Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Tolong Saya, Sha!


__ADS_3

"Kamu cantik sekali di sini." Gentala yang setengah mabuk, sedang menyandar lemah di dinding ruang tengah terus menyorot foto profil WhatsApp Andre. Yang di mana lelaki itu memasang foto prewedding antara dirinya dan Geisha.


"Harusnya besok itu kamu menikah dengan saya, Sha! Bukan dengan orang lain! Apalagi, Andre!" Genta menyesap lagi cairan alkohol dari botol beling yang ia genggam.


"Saya tidak akan datang besok! Saya enggak kuat!" Genta lempar botol alkohol dengan kasar ke lantai.


Trang.


Byrrr.


Pecahan beling tersebar dengan cairan alkohol yang masih tersisa setengah, membuat lantai basah. Gentala down. Lelaki itu tidak kuasa menahan riak batin saat membayangkan Andre yang akan hidup selamanya dengan orang yang ia kasihi.


Hal yang tidak pernah terbesit di dalam hidupnya akan mengalami patah hati sampai tragis seperti ini.


"Mengapa kamu harus datang ke dalam hidup saya, jika hanya ingin membuat saya hancur seperti ini?"


Ia tidak sanggup jika perhatian Geisha yang begitu lembut sampai bisa membuat dirinya terpesona dan tergugah, akan berubah hanya untuk Andre. Hanya lelaki itu yang bisa menikmatinya.


"Argggghhhhh!! GEISHA!" Gentala meremas rambutnya. Memukul-mukul kepala nya. Lelaki itu berteriak-teriak padahal saat ini sudah dini hari.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk merengkuhmu kembali?" dan, sayangnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Terhitung dari sekarang, kurang lebih enam jam lagi Geisha akan di Ijab Qabul oleh calon suaminya.


Kadang ia berucap. Kalau dirinya kuat. Dirinya sanggup. Dirinya legowo. Tapi, nyatanya semua itu hanya lah ucapan di bibir untuk berusaha menguatkan sukmanya, tidak dengan hati yang sebenarnya.


"Ya udah, tidur dulu aja. Saya di sini temenin, dokter."


Bayang-bayang saat Geisha menemani Gentala tidur di mobil karena melepas lelah sehabis operasi dan akan melaksanakan operasi lanjutan, terus berputar-putar. Perhatian dan kelembutan wanita itu, serta nasihat tentang shalat yang selalu ia abaikan, tidak kunjung menghilang dari ingatan.


"GEISHA!!" Genta kembali berteriak. Dan saat ingin melempar botol alkohol yang kedua ke dinding. Genta tercenung, seakan ia melihat bayangan Geisha di depan mata.


Gentala yang tengah mabuk dan kacau, tersenyum menatap kehaluan nya. "Sayangku ... kamu di sini, Sha?" Genta beranjak bangkit walau tubuhnya lemas sekali.


Dari pagi sampai sekarang ia tidak mandi dan makan. Kerjaannya hanya minum dan minum saja. Sudah ada sepuluh botol alkohol yang ia tenggak. Dan Genta sudah muntah berkali-kali. Bahkan hari ini ia tidak praktek tanpa meninggalkan pesan kepada Suster Lala. Pernikahan Geisha besok, membuat lelaki itu depresi. Ia tidak bisa membuat dirinya untuk mengalah atau berjiwa besar untuk merelakan Geisha demi Andre.


Dan.


"Arkkhh!!" Genta kembali berteriak. Manakala ia menginjak beberapa pecahan beling yang terserak di atas lantai tepat di kedua telapak kakinya. Bayangan Geisha pun menghilang. Lelaki itu limbung ke lantai. Ia menyorot telapak kakinya yang mulai memuncar kan darah. Banyak pecahan beling menancap di permukaan.


"Ahh!" Genta mengerang sakit sambil memanggil Mami Else. Ia merayap di lantai untuk memungut ponsel yang juga ia lempar ke sudut kanan, beberapa meter dari posisinya sekarang. Darah dari kakinya beleleran di lantai mengikuti kemana tubuhnya merayap.


TAP.


Badan gawai berhasil ia tangkap. Lelaki itu memilih kontak Geisha. Mencoba meneleponnya berkali-kali, namun ponsel Geisha tidak aktif. Si empu pun sudah tidur dengan llelap.


[Tolong saya, Sha. Saya sakit]


Genta mengirim pesan singkat itu melalui aplikasi WhatsApp. Dan setelahnya lelaki itu benar-benar limbung, tidak sadarkan diri. Sudah lemas karena tidak ada asupan makanan, perut kembung karena banyak cairan alkohol yang masuk dan yang terakhir rasa sakit di telapak kakinya.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


"Sabar, El," ucap Om Ammar. Ia memeluk keponakan nya yang sedang patah hati akut sama seperti Gentala.


"Kenapa aku enggak bisa bersatu dengan Geisha, seperti Om dan Tante?" tanya Eldy terseguk-seguk dalam pelukan itu. Eldy dan Om Ammar sekarang sudah sama-sama rapih dengan baju seragam keluarga. Om menghampiri Eldy yang sedang memandang lesu nabastala pagi ini di belakang hotel mewah milik Bunda, untuk pernikahan Geisha.

__ADS_1


Keluarga besar Artanegara, Hadnan dan Andre sudah sampai di ballroom hotel. Karena lima belas menit lagi acara akad nikah akan di mulai. Pelaminan yang begitu elegan, tengah berdiri kokoh dan sejumlah para hadirin terhormat dari berbagai kalangan telah hadir memenuhi kursi yang sudah di sediakan untuk menjadi saksi akad nikah Geisha Alyra dan Andre Fayd, pagi ini.


"Harusnya dulu kamu lebih berani mengatakan cintamu padanya, sebelum terselak, El."


Dan tangisan Eldy kian tumpah. Ia memeluk Om Ammar untuk meluruhkan rasa perih di dada. Sungguh berat, ada dua lelaki yang menangisi Geisha di hari pentingnya sekarang.


"Assalammualaikum, Pih. Papi di sini? Mama Luna, mana?" Papi Hari mendongak dari layar gawai sesaat ada yang mengucap salam dengan nada suara yang ia hafal.


Lelaki itu tidak kaget dengan kedatangan Vika. Pasalnya ia tahu kalau Avika dan Genta akan datang juga di pesta ini. Malah awalnya ia yang kaget, karena calon suami Geisha adalah Andre. Sahabat Anaknya sekaligus Anak dari sahabatnya yang sudah berpulang.


"Waalaikumsallam, Vika. Iya, Papi lagi temenin Mama kondangan. Yang punya hajat ini anaknya teman Mama. Eh, nggak tau nya calon suaminya ternyata si Andre. Mama lagi ke kamar mandi. Sini kamu duduk sebelah Papi." walau Avika dan Genta sudah bercerai, dan wanita ini bukan lagi menantunya. Tapi Papi tetap bersikap baik.


Bukannya Andre tidak mengundang Papi, tapi dirinya sudah mengatakan kepada Genta untuk mengajak Papi dan Mama Luna. Karena Papi Hari adalah almarhum sahabat Ayahnya. Dan Genta tidak memberitahukan kepada Papi, lelaki itu terluka.


Bola mata Avika membeliak. "Geisha? Anak temannya Mama Luna, Pih?" kembali hal yang mengagetkan terkuak hari ini di benak Avika. Avika datang ke pernikahan Andre karena Andre yang mengundang. Dan juga Avika ingin tahu, apakah Genta mempunyai nyali untuk datang.


Papi mengangguk. "Iya, Vika. Papi sama Mama dekat banget sama keluarga ini, udah kayak saudara. Papi tau banget gimana Geisha kecilnya. Anaknya baik. Cocok deh sama Andre."


Avika hanya ber oh panjang saat Papi menceritakan siapa Geisha.


"Papi enggak tau aja, kalau kemarin-kemarin Genta berhubungan dekat dengan Geisha!" Avika bermonolog dalam hati.


"Coba kamu hubungi, Genta. Bilang sama dia dari tadi Andre nyariin. Kok belum datang juga. Tadi sih, Papi udah coba telepon Genta, tapi ponselnya enggak aktif."


Papi Hari menatap Andre yang sudah duduk di meja akad berhadapan dengan Ayah Gifa. Tengah bersiap untuk melaksanakan Ijab Qabul beberapa menit lagi.


Dokter Andre, menerima permintaan Ayah untuk bisa membacakan surah Ar-Rahman sebagai mahar tanpa teks. Seperti mahar yang pernah Ayah berikan kepada Bunda, dua puluh lima tahun yang lalu.


Jika, Genta yang saat ini duduk di hadapan Ayah sebagai calon mempelai pria, entah apa yang akan ia bacakan.


"Iya, Pih. Avika coba hubungi, Mas Genta." Avika pun beranjak bangkit dari kursi para hadirin yang sudah berjajar di ballroom ini untuk melangkah ke luar.


"Sudah bisa di mulai?" tanya penghulu. Andre, Ayah Gifali dan para saksi di meja akad mengangguk. "Bisa tolong panggil calon mempelai wanitanya." pinta penghulu lagi.


Bunda yang tengah duduk bersisihan dengan Tante Sandra, menoleh ke arah Pradipta yang sedang duduk bersama Rayna dan keluarga dari London yang sudah hadir di sini. "Jemput Geisha." bisik Bunda.


Pradipta mengangguk. Sedangkan Bisma sedari tadi tengah membidik Ayah di meja akad. Walaupun ada beberapa fotografer handal, ia tetap memilih membidik foto dengan kameranya sendiri.


Yang Pradipta tahu, saat ini Geisha sedang berada di ruang make up bersama Gheana dan Ginka. Maka berlalu lah lelaki itu ke sana. Ginka dan Ghea yang akan mengapit Geisha untuk di bawa ke meja akad.


"Kakak, mana?" tanya Dipta, sesaat langkah kaki nya sudah tiba di ruang make up.


Ginka yang tengah membidik foto Gheana yang tengah hamil tiga bulan, berpose dengan gamis bertile, menunjuk ke arah kamar mandi. "Lagi pipis."


"Eh!" bola mata si kembar membelalak. Ginka dan Ghea seakan tersadar. Kalau Kakaknya sudah setengah jam di kamar mandi dan tidak kunjung keluar.


Melihat Ginka dan Ghea panik, Dipta pun menautkan alis dan melangkah blingsatan menuju kamar mandi yang terkunci.


"Kakak!" seru Dipta sambil mengetuk pintu.


Ginka dan Ghea juga ikut berseru. "Kakak, ayo keluar! Sudah waktunya Ijab Qabul!"


Dipta menempelkan telinga di daun pintu kamar mandi. Ada bunyi air dari kran wastafel yang terus mengalir.

__ADS_1


"Kakak!!" ketiganya berseru dengan wajah panik. Menghentak-hentak handel dan mengetuk-ngetuk pintu. Namun, yang di serukan tidak kunjung menyahut. Mereka panik, takut kalau Geisha pingsan di dalam.


"Dobrak aja, Kak!" Ghea menitah Dipta untuk mendobrak pintu kamar mandi.


"Kalian minggir!" Ghea dan Ginka pun menjauh. Dipta mulai berancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi. Dan sebelum pintu di dobrak. Ada Bisma yang datang, menghampiri mereka dengan tatapan horor dan berkeringat seakan habis melihat hantu.


"Kenapa, Kak?" tanya ketiganya bersamaan. Melihat napas Bisma berantakan, membuat mereka berpikir pasti ada yang tidak beres.


"Ginka dan Ghea temani Bunda. Bunda pingsan!"


"Hah?" mereka melongo dengan raut khawatir.


Bisma menatap Dipta. "Kamu ikut Kakak, kita cari Geisha. Geisha kabur!"


"APA??"


Penjaga hotel memberitahukan bahwa Geisha yang sudah memakai kebaya pengantin kabur. Gadis itu berlari ke dalam mobil dan mengemudikan kereta besinya dengan lajuan kencang.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Cit.


Ban mobil memekik saat Geisha menekan pedal rem dengan kuat tepat di depan rumah Gentala.


Wajah Geisha yang sudah flawless karena polesan make up, begitu saja luntur karena banjiran air mata. Selama di perjalanan mengemudikan mobil, gadis itu menangis.


Menangisi hari ini. Menangisi Andre. Menangisi Ayah dan Bunda. Menangisi dirinya yang sudah jahat dan mempermalukan nama keluarga besar karena hatinya yang lebih memilih Gentala. Lelaki yang kurang normal. Tidak mengenal Tuhan dan sudah gagal dua kali dalam menikah.


Setelah shalat malam, Geisha merenung dalam sajadahnya. Ia meminta hatinya untuk dilegakan, agar menerima pernikahan pagi ini. Nyatanya dalam mimpi, yang ia temukan adalah wajah Gentala. Bayangan lelaki itu semakin kuat menusuk batinnya. Wajah Andre terhempas, hanya ada Gentala di kepala dan hatinya.


Geisha memang terlihat resah sejak di make up. Hatinya tidak tenang. Pikirannya terus tertuju kepada Genta. Sampai di mana ia mengaktifkan ponsel, ingin menghubungi Genta apakah lelaki itu baik-baik saja. Geisha tersentak saat ada beberapa puluh pesan yang Genta kirim kepada nya.


[Tolong saya, Sha. Saya sakit]


Karena pesan tersebut lah yang membuat Geisha berada di sini sekarang. Memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Andre. Membuat malu nama Ayah, Bunda dan keluarga besar yang amat terpandang di penjuru kota, hanya demi seorang Gentala Hanasta.


Begitu besar pengorbanan yang Geisha lakukan untuk lelaki itu.


Geisha turun dari dalam mobil dengan kain kebaya yang menjuntai sampai aspal jalan. Ia melangkah sambil menyeret kain tersebut dengan susah payah.


Tok tok tok.


"Dokter!" seru Geisha dari luar sambil mengetuk-ngetuk daun pintu dengan raut cemas.


"Dokter Genta!" serunya lagi. Yang di serukan masih terkapar di lantai dengan darah yang sudah mengering dari luka menganga di telapak kakinya.


Geisha berinsiatif untuk mengambil kursi yang ia letakan di bawah ventilasi. Dengan hati-hati ia naik ke atas kursi untuk menilik suasana rumah dari dalam lubang ventilasi.


Dan.


Deg.


Bola mata Geisha terbelalak, seakan ingin rontok jatuh ke dasar lantai. Manakala ia lihat lelaki yang sekarang ingin ia dekap tengah berbaring menelungkup di lantai bersamaan darah mengelilingi kaki Gentala.

__ADS_1


"Astaghfirulahaladzim, Ya Allah. Sayang ...."


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


__ADS_2