Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Aku Sakit, Sha!


__ADS_3

Sesekali Geisha beranjak bangkit dari duduknya, lantas melangkah menuju pintu utama. Berdiri di dekat jendela, menyampirkan kain hordeng untuk menilik pelataran parkir rumah. Sudah ia lakukan dari pukul tujuh sampai saat ini pukul sepuluh malam.


Wanita itu cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan suaminya. Pasalnya menurut Genta, ia akan on the way pulang dari jam enam sore dari Rumah Sakit. Geisha bilang, untuk shalat Magrib dulu di sana baru pulang ke rumah.


"Mas Genta kemana, ya? Di telepon enggak diangkat-angkat," gumamnya. Ia kembali hubungi nomor telepon suaminya yang hasilnya tidak mendapatkan jawaban apa-apa.


Melangkah lagi menuju meja makan. Di mana di sana sudah ada masakan yang ia buat dan terlampau dingin. Hanya nasi, telur dadar dan ikan sarden kalengan yang tinggal ia hangatkan.


Padahal Genta sudah melarangnya untuk masak, karena kemarin tangannya terluka, terkena kepulan minyak panas saat menggoreng ikan. Saat minyak panas, ia malah melempar ikan dari jauh, alhasil minyak nya tumpah dan percikan nya mengenai punggung tangannya. Melingkar lah perban di sana.


Kemarin juga Gentala bilang kepada Geisha untuk tidak usah mencuci. Karena jas dokter putihnya luntur, tercampur dengan beberapa celana jeans.


Tapi, sebagai istri ia ingin bisa diandalkan. Apa fungsinya di rumah ini, jika semua Gentala yang melakukan. Untuk mencari tenaga art, belum dapat. Dan Geisha bilang tidak usah dulu ada art, hitung-hitung ia sedang belajar.


Ketika sedang melamunkan suaminya, wanita itu terlonjak sadar dan bergegas melangkah menuju pintu utama karena mobil Genta terdengar sudah sampai di pelataran parkir.


"Mas kok baru sampai?" tanya Geisha. Ia cium punggung tangan suaminya.


"Ada operasi cito tadi, maaf enggak sempat kabari kamu," balasnya dengan wajah amat lelah. Ia sodorkan bungkusan nasi goreng yang ia beli di jalan untuk Geisha. "Habiskan," titahnya.


"Kok beli nasi goreng, Mas? Aku kan masak. Makan dulu, yuk, Mas. Kita makan bareng ...."


"Aku mau langsung tidur aja, aku udah makan," sela Genta datar dan dingin. Geisha yang sejak kemarin merasa selalu salah di mata Genta, mulai sendu. Tapi, sebisa mungkin ia tahan. Ia tahu lelaki ini sedang lelah. Padahal untuk masak seperti itu saja, ia butuh waktu berjam-jam. Kuku-kuku lentiknya tidak pernah menyentuh perkakas dapur.


"Mas mau teh?" ia sudah tidak memperdulikan Gentala mau makan atau tidak. Yang penting lelaki itu tidak jengkel lagi padanya.


"Teh garam?" Genta berbalik tanya, lelaki itu terus melangkah menuju kamar. Sekilas ia tatap menu makanan yang sudah tersaji di meja makan, namun ia tidak napsu melihatnya.


Bukan karena makanan itu tidak enak, atau tidak matang seperti ikan kemarin. Tapi, Genta hanya malas bercakap-cakap dengan istrinya. Lelaki itu stress, ia takut Geisha akan meninggalkannya. Dan pernikahannya akan gagal lagi.


"Maaf, Mas. Kemarin aku salah ambil toplesnya," jawab Geisha pelan. Dengan kepala sedikit tertunduk, tetap mengekor Gentala. Kemarin saat Genta ingin berangkat ke Rumah Sakit. Geisha bermaksud membuatkan teh, tapi bukan menuangkan gula, ia malah menuangkan garam. Genta yang sedang dilanda pusing, semakin berang.


"Sudah enggak usah, aku mau tidur aja." Genta masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa dia masih marah sama aku? Karena aku udah banyak buat jengkel dia dari kemarin." batin Geisha. Ia memilih membuka lemari, mengambil piyama tidur suaminya dan handuk. Geisha duduk di bibir ranjang menunggu sampai Genta selesai membersihkan diri.


...🌾🌾🌾...


Tidak terdengar lagi air shower dari dalam, Geisha lantas mendekat ke daun pintu. "Mas ini handuknya," ucapnya.


Pintu kamar mandi terbuka dan tangan Genta menyembul ke luar mencari handuk, Geisha menyodorkannya segera. Ia tetap berdiri di situ, menunggui suaminya sampai keluar.


"Mas, ini ...." kelembutan Geisha begitu mengiris sukma Genta yang sedang gegana. Genta menatap piyama yang tengah di sodorkan oleh sang istri kepadanya.

__ADS_1


"Aku enggak suka pakai piyama itu, panas!" sentak Genta sengaja.


Ia tahan rasa tidak tega saat melihat wajah Geisha menunduk sedih. Pasalnya, Geisha tahu piyama yang ia pilihkan itu adalah piyama kesukaan dan sering dipakai.


Geisha semakin yakin, Gentala sedang muak melihatnya. Barulah ia tahu, bahwa tidak ada pernikahan di dunia ini yang akan selalu indah dan bahagia. Terkadang akan ada pahit dan sakit yang menerpa secara bergantian.


"Mas mau yang mana? Biar aku ambilkan," balas Geisha. Wanita itu tetap sabar, ia harus berjuang untuk mengembalikan mood suaminya lagi padanya.


Genta ikut menghampiri ke lemari, tangannya terulur melewati kepala Geisha. Mengambil sendiri piyama yang ia inginkan lantas memakainya tanpa kata. Geisha memandang sendu lelaki yang sudah ia nikahi tujuh hari ini.


"Mas sudah shalat Isya?" Geisha duduk di tepi ranjang, mengelus paha Genta. Lelaki itu sudah berbaring dengan selimut menutup dada.


Genta menggeleng, tetap memaksa memejam mata. "Kok gitu, Mas. Shalat dulu, yuk," ucap Geisha. Ia menggenggam tangan suaminya, tapi lelaki itu menepis.


Geisha yang selama ini selalu di perlakukan manis oleh Bunda dan Ayah serta keluarga, seakan kaget mendapatkan keangkuhan dari Genta. Dan wanita itu pun menangis.


"Salahku apa lagi, Mas? Kenapa kamu jadi berubah kayak gini?"


"Kamu berisik! Aku mau tidur!" ingin sekali Genta tarik Geisha ke dalam dada, memeluk dan menciumnya. Tapi, jika terbayang ucapan Dokter beberapa jam lalu, membuat daksanya remuk.


Ia dilarang untuk melakukan hubungan intim bersama istrinya, minimal tiga bulan. Dokter Gilang berkata, Genta bukan hanya butuh pengobatan medis, tapi ia juga butuh pengobatan dari segi agama. Dokter Gilang menyarankan agar Genta mengikuti padepokan pesantren, untuk memperkuat iman terlebih dulu.


Gentala ingin mengembalikan Geisha kepada Ayah dan Bunda untuk sementara waktu. Tapi ia bingung harus dengan cara yang bagaimana. Tidak mungkin tiga bulan menikah tanpa menyentuh wanita itu.


Genta beranjak duduk. Ia tatap Geisha dengan nyalakan mata tajam. "Lantas jika sekarang aku tidak rajin, kamu mau apa? Menyesal menikah denganku?" tantangnya.


Geisha mengelus dada. "Astaghfirullah, Mas. Kok ngomongnya gitu? Aku enggak pernah menyesal, malah aku bahagia menikah dengan kamu. Tapi aku juga pengin kita itu berumah tangga sampai Jannah, Mas. Aku pengin ketemu kamu lagi di sana," cicitnya memelas.


Gentala menekan napas yang menyesakan di dada. Ia sudah shalat, berusaha berdoa. Tetap saja sakitnya tidak kunjung menghilang. Lantas buat apa menengadahkan tangan kepada Yang Maha Kuasa? Jika apa yang ia minta tidak kunjung di kabulkan, pikir Genta saat ini. Pikiran yang amat kerdil baginya. Tidak semua permintaan akan langsung diijabah.


"Sudah sana makan nasgornya. Aku mau tidur! Awas besok kalau kamu sampai maag, karena telat makan!" ancam Genta. Di balik kegarangan, tersimpan rasa perhatian. Dan Geisha menangkap hal itu. Ia seka air mata, kembali tersenyum.


"Apa mas lagi pengin, ya? Aku udah selesai haid nya nih, Mas. Kalau mau sekarang, aku siap." Geisha mulai membuka kancing-kancing piyama tidur. Gentala menoleh dan melotot saat belahan dada Geisha hampir terlihat.


"TUTUP!" sentak nya.


Geisha menyerengitkan dahi. "Loh kenapa, Mas? Aku tau yang membuatmu marah-marah begini karena sampai saat ini, aku belum memberikan hak mu 'kan? Ayo sekarang, Mas. Aku siap," ujar Geisha. Kilat binar dari matanya kembali tampak, menekan mendung yang sejak tadi turun menguasai.


Gentala menepis tangan Geisha yang semakin ingin membuka kancing-kancing piyamanya. Ia tutup paksa, ia tidak mau melihat Geisha telanjangg di sini, walau ia sangat menginginkannya.


Dulu dengan mantan istri, ia bisa melakukan tanpa berpikir panjang. Tapi, dengan Geisha. Entah mengapa ia tidak tega. Ia takut sekali kehilangan wanita baik ini. Tidak mau membuat Geisha cacat. Istrinya masih harus datang ke kampus untuk koas. Apa kata orang nanti, jika wajah nya berubah lebam?


Geisha tetap memaksa. Ia malah memajukan wajah untuk meraup bibir Genta. Ia kecup lelaki itu dengan ciuman amatir.

__ADS_1


Genta melepas paksa. "Kenapa, Mas? Kenapa enggak mau? Apa mulutku bau?" tanya Geisha panik. "Kalau iya, aku sikat gigi dulu, ya," ucap nya polos. Geisha bergegas bangkit menuju kamar mandi. Tapi, langkahnya terjedah saat Genta menurunkan koper Geisha dari atas lemari. Ia memasukan baju-baju istrinya ke dalam.


"Loh, Mas. Kok baju-bajuku di masukan ke sini semua? Kenapa, Mas?" sergah Geisha.


Gentala diam. Ia tetap memasukan semua baju tanpa terkecuali. "Mas kamu mau pulangin aku?" firasat Geisha sudah ke arah sana. Wanita itu menangis, memegang tangan suaminya untuk berhenti.


"Ya," jawab Genta datar. Ia tepis tangan Geisha. Walau wanita itu sedikit terhuyung ke belakang, Genta diam kan saja, ia paksa untuk tidak perduli.


"Tapi kenapa, Mas? Apa salahku?" Geisha terisak. Ia sampai berjongkok di kaki suaminya. Memohon ampun agar tidak di kembalikan.


"Jangan buat aku malu, Mas. Kita baru menikah tujuh hari. Apa kata keluargaku, nanti? Katakan saja apa salahku, Mas. Jika semenjak kemarin aku membuatmu jengkel, aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengulanginya." mohon Geisha, ia amat mengiba, merendahkan harga dirinya.


"Cepat ganti baju!" titah Genta.


"Enggak!" Geisha bangkit, ia berdiri menatap suaminya. Lebih tepatnya menantang lelaki itu. "Kenapa kamu mau pulangin aku? Apa selama ini cintamu main-main?" seakan tali kesabaran putus di benaknya. Akhirnya Geisha tersulut emosi. Ia sampai memaki Genta.


Genta hempaskan tatapan tajamnya, ia ganti dengan kesenduan. "Karena aku cinta sama kamu, Sha. Aku enggak mau kamu sakit." air bening bergerumun di pelupuk matanya.


"Maksud kamu apa, Mas?" Geisha terus mendesak. "Aku akan kenapa? JAWAB!" Geisha sentak suaminya.


Ingin Genta jawab, tapi lidahnya tercekat. Ia memilih menggerek koper sambil menarik tangan Geisha untuk ikut keluar kamar.


Geisha menangis lagi. Ia ingin lepas tangan Genta dari tangannya, tapi tenaga lelaki itu kuat sekali.


"Mas aku mohon, jangan kembalikan aku." pintanya lagi.


Genta pun menangis. Mengapa berat sekali cobaan yang tengah diberikan kepadanya? Ia tetap menggandeng Geisha sampai di mana Geisha mengigit tangan Genta agar lelaki itu mau melepasnya. Karena langkah mereka akan sampai di pintu utama. Sungguh gila Gentala, apa yang akan ia ucapkan nanti kepada Ayah dan Bunda.


Merasa sakit karena di gigit, lelaki itu mengerang. Geisha mundur dan kembali berlari masuk ke dalam kamar. Gentala mengejar istrinya dengan raut emosi.


Geisha merangkak ke atas kasur, ia memeluk guling, menenggelamkan wajahnya di bantal itu. "Ampun, Mas. Aku hanya enggak ingin pulang," persis seperti anak yang tengah di sandera.


"Kamu siap sakit, Sha?" tanya Genta to the point. Napas lelaki itu berantakan. Melihat pasangan kesakitan, sangat menggairahkan dirinya. Libido Genta naik, ia seakan hilang akal untuk mau bersabar.


Geisha mengerjap-ngerjap mata. "Maksudnya, gi---gimana, Mas?" tanya nya terbata-bata.


Genta menarik guling yang sedang Geisha peluk. Ia menarik tubuh Geisha untuk ia rebahkan, Gentala merangkak naik dan mengungkung istrinya.


"Aku sakit, Sha. Apa kamu mau terima?" tatapan tajam itu membuat Geisha semakin ketakutan. Kedua lengan Geisha, Genta cengkram.


"Kamu sakit ap----?" belum tuntas menjawab. Gentala lebih dulu menampar Geisha bulak-balik, mencumbu wanita itu dengan gerakan brutal. Tangan kiri turun kebawah untuk menekan paha bagian dalam istrinya.


"LAYANI AKU!"

__ADS_1


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


__ADS_2