Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Kembalilah Kepada Allah, Dok.


__ADS_3

"Ayah! Sini!" Bunda Maura melambaikan tangan kepada Ayah Gifa yang sedang asik mengemili bulir-bulir stik keju di toples, saat ini Ayah tengah menonton acara debat di televisi.


Ayah mengangkat dagu nya, seraya bertanya ada apa, karena ia sedang mengunyah tidak bisa membalas sautan.


Bunda melangkah, meninggalkan daun pintu kamar Geisha yang tadi ia buka sedikit menuju suaminya di sofa.


"Kenapa, Sayang?" tanya Ayah, sesudah menenggak air minum untuk mendorong kunyahan stik keju.


"Anak kita pakai hijab, Yah," tukas Bunda senang.


"Maaa--masa??" tanya Ayah tergagap. Beliau tidak percaya.


"Ayo kita intip. Biar Ayah percaya." Bunda menggandeng Ayah untuk ia bawa, menuju kamar Geisha yang tidak jauh dari ruang tivi.


Bunda mendorong pintu kamar sedikit, agar mereka berdua bisa leluasa mengintip putrinya yang sudah seminggu ini murung dan tidak bisa di ajak bicara.


Semenjak lontaran kata yang menyakitkan dari Gentala kepada Geisha. Gadis itu jatuh sakit. Ia absen seminggu dari tugasnya menjadi Koas di Rumah Sakit.


Pun dengan Gentala. Lelaki itu kalang kabut, karena tidak lagi melihat Geisha selama seminggu ini. Tapi, sebisa mungkin ia tahan. Walau dadanya bergemuruh, saat ia tahu Geisha jatuh sakit. Genta meminta Suster Lala untuk menanyakan Geisha, mengapa gadis itu tidak pernah datang ke Rumah Sakit.


Lauren dan Vina juga sering menyempatkan waktu untuk menjenguk Geisha. Membantu gadis itu membuat laporan tugas yang harus mereka kumpulkan tiga hari lagi, karena jadwal stase bedah akan berakhir. Dan di saat itu lah, Geisha akan minim bertemu dengan Gentala. Pun dengan Eldy. Setiap hari pulang dari kampus, lelaki itu akan membawakan makanan kesukaan Geisha. Ia ingin Geisha cepat sembuh.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Khumairah, Anak Ayah ...." tak tahan menahan rasa senang, Ayah melangkah masuk ke kamar sambil berseru. Geisha yang sedang terduduk di kursi menatap cermin rias, menoleh. Bola-bola merah tercetak jelas di tulang pipi Geisha, si Khumairah menunduk malu.


"Cantik banget, Nak. Adem Ayah lihatnya." Ayah berdiri di belakang Geisha, memegang kedua pundak anaknya. Bunda menarik kursi untuk duduk di sebelah Geisha. Tangan Bunda terulur untuk membetulkan lilitan pashmina yang terasa belum rapih di kepala putrinya.


Geisha tersenyum. "Makasih, Yah, Bun. Doain Geisha, Insya Allah Geisha mantap berhijab."


Keduanya mengangguk senang. "Aamiin, Ya Allah. Bunda dan Ayah pasti doain, Kakak." Ayah melabuhkan kecupan di pucuk kepala Geisha. Begitu pun Bunda, ia mencium pipi putrinya berkali-kali.


"Seminggu ini ada apa sih, Nak? Kok murung terus?" Bunda mulai membuka pembicaraan. Geisha memandang lagi wajahnya yang terlihat mengurus di cermin, lantas menggeleng.


Selama ini, ia menyimpan sendiri lukanya. Menangis sebisanya, meluapkan rasa sakit dengan berteriak dalam diam. Geisha bersimpuh kepada Allah agar meminta di lupakan soal Gentala. Tolong di hilangkan rasa cinta di hati nya. Geisha tutup bayangan menyakitkan itu dengan menyibukkan diri dengan shalat malam, mengaji, berdzikir dan mendengarkan ceramah dari televisi dan Youtube.


Dan Allah membayar sakit hati yang Geisha alami sekarang dengan sebuah hidayah dari-Nya. Geisha mantap memakai hijab.


"Kalau memang ada masalah yang cukup menyiksa batin. Bicara sama Ayah dan Bunda. Biar kamu lega. Jangan di pendam!" pinta Ayah.


"Apa kamu ada masalah sama teman? Kuliah? Dosen? Atau ... lelaki barangkali?" Bunda memaksa. Geisha menangkap raut takut dari wajah Bundanya. Bunda yakin Geisha sedang patah hati.


Ayah menghalau ucapan Bunda. "Geisha enggak boleh pacaran. Kalau mau nikah boleh. Bawa lelaki nya ke sini, kenalin dulu sama Ayah."


Ayah berpesan kepada semua anaknya. Jika sedang menyukai lawan jenis, lebih baik menikah. Menikah itu lebih baik. Tidak perduli umur masih muda, yang penting tidak berzinah. Memadu kasih tanpa ikatan pernikahan sama saja memupuk tubuh dalam kesialan.


Geisha menunduk sedih. Jika saja Genta tidak berubah, mungkin lelaki itu bisa ia bawa untuk bertemu dengan Ayah dan Bunda.


Geisha menatap Ayah dan Bunda lewat cermin. Ia tersenyum. "Insya Allah, Geisha enggak apa-apa, Yah, Bun. Kemarin hanya capek aja sama kuliah dan ada selisih paham sama teman. Alhamdulillah sekarang sudah membaik." Geisha berkilah. Ia sudah mantap untuk melupakan Genta. Mumpung rasa cintanya belum berlanjut dalam waktu yang cukup lama, ia yakin dirinya bisa move on.


Ayah dan Bunda mengangguk percaya.


"Ya Allah, bantu aku. Hilangkan Genta dari hatiku. Aamiin." Geisha membatin. Seraya memaksa agar cepat di lupakan.

__ADS_1


"Kak, kamu ingat enggak sama Andre?"


Geisha seraya mengingat lelaki yang di maksud oleh Bunda.


"Om Andre, Bun? Adiknya Tante Sandra?" Sandra adalah teman sepengajian Bunda. Beliau memiliki Adik lelaki yang belum menikah, seorang Dokter Spesialis Jiwa. Dokter sekaligus sahabat yang selama ini berusaha untuk terus mengobati Gentala. Andre memang sudah dewasa, usianya sebaya dengan Genta. Namun, lelaki itu belum menikah. Andre berasa belum menemukan wanita yang tepat. Karena umurnya jauh, Geisha suka menyebutnya dengan sapaan Om.


"Iya, yang suka anterin dimsum." karena Andre masih bujangan, ia di titah untuk tinggal bersama Kakaknya yang sudah janda, karena rumah terasa kosong. Anak perempuan Sandra sedang sibuk-sibuknya kuliah di luar negeri.


Bunda suka sekali dimsum. Maka Sandra suka mengirimkan dimsum lewat Andre ke rumah.


"Bunda dan Ayah bermaksud untuk menjodohkan kalian. Andre itu gagah, rajin shalat, pintar mengaji. Sudah jadi Dokter spesialis lagi. Sama tuh profesinya sama kamu, Nak." bujuk Bunda.


Ayah hanya diam saja menurut ucapan istri nya. Bagi Ayah, yang penting calon menantunya bisa mengerjakan shalat dan mengaji, maka bisa lulus untuk di jadikan menantu.


"Baik orangnya, Bun?" Geisha memastikan. Sekilas, mereka memang sering bertemu jika Andre datang ke rumah. Namun Geisha tidak pernah mengobrol atau basa-basi kepada lelaki itu.


"Baik banget. Sopan dan soleh lagi." Bunda semakin menaikan sosok Andre yang baik-baik, sesaat ia tahu raut Geisha tidak lagi menolak seperti pada saat Ayah ingin menjodohkan Geisha dengan anak-anak temannya.


Padahal selama ini Geisha selalu menolak perjodohan, walau ia menginginkan suatu pernikahan. Geisha ingin menikah dengan lelaki yang ia cintai sepenuh hati. Tapi, merasa cintanya terkhianati dengan lelaki yang ia sayang. Geisha seakan trauma untuk tetap mencari lelaki sesuai pilihan hatinya.


Dengan masalah Genta, ia menjadi yakin, bahwa dirinya memang akan menikah dengan perjodohan dari orang tua nya. Restu Ayah Bunda seakan paling mujarab.


"Iya, Bunda. Geisha mau."


Ayah dan Bunda menghela napas lega. "Alhamdulillah. Ketemuan aja dulu, ya. Saling mengenal. Kalau Geisha sudah mantap, akhir bulan Ayah akan menikahkan kalian." tukas Ayah.


"Kayaknya nanti malam kita undang aja Sandra dan Andre untuk makan malam, biar kalian cepat bertemu."


Sejatinya, Andre Fayd. Memang jatuh hati sejak pertama kali melihat Geisha. Walau baru sebatas suka, karena mengagumi kecantikan yang di miliki Geisha. Jadi, pada saat Sandra mengatakan ingin mempertemukan Andre dengan Geisha dalam tali perjodohan, lelaki itu mengangguk setuju.


...🌾🌾🌾...


Genta termenung. Selama seminggu ini lelaki berparas bule itu kerjaannya selalu melamun. Tadi saja saat ingin pergi praktek, ia tidak mandi karena malas. Ia hanya ingin bertemu Geisha, merengkuh wanita itu lagi. Pagi yang cerah seakan berubah menjadi malam yang paling gelap. Begitulah suasana hatinya sekarang.


"Saya kangen, Sha. Saya pengin lihat kamu. Dengar suara kamu." Gentala bermonolog dalam hati. Dadanya terasa bolong, seperti di hujam ujung panah yang begitu panas, karena separuh jiwanya menghilang karena ulah jahatnya.


"Gimana sekarang kabar kamu? Sudah sembuh belum?" Genta semakin terbayang-bayang wajah bidadari hatinya.


Ia melirik ke sudut meja. Tidak lagi ia temukan sebotol air lemon dan kotak makanan berisi roti gandum. Tidak lagi ia dengar suara berisik Geisha. Tidak lagi ia baca pesan pengingat untuk shalat, yang mana belum bisa menggetarkan hatinya sampai detik ini.


Napsu makan Genta seminggu ini pun menghilang, membuat ia turun dua kilo. Genta kembali meminum alkohol untuk menghilangkan penat, stress dan bayangan Geisha.


"Dok ...." Suster Lala menepuk bahunya. Genta yang masih terduduk melamun di kursi, lantas terlonjak.


"Iya, Bu?"


"Dokter kenapa? Sakit?"


Genta menggeleng dan mengulas senyum tipis. "Enggak, Bu. Saya sehat-sehat aja."


"Dokter enggak jenguk Dokter Geisha?"

__ADS_1


Genta terdiam. Ia menggeleng lagi dengan gerakan dada yang naik turun menahan sesak. Dan Suster Lala dapat menangkapnya.


"Ada apa 'sih, Dok? Kalian ini pacaran? Atau gimana? Biasanya kan cerita sama Ibu." Suster Lala memaksa agar Dogen mau bercerita.


Gentala tidak memiliki siapapun di sini selain Suster Lala untuk dijadikan bahan curhatannya, maka lelaki itu mulai bertutur. "Saya sudah menyakitinya, Bu. Saya bilang sama dia, agar hubungan kita berdua, kembali seperti biasa saja."


"Ya Allah!" seru Suster Lala. Pasalnya ia tahu, bagaimana perhatian yang Geisha berikan kepada lelaki ini.


"Kok gitu, Dok? Dokter Geisha tuh baik lho, Dok. Perhatian banget sama Dokter. Minumnya Dokter, Makannya Dokter, semua di siapin, udah kayak calon istri. Masa Dokter tega? Apa Dokter enggak suka selama ini sama dia?"


Genta memejam mata. Mengingat semua kenangan yang sudah ia lewati bersama Geisha selama sebulan ini. Bahkan di layar gawai Genta, ia pasang foto Geisha yang sedang makan bersamanya, secara diam-diam.


"Saya sayang, Bu. Sayang banget." lirih sekali nada suara itu. Hati Suster Lala saja sampai berdesir. Ia dapat menangkap genangan air bening di pelupuk mata Gentala.


"Tapi, kan Ibu tau. Saya ini gimana? Saya sakit!" Genta seakan mengingatkan siapa dirinya. Hatinya kembali pilu. Jika ia boleh memilih, ia lebih memilih mati dari pada hidup. Jika jalan hidupnya akan selalu seperti ini.


Suster Lala mendesahkan napas panjang dengan tatapan sendu. Sedih sekali menatap nasib Genta. "Dok, dengar Ibu! Sudah saatnya Dokter berobat. Percaya diri lagi, hilangkan beban yang berat selama ini. Maafkan kesalahan orang tua Dokter di masa lalu. Dokter butuh hidup bahagia. Ibu yakin, Dokter Geisha pasti mau menerima Dokter. Dari matanya nya aja terlihat banget, kalau dia tulus. Malah beda banget sama, Kahla dan Avika." Suster Lala mulai membandingkan.


Genta menggeleng pelan, wajah nya frustrasi.


"Saya enggak yakin, Bu. Geisha bisa aja meninggalkan, seperti para mantan istri saya."


"Makanya Dokter shalat! Minta kepada Allah, agar penyakit Dokter di sembuhkan. Siapa tahu Allah mengirimkan Dokter Geisha untuk jadi pengobat Dokter."


"Tuhan sudah benci sama saya, Bu. Mungkin sudah mengutuk saya."


Suster Lala terus meyakinkan. "Allah maha pengampun, Dok. Maha penerima apapun yang terjadi dengan para hambanya. Belum ada kata telat."


Genta diam. Ia tidak bisa memberikan komentar apapun, karena hatinya memang masih belum di getarkan oleh Semesta. Suster Lala mengiba akan hal itu. Ia berharap Geisha bisa membantu Genta untuk menjemput hidayah-Nya.


"Raih lagi Dokter Geisha, Dok. Sayang banget kalau di lepas gitu aja. Sudah cantik, sederhana, baik, royal dan sopan. Sangat menghormati orang yang lebih tua. Apalagi kurangnya, Dok? Dokter mau, kalau Dokter Geisha dilirik sama lelaki lain?"


DEG.


Tubuh Genta mendadak panas. Seakan aliran darah yang mendidih, menyetrum kepalanya. Mengapa tidak terpikirkan masalah itu di benaknya? Menjauh dan tidak berkabar seminggu saja, sudah membuat hati Genta resah, melakukan hal apapun tidak konsen. Apalagi tahu, jika gadis itu mungkin akan menemukan cinta yang baru dan melupakan dirinya.


"Enggak, Bu. Enggak!" Genta menolak. Lelaki itu membantah.


"Geisha hanya untuk saya, Bu. Hanya saya yang boleh miliki dia." tanpa sadar, Genta mengeluarkan keinginannya.


Suster Lala tersenyum, ia senang melihat Genta mempunyai semangat hidup lagi. Karena selama dengan Geisha, Genta bisa menebar senyum kepada semua orang tidak angkuh seperti dulu-dulu.


"Rengkuh lagi dokter Geisha. Nyatakan perasaan Dokter yang sesungguhnya. Seiring itu, Dokter berobat lagi, Ibu yakin Dokter pasti sembuh. Penyakit ini harus di lawan, Dok. Jangan di hindari."


Suster Lala terus membakar semangat Gentala. Seakan mendapatkan motivasi yang membuat jiwanya kembali bangkit dari keterpurukan, ia mengangguk dengan senyuman renjana.


Genta meraih punggung tangan Suster Lala untuk di cium sebagai tanda hormat. "Makasih banyak, Bu. Sudah mau mendengarkan keluh kesah saya selama ini." Genta begitu tenang, seakan berbicara dengan Mami.


Suster Lala mengusap lembut lengan Gentala seperti kepada anak sendiri. "Sama-sama, Dok. Ayo jemput kebahagiaan Dokter bersama Dokter Geisha."


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...

__ADS_1


__ADS_2