Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Kembalilah Padaku.


__ADS_3

"Apakah saya boleh menginap semalam saja, Pak? Sampai saya menemukan rumah sewa di sekitaran ponpes?"


"Menginap tidak diperkenankan. Kalau hanya berbaring selama dua jam. Akan kami izinkan. Hitung-hitung untuk melepas lelah."


Karena permintaannya tidak dikabulkan. Mau apa boleh buat, Geisha hanya bisa berbaring di kamar ini yang hanya berukuran 3x3 meter. Kamar yang akan ditempati suaminya selama dua bulan di ponpes ini.


Ada satu ranjang yang cukup ditempati satu orang, lemari, meja dan kipas angin. Tidak ada tivi untuk penghibur diri dan tentu saja tidak boleh ada gawai. Gawai milik Genta sudah di pegang oleh Gus Rumi. Genta akan diizinkan untuk menelepon Geisha atau orang lain setelah Ba'da Isya.


Sudah dibayangkan bagaimana kelabu nya hidup Genta selama dua bulan kedepan.


Geisha memiringkan tubuh, menyandar dinding. Agar mereka berdua muat di ranjang ini. Wanita itu terus mengusap lembut tubuh Genta, seraya tengah menina bobokan.


Geisha tilik wajah suaminya, serta berkali-kali mengecup sayang. Ada bekas air mata yang tertahan di sudut mata lelaki itu. Gus Rumi meminta Genta untuk istirahat dulu, sampai sepuluh menit sebelum Adzan Ashar menggema.


"Aku ingin sembuh, Sha. Tapi, aku enggak bisa kalau enggak ada kamu."


Seuntai kata yang terngiang-ngiang di kepala Geisha, ketika suaminya hendak memejam mata. Ia pun tidak tega. Dan ia juga tidak suka untuk tinggal sendirian. Walau mencari kos-kosan di sekitar sini pun rasanya percuma. Karena, Genta tidak boleh sembarang dijenguk atau dirinya yang keluar dari ponpes.


Mau tinggal di rumah Bunda dan Ayah pun rasanya tidak mungkin. Luka di wajahnya akan membuat kedua orang tua Geisha meradang.


Belum lagi, lima hari lagi, Ginka akan menikah. Ia masih bingung memberikan alasan apa untuk tidak datang. Ingin menjerit sedih, mengapa setega ini jadinya tidak bisa mendatangi pesta pernikahan adik sendiri. Keluarganya pasti akan meradang.


Hanya Genta lah yang mampu membuat hidup Geisha jadi jungkir balik seperti ini.


"Sha ...."


"Hem?" Geisha menjawab lembut gumaman suaminya diiringi dengan dengkuran halus. Seakan tengah mimpi buruk, Genta eratkan tangannya di perut sang istri. Peluh banjir dan Geisha seka dengan tangannya serta tiupan dari bibirnya ke arah wajah Genta.


"Ssst ...." mencoba menenangkan suaminya. Mendekap lebih erat. "Tenang, sayang. Tenang. Jalani semua ini lapang dada. Seperti aku yang menerimamu apa adanya ...." kaca-kaca di bola mata Geisha kembali tampak.


"Aku enggak boleh lemah! Aku harus kuat! Harus!" Geisha kibarkan bendera semangat dalam diri. Ia seka rapih air matanya.


Genta yang sempat terlihat tidak nyenyak. Kini, mulai tenang. Ia mengurai dekapan Geisha tanpa membuka mata, berbalik badan memunggungi sang istri. Jika Genta sudah memeluk guling, itu artinya ia sudah terlelap.


Geisha bergegas, pelan-pelan melangkahi tubuh suaminya untuk turun dari ranjang sempit ini. Ia ingin membenahi pakaian-pakaian Genta dari koper, untuk di tata rapih di lemari. Walau ia tahu, tatanan dari hasil tangannya tidak akan serapih Gentala.


"Jika kamu rindu aku, kamu bisa tatap foto ini, Mas." Geisha meletakan foto pernikahan mereka di atas meja sebelah vas bunga. Karena setelah kepergian Geisha dari ponpes ini. Gentala hanya bisa menikmati bayangan sang istri tanpa bisa intim seperti kemarin-kemarin.


...🌾🌾🌾🌾...


"SHA!!" teriakan Genta, tidak Geisha gubris. Lelaki itu terus berteriak menyerukan namanya dari lantai tiga, sembari mengejar Geisha yang terus melebarkan langkah untuk keluar dari halaman ponpes menuju mobil. Geisha pergi di saat Genta tertidur. Jika ia pamit dalam keadaan Genta sadar, lelaki itu pasti akan merengek dan ia tidak akan tega.


"GEISHA!!!"


Suara semakin nyaring, membuat Geisha dari balik cadar nya menoleh. Ia lambaikan tangan ke arah Gentala sebagai tanda perpisahan.


Air bening memupuk kembali di kelopak. Saat ia melihat langkah suaminya terhenti di pertengahan halaman ponpes. Karena gerbang segera ditutup oleh penjaga. Geisha menangis, menundukkan kepala. Meremat kain kerudung di dada, menekan rasa sesak yang sulit ia tahan.


"Ya Allah. Tolong kuatkan saya ... kuatkan!" dan ia tidak mampu menahan air matanya. Ia berjongkok di sebelah badan mobil. Menenggelamkan kepalanya di lutut. Menangis terisak.


"Sayang ...." Genta seraya santri kecil yang habis ditinggal orang tuanya. Ia berdiri di dalam gerbang, mengulurkan tangan dari sela-sela pagar.


"Jangan pergi, Sha."


Geisha bangkit berdiri. Sekuatnya ia tidak mau menghiraukan lelaki itu. Melangkah cepat masuk ke dalam mobil. Sebisanya menutup telinga, di saat Genta kembali menyerukan namanya.


"Aku pamit, sayang. Jaga dirimu baik-baik. Cepat sembuh," ujarnya terus melajukan mobil meninggalkan kota ini untuk kembali pulang ke Jakarta.

__ADS_1


...🌾🌾🌾...


"Apa?" suara Ayah yang biasanya teduh, kini, meninggi. Membuat jantung Geisha berdentam.


"Gimana sih kamu, Sha. Minggu Adikmu ini nikah. Kenapa malah pergi bulan madu?" Ayah kecewa di sambungan telepon. Terdengar ada suara Bunda seraya menenangkan sang Ayah. Geisha hanya mematung bingung, benarkah alasan ini pas untuknya?


Baju seragam sudah Geisha jahit dari jauh-jauh hari dan hanya bisa di tatap tanpa bisa di pakai, berfoto ria bersama Ginka dan keluarga besar.


"Maaf, yah," balas Geisha pelan.


Setelah shalat Isya, Geisha mantap menghubungi Ayah, dengan alasan ia tidak bisa menghadiri acara pernikahan Ginka karena dirinya tengah berbulan madu bersama Genta di Swiss. Padahal tidak tahu saja mereka, Genta dan Geisha tengah sakit.


"Nak ...." Bunda mengambil gawai dari tangan Ayah. "Kamu jangan bercanda, Sha. Adikmu akan nangis loh kalau tau Kakaknya nggak datang. Bisma saja sampai bela-belain pulang dulu dari Papua. Masa kamu enggak bisa, Nak."


Suara Bunda yang lembut, membuat telaga bening di matanya menyembul lagi. Jika bisa, ia ingin mengatakan hal sejujurnya. Tapi, ini adalah aib suaminya. Aib nya juga. Suami istri jika berkelahi, mungkin akan cepat baik. Tapi, orang tua? Ketika melihat anaknya tersakiti oleh menantu. Rasa simpatik pasti akan terkikis. Walau alasannya Genta sakit, namun ia tetap urung.


"Maaf, ya, Bun. Tolong bilang sama Ginka. Sampaikan maaf aku untuknya."


Tut.


Sambungan telepon Geisha matikan. Buru-buru menonaktifkan ponsel agar Bunda tidak lagi menelepon dirinya.


Hiks ... hiks.


Geisha menangis seorang diri di kamar ini. Ia tatap sisi sebelahnya, yang mana tidak ada lagi jejak Genta menempati ranjang ini. Ia rindu lelaki itu, ingin memeluk untuk menumpahkan rasa gelisah.


"Sedang apa, ya, Mas Genta?" tanya nya tanpa mau menelepon. Geisha masih belum mau mendengar suara lelaki itu. Ia yakin, Genta pasti akan merengek minta pulang. Ia takut dirinya kalap, dan menjemput lelaki itu sekarang juga.


Di sini. Di bawah langit gelap. Genta tengah duduk di taman setelah menunaikan shalat Isya berjamaah. Beberapa kali menghubungi Geisha, namun ponsel wanita nya di seberang sana, tidak aktif. Genta merasa gegana, khawatir dan cemas membiarkan Geisha seorang diri di rumah.


Karena Genta belum bisa mengaji. Maka ia akan digempur untuk bisa mengenal ayat-ayat Al-Quran, minimal lulus Iqra enam atau hafal surah-surah pendek pada Juz Amma. Belum lagi, pukul dua dini hari. Ia akan dibangunkan untuk mandi dan shalat malam dan berdzikir sampai subuh. Setelah itu tidak boleh tidur. Kembali berdzikir sampai masuk waktu Duha.


Kegiatan Dogen akan ketat sekali.


...🌾🌾🌾🌾...


Malam ke empat tanpa Geisha. Pun sama dengan Gentala. Pasutri yang seharusnya tengah merasakan masa-masa indah pernikahan, malah berpisah. Hanya dengan memandang bintang yang sama, seolah mereka tengah berkomunikasi.


Setiap bada Isya. Geisha akan selalu menelepon suaminya di sana. Menanyakan apa kah ada perbedaan?


"Aku masih belum bisa shalat dengan baik. Ngaji pun enggak bisa. Jadi, jadwal ku di sini padat banget, Sayang. Kamu ke sini nya kapan? Aku kangen kamu. Pengin peluk, pengin----"


"Mas Genta, sudah habis waktu teleponan nya. Gus Rumi meminta ponsel untuk di kembalikan," ujar Hasan. Anak santri kepercayaan Gus Rumi.


"Lima belas menit lagi, ya. Atau nanti kamu aku kasih uang. Kalau istriku ke sini, aku janji akan membayarmu. Sekarang aku tidak pegang uang," Genta merayu Hasan. Bisa Geisha dengar dengan jelas perbincangan Genta dengan Hasan di sana.


"Mas ... Mas ...," seru Geisha agar Genta kembali menyimak ucapannya. "Aku udah ngantuk. Aku tidur duluan, ya. Kamu juga tidur. Wassalammualaikum, Mas ...." gegas Geisha memutus sambungan itu. Ia harus bisa tegas untuk menyikapi sikap Genta yang seakan belum kerasan di sana. Karena di setiap pembicaraan mereka yang terasa sempit, Genta akan merengek minta di tengok dan terakhir minta di jemput.


Geisha memandang atap kamar. Seraya menelisik wajah suami nya yang mana lelaki itu mengadu kalau sudah turun empat kilo karena tidak napsu makan selama di ponpes.


"Sabar dulu, ya, Mas. Kalau mau sembuh memang begini. Harus merasakan obat pahitnya dulu," gumamnya sendiri. Lantas ia turunkan matanya untuk menatap gamis panjang beserta hijab dan cadarnya sudah Geisha tata rapih di sofa. Ia akan kenakan baju itu besok di pernikahan Ginka. Ia akan menyamar menjadi tamu undangan.


...🌾🌾🌾...


Melangkah lemah menuju ballroom hotel. Tempat di mana sang Adik akan melepas masa lajang. Inginnya ia datang ke sini bukan untuk menyamar, tetapi sebagai Kakak yang akan mengantar Ginka untuk duduk di meja akad.


Geisha menonaktifkan ponselnya hari ini. Ia tahu, semua keluarga besar pasti akan mencari keberadaannya. Pun dengan Eldy. Yang mana semalam lelaki itu mengirimkan pesan masuk, kalau dirinya rindu Geisha.

__ADS_1


Geisha melangkah menuju meja penerima tamu. Di sana sudah ada Aurora dan Attaya, anak-anak dari Om nya.


"Silahkan, Mbak ...." para sepupu perempuannya ini mempersilahkan Geisha untuk tanda tangan di buku tamu dan mendapatkan kupon untuk gift. Cukup lama Geisha hening dengan pulpen yang masih berada di apitan jarinya. Membuat Rora dan Taya menaut alis bingung.


"Mbak?" Taya seraya bertanya, ada apa dengan wanita bercadar ini. Geisha menatap mereka berdua. Dan di saat Rora seakan menilik serius bola mata Geisha. Geisha lebih lebih dulu memutus kontak mata tersebut, ia tidak ingin di kenali. Lekas, membubuhkan tanda tangan dan ia tuliskan dengan nama Dias di buku tamu ini.


Geisha hanya memberikan kedua tangan menyatu di depan dada sebagai ungkapan terima kasih. Ia tidak mungkin bersuara. Rora dan Taya pasti mengenalinya.


"Seperti, Kak Geisha, ya," ucap Rora kepada Adiknya. "Mirip aja kali, Kak," balas Taya santai.


Bisikan pelan itu masih bisa ditangkap Geisha saat ia melangkah lagi untuk masuk ke dalam. Ia harus berhati-hati menjaga tatapan mata, takut ada yang mengenalinya. Lebam-lebam di wajahnya belum seutuhnya menghilang. Giginya saja masih terasa linu. Dan Genta masih di ponpes. Tidak mungkin ia datang dengan keadaan menyedihkan seperti ini.


Baru saja langkah kaki nya akan mendarat melewati ambang pintu ballroom. Tangannya segera di tarik paksa. Membuat daksanya terguncang seakan melihat hantu.


"Mas?" serunya tidak percaya. Mengapa lelaki ini bisa mengenali dirinya.


"Ya Allah, tolong saya ...." Geisha membatin.


"Ikut aku, Sha!" lelaki itu membawa Geisha menjauh dari ballroom dengan langkah panjang.


"Lepasin, Mas! Aku ini istri orang!" Geisha menepis tangan Andre saat menggandeng paksa menuju taman. Dan di sini lah mereka berada.


"Untuk apa kamu berpakaian seperti ini?"


Alis Geisha menaut. "Loh kenapa? Ini pakaian yang paling Allah sukai---"


Andre menyela dengan desisan geli. "Hanya untuk memainkan drama, agar suamimu selamat?" Andre menarik cadar dari wajah Geisha. Dan ia tidak syok lagi dengan apa yang ia lihat dari wajah wanita yang masih ia sukai sampai detik ini.


"Kembali padaku, Sha. Tinggalkan Genta. Dia hanya akan menyakitimu. Genta tidak akan pernah bisa berubah," mohon Andre. Ia tidak tega melihat keadaan wajah Geisha. Dan semakin ikut menderita, di saat melihat ada kawat splin masih melingkar di gigi geligi Geisha.


"Menerima jandamu, aku ikhlas, Sha," timpalnya lagi.


"Mas, cukup. Jangan adili suamiku layaknya kamu orang suci. Sekarang Mas Genta tengah berada di pondok pesantren. Aku yakin sebentar lagi, Mas Genta, akan sembuh!"


Andre menggelengkan kepala. Ia tidak suka mendengar hal itu. Kemarin-kemarin di saat Genta meminta maaf, seakan Andre sudah memaafkan dan melepaskan. Tapi sekarang, karena melihat keadaan Geisha yang seperti ini. Rasanya dirinya begitu terluka. Ia ingin merengkuh wanita ini lagi. Menjaga psikisnya agar tidak terganggu.


"Jika kamu masih menutupi hal ini dari orang tuamu. Aku yang akan bilang!"


Geisha menajamkan mata ke arah Andre. Dan kabut bening kembali menghias matanya. Andre mencoba mengalihkan pandangan. Hal yang membuat ia tidak sanggup adalah saat melihat wanita menangis di hadapannya.


"Aku tau, aku pernah menyakitimu. Mungkin sampai detik ini, kamu belum bisa memaafkan. Tapi, tolong, Mas. Jangan balas kan dendamu sekarang. Biarkan aku menikmati jalan pernikahan Ginka dengan caraku."


"Demi dia? Kamu tega menyakiti hati Adikmu dan keluargamu? Membiarkan orang menghujat karena di rasa kamu tidak sayang kepada Ginka?"


"Aku tidak perlu opini orang! Adikku tidak akan terluka. Sejatinya aku ada di sini dan mendoakannya. Kontak batin antara kami pasti tercipta. Semoga kamu sehat selalu, Mas. Aku permisi."


Andre menghela napas panjang, mengusap wajah kasar. Ia menatap kepergian Geisha dengan gelengan kepala tidak percaya.


"Sebesar itu kah cintamu untuk Genta, Sha?" raut sedih Andre pun tampak. Tidak tahan menahan kesal, lelaki itu pun berteriak untuk menumpahkan kekecewaannya.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


...sampai ketemu minggu depan❤️❤️...


sabar, ya. Kalian itu kuat🤍


__ADS_1


__ADS_2