Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Tadi Kamu Sebut Apa?


__ADS_3

Kereta besi milik Gentala sudah terparkir dengan baik di pelataran halaman kost-kostan wanita. Sudah sepuluh hari setelah huru-hara yang terjadi, Geisha tidak lagi pulang ke rumah. Ia takut untuk pulang dan keluarganya pun tidak mencari, kecuali Bunda. Mereka membiarkan Geisha untuk memilih jalan hidupnya sendiri.


Sebelum tinggal di kostan. Geisha menginap beberapa hari di rumah Mama Luna dan Papa Hari. Kedua orang tua itu seolah bertanggung jawab, karena apa yang Geisha lakukan juga ada andil dari Gentala, anak mereka.


Geisha pun kaget saat tahu Mama Luna adalah Mama tiri Genta. Yang Geisha tahu, Papi Hari hanya menikah dengan Mama Luna, tidak pernah menikah sebelumnya dan mempunyai Gentala. Pun sama dengan Genta, ia malu kepada Mama Luna. Wanita yang selama ini ia benci setengah mati bisa menjatuhkan harga dirinya untuk meminta maaf sekaligus restu kepada Bunda Maura.


Dan sebagai Ibu. Sesakit apapun dilukai oleh anak, ia akan tetap memaafkan. Geisha menangis-nangis saat bertemu Bunda di kediaman Mama Luna. Ia meminta maaf dan mengatakan kalau dirinya mencintai Genta. Dan Genta pun berjanji akan menjaga Geisha.


Melihat kebahagiaan di wajah sang Anak. Bunda akhirnya mengiyakan. Ia bilang dirinya memaafkan dan merestui hubungan Genta dan Geisha walau hubungan persahabatannya dengan Kak Sandra tidak bisa diselamatkan. Tapi, tidak dengan Ayah. Ayah masih belum mau menerima Genta atau pun Geisha.


Kost-kostan yang Genta sewa untuk Geisha memang cukup elit dan mahal. Satu bulan saja untuk harga kamar ini berkisar dua juta lima ratus. Genta memilih kamar yang paling besar untuk calon istri nya. Fasilitasnya pun komplit, ada AC, kasur, lemari, TV, laundry dan masih banyak lainnya.


Setelah praktek selesai Gentala datang ke kostan Geisha, untuk membawakan makan siang, karena wanita itu habis jaga malam di UGD dan pulang pagi dari Rumah Sakit.


"Sayang ...," seru Genta. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar berkali-kali agar si empu kamar membukakan pintu.


"Sha ... bangun, ini aku," panggilnya lagi. Genta yakin, wanita itu pasti masih tidur.


"Sayang ...." Genta tetap sabar. Ia menunggu sampai bidadari hati nya keluar dari kamar.


Dan.


Sesaat kemudian. Suara putaran kunci dari dalam terdengar, Geisha membuka pintu. Dengan memakai pasmina secara asal untuk menutupi rambutnya yang berantakan, wanita itu terus saja menguap. Ia mempersilakan calon suaminya masuk.


"Ayo, Mas!" titahnya. Kini panggilannya sudah berubah tidak dengan sebutan Dokter lagi. Genta pun masuk ke dalam mengekor Geisha dari belakang dengan membawa bungkusan makanan untuk di nikmati bersama.


"Masih ngantuk? Udah siang padahal," ujar Genta.


Geisha mengangguk. "Tadi malam pasiennya banyak. Aku capek!"


"Ayo mandi sana, biar ngantuk nya hilang. Habis itu kita makan bareng. Mas beliin bebek kesukaan kamu," ucap Genta.


"Makan aja deh dulu, mandi nanti," balas Geisha sambil mengucek-ngucek mata, langkahnya saja seperti orang sempoyongan.

__ADS_1


"Mandi dulu-----" seketika bola matanya membelalak. "Astaga berantakan banget!" Genta menggelengkan kepala. "Perasaan baru kemarin aku beresin, Sha!" nadanya setengah meninggi.


Geisha yang rasa kantuk masih bercokol di kelopak mata hanya terkekeh. Ia sudah tahu, Genta pasti akan marah-marah lagi seperti biasa. Bukannya menuruti kemauan Genta, ia malah kembali berbaring di ranjang dan memeluk guling.


Genta meletakan bungkusan makanan yang ia bawa di atas meja. Lantas menarik lengan baju sampai ke siku, ia mulai membereskan kamar Geisha yang berantakan.


"Aku kan udah bilang, sepatu jangan ditaruh di dalam. Bau!" Genta mengeluarkan sepasang sepatu Geisha untuk diletakan di luar kamar.


"Hem." Geisha hanya bergumam dengan mata terpejam. Si berisik dan si bersih sudah datang dan mengganggu tidur siang nya.


Genta melipat mukena yang di letakan Geisha sembarang di atas ranjang untuk ia gantung dengan hanger dan di masukan ke dalam lemari.


Dan.


Bola mata Genta kembali melongo, manakala beberapa baju yang Genta belikan untuk Geisha semenjak wanita itu tidak pulang ke rumah, tidak tertata rapih di dalamnya.


"Berantakan lagi." desahnya berat. "Padahal kemarin baru aku rapihkan, malas banget sih kamu!" Genta terus merancau.


Ia keluarkan lagi baju-baju Geisha ke lantai untuk di lipat sampai rapih dan di susun di dalam lemari seperti kemarin.


Karena Genta terus saja berisik, Geisha pun bangun. Iler nya saja masih kentara di sudut bibir, Ia menatap Genta dengan kekehan. "Sarangheo, Opaa ....," ia memberikan smoke eyes pada lelaki wangi tersebut. Genta mendengus malas. Dia itu bule kenapa jadi Korea. Haha. Geisha kembali menjatuhkan diri di ranjang. Ia berbaring terlentang dan memejam mata.


"Bekas sampah makanan bertebaran di mana-mana. Apa susahnya di buang langsung ke tempat sampah?" saat ini tangannya sedang mengumpulkan beberapa kantung bekas chiki ke dalam plastik hitam untuk ia buang ke tempat sampah. "Bekas tissue, kapas kotor berserakan begini, Ya Allah ...,"


"Ha?" Geisha melongo dalam pejaman mata.


Apa tadi?


Dahi Geisha sampai berkedut-kedut. Telinganya bergerak-gerak, takut apa yang ia dengar di ujung kalimat Genta adalah sebuah ilusi.


Geisha membuka mata cepat. Ia beranjak bangkit dan menghampiri Genta yang sedang membungkuk di lantai tengah memunguti beberapa kapas bekas make up.


Geisha ikut berjongkok seperti Genta. Ia memegang bahu lelaki itu. "Mas ...."

__ADS_1


"Hem," balas Genta datar.


"Tadi kamu ngomong apa, Mas?" dengan semburat bahagia, Geisha bertanya.


Genta menatapnya bingung dan mengulang pertanyaan. "Ngomong apa?"


"Yang tadi, pas kamu lagi ngoceh-ngoceh kayak burung beo,"


Genta menautkan alis dan membekap hidung. "Bau 'ih! Gosok gigi dulu sana!" perintah Genta.


Geisha tidak perduli, walau napasnya sekarang seperti bau bangkai, ia tetap saja berbicara untuk membenarkan apa yang tadi ia dengar.


"Kamu tadi sebut ...."


"Ya Allah?"


Geisha mengangguk-angguk senang. "Tadi bener 'kan kamu yang ngomong?"


Genta menggeleng. "Jin yang ngomong! Ya, aku lah. Siapa lagi?" dengus nya malas. Bukan karena malas di tanya, tapi ia masih sebal karena datang ke kostan bukannya untuk merebahkan diri untuk melepas lelah dan makan siang bareng, malah membersihkan kamar Geisha.


"Ya Allah, akhirnya ....," seru Geisha. Ia sampai bersujud di lantai karena lelaki ini akhirnya bersua tentang Tuhan mereka.


Sepuluh hari ini Gentala menceritakan sedikit dari jatidirinya kepada Geisha. Bahwa ia adalah sesosok pengikut paham sang nenek yang merupakan Atheis. Tidak mengerti tentang Allah, shalat dan membaca Al-Quran.


Maka dari itu Geisha mulai mengajarinya selama beberapa hari ini. Gentala di kenalkan dulu tentang buku yang menceritakan apakah Islam itu. Geisha memang belum mengajarkan dirinya shalat dan kewajiban lainnya yang harus di kerjakan oleh seorang muslim.


Berkat dorongan Geisha agar Genta mau membuka diri tentang Islam, akhirnya lelaki itu mau membaca dan mencari tahu tentang Agama yang selama ini ia anut hanya dalam sebatas di kartu tanda pengenal.


"Besok kan sabtu. Aku free, kamu pun sama. Kita belajar shalat, ya," ucap Geisha setelah bangkit dari sujud nya. Genta yang ikut tergugah dengan ucapan syukur Geisha kepada Allah berkat dirinya yang sudah mau membuka diri untuk mengenal Tuhan, akhirnya mengangguk.


"Iya, Sayang," walau di dalam hati nya belum kokoh dan masih ada rasa malas untuk belajar Agama.


Setidaknya ia sudah mau dulu, selebihnya tinggal dipaksa. Para muslim saja yang sering melakukan shalat, terkadang imannya suka naik turun. Apalagi, Gentala? Yang sedari kecil tidak pernah mengenal Agama. Merasa tabu dan tidak biasa. Tentu hanya dengan hal itu, membuat Genta mengalami kemajuan yang pesat.

__ADS_1


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


__ADS_2