eldy yang sedang bertanya dalam benaknya, siapa Genta. Pun sama dengan Genta sekarang. Siapakah Eldy?
Merasa kesal dengan sikap Avika yang keras kepala. Genta pun turun dari dalam mobil. Ia memutar langkah, membuka pintu samping dan menarik Avika paksa untuk keluar.
"Kamu nyakitin aku, Mas!" Avika mengelus lengannya, ia pura-pura kesakitan.
Genta menatap Avika lamat-lamat. "Jalan kita sudah masing-masing, Vika. Aku belum bisa berubah. Pernikahan yang ingin kamu rajut kembali denganku, hanya akan meninggalkan luka di hatimu. Ingatan kelam akan kembali membuatmu syok karena ulahku. Carilah sosok lelaki lain, yang selalu kamu idam-idam 'kan."
Avika menggeleng. Air bening memupuk di kelopak. Ia menggenggam tangan Genta. "Awalnya aku syok, Mas. Mungkin aku kurang sabar seperti Kahla. Walau aku tahu, pada akhirnya Kahla juga tidak kuat. Tapi, selama setahun ini. Aku berpikir. Aku merenung. Aku enggak bisa jauh dari kamu. Enggak ada lelaki yang baik seperti kamu, Mas!" Avika mulai menangis. "Aku masih sayang."
Genta hening. Jari-jemarinya mulai terangkat untuk menyeka air mata Avika, wanita yang saat ini berusia tiga puluh tahun. "Jika terus bersamaku, sepanjang hidup kamu akan tersiksa, Vika."
Avika menggelengkan kepalanya. "Enggak, Mas. Enggak!"
"Ayo masuk sana!" titah Genta. Lelaki itu ingin secepatnya pulang dari sini.
Avika beringsut memeluk Genta. Tidak perduli mereka sedang berada di pinggir jalan. Genta meronta, berusaha melepas dekapan itu.
"Jangan begini, Vika! Malu!!"
Avika tetap memeluk dan menangis. Ia menyesal. Mengapa dulu di saat lelaki ini memohonya untuk tidak pergi. Dirinya tetap pergi, membuang Genta seperti sampah tanpa bisa diberikan kesempatan untuk berubah.
"Ayo, Mas. Kita menikah lagi! Tidak perlu ada resepsi lagi, cukup nikah biasa saja. Aku ingin kita rujuk!"
"Enggak bisa, Sha!" dan kedua alisnya menaut saat nama Geisha yang terlontar dari mulut Genta.
"Siapa tadi? SHA? Gadis tadi? Anak bimbing mu? Iya, Mas? IYA?" dan di akhir kalimat Avika berteriak. Ia terus menerka. Dan terkaan nya benar.
Genta menggeleng. Ia pun bingung, mengapa Geisha yang masih berputar-putar di kepalanya?
"Dengarkan aku, Mas! Hanya aku yang tau segala kekurangan kamu! Hanya aku yang mau kembali dan menerima, walau awalnya aku syok sampai menceraikanmu. Dan aku mengaku salah. Tapi, tolong kamu ingat! Jangan coba-coba berani jatuh cinta kepada wanita lain, jika kamu masih seperti ini! Karena mereka juga akan menjauh, seperti aku dan Kahla!" Avika mendorong dada Genta kasar. Ia melenggang masuk ke dalam rumah dengan wajah merah padam.
Mendengar ucapan Avika, membuat setitik rasa kepada Geisha seakan memudar. Ia tidak boleh memelihara rasa itu. "Aku tidak boleh menyukai, Geisha."
Setelah dirinya bercerai dengan Kahla. Avika datang mengisi hatinya, mampu membuat Genta jatuh hati dan tanpa fikir panjang untuk menikahinya. Dan setelah Avika tahu kekurangan Genta, wanita itu menjauh. Genta masih belum bisa berubah. Maka setelah bercerai dengan Avika. Genta masih menutup diri dari para wanita. Ia sudah tahu, pernikahan yang ia jalani akan selalu berujung pada perceraian.
"Geisha tidak boleh menyukaiku." Genta bukanlah pria polos yang tidak peka dengan sikap wanita. Ia tahu Geisha menyukai dirinya sejak awal. Maka dari itu, Genta selalu dingin kepadanya. Walau semakin Genta menolak, rasa dan perhatian yang Geisha berikan terus menyentuh kalbunya, seperti sekarang.
Genta menempelkan dahinya di atap mobil. Berusaha melegakan dada yang terasa berat. Dan ia kembali terbayang Geisha, saat ada suara Adzan Magrib berkumandang.
"Jangan lupa shalat, ya, Dok."
Genta menggelengkan kepala samar, sesaat teringat ucapan Geisha.
"Sepertinya aku ...." Genta mengusak-usak dada. "Enggak! Enggak, boleh!!" Genta melawan hati kecilnya. Ia memilih berlalu dari sini untuk pulang ke rumah. Ingin menenangkan pikiran, hati dan istirahat melepas penat.
...๐พ๐พ๐พ...
__ADS_1
Genta sudah mandi. Ia memakai kaos berlengan pendek dan celana training panjang. Rambut gondrong nya ia biarkan terurai. Walau ia sudah mencoba untuk melupakan Geisha, tetap saja semakin di lupakan malah semakin teringat. Gelak tawa Geisha, senyuman manis, raut sedih milik wanita itu terus berfantasi dalam kepalanya.
"Kok jadi mikirin dia terus!"
Dan.
"Ahhhhhh!" Genta berseru mana kala air panas dalam termos meluap banjir dari cangkir yang saat ini tengah ia pegang. Genta bermaksud ingin membuat cokelat panas yang ingin ia nikmati sambil membaca buku. Tapi, bayangan Geisha membuatnya seperti orang tidak waras.
"Mulai besok aku harus bisa menjaga jarak dengannya. Aku tidak boleh menyukainya." karena jika Genta sudah kepalang jatuh hati. Lelaki itu akan mengejarnya, dan pasti ingin menikahinya. Sebelum itu terjadi, Genta akan mencoba mundur. Pernikahan adalah sesuatu yang haram untuk nya sekarang. Lelaki itu belum sanggup untuk kembali menabur luka.
Bersamaan dengan lamunan yang masih membelenggunya, ponsel Genta bergetar di atas sofa. Genta mendekat dan meraih benda pipih tersebut. Ia buka aplikasi WhatsApp, dan menemukan pesan dari nomor baru.
"Geisha?" saat Genta menekan foto profil si pengirim pesan itu. Sudut garis bibir Genta salur-salur melengkung naik ke atas. Lelaki gondrong ini berkhianat dengan ucapannya barusan. Ia tidak bisa menolak perasaannya yang terus bergulir untuk Geisha. Dirinya bahagia. Hatinya terpesona.
"Cantik sekali kamu di sini." Genta mengusap-usap foto Geisha yang sedang tersenyum, tengah duduk di antara Ayah dan Bunda.
"Ini, ya, orang tua nya?" Genta terpanah. Melihat keteduhan dari wajah Ayah dan Bunda.
"Masih muda, ya? Agamis sekali." imbuh nya lagi. Ayah dan Bunda memang masih terlihat muda. Umur mereka saja baru empat puluh tiga tahun, hanya beda delapan tahun dengan Gentala.
Entah apa tanggapan Ayah, jika Genta menikahi Geisha. Lelaki yang pantas menjadi pamannya.
Di foto Ayah, tengah memakai pakaian muslim dan berpeci. Pun dengan Bunda memakai gamis dan kerudung panjang. Tentramnya pasangan Haji dan Hajjah di foto tersebut. Hanya saja mereka belum bisa menguatkan hati Geisha untuk berhijab. Mungkin nanti.
"Beda sekali dengan orang tua ku." Genta menarik napas. Ia termenung, karena perbedaan sangat jauh terlihat. Bagai bumi dan langit. "Kami memang di ciptakan hanya untuk tinggal di Neraka." lelaki itu tertunduk dalam lamunan.
Genta menutup foto profil itu dan kembali menekan pesan masuk dari Geisha.
[Assalammualaikum, Dok. Sedang apa? Kata Ayah dan Bunda, terima kasih banyak bebek nya. Semoga rezeki Dokter semakin bertambah. Aamiin. Makasih, ya, Dok.]
Jantung Genta kembali menderu-deru. Ia tatap isi pesan itu dengan senyum renjana. Ia mengusap dada yang terus berdebar-debar. "Aku sudah lama tidak merasakan rasa seperti ini."
Genta mengakui dirinya mulai jatuh hati. Rasa membara dalam dada seakan menepis denial nya, setelah dia bersumpah untuk mau menjauhi Geisha. Nyatanya, ia tidak bisa.
[Saya lagi enggak ngapa-ngapain, Sha. Sama-sama. Salam untuk Orang Tua mu]
Send ...
[Oh, iya. Kamu lagi apa sekarang?]
Send ...
Bukan hanya sekali, tapi dua kali Genta mengirimkan pesan. Setelah pesan itu terkirim. Genta tersenyum menatap gawai. Menunggu si pencuri hati membalas pesannya lagi.
Genta menghampiri cermin di dinding. Ia menilik wajah nya.
"Saya masih muda 'kan? Masih gagah?" Ia teringat dengan Eldy. Eldy yang tampan, muda, dan rapih dengan potongan rambut lelaki kekinian jaman sekarang.
Genta memegang bulir rambutnya ke udara.
__ADS_1
"Dari bujangan saya enggak pernah potong rambut jadi pendek, apakah sekarang sudah saat nya?"
...๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ...