
Gentala memilih masuk ke kamar mandi dan mengurung diri di sana. Lelaki itu frustrasi karena setelah melakukan pengobatan ke dokter spesialis jiwa sebulan penuh sebelum menikah, nyatanya belum membuahkan hasil. Padahal ia sudah rajin kontrol ke dokter tiga hari sekali, rajin olahraga, dan meminum beberapa obat khusus yang dokter berikan. Tetap saja hasilnya nihil.
Euforia dalam tindakan sadisme nya masih kental mengalir di kepala. Genta belum mampu mengimbangi dan tentu tidak akan semudah itu untuk hilang. Genta butuh waktu yang cukup lama untuk berdamai dengan dirinya.
Geisha sudah memakai baju, ia sampai tidak shalat Ashar karena wudhu nya setelah mandi menjadi batal berkat cumbu rayu yang Gentala lakukan dua jam lalu.
"Sayang ... kok lama banget di kamar mandi? Sudah dua jam, Mas. Sebentar lagi mau Maghrib." dan yang diserukan hanya diam membatu di dalam.
Gentala duduk menyandar di badan bath up. Lelaki itu semakin sesak, lehernya terasa tercekik. Bagaimana dengan malam pertama mereka sebentar lagi? Dengan cumbuan saja Geisha sudah merasa tersakiti. Sampai saat ini saja, Geisha sesekali masih memegangi bibir dan dadanya yang masih terasa panas dan sakit.
"Sayang ...," seru Geisha lagi. Melihat Gentala histeris seperti tadi, ia kaget setengah mati. Seakan melihat sesosok psiko hadir begitu nyata di hadapannya. Seakan mengingat ucapan Kahla dan menyimpulkan. Tapi, Geisha menepis dugaan yang tidak baik itu. Ia memilih beristighfar untuk menenangkan batin. Ia yakin suaminya adalah lelaki yang tidak bermasalah.
"Bibir dan dada aku udah enggak sakit 'kok, Mas. Sudah aku oles dengan min----"
Geisha menghentikan suaranya manakala pintu kamar mandi terbuka, menyembul lah lelaki yang baru beberapa jam resmi ia nikahi.
Gentala langsung memeluk Geisha. "Maaf."
Geisha mengangguk. "Aku tau kamu hanya gemas, maklum lah kamu duda udah lama nganggur," balasnya dengan kekehan. Geisha memilih mencairkan suasana agar kembali hangat. Yang ia tahu, Genta merasa bersalah karena sudah kasar kepadanya.
Gentala hanya diam, menatap ranjang megah yang masih ditaburi kelopak bunga mawar berbentuk hati dan handuk yang dirangkai seperti dua bebek angsa. Dalam pelukan itu, Genta memejam mata. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Geisha pasti menunggu malam pertama mereka, dan kejadian menyakiti pasti akan Genta lakukan lagi.
Geisha mengurai dekapan. "Kenapa?" tanya Genta.
"Perutku kayaknya sakit, Mas." Geisha terlihat meringis.
"Sakit?" Genta meraba perut istrinya. "Bagian mana?" tanyanya memastikan.
"Aku masuk dulu, ya, Mas." Geisha izin ke kamar mandi, bergegas menutup pintu cepat. Insting tidak baik melingkup di benaknya.
"Duh jangan sampai aku haid sekarang!!!" gumam Geisha kesal. Dan benar saja si tamu bulanan yang sangat membagongkan datang di waktu yang tidak tepat.
"Aaaaaahhhhhhhh!!" Geisha merajuk sedih seperti anak-anak manja yang sedang tidak di ijinkan main oleh Ayah dan Ibu. Geisha menghentak-hentak kakinya kesal.
Mendengar amukan istrinya dari dalam, membuar Gentala khawatir. "Kamu kenapa, Sha?"
"Mas ...." panggil Geisha sambil menangis kesal.
Genta menekan handel pintu kamar mandi. "Ayo buka pintunya! Kamu kenapa?" lelaki itu semakin cemas.
Cicitan sendu pun terdengar dari dalam. "Aku haid, Mas."
__ADS_1
Jika Geisha merengut, berbeda dengan Gentala, lelaki itu gembira setengah mati. Genta mengusap dada, ia temukan rasa lega di dalam sana. "Aku masih ada waktu untuk berobat lagi." Genta membatin.
Dirasa lawan bicaranya di luar hanya membisu, Geisha kembali bertanya. "Mas, kok diam? Sedih, ya, Mas? Kita enggak jadi malam pertama," ucap Geisha sambil menempelkan pembalut di kain segitiga bermuda.
Wanita itu tidak berang, padahal bekas darah di bibir nya masih terasa dan kulit dada yang panas karena terkelupas berkat buku-buku jari Gentala pada saat pertama kali mereka bercumbu rayu. Geisha tidak merasa janggal sama sekali, tentang apa yang tengah terjadi dengan suaminya sekarang.
"Enggak apa-apa, Sayang. Aku paham," balasnya dengan senyuman manis. Genta tetap menunggu Geisha dari luar pintu.
...🌾🌾🌾...
Jari-jemari Geisha sejak tadi bermain di lekukan wajah sang suami. Gentala, lelaki bule yang selalu ia panggil Oppa, dan Genta akan marah karena dianggap sudah tua. Padahal maksud Geisha, Opaa adalah kakak dalam bahasa Korea.
Berkali-kali Geisha mencium bibir Genta diam-diam. Dan sang suami yang masih menikmati mimpi di alam tidur nya sekilas bergeliat. "Cieh yang udah punya suami," ucapnya sendiri, seraya menggoda diri.
"Senangnya aku bisa miliki kamu, Mas," gumamnya lagi. Ia kecup lagi bibir Genta dan akhirnya lelaki itu pun mengerjapkan mata.
"Ngapain pagi-pagi udah nemplok kayak katak begini?" tanya Genta dengan kekehan kecil. Ia tatap Geisha yang sudah memeluk dadanya. Ia usap lembut rambut istrinya yang menjuntai.
"Lagi kangen sama ini ...." Geisha menjawil bibir Genta. "Pengin lagi kayak waktu itu."
"Bau jigong kayak begini, memangnya masih mau?"
Geisha tertawa. "Yaiyalah mau, kan udah jadi suami. Apapun kekurangan kamu harus aku terima, Mas," balas Geisha dengan gelak tawa.
Sehari setelah pernikahan, Genta mendatangi dokter kembali, ia meminta obat dan terapi kejiwaan lebih ketat lagi agar bisa menguasai diri. Setidaknya saat ia ingin melalukan malam pertamanya dengan sang istri, Geisha tidak mengalami hal menyakitkan. Dokter bilang Genta mampu kalau lelaki itu mau bersungguh-sungguh lebih serius lagi.
"Mas?" Geisha mendongak, ia menatap ke atas, ternyata lelaki itu tengah melamun menatap atap kamar. Genta masih enggan untuk jujur tentang penyakitnya, ia masih saja yakin kalau dirinya pasti bisa menguasai diri.
Genta turunkan tatapannya. "Iya, Sayangku." lantas mengecup dahi Geisha.
"Pengin, Mas ...." Geisha kembali menggoda. Ia beranjak ingin mencium bibir Genta, tetapi lelaki itu memalingkan wajah. "Nanti, ya. Habis selesai kamu haid."
Geisha mengerucutkan bibir. "Masih lama, Mas. Aku kalau haid tuh lama, seminggu."
"Ya terus gimana? Kalau aku cium kamu, yang ada junior aku tegang. Kan enggak mungkin merawanin kamu lagi haid gitu." sebisa mungkin Genta mengelak.
"Masa ciuman aja, bisa buat tegang?" Geisha mendengus, wanita itu masih saja tidak percaya. Geisha memang ketagihan. Cumbuan waktu itu sampai suka terbawa mimpi. Wajarlah, ia baru merasakan rasa yang begitu nikmat walau di akhir ia mendapat rasa yang tidak biasa, yaitu rasa sakit.
"Oh, iya. Aku lupa terus dari kemarin. Mau kasih kamu sesuatu," ucap Genta mengalihkan pembicaraan. Ia mengurai dekapan Geisha dan beranjak duduk.
"Lupa apa, Mas? Kamu mau kasih aku apa? Mahar yang kamu kasih aja udah kelewat luar biasa. Tanah sampai 4000 hektar, buat apa?"
__ADS_1
Genta tersenyum sambil mengambil dompetnya yang tergeletak di atas nakas. "Aku mau buatin kamu Rumah Sakit. Nanti pakai namamu sendiri. Namanya, RS Ibu dan Anak Geisha. Aku pengin kamu jadi Dokter Anak, mau enggak. Mulai saat ini aku yang akan bayarkan kuliah kamu sampai jadi dokter spesialis."
Geisha mengelus pipi suaminya yang sedikit memerah karena bekas tekanan bantal. Ia kecup pipi itu yang masih saja wangi, padahal baru bangun tidur. Dan Genta memejam mata, menahan hasrat yang selalu menggebu. Padahal setiap malam, lelaki itu selalu mengecup bibir dan mengelus pahanya.
"Makasih banyak, Mas. Apapun yang kamu mau, pasti akan aku turuti. Aku akan belajar terus, supaya jadi Dokter Anak yang handal." senyum yang masih mengalir tiba-tiba berubah. "Tapi, Ayah sama Bunda masih mau kok biayai aku sekolah, Mas," balasnya.
Genta menggeleng. "Kamu sudah aku nikahi. Berarti kamu itu tanggung jawab aku. Walau aku harus banting tulang untuk bekerja, enggak masalah. Aku juga sudah mendaftarkan diri ke beberapa RS lain, siapa tau ada lowongan."
"Di Rumah Sakit Nenek aja kamu udah keteter, Mas. Gimana di tempat lain?"
"Itu gampang, bisa aku atur," jawabnya. Genta membuka dompet mengeluarkan satu kartu ATM dari beberapa nya dalam dompet.
"Yang ini, ATM gajian. RS suka transfer ke sini." Genta menunjuk kartu ATM berwarna silver.
"Biasanya kamu gajian berapa, Mas?"
"Enggak tentu sih. Kadang besar, kadang sedang, kan tergantung pasien sama jumlah operasi. Kalau lagi banyak-banyaknya suka sampai 200 juta."
Manik mata Geisha membola takjub. "Aku benar-benar sudah jadi istri orang kaya sekarang ...," selorohnya.
Genta tertawa kecut. "Kamu yang lebih kaya, Sha. Kamu lahir dari keluarga konglomerat."
Geisha mengelak. "Itu harta orang tua, Mas. Bukan milikku," bantah Geisha. Ia tidak ingin Gentala merasa merendah diri.
Genta tertawa saja, ia memilih tidak membahas. "Kamu atur gaji ku untuk kebutuhan rumah tangga, kebutuhanmu, kebutuhanku, tabungan, orang tua dan zakat. Setiap bulan aku rutin mengirimkan Mami dan Papi, walau tidak seberapa. Sekarang kan sudah ada Ayah dan Bunda, jadi kamu bisa bagi rata. Dan untuk Suster Lala, serta anak-anak yang tidak ada ayah nya. Catatannya ada di buku ...."
Genta menjeda ucapannya, lelaki itu menunjuk ke arah note berwarna hitam yang tergeletak di meja. "Kamu bisa tau apa saja yang aku keluarkan selama sebulan. Semua sudah aku catat rapih, sengaja, biar kamu enggak pusing."
Air bening bergerumun di pelupuk mata Geisha. Lantas wanita itu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Aku baru tau kamu sebaik ini, Mas." tangis Geisha tumpah ruah. "Kamu sayang sama Ayah dan Bunda ku," imbuhnya lagi. Geisha terharu, mengingat bagaimana awalnya Ayah tidak menyukai Gentala.
"Tanggungan kamu jadi banyak---"
"Sst!! Udah ... udah," sela Genta. Ia bawa masuk Geisha ke dalam dadanya. "Doain aku, biar rezeki ku banyak. Biar aku bisa bahagiain kamu dan orang tua kita. Aku mau----"
"Aku enggak mau apa-apa, Mas. Aku hanya ingin kamu rajin shalat, bisa mengaji. Aku mau kamu yang tuntun aku dan anak-anak kita untuk bisa dapat bekal ke Jannah-Nya Allah." Geisha kembali menyela dalam sesegukanya.
DEG.
Jantung, paru dan hati Genta seakan terserak jatuh dan tercecer ketika nama Anak di sebut. Baru saja kemarin ia berkonsultasi ke Dokter untuk melakukan Vasektomi diam-diam. Menurutnya ini merupakan hal yang terbaik untuk dirinya dan Geisha.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
__ADS_1
Siapin jantung kalian, ya. Konflik akan aku mainkan. Dan nabung dari sekarang untuk beli bukunya🤗.