Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Dimana Sayap Mu?


__ADS_3

"Jangan bawa Geisha, Yah. Geisha istriku," ucap Gentala memohon. Ia mengekor langkah Ayah mertua yang menggandeng paksa Geisha untuk masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumahnya.


Langkah Ayah terhenti, ia menoleh dan menatap tajam menantunya. "Saya sungguh kecewa dengan segala perbuatan kamu. Asal kamu tau, saya restui kalian menikah hanya karena Geisha yang memelas, meminta dan memaksa!


Membuat keluarga besar saya malu akan sikapnya yang lebih memilih kamu. Lantas semua itu kamu bayar dengan penyiksaan padanya! SAYA TIDAK RELA, GENTA!" Geisha sampai mengusap dada, ia tersentak karena Ayah sampai seperti itu karena kecewa.


Jika kemarin Mami Else yang menyakiti hati Geisha. Kini, Ayah Gifali melakukan hal yang sama untuk Gentala. Seakan, kedudukan mereka imbang.


"Mas Genta tidak bermaksud menyakitiku, Yah. Suamiku ini sakit ...," Geisha tetap membela. Lirihan nya begitu menusuk kalbu Gentala.


"Tolong maafkan aku, Sayang. Kamu janji kan mau buat aku sembuh. Tolong, jangan pergi," pinta Genta memohon. Ia kembali merendahkan diri, menumpukan lutut di pelataran halaman di hadapan Ayah dan Geisha.


"Ayo bangun, Mas. Jangan begini ...." Geisha pun menangis saat Ayah menatap suaminya dengan tatapan benci.


"Demi Allah, Yah. Bukan maksud Genta untuk menyakiti Geisha. Saya cinta sama dia. Saya sangat menyayanginya." Genta menatap Ayah dengan wajah yang sama-sama basah.


Tapi, Ayah tetap kukuh dalam pendirian. "Jika memang kamu sakit. Orang tuamu harus tahu! Mereka harus mengobatimu. Dan saya ingin kamu tetap meninggalkan Geisha, untuk keselamatan Anak saya!"


Deg.


Jantung pasutri itu kian berpacu, tergelak dalam rasa takut. Geisha memang kecewa dengan Gentala. Tapi, ia tidak menginginkan perceraian. Pun dengan lelaki yang sejak kemarin menyakiti hatinya, terus bersimpuh di kaki Ayah untuk meminta belas kasih.


"Genta mohon, Yah. Genta akan sembuh," ujarnya mengiba.


Ayah tidak mengidahkan. Ia merogoh kantung celana untuk meraih gawai, mendial nomor handphone mertuanya, Papi Hari.


"Assalammualaikum, Mas. Tolong Mas Hari datang malam ini juga ke rumah anakmu---" Gentala dan Geisha semakin membulatkan mata, bahwa Ayah memang tidak main-main dengan ucapannya. Gegas Gentala menarik Geisha untuk di bawa masuk lagi ke dalam rumah.


Ayah tidak tinggal diam. Ponsel ia biarkan jatuh, memilih menarik lagi putri kesayangannya, Khumairah.


Walau sebenarnya Ayah ingin sekali memukul Genta untuk membalas sakit hati Anaknya, tetap ia tahan sedari tadi untuk tidak melakukan hal itu. Tapi, melihat Gentala tetap tidak mau patuh akan dirinya. Maka, Ayah mengeluarkan kekuatannya.


Bug.


Bug.


Bug.


"Ayah!!" seru Geisha, mencoba menghentikan Ayah yang memukul Genta berulang kali di wajah. Gentala tersungkur di bingkai pintu.


"Melihat tingkah kamu seperti ini. Membuat saya pasti untuk membawa pernikahan kalian ke meja hijau!"


"Jangan, Yah ...," lirih Gentala memohon. Lelaki ini masih terjerembab di lantai.


"Mas ...." Geisha ingin membungkuk, menarik Gentala untuk bangkit. Tapi, Ayah mencekalnya. Menggandeng paksa lagi sang anak untuk bergegas masuk ke dalam mobil dengan cepat. Ayah meraih ponsel yang masih menyala di tanah, mendengar suara Papi Hari yang masih halo-halo dengan nada cemas.


"Tolong urus anak mu, Mas. Wassalammualaikum." hanya itu yang Ayah ucap sebelum memutus sambungan telepon tersebut.


Gentala bangkit lagi dengan susah payah. Pukulan yang ia terima benar-benar membuatnya tidak berdaya, saat mobil Ayah sudah mulai mundur dari pekarangan.


"Sha! Ingat janjimu! Sha!!!" Genta menggebrak-gebrak kaca jendela di mana Geisha pun menatapnya sambil menangis dari dalam. "Turun, Sayang. Turun!!"


"Sabar, ya, Mas. Aku akan pulang. Tunggu," ungkap wanita berhati mutiara ini.


Ayah tetap memutar stir kemudi, air matanya luruh dan bergumam dalam hati. "Di mana sayap mu, Sha? Mengapa hati anak Ayah bisa selembut ini seperti bidadari?"


"Pakai kerudung, ya ...."


"Ndak ah, Ayah. Aku gelah."


Ayah menangis di sepanjang jalan. Mengingat bagaimana kelucuan putrinya di masa kecil yang tidak boleh tersakiti oleh siapapun.


Tapi, Sekarang?


Saat Geisha sudah besar?


Mengapa jalan hidupnya seperti ini? Sudah dilangkah Adik, mendapatkan suami dalam keadaan status duda. Dan kembali tersakiti dalam pernikahan yang mengandung racun.


"Ya Allah ...," desah Ayah. Lelaki tua yang tampan ini mencengkram kuat-kuat stir. Ia tidak mendengarkan apa yang tengah Geisha bicarakan selama di perjalanan. Geisha terus memohon untuk mau memaafkan Genta, dan mengembalikan dirinya lagi kepada sang suami.


...🌾🌾🌾🌾...


Siapa yang tidak gempar?


Siapa yang tidak hancur?


Saat kedua orang tua tahu bahwa anak mereka aslinya sakit seperti monster perenggut nyawa. Papi Hari dan Mami Else menangis terisak saat Gentala akhirnya jujur dengan dirinya. Membuka semua aib pernikahannya bersama Kahla, Avika dan sekarang Geisha.


"Aku benci kalian. Aku benci kekerasan yang selalu kalian lakukan dulu. Aku benci perceraian. AKU BENCI!"


Gentala meraung-raung, ia berhasil menumpahkan rasa amarah dan kecewa yang selama ini ia bekukan dalam diri selama puluhan tahun, kepada kedua orang tuanya.


Setelah Ayah membawa Geisha pergi dari rumah. Sampai detik ini, sudah terlewat tiga hari. Genta belum juga bisa bertemu dengan Geisha. Lelaki itu sudah berkali-kali datang. Mondar-mandir di depan rumah Bunda dan Ayah, memaksa untuk masuk. Tapi orang rumah tidak mengizinkan. Geisha di sembunyikan di rumah Nenek dan Kakek untuk sementara waktu, saat Geisha jujur kalau dirinya tengah hamil.


Mendengar hal itu, membuat Ayah dan Bunda memutuskan untuk menjauhi Genta dan Geisha untuk sementara waktu. Bunda tidak berhenti menangis. Setelah Geisha mau berkata jujur dengan perjalanan pernikahannya beberapa bulan ini.


"Jangan paksa kami bercerai, Ayah. Bagaimanapun, Mas Genta Bapak dari Anakku," ucap Geisha memohon.


"Aku sudah berjanji untuk membuatnya sembuh. Dan Mas Genta sedang dalam proses. Malam itu kita hanya sedang bertengkar. Dia jadi kalap dan lupa daratan. Tentu, karena ulahku juga," imbuhnya lagi.


Om Ammar yang juga tengah hadir dalam rapat keluarga ini, menganggukan kepala, seakan setuju dengan ucapan keponakannya. Sejatinya dulu, Ia pernah berada di posisi Gentala, di saat dirinya di paksa untuk bercerai karena kesalahan yang ia buat oleh orang tua Tante Gana.


"Bercerai memang tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi bertahan dalam posisi mu yang sedang mengandung. Sungguh riskan, Geisha. Penyakit mental yang Genta punya. Bukanlah penyakit main-main. Nyawa taruhannya. Beruntung kamu mempunyai tubuh yang kuat. Hampir empat bulan pernikahan, kamu bisa setegar ini. Tapi, Anakmu? Yang ada dalam kandunganmu? Apa bisa?" Om menunjuk janin yang ada di dalam perut keponakannya.

__ADS_1


Air mata Geisha luruh. Ia hening. Sang Nenek sejak tadi memeluknya dari samping. Mencium cucunya yang menangis. "Sabar, ya, Nak." walau telinganya tidak sepenuhnya mendengar, masalah apa yang tengah mereka perbincangkan. Begitu pun Kakek yang duduk tidak jauh dari Bunda. Kakek Bilmar menangis melihat luka-luka di wajah cucunya yang belum sepenuhnya menghilang.


"Menurut Bunda. Geisha harus dipisahkan sampai anaknya lahir. Kita harus paksa besan kita untuk membuat Genta sembuh, Yah," ucap Bunda meluluhkan hati Ayah yang masih berapi-api.


Ada raut terang di wajah Geisha, saat Bunda memberikan pilihan walau dalam ujung hatinya, ia tidak mau berpisah dengan Gentala.


Geisha turunkan tatapan. Ia usap perutnya lembut.


"Kita berdua kuat, ya, Nak. Jauh dari Daddy, bukan untuk membenci. Tapi, agar Daddy bisa sembuh." air matanya luruh lagi.


Mampu kah ia menjalani hidup dengan janin yang baru berkembang tanpa Gentala di sisinya? Jika ia tidak kukuh dan tega seperti ini dan memenuhi kemauan orang tua, Gentala pasti sulit untuk sembuh. Mertuanya pun mau tidak mau harus mengambil sikap untuk kesembuhan Gentala.


"Maafkan aku, ya, Mas. Bukan maksudku tidak mau menepati janji. Tapi ada Anak ini, yang harus aku selamatkan. Buah cinta, kita ...."


...🌾🌾🌾🌾...


Papi Hari bernegosiasi kepada Ayah Gifa untuk diperbolehkan datang ke rumah. Ingin membicarakan persoalan anak-anak mereka. Dan tentunya, Genta yang terus memaksa Papinya agar bisa meluluhkan hati Ayah mertuanya. Setelah kesepakatan Ayah dan Geisha sudah terjadi. Ayah mengiyakan kemauan Papi Hari untuk bertemu.


Dan di sini lah mereka semua berada. Pagi ini, di rumah Ayah dan Bunda. Semalam, Geisha dan keluarga sudah kembali lagi ke rumah.


Bola mata Gentala berpendar ke sekeliling rumah. Seraya mencari-cari tambatan hati yang ingin sekali ia peluk. Ingin memuntahkan kata maaf dan penyesalan karena sudah menyakiti wanita itu tanpa sengaja.


Di sofa panjang berhadapan dengan Ayah, Bunda, Om Ammar dan Pradipta. Sudah ada Gentala, Mama Luna, Papi Hari dan Mami Else. Saat awal masuk ke dalam rumah. Gentala sudah bersujud lagi di kaki Bunda dan Ayah untuk meminta maaf. Dan mereka berdua memaafkan walau dengan hati yang masih patah.


Jika saja tidak menghargai sang Kakak, ingin sekali Pradipta lemparkan bogeman mentah tepat di wajah Gentala. Lelaki itu menatap bengis, Genta. Dan Genta menerimanya ikhlas.


"Kedatangan kami ke sini. Bermaksud untuk meminta maaf sebesar-besarnya dengan apa yang sudah terjadi dengan Geisha oleh tangan anak kami, Genta," ucap Papi mulai membuka pembicaraan.


"Semua ini merupakan suatu tamparan dan pelajaran terbesar, terutama untuk saya dan Maminya Genta. Karena sikap kami dulu yang membuat Gentala tumbuh menjadi lelaki yang buruk akan mentalnya.


Genta tumbuh tanpa kasih sayang yang cukup dari kami. Kami pikir, Genta anak yang kuat. Tidak memiliki masalah dengan perceraian yang kami buat. Nyatanya, Anak kami ini. Tidak sekuat itu.


Walau Genta mempunyai sisi yang menakutkan. Tapi anak saya ini adalah anak yang baik," ujar Papi dengan bola mata yang berkaca-kaca. Ia rangkul Gentala yang masih tertunduk.


"Saya dan Maminya, Genta. Akan berjanji mengobati Genta sampai sembuh. Mas Gifa bisa pegang janji saya, jika Gentala melakukan kekerasan lagi kepada Geisha. Saya tidak ingin, kekeluargaan yang sudah kita bina bertahun-tahun ini bisa terputus hanya karena perceraian di antara anak kita, Mas, Mba ...." Papi menatap Bunda setelah Ayah.


Mami Else berpindah duduk di sebelah Bunda. Memegang tangan Bunda penuh haru. "Tolong, Mbak. Perbolehkan lagi Geisha untuk Gentala," pintanya memohon.


Mami Else menyesal setengah mati, mengapa bisa ia memperlakukan Geisha dengan kasar malah sampai mengusirnya kala itu. Jika saja Gentala tidak menikah dengan Geisha, dan tidak terjadi huru-hara seperti ini. Sampai dirinya mati pun, Ia tidak akan tahu kalau anak lelaki itu nya tengah sakit. Ia ingin sekali berterimakasih kalau bisa mencium kaki menantunya, karena selama beberapa bulan ini sudah kuat menjaga Gentala.


Bunda hanya mengangguk, tidak kuat berbicara. Setiap ia lihat wajah Gentala, ulu hatinya begitu sakit. Hancur sudah harapannya pada lelaki itu. Restu yang dulu ia berikan seakan diganti dengan air comberan.


"Bismillah ...." Ayah menarik napas untuk mencoba menghilangkan sesak di dada. Om Ammar mengusap punggung Kakak Iparnya agar bisa tetap tenang dalam memutuskan putusan yang akan ia ucap kepada Gentala dan keluarga.


Ayah Gifa menatap Papi, kemudian membuka mulut untuk bersuara.


"Sampai saat ini pun. Jujur, saya masih sangat kecewa. Masih belum bisa memaafkan Anak, Mas Hari. Orang tua mana yang rela ketika anaknya di sakiti walau apa yang dilakukan Genta, murni karena penyakitnya.


Sekuat apapun tenaga Geisha mengobati Genta, tanpa ada campur tangan kalian yang mana sebagai pencetus suatu masalahnya. Gentala tidak akan sembuh. Mas Hari ingin Genta sembuh kan? Pun saya juga ingin Genta sembuh. Kembali bersatu dengan Anak saya dalam keadaan pernikahan yang normal seperti kebanyakan orang. Tapi ...."


"Tapi kenapa, Yah?" cecar Genta tidak sabar.


"Genta!" Papi menggelengkan kepala untuk tetap menjaga sikap.


"Saya ingin kamu sembuh dulu. Baru kembali kepada Geisha dan Anak yang ada di----"


"AYAH!" seru nyaring Geisha dari lantai dua. Wanita hamil itu berdiri di pagar pembatas bersama Tante Gana, ia menyela ucapan Ayah agar tidak mengungkap semua kebenarannya sekarang.


"Sha ...." senyum rindu tampak. Gentala lekas bangkit berdiri. Ia tatap Geisha dari bawah. Dan saat ingin melangkah kaki untuk mengejar Geisha. Papi, Om dan Pradipta mencekal nya.


"Duduk, Genta!" titah Ayah dengan raut masih kurang bersahabat.


Om memainkan mata sebagi kode kepada istrinya untuk membawa Geisha masuk ke dalam kamar.


Dengan napas terengah-engah, peluh banjir membasahi wajah. Genta menggeleng tidak mau.


"Dengan bersama Geisha, saya yakin sembuh dengan cepat, Yah. Saya janji," Genta mengiba.


Ayah Gifa tetap menggeleng. "Jika kamu keberatan dengan keputusan saya. Silahkan tinggalkan Geisha selama-lamanya."


"Ayah tidak bisa mencampuri urusan rumah tangga----" Papi Hari lekas membekap mulut sang Anak.


"Gentala bersedia, Mas. Kami akan sembuhkan Genta dulu." Papi memutuskan sepihak, walau Genta belum berkata iya.


Gentala menepis tangan Papi kasar. "Enggak bisa gitu, Pih! Ini rumah tanggaku. Geisha istriku---"


"Tapi, Geisha anak saya, Genta. Saya yang melahirkan Geisha dengan nyawa sebagai taruhannya. Geisha juga milik saya. Saya enggak mau, Geisha menderita dan sakit seperti ini. Saya takut lama-lama psikisnya terganggu apalagi sekarang----" ucapan Bunda terhenti saat Om memegang tangannya, seraya mengingatkan dengan kemauan Geisha yang tidak ingin di ungkap dulu perihal kehamilannya. Jika Genta tahu sekarang, lelaki itu pasti akan lebih ngotot untuk tidak mau mengalah.


"Sekarang apa, Bunda?" tanya Gentala cemas. Daksa nya sudah lemas dengan keputusan Ayah dan Bunda mertuanya.


"Pokoknya Geisha sudah mau dengan keputusan dari Ayahnya. Kalian pisah dulu untuk sementara waktu. Kamu sembuhkan sakit mu. Kamu bisa, Genta," tukas Om menengahi.


Gentala hening. Air mata ia biarkan jatuh. Ia pikir hari ini ia bisa kembali membawa Geisha pulang. Nyatanya semua itu hanya bayangan indahnya saja.


Sekeras apapun Gentala bertahan untuk memohon kepada Ayah dan Bunda untuk merubah keputusan, semua itu tidak ada hasilnya. Lelaki itu tetap kalah. Tetap kehilangan Geisha dengan waktu yang tidak bisa ia pecahkan.


Benarkah dirinya akan sembuh?


Siapa yang akan menjamin?


Setelah melakukan pembicaraan yang cukup panjang dan menguras hati. Genta dan keluarga pamit undur diri. Lelaki itu melangkah gontai dan lemas. Seakan tidak ada ada lagi sinar matahari di depan matanya. Kembali gelap gulita. Mempunyai istri tapi seperti tidak punya.


Papi merangkul Genta menuju mobil. Menguatkan anak itu untuk bisa menerima keadaan.

__ADS_1


"Sabar, Nak. Sabar. Papi janji, Genta pasti sembuh."


Genta hanya diam dengan tatapan kosong. Jika saja malam itu, ia tidak bersikeras menolong Kahla. Rumah tangganya pasti masih bisa terselamatkan.


Mereka tetap melangkah, sampai di mana semua menoleh, mendongak ke atas. Ada Geisha yang berdiri di balkon kamar, menyerukan suaminya.


"Mas ...." panggilnya dengan senyuman renjana dalam tangis. Ia melambaikan tangan penuh rindu.


Seakan bunga layu yang kembali tegak karena tersiram air. Gentala menatap Geisha dengan sunggingan senyum. "Sayang ...." mereka saling melambaikan tangan penuh cinta.


"Turun, Sha! Ayo ikut aku pulang!" teriak Genta. Papi menarik kain baju Genta, saat anaknya itu mendekat, seakan ingin memanjat balkon.


"Kamu tau kan aku hanya sayang sama kamu? Hanya kamu yang aku cinta?"


Geisha mengangguk. Ia usap air mata yang terus turun.


"Ambil ini, ya, Mas ...." Geisha memperlihatkan sebuah amplop berisi surat. Gentala mengangguk dan bersiap menerimanya dari bawah.


Geisha melemparkan ke bawah dan Gentala berhasil menangkapnya.


Assalammualaikum, Mas Genta. Suamiku terkasih. Besok siang, setelah shalat Jumat. Datanglah ke kebun belakang rumah kita. Aku menunggumu di sana.


Seakan ada sesuatu yang Geisha persiapkan di rumah mereka yang beberapa hari ini tidak didatangi lagi oleh keduanya. Genta menetap di rumah Papi. Pun Geisha di rumah Ayah.


Genta mengulas senyum. Ia membalas surat itu dengan anggukan kepala kepada Geisha dari bawah.


...🌾🌾🌾🌾...


Selepas shalat Jumat. Masih dengan pakaian koko dan peci di kepala. Gentala datang ke rumah di temani Papi dan Mami. Mami pun bersemangat mengantar karena ingin sekali menemui Geisha untuk meminta maaf secara langsung.


Rumah yang kemarin terlihat berantakan. Kini, kembali rapih dan harum.


"Sha?" Gentala memanggil Geisha yang ia yakini tengah menunggunya di sini.


Papi dan Mami pun berseru memanggil menantunya di sekeliling rumah. Nyatanya yang diserukan tidak kunjung menjawab.


Genta dengan cepat melangkah menuju kebun belakang. Dirinya teringat dengan surat yang kemarin Geisha berikan untuknya.


Di pertengahan taman. Ada sebuah meja tegap dan sebuah kotak bertengger di atasnya. Genta lekas duduk di hadapan meja. Ia membuka kotak berwarna pink yang lucu karena tersemat sebuah pita.


Dan saat tutupnya di buka. Saat itu pula, Genta merasa jantungnya berhenti berdetak.


Ada sebuah testpack dan foto usg dua dimensi bernamakan Ny. Geisha Alyra Hadnan. Bola mata Genta seakan ingin melolong jatuh ke tanah, tangannya bergetar saat meraih kedua benda tersebut.


"Kamu benar hamil, Sha?" buliran air mata Gentala mengalir pelan dari sudut mata, membasahi kertas usg berwarna hitam putih yang tengah ia pegang.


Ia tidak menyangka jika gejala-gejala hamil yang Geisha rasakan bukanlah halusinasi semata. Teringat semua ucapan yang menyakitkan, yang ia lontarkan kepada Geisha. Sampai dirinya tega, mengatakan kalau Geisha menjadi orang yang tidak waras karena ingin sekali hamil.


Dengan segukan pelan, ia meraih sebuah kertas putih yang berada di kotak.


Assalammualaikum, Sayang. Semoga kamu selalu sehat. Pun dengan aku dan anak kita. Sudah lihat foto usg nya? Bagaimana, Mas? Apa sekarang kamu percaya? Jangan menangis, ya.


Jangan merasa menyesal. Aku tahu, kamu tidak sepenuhnya salah. Kamu memang selalu memakai logika, sedangkan aku memakai perasaan. Maka di matamu, aku terlihat seperti orang yang tengah mengada-ada dengan apa yang aku rasa ketika aku peka ada janin yang mulai berkembang di rahimku.


Selama kita berjauhan. Tolong jaga dirimu baik-baik, ya, Mas. Jaga kesehatan. Jaga hatimu hanya untukku dan Anak kita. Bukan aku tidak mau menepati janji. Tapi, Anak ini butuh aku selamatkan. Bukan aku menyerah untuk membuatmu sembuh. Tapi, rasanya. Aku tidak punya cukup daya dan kekuatan di saat tubuhku lemah ketika mengandung. Aku harus menyembuhkan luka di hati Ayah dan Bunda agar pernikahan kira tetap ada.


Aku pun berat meninggalkanmu. Aku pun ingin seperti istri-istri lain, di dekap saat merasakan mual dan muntah di kala pagi, seperti yang aku rasakan dua hari belakangan ini.


Aku Ingin menikmati pijitan hangat dari tangan lembut mu setiap hari. Untuk itu, ayo sembuh, Mas. Untuk kami. Berjuanglah sebisamu. Berjuanglah sekuatmu. Maafkan kesalahan orang tuamu. Maafkan mereka-mereka yang pernah menyakitimu. Bangkitlah menjadi Gentala yang baru. Aku yakin kamu bisa, Mas.


Ketika dirimu membaca surat ini. Aku sudah dalam perjalanan menuju suatu tempat. Tempat di mana aku akan menjaga anak ini sebaik mungkin. Semoga kamu cepat sembuh dan biasa menyusul kami kembali, Mas.


Jemput kami.


Love you, MyHusband.


Geisha and Baby.


Bukan hanya tubuh Genta yang bergetar. Tapi, Papi dan Mami pun sama.


"GEISHAAAAAAA!!" teriaknya tertahan. Meremas surat dengan tangan kekarnya. Roh seakan tertarik, terlempar jauh ke langit. Kekasih hati yang paling ia cintai, kini pergi dan sulit untuk direngkuh kembali. Apalagi ada janin, darah daging yang selama ini ia tiadakan keberadaannya.


Genta berangsur limbung dan Papi gegas menangkap tubuh sang anak dari belakang agar tidak terjatuh, menyentuh tanah.


"Genta!" seru Mami dan Papi. Mencoba sekuat mungkin membangunkan sang anak yang sudah memejam mata. Daksa Genta tidak kuat. Aliran darah terasa berhenti mengalir. Jantungnya terasa di remas. Lelaki itu pingsan, tidak sadarkan diri.


...🌾🌾🌾🌾TAMAT🌾🌾🌾🌾...


...Tamat di platform ini, ya, guys. Dan bersambung di buku. Perjalanan cinta Geisha dan Gentala nanti akan aku paparkan lengkap di bukuu. Tentang, Sembuh atau tidaknya Gentala. Bagaimana kehidupan mereka setelah ini dan beberapa eks part setelahnya, sudah terangkum semua di dalam bukuu....


...Bagi yang mau beli, silahkan. Aku bahagia dengan senang hati. Itu tandanya kalian menghormati kerja kerasku yang tidak aku dapat di platformm ini....


...Bagi yang belum bisa membeli. Aku juga bahagia, karena kalian sudah menemaniku membuat kisah mereka sampai di Bab ini....


...Dapat info, kalau bukuu akan open PO tidak jadi di akhir juli. Tapi di awal juli. Sekitaran tanggal 6 juli s/d 15 juli. Kalian bisa sisiin uang gaji kalau mau. Hehe....


...Ikuti IG ku @megadischa...


...untuk tau seputar bukuu Geisha dan harganya. Atau hubungi no admin 08978173802, jika kalian enggak punya IG untuk nanya seputar buku....


...Makasih, ya, guys atas partisipasinya. Moga kalian selalu sehat. Dan mendapatkan pelajaran penting dari kisah mereka berdua....


...Lapyu, Gaga....

__ADS_1


...🥰🥰🥰...


__ADS_2