Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Siapa dia?


__ADS_3

[Baru aja kelar operasinya, Sha. Dokter Genta mau makan dulu]


Geisha meneguk salivanya lamat-lamat. Bola matanya melotot lurus ke layar gawai yang sedang ia tatap. Jantungnya kembali bergemuruh saat mendapati pesan itu dari Lauren.


Sudah seminggu ia memikirkan peristiwa yang membuatnya sial karena harus menabrak dan memaki Dokter pembimbing dalam stase kali ini. Pada saat kejadian, Geisha memilih kabur. Ia tidak mempunyai nyali untuk menghampiri Genta dan meminta maaf. Begitu saja pergi bagai hantu.


Geisha pun terus berdoa agar Genta tidak mengenalinya sesaat lagi. Karena Geisha telat mendapatkan bimbingan pertama. Maka ia tidak ikut setim dengan Vina, Lauren serta teman-teman koas lain nya untuk ikut melihat tindakan bedah di kamar operasi bersama Genta sejak tadi pagi.


Sedari tadi ia duduk di nurse station, membantu menimbang pasien, mengukur suhu dan tensi darah pasien bersama beberapa perawat.


"Udah, Dok. Enggak apa-apa. Dokter Genta mah orangnya lupaan." celetuk Suster Lala.


Lala Sumarni, beliau adalah kepala perawat di poliklinik. Sebenarnya tugas utamanya hanya memantau para anak buah, mengatur jadwal, bertanggung jawab jika ada komplenan, ikut rapat dengan manajemen untuk menginfokan apa saja yang terjadi di Polikinik.


Tetapi, beliau masih saja bertugas menjadi asisten poli bedah. Dokter Genta yang meminta langsung dirinya. Karena sejak dulu sebelum Suster Lala di angkat menjadi Kepala Poli, beliau di kenal sebagai perawat yang cekatan dan lihai dalam urusan pembedahan.


Pihak manajemen Rumah Sakit tidak ada yang bisa menolak, karena sejatinya Dokter Genta adalah Dokter Spesialis bedah yang terfavorit di Rumah Sakit ini. Pendapatannya setiap bulan selalu Fantastik.


Suster Lala dan beberapa karyawan lama sudah sangat mengenal Geisha dari jaman anak-anak sampai sekarang. Karena sang Nenek sering membawa Geisha main ke Rumah Sakit.


Ketakutan Geisha dengan kejadian itu, ia adukan kepada Suster Lala. Dan selama ini Geisha selalu mengorek tentang kepribadian Genta.


"Tapi waktu itu beliau kayaknya marah banget, Bu. Aku takut jadinya. Tadi teman aku juga bilang, katanya pas di kamar operasi, Dokter Genta marah-marah mulu."


Suster Lala tertawa. "Karena belum kenal dan masih baru, mikirnya pasti gitu. Dokter Genta tuh kalau udah kenal dekat orangnya asik 'kok. Gitu-gitu dia baik loh, suka----"


Ucapannya terselak. "Bu, Dokter Genta telepon." kata Suster Medi. Suster Lala beranjak berdiri mendekat ke arah telepon dan memencet tombol speaker.


"Assalammualaikum, Dok."


"Pasien saya sudah ada berapa, Bu?" nada suara Genta terdengar begitu lugas. Jantung Geisha semakin memburu parah.


"Aduh, Ya Allah. Suaranya aja udah seram. Tatapannya kemarin juga kayak gitu. Abis ini nasib gue, gimana, ya? Dia pasti ilfil." tak habis-habisnya Geisha mengeluh.


"Pasiennya udah empat puluh 'nih, Dok. Pasien dari tadi udah bolak-balik nanyain Dokter terus."


"Ya udah langsung tutup aja. Bilang ke pendaftaran. Lima menit lagi saya sampai poli."


"Baik, Dok." jawab Suster Lala. Lantas menutup telepon dengan wajah gembira. Biasanya pasien Genta bisa mencapai enam puluh sehari.


Bisa dibayangkan bagaimana letih nya? Belum ia harus visite ke berbagai ruangan.


"Bisa-bisanya tutup praktek gitu aja. Lama-lama pasien pada kabur ke tetangga sebelah!" dengkus Geisha dalam hati.


Suster Lala mendekat ke arah berkas rekam medis pasien yang akan di periksa oleh Genta yang sudah di susun berdasarkan nomor antri dan akan membawanya ke ruangan. Refleks Geisha bangkit dari kursi dan mendekati Suster Lala. "Bagi dua, Bu. Sama saya."

__ADS_1


Suster Lala menatap Geisha senang. Ia membagi dua tumpukan rekam medis untuk dibawa oleh Geisha. Lantas beriringan masuk ke dalam poli bedah. Status di letakan di meja dokter.


"Dokter Genta itu tipe Dokter yang cepat, tangkas dan detail. Kalau ada pasien yang yang mau ganti balut. Suruh dulu naik ke bed. Terus kita buka perbannya. Nanti baru dia lihat, dan kasih komando. Oh, iya. Dokter udah bisa lepas jahitan 'kan?"


Geisha tertawa. "Iya, dong, Bu. Masa iya sih aku bel----"


Krek.


Pintu poli begitu saja terbuka kasar. Membuat Geisha dan Suster Lala menoleh ke ambang pintu menatap sosok lelaki yang sejak tadi mereka tunggu. Dan yang di tunggu menatap kaget sosok wanita yang bersama dengan Suster Lala sekarang.


"Ya Allah ganteng banget! Begini wajah aslinya?" tanya Geisha dalam hati dengan kilatan mata berbinar-binar.


Degup jantung yang menderu-deru karena rasa takut seakan terhempas, terganti dengan jantung yang bedentum-dentum terpanah karena dapat menarik hatinya. Berbeda sekali saat mereka bertemu dalam ketidaksengajaan.


Siang ini Genta terlihat rapih, tubuh tegapnya terlindungi dengan sneli putih dokter. Rambut gondrong di kuncir seperti buntut kuda. Aroma parfum maskulin nya begitu menusuk hidung. Membuat wanita berusia dua puluh empat tahun dan masih jomblo sedari bayi, menatapnya renjana. "Gue berasa kayak lagi ketemu sama Ammar Zoni ...."


Berbeda dengan Genta. Lelaki itu menyerngitkan dahi. Menilik Geisha dari pusara rambut sampai ke plat shoes yang sedang Geisha pakai.


Wanita cantik, senyumnya manis. Bulu matanya lentik dengan hidung nya yang bangir. Sentuhan liptin tipis membuat bibir ranum Geisha amat segar. Memakai kemeja garis-garis berwarna cokelat yang senada dengan warna celananya. Dan di tutup dengan sneli putih seperti kepemilikan Genta.


Geisha Alyra Hadnan.


Genta bisa membaca nama yang terpampang dalam id card mahasiswa yang menggantung di leher Geisha.


"Ini, Dokter Geisha, Dok. Salah satu anak koas." Suster Lala masuk di sela mereka yang sedang saling pandang.


"Oh, oke!" jawab Genta santai. Lelaki itu bergegas ke wastafel untuk mencuci tangan dulu sebelum memulai praktek nya.


Geisha dan Suster Lala saling tatap dalam senyuman. "Tuh 'kan apa Ibu bilang, dia mah lupaan. Kepanjangan rambut kayaknya." bisik Suster Lala, membuat Geisha terkekeh pelan. Tak henti-hentinya Geisha tersenyum renyah. Dia selamat hari ini. "Ganteng, kan?" goda Suster Lala.


Geisha hanya bisa terkekeh. "Banget." dan mereka berbisik-bisik dalam kekehan pelan.


"Masker, Bu!" pinta Genta.


"Tuh, Dok. Masker nya. Pasangin." Suster Lala menunjuk ke arah kotak masker yang ada di meja khusus alat bedah kepada Geisha.


Bukan menolak, memberikan raut aneh atau bingung. Malah Geisha memberikan senyum semangat. Ia bergegas mengambil masker dan berdiri di belakang Genta yang masih sibuk mencuci tangan di depan cermin.


Geisha tatap punggung tegap itu dan aroma tubuh Genta semakin berasa. "Duh, wangi banget 'sih. Gue aja yang perempuan enggak kayak begini." kekeh nya dalam batin.


Geisha berjinjit. "Maaf, ya, Dok. Saya pakaikan."


Genta mengangguk. Ia mulai mendongak menatap lurus wajahnya di cermin. Geisha memasangkan masker dari belakang yang kaitannya ia letakan di belakang daun telinga.


"Sumpah wangi banget. Berapa jerigen farfum yang dia pakai?" Geisha seakan ingin terbang. Genta memang lelaki apik, bersih dan selalu menjaga kebersihan.

__ADS_1


Setelah selesai. Genta berbalik badan, menatap Geisha yang wajahnya sudah memerah, ia tidak bisa menahan rasa suka dalam pandangan pertama. "Terima kasih, Gei---" Genta kembali menilik id card Geisha.


"Geisha, Dok." bukan Geisha yang menjawab. Tapi Suster Lala. Ia berdecih geli saat melihat Geisha yang sempat melamun menahan hawa takjub.


"Iii---yaa, Dok. Nama saya---" dan Geisha selalu telat sadar.


"Ayo, Bu. Kita mulai." suara Geisha terhenti begitu saja mana kala Genta sudah duduk di kursinya sambil membuka berkas pasien dengan nomor pertama.


Geisha tersenyum-senyum senang. Ia berdiri di belakang kursi Genta, untuk menemani lelaki itu memeriksa pasien. Rasanya ia tidak ingin bertukar posisi dengan Lauren dan Vina yang juga sudah menunggu di luar.


...🌾🌾🌾...


Ruangan poli ini ber AC. Tapi, keringat Geisha terus bercucuran. Ia baru tahu jika Genta memang galak walau tampan. Sudah berkali-kali dirinya di sentak.


"Bodoh!" Geisha hanya bisa meneguk saliva, saat Genta menghardiknya. Bagaimana tidak bodoh, saat Genta meminta gunting namun yang Geisha berikan adalah pinset. Suster Lala sedari tadi sampai geleng-geleng kepala.


"Beneran bodoh, apa lagi kesemsem, ya?" tuduh Suster Lala.


Geisha yang masih kepincut akan ketampanan Genta hanya bisa diam dan berusaha mengembalikan kesadarannya agar fokus.


"Nacl dan bak instrumen!" pintanya lagi. Dan Geisha yang kakinya sudah pegal karena sedari tadi tidak duduk tetap semangat melangkah bolak-balik ke trolly alat.


"Mau saya kucurin tubuh kamu pakai cairan itu?" bola mata Genta menatap Geisha horor dengan nada bariton yang ia suarakan, saat Geisha malah membawa botol alkohol. Sepertinya kesabarannya sudah habis. Sedari tadi Geisha selalu salah.


"Eh, iya, Dok. Salah. Maaf-maaf." Geisha berbalik dan kembali mengambil cairan yang Genta pinta. Ada kalanya Geisha gugup, ada kalanya pula ia tenang. Suster Lala selalu sigap membantunya jika Geisha sedang kena damprat.


Tak lama kemudian, pintu poli seakan terdorong pelan dari luar. Membuat Suster Lala mendekati sesosok orang di depan sana.


Pasien sudah selesai di periksa. Jahitannya juga sudah di lepas. Geisha membantu pasien untuk turun dari ranjang dan Genta kembali duduk di kursi, ingin menuliskan resep.


"Dok, Kahla bawain makan siang katanya," ujar Suster Lala. Ia menjinjing tempat bekal yang ia masukan ke dalam lemari penyimpanan berkas sementara.


Genta yang sedang menulis, lantas mendongak dengan raut senang walau hanya terlihat dari sinar matanya, karena wajahnya tertutup masker.


"Kahla nya masih di depan?"


"Sudah balik ke ruangan, Dok. Kayaknya tadi baru sampai."


Genta mengangguk-angguk. Ia kembali menuliskan resep.


Dan Geisha peka. Ia memicing mata tidak suka.


"Kahla? Siapa dia?"


...🌾🌾🌾 bersambung🌾🌾🌾...

__ADS_1


Banyakin dong komen sama like nya biar aku cemunguttt💪💪. Sehat selalu ya guyss.


__ADS_2