
"Ini Geisha, Gen. Insya Allah sebentar lagi akan jadi istri gue."
"Akan jadi istri gue."
"Istri gue."
Ucapan Andre terngiang-ngiang di memori kepalanya, begitu menusuk sudut hati, menebas jiwa dan raga. Rasanya perih bagai di silet berkali-kali.
Demi apa mereka akan menikah?
Mengapa bisa begini?
Bukannya kita baru berpisah dalam waktu satu minggu?
Kenapa bisa kamu menjadi calon istri orang lain?
Gentala bermonolog dalam batin. Terlebih lagi penunggu sanubari hatinya akan menikah dengan sahabatnya sendiri.
"Kalian benar akan menikah? Kok bisa?" tanya Genta pelan. Telapak kakinya terasa tidak dapat memijak. Lemas sekali sukmanya. Ia tilik wajah Geisha untuk membenarkan apa yang ia ucapkan. Tapi, Geisha memilih untuk menunduk.
Andre terkekeh, ia menghentak dada Gentala agar bangun dari lamunan. Ia merasa Genta hanya sedang mengejeknya karena akhirnya laku juga. "Jangan kayak gitu muka, lo. Biasa aja kali."
Dada Geisha amat sesak. Ia ingin segera pergi dari ini.
"Apa selama ini kalian sudah dekat?" tanya Genta memastikan. Jika iya, berarti selama ini Geisha membohonginya. Karena baginya tidak mungkin, ada pertemuan singkat yang membuat pasangan bisa menikah dalam waktu cepat. Dan ternyata, ada.
Mendengar tuduhan itu, Geisha mendongak. Ia ingin membersihkan namanya. "Tidak, Dok. Kami baru saling kenal. Tepatnya semalam, keluarga besar, menjodohkan kami."
"Iya, Gen. Bundanya Geisha temannya Kak Sandra. Para beliau ingin menjodohkan kami. Itu juga dadakan, makanya gue belum sempat kabarin, lo. Niatnya sekarang. Gue mau ajak lo makan siang bareng sama kita. Gue mau ngenalin calon istri. Eh, tau nya kita ketemuan di sini." Andre menjelaskan terperinci dengan raut senang bukan main.
Tidak tahu kah dia? Ada lelaki di hadapannya yang mulai patah hati karena ucapannya?
Senyum Genta semakin redup. Dagingnya seakan dikuliti secara brutal. Perih sekali. Perih. Pun dengan hatinya yang kembali gelap. Ia pikir, hari ini. Geisha bisa lagi ia rengkuh. Nyatanya, ia terlambat. Dengan dada yang terasa di rajam dengan berbagai pisau, Genta paksakan untuk tersenyum. Ia memeluk Andre. Mendekap sahabat nya.
"Selamat ya, Bro. Akhirnya lo nikah juga. Jaga istri lo. Bahagiain dia, jaga baik-baik!" pinta Genta, ia menepuk-nepuk punggung Andre. Mencoba menerima dengan besar hati. Walau setelah ini ia ingin menangis. Permintaan Genta menghujam jantung Geisha. Ia menoleh ke arah dua laki-laki yang saling memeluk.
"Makasih banyak, Gen," balas Andre yang memeluknya erat.
Genta mengurai dekapan itu. Ia mengangguk. Geisha tahu manik mata Genta mulai memerah. Seperti netra nya yang ingin sekali mengeluarkan bulir-bulir air mata. Bisa kah ia mengulang?
"Kenapa jadi begini, Ya Allah. Kenapa engkau memutar hati nya di saat aku sudah harus dengan yang lain? Jika saja semalam tidak aku iyakan perjodohan ini, mungkin sekarang aku bisa membawanya untuk bertemu Ayah dan Bunda." Geisha membatin. Air matanya menggenang. Buru-buru ia sapu, agar tidak menjadi pertanyaan di mata Andre.
"Kita makan bareng, yuk." ajak Andre.
"Kayaknya enggak bisa, Mas. Dokter mau ada operasi 'kan?" Geisha menyelak Genta yang ingin menjawab ajakan Andre, dengan alasan palsunya. Padahal Genta ingin berucap bahwa ia mau. Ia ingin bersama Geisha sebelum wanita itu menikah, walau dadanya akan nyeri sekali.
Yang Genta pikir. Mengapa bisa Geisha berdalih? Apa karena gadis itu tidak sudi lagi melihatnya. Mungkin hanya dengan satu malam pertemuannya dengan Andre, Geisha bisa dengan mudah melupakannya. Tetapi sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang Geisha maksud.
"Aku hanya nggak ingin, kamu lebih merasakan sakit lebih dalam lagi jika melihat kami seperti ini." walau baginya ini adalah suatu kesempatan untuk membalas Genta atas perlakuannya minggu lalu.
...🌾🌾🌾...
__ADS_1
Perpisahan dan rasa sakit hati kembali ia rasakan. Lelaki itu kembali patah terhadap wanita, seperti kasus perceraian yang sudah ia rasakan berulang kali. Seakan betul dugaannya kalau Allah tidak ingin ia bahagia.
Genta menyandar lemah di sandaran jok mobil. Ia biarkan air bening menggelosor lurus dari sudut matanya. Ia menatap ke luar dari balik jendela mobil yang ia buka sedikit. Ada Geisha dan Andre yang sedang menikmati makan siang di pelataran outdoor restoran.
Lelaki itu memilih untuk mengikuti kemana Geisha dan Andre pergi. Ia ingin menyakinkan sukmanya, bahwa apa yang ia lihat sekarang benar-benar nyata.
Genta mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. "Walau rasanya sakit sekali. Tapi saya senang. Kamu akan menikah dengan Andre. Lelaki baik dan normal. Tidak seperti saya. Monster yang mengerikan." Genta tidak membenci Geisha. Ia pikir, ini adalah balasan terbaik untuk Geisha karena sudah ia sakiti hatinya.
Walau bisa ia lihat Geisha tidak merasa nyaman dengan makan siangnya bersama Andre. Tapi, ia mewajari itu.
"Kamu pasti bisa mencintai dia. Maafkan, karena saya sudah membuang-buang waktu kamu, dan akhirnya menyakiti kamu. Maafkan saya, Sha. Berbahagialah dengan Andre. Itu sudah membuat rasa sesal saya menghilang." walau di mulut ia berkata tidak apa-apa. Tapi, di dalam dadanya. Ia terasa sesak dan berat. Air matanya saja semakin luruh menganak sungai. Aslinya, ia tidak sanggup.
Geisha yang mendadak irit bicara kepada Andre karena masalah Genta, mendadak menoleh. Sepertinya Semesta sengaja membuat bola matanya untuk bisa menemukan Genta di sini.
DEG.
Geisha terperangah saat melihat Genta ada di dalam mobil dengan jendela mobil yang beranjak tertutup. Genta sudah puas menilik kebersamaan Geisha dan Andre, maka ia memutuskan untuk pulang.
"Kamu di sini sejak tadi?" gumam Geisha. Rasa kaget hanya bisa ia tahan. Memandang badan mobil Genta berlalu dari sorotan matanya.
"Ayo buka mulutmu, Sha. Ini enak, lho." Geisha terlonjak dari lamunan dengan dada bergetar, saat Andre menyodorkan fettucini ke mulut nya. "Kamu kenapa, Sha? Nangis?" Andre letakan lagi garpu berisi makanan itu di piringnya. Ia meraih tissue dan beranjak bangkit, berdiri di samping Geisha yang sejak tadi duduk berhadapan dengannya.
Geisha tidak menjawab. Gadis itu akhirnya menangis. Ia tidak mampu menyembunyikan rasa sedihnya. Andre menatap bingung Geisha yang terus menangis terseguk-seguk.
"Aku mau kita pulang, Mas."
"Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu nangis? Apa ada ucapan ku yang menyinggung?"
"Sha! Tunggu." dengan rasa aneh bercokol di hati, Andre hanya bisa mengekor langkah Geisha yang terburu-buru ingin pulang. Geisha tidak kuat dengan riak dadanya. Sejatinya ia, menginginkan Genta sekarang. Memeluk lelaki itu.
...🌾🌾🌾...
"Meongggg!" seru Moza. Kucing persia montok peliharaan Genta berwarna abu-abu, saat melihat majikan ia cinta menyembul dari balik pintu rumah. Begitupun Mozi. Kucing kampung yang ia temui persis pada saat pertama kalinya ia bertemu dengan Geisha.
Genta melangkah, lantas berjongkok. Keduanya mendekat, seraya memeluk dada Gentala. Di balik luka, Genta tersenyum mengusap-usap mereka berdua.
"Aku gagal bawa dia lagi." Genta seakan mengadu. Ia tatap kucing milik nya dengan wajah sendu.
"Meongggg ...." Moza berteriak kepada Mozi agar tidak duduk di pangkuan Gentala. Kedua kucing yang tentu tidak akan bisa merespon perkataannya.
Dari posisi jongkok, ia mengubahnya untuk duduk di lantai. Ia menurunkan Mozi dari pangkuan. Genta menekuk kaki, menundukkan kepala di atas lutut. Lelaki itu terisak lagi. Mengapa sakit yang paling menyakitkan adalah patah hati? Dan lelaki itu tidak sanggup. Jika saja lelaki yang Geisha akan nikahi bukanlah Andre, pasti akan lain ceritanya.
"Geisha ...." di balik isak nya. Ia memanggil cintanya. Memanggil wanita yang tidak mungkin bisa ia raih lagi.
Dan ia akan pasrah, jika Andre akan menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Geisha. Gentala pasti akan semakin malu. Padahal Andre bukan tipikal lelaki yang akan menceritakan aib seseorang begitu saja.
Apalagi, Gentala adalah sahabatnya dari kecil. Andre tahu bagaimana Gentala terpuruk dengan kedua orang tuanya, jika saja boleh. Andre ingin sekali mendatangi kedua orang tua Genta, untuk mengadukan bahwa Genta sakit dan butuh perhatian mereka.
"Meongggg ...."
"Meonnggggg!"
__ADS_1
Moza dan Mozi berseru. Kedua kucing itu memanjat tubuh Genta, seraya menghibur agar lelaki itu tidak menangis. Dan juga meminta makan.
"Aku mencintaimu, Sha." lirih sekali untuk di dengar.
Gentala meluapkan cairan bening dari matanya. Sampai di mana suara ketukan di depan pintu membuatnya menghentikan tangis. Dengan wajah merah menahan sesak di dada, lelaki itu bangkit sambil menyeka air matanya.
Dan.
Krek.
"Mami!" Genta berseru senang, ia melihat wanita yang sudah lama ia rindukan, hadir di hadapannya.
Gentala memeluk Mami Else. Wanita yang usianya sudah menginjak usia lebih dari lima puluh tahun, yang masih saja terlihat cantik.
Wajah full make up dengan dress ala-ala wanita sosialita. Outfit yang Mami gunakan bernilai dengan harga ratusan juta. Mami Else memiliki beberapa toko berlian yang tersebar di dalam kota maupun luar kota.
"Kamu kenapa, Sayang? Nangis?" Mami Else tertawa. Ia mencium pipi anaknya dari samping.
"Jangan sedih, Nak. Mami pasti datang. Ini kan hari ulang tahun kamu. Tadi Mami ke Rumah Sakit. Kata Lala, kamu pulang cepat. Makanya Mami susul ke rumah." sesibuk apapun Mami. Ia akan datang merayakan hari ulang tahun anak lelakinya. Walau wanita ini gampang emosi. Tapi, ia tetap mencintai Gentala. Anak pertama yang ia lahirkan ke dunia. Entah bagaimana jika ia tahu, Genta memiliki penyakit penyimpangan seksuall yang amat meresahkan.
Hari ini adalah hari ulang tahun Gentala. Lelaki itu genap berusia tiga puluh lima tahun. Jika saja, alam mengizinkan untuk kembali membawa Geisha, lelaki ini ingin sekali mengenalkannya kepada Mami.
"Mami belikan kamu jam tangan, Nak. Kamu pasti suka. Ada kue juga, sama bahan-bahan masakan. Kita masak, yuk!" ajak Mami. Ia mencoba mengurai dekapan Genta. Tapi, lelaki itu menolak.
"Aku masih mau peluk, Mami."
Dan akhirnya mereka saling mendekap di ambang pintu. Genta menumpahkan rasa sedih di hari ulang tahun nya yang terasa amat berat. Ingin sekali ia merayakan hari ini bersama Mami dan Geisha. Sayangnya, nasib baik tidak berpihak kepada Gentala.
"Permisi ...." dan dekapan itu pun harus terurai. Manakala ada petugas pengantar barang tiba di hadapan mereka sekarang.
"Iya, Pak?" tanya Mami.
"Apa benar di sini rumahnya Bapak Gentala?"
Sambil menyeka air mata, Genta mengangguk. "Iya benar, Pak. Dengan saya sendiri."
"Saya mau antar Paket, Pak. Ada dua."
"Dua paket? Dari siapa, ya?" dengan serngitan di dahi, lelaki itu meraih dua papper bag berukuran sedang dari tangan kurir.
"Pengirimnya atas nama Bapak Haritala dan Geisha Alyra."
Kado yang sudah Geisha siapkan dari jauh-jauh hari, sebelum prahara yang menyakitkan terjadi di antara mereka berdua. Geisha menghadiahkan baju muslim khusus lelaki untuk Gentala.
"Kamu tahu hari ini, Sha?" gumam Genta. Ia menggeleng samar seakan tidak percaya. Mengapa bisa wanita sebaik ini, harus ia sakiti? Dan akhirnya terlepas dari dekapannya.
...🌾🌾🌾 bersambung 🌾🌾🌾...
Like dan Komennya jangan lupa ya❤️
Selamat hari lahir, Dogen. Semoga kamu sehat selalu dan panjang umur~~~Geisha.
__ADS_1