Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Jangan Lupa Shalat.


__ADS_3

"Makasih banyak, ya, Dok. Harusnya saya yang traktir Dokter karena sudah mau membimbing saya. Bukan malah sebaliknya," tukas Geisha dengan mata berbinar-binar. Saat ini mereka sudah duduk lagi di dalam mobil, ingin bergegas pulang. Genta membelikan beberapa potong bebek untuk Ayah, Bunda dan para adik Geisha di rumah.


"Saya yang harusnya berterimakasih. Apa yang saya beri, itu belum ada apa-apanya dari kebaikan kamu selama ini. Maaf, kalau saya sering menyakiti hati kamu dengan ucapan saya."


Kupu-kupu seakan menari-nari di kepala mereka berdua. Mengapa arah pembicaraan mereka terasa begitu syahdu dan menyenangkan. Tidak lagi terlihat paras Genta yang seperti orang asing, yang Geisha rasakan selama dua minggu bersamanya di poli.


Geisha mengangguk. Mengiyakan ucapan Genta dengan dada berdebar-debar. Rasanya ingin memeluk lelaki ini erat-erat, dan mengatakan kalau dirinya mencinta.


Keduanya sudah selesai memasang seat belt, mereka akan bergegas untuk meninggalkan lahan parkir restoran. Dan baru saja ingin memegang stir kemudi, Genta merasa tidak enak karena tangannya masih saja terasa bau aroma bebek. Padahal ia sudah mencuci tangannya sehabis makan.


"Kenapa, Dok?" tanya Geisha. Ia melihat Genta mengendus-endus kedua tangannya.


"Agak bau amis." jawabnya.


Geisha membuka tas dan meraih tissue basah dari dalam. Ia meraih tangan Genta untuk di usapkan dengan tissue tersebut.


Jantung keduanya kembali memburuh, Genta kembali hanyut dalam perhatian Geisha. Terus menikmati usapan lembut Geisha saat membersihkan setiap sudut telapak tangannya. Sepertinya ada setitik rasa yang muncul di hati Genta, walau tiga puluh titik rasa sudah Geisha rasakan lebih dulu untuknya.


Jika saja Geisha tahu, Genta sedang berdebar-debar. Gadis ini pasti akan loncat-loncat kegirangan.


"Sudah selesai, Dok." Geisha mendongak saat yang di ajak bicara tidak memberikan respon. "Dok?" Geisha sampai menggoyangkan bahu Genta, karena lelaki itu masih melamun menilik wajahnya tanpa mengedip.


"Ehhh----iiii----yaaa." Genta tergagap. Ia malu karena tertangkap basah tengah mencuri-curi pandang menatap Geisha sampai melamun.


Geisha mengendus aroma tangan Genta. "Sudah wangi, Dok. Coba cium." Geisha menyodorkan telapak tangan Genta ke hidung Genta sendiri. "Iya nih sudah wangi. Makasih, Sha."


"Sama-sama, Dok." Geisha kembali duduk dengan tegap di kursinya. Dan Genta bergegas menyalakan deru mesin mobil. Dadanya kembang kempis, merasa haru.


Belum berapa lama Genta melajukan kereta besinya, kira-kira seratus meter dari restoran tadi. Genta langsung menekan pedal rem mendadak, sampai Geisha terdorong ke depan, karena sebuah taxi menyalip dari kiri jalan dan berhenti tepat di depannya.


"Kamu enggak apa-apa, Sha?" tanya Genta dengan raut panik. Ia mendekati Geisha yang sedang mengusap dada karena kaget.


Baru saja Geisha ingin menjawab, terdengar suara ketukan dari kaca jendela di pintu kemudi. Genta berbalik dan ia terperanjat. Pun sama dengan Geisha Ada sesosok wanita yang sudah berdiri di luar badan mobil dan terus mengetuk-ngetuk dengan tekanan kasar.


"Avika?" Genta menautkan alis tidak suka.


"Buka, Mas! Buka!" Avika terus berseru dari luar.


"Siapa, Dok?" tanya Geisha. Genta hanya diam, ia memilih membuka pintu mobil dan bergegas keluar.


Avika yang sejak tadi memang sudah berada di dalam taxi, merasa senang karena melihat mobil Genta keluar dari restoran dan berada di depan taxinya. Ia meminta sopir untuk menyalip agar Genta bisa menghentikan mobil. Kesempatan Avika biar bisa berduaan dengan Genta dan meminta diantar pulang. Tapi, Avika tidak menyangka kalau sekarang Genta sedang bersama dengan wanita cantik. Avika meradang.

__ADS_1


"Siapa itu, Mas?" Geisha bisa mendengar saat Avika bertanya, bersamaan dengan Genta menutup pintu kemudinya.


"Mas?" Geisha mengulang apa yang Avika sebut. "Kalau di sebut, Mas. Berarti teman dekat, ya? Atau saudara? Tapi 'kok kayaknya marah banget pas lihat ada aku di sini?" Geisha terus menerka-nerka.


"Kamu ngapain di sini? Meminta taxi untuk menyalip! Itu bahaya, Vika!" sentak Genta. Avika menatap Genta dengan wajah tidak suka. "Kamu sentak aku, Mas?"


Merasa berlebihan, Genta menghela napas berat. "Ya, maaf."


Sedingin apapun Genta kepada orang lain. Jika kepada para istrinya dulu, Genta akan lembut dan patuh. Tidak pernah memaki atau menghardik Kahla dan Avika, sekalipun wanita itu sengaja menyakiti hatinya. Karena ciri suami yang baik dan soleh, akan selalu melembutkan suaranya ketika berucap kepada istri, sekalipun sedang berdebat. Dan Genta sudah mempunyai ciri-ciri tersebut, hanya saja satu kekurangan yang ia miliki membuat ia merasa di anggap cacat.


Avika menatap ke dalam mobil dari luar kaca. "Siapa dia? Gadis itu!" Avika menunjuk ke arah Geisha yang masih duduk di tempatnya.


"Anak bimbingku."


"Anak bimbing?" Avika mengulangi. Ia semakin membulatkan mata, saat ia tahu Geisha satu Rumah Sakit dengan Genta sekarang.


"Iya."


"Aku lihat tadi mobilmu keluar dari restoran, apa kamu makan siang bersama dia, Mas?"


Genta mengangguk lagi dan berkata jujur "Sekalian aku mau antar dia pulang ke rumah."


"APA?" Avika berteriak nyaring. Tidak perduli banyak orang yang melihat dirinya berbicara keras sejak tadi. Genta sudah berkali-kali meminta Avika untuk pulang. Dan wanita itu tetap tidak mau. Avika memutar langkah untuk membuka pintu samping kemudi Genta.


"Kenapa ini, Mbak?" tanya Geisha dengan wajah tidak mengerti. Ia seperti tengah tertangkap basah menjadi pelakor oleh istri pertama.


"Apa-apaan kamu?" Genta menepis tangan Avika dari lengan Geisha. Geisha melongo tidak paham. Ia lihat raut Avika yang sedang menatap benci kepadanya.


"Kamu pulang sendiri!" ucap Avika ketus kepada Geisha yang sudah berdiri mematung di bahu jalan karena dirinya sudah di usir secara paksa. Avika melenggang duduk di dalam kursi yang sejak tadi Geisha duduki. Pintu mobil kembali ia tutup dengan cara dibanting.


Genta mendekati Geisha yang tengah menatapnya penuh tanda tanya.


"Kamu pulang sendiri enggak apa-apa 'kan? Saya pesankan taxi, ya?" melihat Avika seperti itu, tidak ada yang bisa Genta lakukan selain meminta Geisha untuk pulang dulu tanpa nya. Genta sangat hapal dengan sifat Avika yang sangat keras kepala, sekeras keinginan wanita itu saat menceraikan dirinya setahun lalu. Ia takut Avika membuat malu mereka berdua di sini.


Geisha menyergah, saat Genta mau melangkah ke tepi jalan lagi untuk memberhentikan taxi. Bersamaan itu pula Avika secara brutal membunyi klakson, membuat suasana jalan jadi semakin berisik.


Avika melongokan kepala dari jendela. "MAS!" serunya. Ia tidak sabar menunggu Genta untuk masuk ke dalam mobil.


"Saya bisa pesan taxi online, Dok. Dokter jangan khawatirkan saya."


Genta pegang bahu Geisha dengan rasa bersalah. "Benar?" ulanginya memastikan.

__ADS_1


Geisha tersenyum walau dalam sudut hatinya tidak di pungkiri, jika ia kecewa. Karena hari yang ia pikir akan membahagiakan kembali membuat hatinya terluka. Belum lagi banyak orang yang melihati mereka karena ulah Avika.


"Benar, Dok. Hati-hati, ya, di jalan." ingin sekali Geisha bertanya. Siapakah wanita itu, tetapi lidahnya terasa kelu. Ia ingin di nilai sebagai wanita yang bersahaja, tidak mau terlalu ikut campur di hadapan Genta. Sebisa mungkin Geisha menyembunyikannya.


Karena Avika terus saja membunyikan klakson, membuat Genta jadi kesal. "Sebentar, ya, saya ambilkan dulu bungkusan bebek nya."


"Baik, Dok." Geisha menunggu Genta kembali mendatangi nya yang masih berdiri di ujung bemper mobil belakang.


"Mas, ayo!" Avika menoleh ke belakang, saat Genta membuka pintu penumpang. Lelaki itu diam saja, ia sibuk meraih bungkusan makanan yang akan ia berikan kepada Geisha. Dan Avika menaikan pangkal bahu saat Genta menutup pintu penumpang dengan kasar. Seraya memberitahukan kalau dirinya kesal.


Genta kembali melangkah mendekati Geisha yang masih tersenyum menatapnya. Genta seakan malu, dan iba melihat Geisha diturunkan di pinggir jalan seperti ini.


"Sekali lagi saya minta maaf, Sha." ucapnya sambil menyodorkan bungkusan makanan itu dan Geisha menerimanya.


"Sama-sama, Dok----"


Dan keduanya menoleh ketika ada suara deru motor ninja di antara mereka.


"Eldy!" seru Geisha, sesaat sepupu lelakinya itu tiba-tiba muncul di sini. Eldy melepas helm, dan melemparkan raut tidak bersahabat kepada Genta.


"Lo ngapain di sini?" tanya Eldy kepada Geisha, tapi bola matanya masih menatap Genta dengan alis menaut.


Geisha tidak menjawab pertanyaan Eldy. Ia bergegas naik ke motor dengan bungkusan ia letakan di pangkuannya.


"Dok, saya duluan, ya. Dokter hati-hati di jalan. Jangan lupa shalat."


Geisha pamit kepada Genta yang masih menatapnya tidak percaya, kalau ternyata dirinya yang akan ditinggal lebih dulu. Serta ucapan lembut mengalun indah dari bibir Geisha membuat Genta terpanah. Walau Eldy mendengarnya tidak suka.


Genta mengangguk dengan raut senang tanpa kata. Namun, ulasan senyum dari bibir Genta seakan menghilang, lantaran Geisha menyentuh pinggiran perut Eldy untuk menjadi pegangan.


"Ayo, El. Kita jalan." Eldy mengangguk. Ia memasang helm. Lantas berlalu lah Geisha dari pandangan Genta.


"Melihat Geisha di bonceng laki-laki lain, seperti ada rasa tidak suka di hati saya, kenapa, ya?"


Tin ... Tin


Genta terlonjak dari lamunan, kaget dirinya karena Avika kembali membunyikan klakson.


"Dasar penganggu!" dengkus Genta. Ia merasa keindahan yang baru ia rasakan bersama Geisha walau masih setipis kulit, begitu saja rusak.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...

__ADS_1


Like dan Komennya guysssss jangan lupa❤️


__ADS_2