
"Dokter mimisan?" Geisha mulai mendekati Genta. Ia tahan debaran jantung yang semakin menderu-deru karena tampilan rambut Gentala yang baru. Pun sama dengan lelaki itu. Ia terpesona dengan kecantikan si Khumairah, begitulah Ayah jika menyebut Geisha di rumah.
Genta yang menyandarkan kepala lemah di sandaran kursi, lantas mengangguk. Lelaki ini pura-pura lemas. Geisha menarik kursi untuk diletakan di sebelah kursi Genta. Geisha melepas kapas yang Genta sumbat di lubang hidungnya. Dan ia tilik. "Dokter bubuh kan betadin?"
Genta membelalakkan mata. Ia mengangguk. "Memang ada yang perih?" Geisha menyorot dinding hidung lelaki itu. Napas wangi Geisha berhembus, membuat Genta semakin gelagapan. Dirinya terbuai. Jarak di antara mereka tidak dapat dipangkas.
"Astagfirullahalladzim!" tiba-tiba seruan itu muncul di antara mereka. Suster Lala yang kembali ke dalam poli bermaksud mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam lemari, tersentak kaget saat melihat Geisha seakan tengah mencium bibir Gentala. Kedua nya kikuk, panik dan menjauh.
"Ya Allah. Kalian nih ngapain? Siang-siang begini, di sini?" bukan lagi menjadi Suster. Tapi sudah berubah menjadi Mama untuk mereka berdua. Suster Lala menatap murka kepada Genta.
Dan Genta malah tertawa. Ia suka diomeli. Sedangkan Geisha buru-buru menyanggah.
"Ibu salah paham. Tadi, saya lagi bantuin dokter Genta. Beliau, mimisan, Bu."
"Yang bener?" Suster Lala memastikan. Pasalnya ia tahu, Gentala ada lelaki baik-baik walau ada kekurangan di dalam tubuhnya.
Geisha mengangguk. Dan Genta memilih menyesap sisa air lemon di botol yang tinggal setetes.
"Dokter sakit?" Suster Lala menatap Gentala. Lelaki itu mengangguk. "Biasa, Bu. Mimisan." untung saja Suster Lala tahu, kalau Gentala memang suka mimisan jika sedang lelah.
"Ya udah pulang aja. Istirahat. Apa mau, Ibu beliin makan siang?" Suster Lala menawarkan.
"Makasih, Bu. Tapi, enggak usah. Saya bisa beli sendiri."
"Ya udah kalau gitu. Nanti pulangnya hati-hati, ya, Dok. Jangan lupa makan. Jangan banyak begadang. Ingat, besok jumat. Pasiennya banyak. Harus sehat terus!" Suster Lala terus menasehati sembari meraih beberapa berkas dari dalam lemari.
"Iya, Bu. Makasih banyak." jawab Genta halus.
Suster Lala pun berlalu dari dalam poli. "Duh, Dok. Hampir aja, Suster Lala salah paham." keluh Geisha. Ia melangkah ke tempat sampah untuk membuang kapas bekas mimisan bohong-bohongan tadi.
Genta beranjak berdiri dari duduknya. "Kita makan siang, yuk."
Geisha tersenyum. "Dokter udah enakan? Masih pusing enggak?"
"Sedikit."
Geisha mendekat, dirinya berjinjit untuk menyetarakan tingginya dengan Gentala. "Maaf, ya, Dok. Saya pijat." Geisha meletakan ujung jari nya di pelipis kanan dan kiri Genta. Lelaki itu memejam mata untuk menikmatinya.
"Mendingan, Dok?"
"Hem." Genta semakin terbuai. Pijatan lembut dari tangan Geisha membuat sanubarinya semakin terusik. Ingin sekali ia mencium Geisha.
Dan di saat Geisha ingin melepas tangannya dari pelipis lelaki itu. Genta menahannya. "Pijat terus, Sha. Saya suka."
Tidak di pungkiri. Geisha kembali gugup. Sepertinya ia ingin limbung ke lantai, karena tidak kuasa menahan riak bahagia. Kok bisa, dirinya seperti ini kepada Genta. Lelaki yang selama ini ia pikir hanya akan berakhir sebagai kenangan manis.
"Dokter kenapa potong rambut?"
Alis Genta menaut. Lelaki itu membuka mata cepat. "Kenapa? Jelek? Kamu enggak suka?"
Ups.
Genta ketelepasan lagi. Ucapannya seolah memberitahu Geisha, kalau lelaki itu potong rambut karena demi dirinya.
Geisha tersenyum gembira. Ia menggeleng. "Dokter mau digimanain juga, tetap aja ganteng. Tapi, saya memang lebih suka kalau tampilan dokter sepeti ini. Kesannya awet muda." Geisha hapal sekali usia Genta berapa sekarang.
"Jadi kemarin-kemarin saya tua, ya?"
"Oh, enggak."
"Saya juga masih muda. Umur saya dan kamu juga tidak terlalu jauh 'kan?" selak Genta. Ia memaksa lupa, jika rentang umur mereka cukup jauh yaitu sebelas tahun.
Geisha tertawa. Ia ingin menyenangkan hati Gentala. "Iya, Dok."
Dan suasana hangat itu rusak manakala perut Geisha kembali berulah. Berbunyi pertanda lapar. Kedua nya pun tertawa.
...๐พ๐พ๐พ...
__ADS_1
Waktu terus bergulir. Tidak terasa Genta dan Geisha semakin dekat. Sudah satu bulan mereka terus bertukar perhatian. Rasanya bertemu di Poli tidak cukup, Genta dan Geisha akan berbalas pesan atau teleponan jika mereka sudah berada di rumah.
Rasa suka di hati Genta kepada Geisha semakin bergulir lebat. Begitu cepat untuk melesat. Malah, kedudukan nya sekarang satu sama. Genta tergila-gila dengan Geisha. Niatnya ia ingin menyatakan cinta kepada gadis itu, besok sore
Karena, jadwal Genta di hari esok tidak terlalu padat. Ia ingin mengajak Geisha untuk jalan-jalan ke danau. Dan mengutarakan rasa yang terus berbuih. Genta ingin memiliki Geisha. Pun sama dengan Geisha. Ia menunggu kapan lelaki itu akan menembak dirinya.
"Kamu kenapa, Sha?" tanya Genta. Lelaki itu berdiri di belakang Geisha yang sedang memegangi perutnya di bibir wastafel. Geisha terlihat meringis sakit. Peluh banjir membasahi wajahnya.
"Dismenore, Dok." jika sedang datang bulan, Geisha pasti akan mengeluh sakit lebih dari wanita biasa lainnya. Genta terlihat cemas. Ia khawatir.
Genta menoleh ke arah Suster Lala yang mau membuka pintu poli dari dalam untuk memanggil pasien selanjutnya.
"Bu!" seru Genta. Dan yang di panggil tidak mendengar, karena sebelum memanggil pasien berikutnya. Ada pasien lain yang mendatangi Suster Lala untuk menanyakan sesuatu.
"Kamu duduk, Sha. Saya buatkan teh hangat dulu, ya,"
"Enggak usah, Dok. Jangan!" sergah Geisha. Genta tidak memperdulikan. Ia tetap menggiring Geisha untuk duduk di kursinya.
"Tunggu, ya." Genta berlalu dari hadapan Geisha.
"Bu, jeda dulu setengah jam!" titah Genta. Saat langkahnya tiba di ambang pintu.
"Lho, kenapa, Dok?"
"Geisha sakit."
"Ha?" mulut Suster Lala menganga. Ia melongo ke dalam dan melihat Geisha tengah meringkuk memegang perut. Genta masuk ke ruang Nurse Station. Karena para Suster tengah sibuk mengasisten dokter masing-masing. Genta memutuskan, membuat teh manis hangat sendiri untuk Geisha.
Suster Lala sudah mencium aroma cinta di antara mereka. Walau keduanya selalu menghindar jika ditanya mengenai perihal kedekatan.
"Enggak pernah saya lihat, Dogen begitu perhatian kepada Koas. Sampai rela menjeda jam praktek nya." gumam Suster Lala. Wanita itu akhirnya menghampiri Geisha.
"Dokter sakit?"
"Biasa, Bu. Kalau datang bulan suka begini."
"Ibu ada obat Sanmol. Dokter, mau?" Suster Lala menawarkan. Ia baru tahu kalau sedari tadi, Geisha menahan sakit.
Suster Lala mengangguk dan keluar dari poli untuk mencari obat tersebut di dalam tasnya.
Gentala kembali dengan secangkir teh hangat. "Ayo minum!" titah Genta. Geisha mengangguk, ia minum teh itu pelan-pelan karena rasa panas dan kepulan uap masih terasa.
"Kamu mau saya antar pulang?"
Geisha menggeleng. "Enggak usah, Dok. Mungkin saya ijin untuk enggak Asistenin Dokter dulu hari ini, ya. Saya mau rebahan dulu di mobil."
Genta mengangguk. "Saya antar ke mobil, ya."
"Saya bisa sendiri, Dok. Enggak apa-apa 'kok. Dokter enggak perlu khawatir." dalam rasa sakit yang masih ia rasakan. Geisha mengulas senyum lemah.
Melihat Geisha yang seperti ini. Genta menggeleng. "Ayo, saya antar!"
Genta memaksa Geisha untuk bangkit dari kursi. Dan mereka berdua keluar dari poli menuju parkiran. Di saat mereka sudah memasuki lorong yang terlihat sepi. Genta mulai menggandeng tangan Geisha. Gadis itu pun terlonjak kaget, karena tangannya di genggam lagi untuk kedua kalinya.
Geisha tidak berbaring di mobilnya seperti keinginannya. Tetapi, Geisha di baringkan di mobil Gentala. Genta sengaja, agar Geisha tetap berada di sini, dan menunggunya sampai selesai praktek.
Lelaki itu tetap ingin mengantar Geisha untuk pulang ke rumah. Ingin nya Genta menutup praktek sekarang juga. Tapi, masih ada lima belas pasien lagi yang belum ia periksa.
Jok samping kemudi, Genta rebahkan melandai sampai posisi Geisha benar-benar berbaring terlentang. Di dalam mobil yang wangi bin bersih ini. Terdapat kotak obat, yang Genta selalu isi minimal dengan obat pereda nyeri. Ia minum kan obat tersebut kepada Geisha. Mungkin saat ini, Suster Lala sedang pelanga-pelongo karena Geisha dan Gentala menghilang dari poli.
"Di sini dulu, ya. Saya selesaikan praktek dulu. Saya janji, hanya sebentar."
Geisha mengangguk dan mulai memejamkan mata. Genta hening menatap Geisha. Di saat ia ingin mengecup dahi gadis itu, Genta mengurungkan niatnya. Genta seakan tersadar. Ia tidak boleh melakukannya. Karena belum ada ikatan apapun di antara mereka.
Baru saja melangkah beberapa meter dari parkiran menuju lorong Rumah Sakit. Gentala menoleh, mana kala namanya dipanggil dari belakang.
Genta tersenyum memandang Kahla, yang sedang melangkah cepat menujunya.
__ADS_1
"Hati-hati jalannya. Nanti kamu kepeleset." melihat langkah Kahla seperti itu, membuat Genta khawatir.
"Siapa Geisha, Mas? Apa hubunganmu dengan dia?" tanya Kahla to the point.
Genta hening, ia menatap Kahla dengan mengerucutkan dahi.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Mas!"
...๐พ๐พ๐พ...
"Sha, bangun!" Genta menggoyang-goyangkan tubuh Geisha kasar. Geisha yang sedang tertidur pulas sambil memegangi perut, lantas mengerjapkan mata dan beranjak duduk. "Maaf, ya, Dok. Saya ketiduran."
Genta memandang Geisha dingin. Dan Geisha menatapnya aneh dan bingung.
"Kenapa, Dok?" nada lembut Geisha, seakan membakar rasa bimbang yang sekarang sedang berkecamuk di dada.
"Turun, Sha!" Genta membuka pintu mobil dari dalam. Ia menitah Geisha untuk segera turun dari dalam mobilnya.
"Ha?" Geisha tersentak ketika Genta mengusirnya. Bukankah mereka sedang pedekate? Pikir, Geisha. Dan selama sebulan ini, Genta selalu bertutur kata lembut padanya. Apalagi sekarang Geisha sedang sakit. Mengapa sikap Genta seperti ini?
"Dokter kenapa---?"
"TURUN, SHA!" selak Genta dengan seruan keras. Geisha mengelus dada, bahu nya membuncang menahan takut, ia pun terperanjat karena di sentak.
"Saya ada salah, Dok?"
"Turun, cepat! Saya mau pergi. Ada perlu." Genta menjawabnya dengan nada dingin. Sakit sekali hati Geisha, melihat Genta yang dengan cepatnya berubah tanpa alasan yang jelas. Ia pikir, Genta akan mengantarkannya pulang seperti ucapannya beberapa jam lalu. Tidak terlintas sama sekali di dalam benaknya, kalau Genta akan mengusir nya dan berkata kasar kepadanya seperti ini.
Geisha menatap Genta dengan air bening menggenang di pelupuk mata. Dan Genta sesak melihatnya. Lelaki itu memalingkan wajahnya dari Geisha.
"Baik, Dok. Saya turun." Geisha pun bergegas turun dari dalam mobil. Ia melangkah pelan sambil memegangi perut, menghilang dari pandangan Genta. Geisha sama sekali tidak menyangka, mengapa Genta tega begini padanya. Apa salahnya? Mengapa tiba-tiba berbeda? Teh manis hangat buatan Genta saja rasanya masih terasa di lidahnya. Dan Geisha senang akan hal itu.
Genta menahan sesak. Lelaki ini memejam mata menahan perih di dada. Ia menyesal. Ia kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri, karena sudah menabur luka di hati Geisha. Wanita yang ingin ia ajak untuk menikah.
"AHHHHHH!!"
Genta memukul-mukul stir kemudi dan mengerang dalam balutan kecewa.
"Aku monster, Sha! Monster!! Maaf kan aku." lelaki itu berteriak. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri. Genta terisak. Ia keluarkan air matanya untuk menumpahkan rasa bersalah dan menyesal karena sudah sengaja menyakiti hati wanita yang ia cintai.
Genta merogoh kantung celana, meraih gawai miliknya. Menekan kontak seseorang yang ingin ia hubungi.
"Lo di mana, Ndre?" tanya Genta sesaat sahabat nya sudah berucap hallo di seberang sana.
"Masih di Rumah Sakit. Lo mau ke sini?"
"Gue mau sembuh, Ndre!"
Tahu jika temannya sedang kambuh. Dokter Andre mencoba menenangkan Genta.
"Tenang, Gen! Jangan panik. Atur dulu napas lo. Kalau udah tenang, baru lo kesini. Gue tunggu sampai lo datang!"
Di sini Genta mencoba untuk mengatur deru jantungnya. Ia redam emosi nya. Ucapan Kahla betul-betul merusak denial nya. Lelaki itu kembali teringat dengan masa lalu kelam di antara dirinya dan Avika.
"Apa betul kamu tengah dekat dengan seorang gadis? Dokter Geisha? Dokter Koas itu?"
Genta mengangguk. "Aku jatuh cinta padanya."
Avika yang mengadukan tentang Geisha kepada Kahla. Ia mengatakan kalau Genta dan Geisha berduaan di restoran. Dan selama sebulan ini, Kahla terus memperhatikan kedekatan mereka dari jauh jika sedang berada di Rumah Sakit. Tidak sekali dua kali Kahla memergoki Genta sedang berjalan berdua, duduk berdua atau makan berdua di kantin.
"Dia masih muda, Mas. Tidak akan sanggup menerimamu yang masih seperti ini! Dia pasti akan pergi menjauh! Jauhi dia, Mas! Jangan sakiti dia, seperti kamu menyakiti kami. Hanya Avika yang bisa menerimamu, menemanimu sampai sembuh!"
Begitulah perbincangan antara Kahla dan Genta sebelum akhirnya Genta terpengaruh. Dan kondisi mentalnya kembali terguncang. Tanpa Kahla sadari, dirinya sudah diperalat oleh Avika.
...๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ...
Kalau mau di up dobel. Like dan Komennya banyakinnnn yaww.
__ADS_1
Sejauh ini, aku belum ketemu visual yang pas. Kalian bisa bayangin, dengan imajinasi kalian sendiri ya, guys. Begini lah kira-kira kalau mereka lagi kerja bareng di Kamar Operasi.