Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Tidak Pernah Mengukir Luka.


__ADS_3

Lelaki yang selalu ia elu-elukan walau dalam kekurangan sekalipun, mampu membuat hatinya remuk untuk kesekian kalinya. Membuat malu dirinya di hadapan wanita lain, dengan asumsi yang mengatakan bahwa ia hanya sedang berhalusinasi.


Ya, mungkin itu benar. Geisha sedang berada dalam fase yang amat sangat ingin. Semua perubahan yang ia rasa dalam diri selalu ia kaitkan dengan beberapa gejala-gejala hamil pada buku, internet atau sekedar ilmu yang ia dapat tentang gejala hamil muda.


Tapi, bisa kah lelaki itu sabar? Menghadapi inginnya, seperti ia yang terus bersabar menghadapi Genta sampai titik terendah lelaki itu?


Pasca perdebatan di Rumah Sakit. Geisha tidak lagi bercakap-cakap hangat kepada Gentala. Hanya sesekali, itu pun yang pentingnya saja. Geisha masih memperhatikan Genta. Seperti menyiapkan baju praktek, sarapan pagi atau kebutuhan yang diperlukan suaminya. Gentala sudah lelah membujuk, merayu, menjelaskan apa yang terjadi seminggu lalu, saat dirinya harus menemani Kahla.


Walaupun hal itu menusuk. Tapi, yang paling parah. Karena lelaki ini tidak percaya jika dirinya mungkin tengah mengandung.


"Kamu sudah makan?" tanya Genta sesaat pintu rumah sudah Geisha buka. Ia menyodorkan jas putih dan Geisha meraihnya. Ia mencium tangan suaminya seperti biasa, ketika sudah pulang praktek. "Sudah," balasnya singkat dan datar.


Bergegas melangkah ke tempat cucian untuk meletakan jas tersebut di ranjang laundry. Lantas membuka kulkas, meraih secangkir teh manis dingin yang sudah ia buat seperti biasa, ia letakan di meja tamu.


"Teh nya, Mas," ucap Geisha mempersilahkan. Genta yang tengah menyandar di sofa tengah merebahkan tubuh, mengangguk. "Makasih, sayang ...."


Geisha tidak duduk di sebelahnya seperti biasa. Memijat atau menanyakan apakah banyak pasien hari ini, setelah lelaki itu menyakiti hatinya.


"Sha?" panggil Genta setelah menyesap air teh miliknya. Geisha kembali ke dapur untuk menyiapkan makan.


"Hem?"


"Makan di luar mau?"


Geisha menoleh. "Aku sudah masak. Kalau kamu tidak mau makan masakan ku, nggak apa-apa. Kamu boleh beli di luar," balasnya.


Genta menghela napas, bukan begitu maksudnya. Ia hanya ingin mengambil lagi hati istrinya yang sudah hancur dan terkoyak berkat perkataannya. Genta merasa tidak sepenuhnya salah. Geisha saja yang terlalu sensitif.


Genta bangkit, menghampiri sang istri yang tengah mengeluarkan ayam goreng dan tumisan toge dari microwave. Ia panaskan sebentar, agar lebih enak di santap.


"Wah enak nih," puji nya. Ia menarik kursi untuk duduk. Geisha hanya diam saja, ia memilih menuangkan nasi dan lauk di piring sang suami.


"Silahkan ...."


"Sha," ucap Genta. Ia meraih tangan Geisha yang ingin berbalik badan.


"Sudah seminggu kita tidak satu meja makan. Aku ingin di temani," pintanya.


Geisha tak mengangguk, tak menyanggah dan pula tidak menatap. Tapi, ia lekas duduk di sebelah sang suami.


"Makan, ya?" Genta meraih piring baru, saat ingin menuangkan nasi, wanita itu cepat menyergah, "Aku belum ingin, kamu duluan saja."


Genta menarik napas dalam-dalam. Rasanya ia semakin muak melihat tingkah laku istrinya. Dan saat ingin mengeluarkan unek-unek, bel rumah berbunyi. Mungkin pertanda, agar dirinya tidak boleh lagi menyakiti hati sang istri.


"Biar aku yang buka," ucap Gentala. Geisha hanya mengangguk saja, duduk hening di kursinya.


Pintu rumah ia buka, Gentala menautkan alis saat melihat sosok kurir dengan bungkusan plastik berdiri di hadapannya sekarang.


"Maaf, Pak. Apa benar ini rumahnya Ibu Geisha?"


"Benar, mau antar apa? Dari mana?" Gentala langsung mencecar. Geisha yang tidak tahan berdiam diri di meja makan, lantas melangkah ke pintu utama. Ingin menilik siapa yang datang sore-sore begini ke rumah mereka.


"Kiriman makanan, Pak. Dari Ibu Maura," balas kurir.


Deg.


Gentala terpelongo kaget saat nama Bunda mertuanya di sebut. Ia menerima bungkusan makanan itu dengan seribu tanya di hati.


"Sini, Mas." Geisha lekas meraih makanan yang memang ia minta sendiri untuk dibuatkan oleh sang Bunda. Tadinya Bunda ingin mengantar, tapi di rumah kedatangan tamu. Jadi memakai jasa kurir untuk mengirimnya.


"Kamu yang minta?" tanya Genta. Geisha mengangguk sambil mencium-cium aroma sup ayam makaroni yang masih dibungkus rapih dalam tempat.


Wajah Geisha senang sekali mendapati makanan tersebut. Raut yang Gentala rindukan sejak seminggu ini.


"Kenapa harus repotin, Bunda? Jika kamu ingin sup, aku biasa buatkan. Atau pesan di restoran seperti biasa," ucap Genta.


Geisha memandang Gentala sewot. Tidak ada teduh-teduhnya. "Aku sedang ingin makanan ini. Masakan dari Bundaku sendiri. Bunda juga enggak akan repot, malah dia senang bisa mewujudkan keinginan anaknya." ia lekas berjalan meninggalkan Genta untuk kembali mendekat ke meja makan.


"Tapi aku yang malu. Kamu sudah bersuami kenapa masih repotin, Bunda?"


Geisha menghentikan langkah. Ia menoleh ke belakang. Geisha berdecak tawa. "Lalu, jika aku bilang tengah mengidam makanan ini. Apa kamu akan percaya?"


"Please, Sha. Jangan semakin gila! Kamu ini tidak hamil. Jangan mengada-ada soal ngidam. Aku capek dengarnya!"


Wajah Geisha sendu lagi. Hatinya kembali di lempar batu. "Maka untuk itu aku tidak meminta padamu. Aku urus kemauanku sendiri! Jadi untuk apa kamu capek? Urus saja Kahla dan Bayi nya!"


Gentala mendengus napas kasar. "Kamu memang ke kanak-kanakan. Hal itu lagi yang kamu bahas! Aku sudah berjanji untuk tidak---"


"Tapi ini apa? Apa, Mas?" Geisha menyodorkan layar ponsel, memperlihatkan struk belanja susu bayi, susu untuk Kahla dan perlengkapan lainnya. "Aku mendapatkan struk ini di kantung celanamu. Dan struk-struk pembelian makanan," ucap Geisha dengan air mata yang akhirnya luruh tanpa izin. Ia memotret struk itu sebagai bukti yang bisa ia simpan.


"Kamu mendatanginya ke rumah, Mas?" bahasan ini yang ingin sekali ia pertanyakan sejak kemarin. Namun, rasa sakit di hati seakan malas untuk memulai pembicaraan lebih dulu.


Gentala mematung diam. Lelaki mana yang sanggup berbohong kepada istri? Walau sekecil kutu sekalipun.


"Aku tidak ke rumahnya. Aku hanya mengirim by kurir. Wajar kan aku berikan kado lahiran untuk anaknya? Kamu juga kalau punya teman lahiran, pasti kamu kasih kado," balas Genta.

__ADS_1


Geisha menyeka air mata. Sudah lelah untuk mendengar semua dalihan sang suami. Ia lekas masuk ke dalam kamar. Mengunci rapat dan menikmati sup buatan Bunda dengan leleran air mata.


Genta pun memilih masuk ke kamar lain untuk berbaring. Ia sangat letih tidak mempunyai daya untuk merayu Geisha sekarang. Nanti saja pikirnya.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Hiks .... Hiks.


Geisha duduk di lantai, bersandar pada dinding kamar. Menenggelamkan kepala di kedua lutut. Ia menangis terseguk-seguk. Menahan luka dan kecewa, entah untuk ke berapa kalinya.


Ia lempar bingkai foto pernikahan dirinya dan Genta, membuat puing-puing kaca berserak di lantai dan durinya mengenai ujung jari jempolnya. Darah yang mengalir tidak ia hiraukan. Sukmanya lebih sakit dibanding luka di kakinya.


Tadi, saat Geisha pergi makan bersama Lauren dan Vina untuk melepas rindu. Di restoran dekat Rumah Sakit. Geisha tidak sengaja melihat Gentala keluar dari tempat praktek bersama Kahla dan Bayinya. Gentala memayungi Kahla agar tidak terkena panas sampai masuk ke dalam mobil.


"Suami lo selingkuh, Sha?" tanya Vina.


Geisha yang melongo tidak percaya, bak di sambar petir, wanita berhijab itu hanya bisa menangis dan pergi meninggalkan tempat.


Dan di saat perjalanan pulang. Geisha mencoba mengirim pesan kepada Genta.


[Kamu di mana, Mas?]


Dan pesan itu lama sekali terjawab. Sampai di mana akhirnya dibalas. Tapi, lelaki itu kembali berdusta.


[Aku masih praktek. Ada apa, Sha?]


Kebohongan yang Gentala berikan semakin membuat Geisha meraung-raung tidak rela. Lelaki itu malah semakin dekat, seolah tengah bermain api dengan istri orang. Geisha sampai tidak konsen mengemudi, jika saja Allah tidak menolongnya. Ia pasti sudah mati karena menabrak pohon.


"Jahat kamu, Mas! Kamu tega menyakiti hatiku lagi! Cintamu memang main-main. Kamu hanya menginginkan tubuhku saja!" Geisha memukul-mukul dadanya untuk mengeluarkan sesak.


"Bunda ... Ayah! Geisha nggak sanggup!" riak hatinya memanggil nama kedua orang tuanya. Sesosok renta yang ia pernah ia buat malu, saat dirinya lebih memilih Gentala dibandingkan Andre.


Geisha memukul-mukul lantai dengan kepalan tangannya. Wajahnya sudah basah, rambutnya pun berantakan, kepalanya sakit karena sejak tadi ia pukul-pukul. Sampai di mana ia terdiam, saat bola matanya menatap kalender.


"Tanggal dua delapan?" gegas bangkit, matanya masih membola tidak percaya. Senyumnya mulai merekah. Karena itu tandanya ia telat haid.


"Kenapa aku ceroboh banget. Padahal dari kemarin aku udah tunggu-tunggu tanggal dua puluh enam," gumamnya sambil mencari-cari sebuah testpack di laci nakas.


Melangkah cepat ke kamar mandi dan menampung urine di cawan. Tangannya bergetar saat memasukan batang putih tipis ke dalamnya. Ia tunggu sambil memunggungi, menatap dinding kamar mandi. Geisha harap-harap cemas. Ia terus berdoa sekuat hati. Agar hasilnya positif.


Di rasa sudah lebih dari tiga menit. Ia pun menoleh. Manik mata hitam pekat miliknya yang indah terbelalak. Ia melongo lama dengan dahi yang berkedut-kedut.


Benarkah?


Benarkah?


Benarkah?


Geisha mengucek-ngucek mata. Menilik dengan jelas hasil testpack yang membuat air mata nya menguar lagi.


"Masya Allah Tabarakallah ... Alhamdulillah," ucapnya syukur dengan tangisan. Geisha jatuh terduduk pelan di lantai kamar mandi sambil memegangi alat testpack dengan dua tanda merah yang sangat jelas sekali.


Geisha keluar dari kamar mandi sambil mengelus-elus perutnya. Ia bersujud, mencium lantai kamar untuk kembali berucap syukur kepada Allah. Ia masih ingin menyelamatkan rumah tangganya. Gentala pasti senang dengan kabar ini. Seolah ia lupa bagaimana lelaki itu sudah menyakitinya. Harapannya sudah terkabul. Genta pasti akan fokus memikirkannya lagi.


Ingin meraih ponsel untuk menelepon. Tapi tidak jadi ia lakukan. Geisha memilih menunggu Genta untuk memberikan kabar baik ini langsung. Walau di ujung hati, ia masih sakit dengan apa yang ia lihat beberapa jam lalu antara suaminya dengan Kahla.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Geisha berusaha tenang. Padahal gawai di genggaman tangannya sudah ingin ia banting sejak tadi. Saat Genta tidak kunjung tiba juga di rumah. Dan saat arah jarum panjang terhenti di angka tujuh malam, suara deru mesin mobil milik Genta bertepatan masuk ke garasi rumah.


Lekas Geisha bangkit, senyumnya pun kembali menghias. Ia mencoba lupakan rasa kesal, ia ingin berbicara baik-baik dengan Gentala.


"Kamu sudah makan?" perhatian Genta memang tidak pernah berubah. Hal itu yang selalu ia tanyakan ketika sudah sampai di rumah.


"Bel---"


"Sha ...." Gentala menyela ucapan sang istri. Seraya ingin membuka obrolan yang terlihat seperti beban di kepala.


"Kenapa, Mas?" tanya Geisha dengan raut was-was. Apa lagi yang ingin lelaki ini katakan?


"Aku mau minta izin padamu. Aku ingin mengantar Kahla dan Bayinya pulang ke Pontianak. Mulai hari ini, Kahla resign dari RS---"


"BOHONG!" Geisha memutus ucapan Gentala yang memang benar berkata jujur.


"Aku tau kamu hanya ingin berduaan dengannya kan, Mas? Kamu ingin balik sama dia? Kurang ajar kamu, Mas! Tega kamu kayak gini sama aku!" Geisha mengeluarkan lahar panas dari mulutnya.


Gentala mencoba tenang. "Jangan asal tuduh, Sha---"


"Jangan asal tuduh, bagaimana? Jelas-jelas aku melihatmu keluar dari RS bersama Kahla dan bayinya. Dan saat aku mengirim pesan, kamu malah berasalan masih di tempat praktek!"


Deg.


Jantung Gentala bergoyang. Bagai di tusuk samurai saat Geisha mengetahui kebohongannya yang mana berbohong demi menjaga hati istrinya.


"Aku terpaksa bohong. Karena aku tau kamu pasti marah," balasnya.

__ADS_1


"Hanya istri gila, Mas. Yang senang jika mengetahui suaminya ketahuan berselingkuh! Dosa besar kamu, Mas. Merebut wanita yang sudah bersuami. Apa sih kurangnya aku? APA?" Geisha memukul dada Genta berulang-ulang, memaki nya kasar, menumpahkan emosi yang tertahan. Padahal niatnya, ia ingin berbagi kebahagiaan bersama Genta perihal anak mereka.


Gentala mencekal pergelangan tangan Geisha agar wanita ini berhenti memukulnya.


"Kamu salah paham, Sha. Kahla hanya datang untuk kontrol jahitan dan imunisasi bayinya. Dan berpamitan kepada ku. Karena dia sudah mengajukan surat resign ke Rumah sakit. Kahla ingin tinggal di Pontianak bersama suaminya. Suaminya masih di rawat di rumah sakit tidak bisa menjemputnya ke sini. Maka aku ingin mengantarnya ke sana. Tadi juga aku mengantarnya pulang, dan meminta orang untuk membereskan barang-barang yang akan ia bawa ke Pontianak," ungkap Genta jujur.


Geisha menolak percaya. "AKU ENGGAK PERCAYA!"


"Sekali ini aja, Sha. Kita bantu Kahla."


Geisha menggeleng tidak terima. "Pokoknya aku enggak izinin kamu, Mas!"


Genta sudah berjanji kepada suami dan juga Kahla. Ia akan mengantar Kahla malam ini dengan penerbangan pukul sebelas malam. Makanya ia pulang ke rumah untuk berkata jujur.


"Kalau kamu mau. Kamu bisa ikut untuk mengantar," ucap Genta. Lelaki ini tetap bersabar. "Kahla tidak punya siapa-siapa lagi di sini, Sha. Ia pobia naik pesawat sendirian. Apalagi dirinya habis melahirkan."


Geisha menggeleng dengan raut benci. "Jawabanku tetap satu! Aku enggak izinin kamu!"


Genta tidak menjawab. Ia malah memutar langkah untuk kembali ke luar rumah. Ingin pergi ke rumah Kahla, bersiap mengantar ke bandara.


"Jika kamu benar-benar pergi, Mas. Aku akan pergi dari rumah ini!"


"Silahkan ...," balas Genta tetap melangkah memunggungi Geisha.


Deg.


Geisha bagai di tampar ombak. Pun dengan Gentala yang merasa bodoh, mengapa bisa berkata seperti itu padahal di luar batas inginnya. Ia hanya kesal, karena Geisha tidak bisa menyampingkan rasa cemburu untuk menolong sesama.


Merasa kesal karena tidak dihiraukan. Geisha melempar pajangan dan tepat mengenai kepala bagian belakang suaminya.


Brug.


Benda itu terjatuh ke lantai, beserta tetesan darah yang menetes.


Geisha melongo takut. Ia menyesal. "Mas ...," lirihnya.


Gentala meraba kepala dan menemukan tetesan darah di telapak tangannya yang terbuka. Ia menoleh ke belakang dan menatap Geisha benci.


"Istri kurang ajar kamu!" Genta menarik tubuh Geisha dan ia lempar ke sofa.


Brug.


"Ahh!" Geisha mengerang sakit memegangi kepala yang tidak sengaja mengenai ujung sofa.


Genta mengungkung Geisha. Menindih wanita itu dengan napsu membara.


"Istri durhaka seperti kamu perlu diberi hukuman!" sentak Genta dengan raut sadisme yang mulai muncul, karena ia melihat Geisha yang mengerang sakit sambil memegangi kepala. Hal itu tentu memancing birahinyaa yang hampir dua minggu mereka bertengkar, tidak bisa bermuara.


Pak.


Tamparan demi tamparan Gentala berikan di pipi Geisha. Lelaki itu mengigit lehernya, merusak daster yang Geisha pakai. Membuka kedua paha Geisha secara paksa sampai terdengar suara otot tertarik.


"Jangan, Mas. Ampun ...."


Geisha terus berteriak, menangis karena tidak mau melayani Genta dalam keadaan hamil. Berusaha mendorong dada lelaki itu untuk menjauh. Tapi, Gentala tetap mencumbunya kasar. Darah menetes di sudut bibir Geisha.


Sampai di mana Geisha mengerjap kaget, saat tiba-tiba Gentala limbung dari atas tubuhnya ke lantai.


"Brengsek kamu, Genta! Begini kamu memperlakukan anak saya?"


Ada Ayah Gifali yang menarik tubuh Genta untuk menyingkir dari tubuh sang Anak. Lelaki tua itu memang dititah Bunda untuk mengantar dimsum frozen kesukaan Geisha. Dan ia tidak menyangka, akan mendapatkan tontonan yang menjijikan seperti ini.


Napas Genta terengah-engah menatap Ayah. Ia seakan baru tersadar, kalau dirinya sudah kalap.


Geisha gegas bersembunyi di balik tubuh Ayah. Ia pun takut dengan ke bringasan Genta yang terasa lain malam ini. Yang tentu, berkat ulahnya juga.


"Maaf, Yah. Bukan maksud----" Genta langsung memeluk kaki Ayah, mendongak meminta maaf.


"Saya saja Ayahnya. Yang mengurusnya sejak bayi sampai detik di mana ia kamu nikahi. Tidak sekalipun pernah membuat dirinya cacat! Kuku-kuku nya saja selalu terawat!" Ayah menitikan air mata, saat ia tatap Geisha dengan luka lebam di bawah mata dan percikan darah di sudut bibir.


"Tolong ceraikan anak saya!"


"Ayah ...." seru mereka tidak terima. Genta ketakutan. Ia semakin merekatkan pelukan di kaki Ayah seraya memohon.


"Jangan ngomong gitu, Yah. Mas Genta itu sakit. Dia nggak bermaksud untuk memukul aku, Yah. Mas Genta akan seperti ini jika ia menginginkan aku untuk melayaninya." mau tidak mau Geisha harus menjelaskan yang sebenarnya. Seakan bangkai yang ditutup-tutupi selama ini, tidak akan bertahan lama untuk tidak tercium. Seakan juga Allah sudah meridhoi kalau penyakit Gentala sudah harus terbongkar untuk di obati langsung oleh keluarga besar.


"Sakit?" tanya Ayah dengan mata melotot. Ia tidak percaya.


"Iya, Yah. Mas Genta sakit."


Ayah menggeleng tidak percaya. "Jangan kamu tutup-tutupi kelakukan suamimu yang bejat ini. Suami baik tidak akan mungkin menyakiti istrinya," balas Ayah. Beliau beralih menatap Gentala. "Selama dua puluh lima tahun saya menikahi Bundanya Geisha. Belum pernah saya melukis wajahnya dengan luka!" sentak Ayah tidak terima.


"Ayo pulang! Ikut Ayah ke rumah. Lama-lama kamu bisa mati ditangannya!" Ayah membawa Geisha untuk di bawa pergi.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...

__ADS_1


Kalau mau tanya-tanya soal cerita ini. bisa ke IG ku ya


@megadischa


__ADS_2