Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Anda Terluka?


__ADS_3

"Hhh ...." Geisha tertunduk dalam tangis. Terseguk-seguk sampai sulit untuk bernapas. Dada nya sesak menahan kecewa. Saat ini, dari hingar bingar acara lamaran Ginka yang baru saja di gelar. Geisha memilih untuk duduk menyendiri di taman belakang.


Ia sudah berusaha kuat. Tapi hatinya tetap saja patah. Bukan ia benci melihat Ginka yang sudah di lamar oleh pujaan hati dan semua keluarga besar bersorak gembira karenanya.


Tapi, karena Geisha benci dengan takdirnya. Lagi-lagi semangatnya luruh. Mental Geisha menciut. Apalagi para tante, Om, Kakek dan Nenek terus menyemangatinya. Seolah-olah ia yang paling merana di sini.


Tap.


Geisha mendongak saat ada sesosok lain duduk di sebelahnya.


"Lo ngapain di sini? Udah sana ke dalam!" titah Geisha kepada Eldy.


Eldy, sepupunya. Anak lelaki dari Tante Gadis dan Om Elang. Menghentak bahunya sendiri. "Sini, nyandar! Gue tau lo butuh!" Eldy menepuk bahunya lagi.


Isak Geisha pecah. Akhirnya ia menuruti ucapan Eldy. "Gue enggak kuat, El. Hati gue remuk!" keinginan Geisha untuk menikah semakin menggebu-gebu.


"Ya udah, kita nikah aja. Biar hati lo enggak remuk." jawab Eldy santai.


"Iihhhhhh!" Geisha mencubit perut Eldy. Dan lelaki itu tidak mengaduh. "Enggak mungkin lah, El! Kita tuh saudara!"


Eldy menautkan alis. "Kita saudara tapi enggak sedarah, Sha! Kakek Bilmar sama Nenek Alika aja yang sepupuan. Tapi bisa 'kok menikah. Bahagia aja sampai sekarang walau mereka kadang lupa sama pasangan masing-masing karena udah pikun. Tante Gana sama Om Ammar, walau----"


"Mereka tuh beda!"


Eldy menautkan alis. "Apanya beda?"


Geisha berpikir lama. Dan akhirnya mengalah karena dirinya memang salah.


"Iya sih, Om dan Tante bukan saudara sedarah."


Eldy tersenyum senang. "Nah 'kan, terus masalahnya apa?"


Geisha menggelengkan kepala dan tetap bersikukuh. "Pokoknya enggak bisa, El!"


"Enggak bisa nya dari mana, sih? Iya sama aja 'kan kayak kita? Tante Maura sama Mama aku juga 'kan enggak sepupu sedarah, Sha! Ibarat kasarnya tuh kita orang lain. Bisa belajar untuk saling mencintai." Eldy tetap memaksa.


"Lo tuh ngebet banget mau nikahin gue tujuannya apa 'sih?" Geisha menganggap Eldy hanya main-main.


"Ya, biar lo enggak galau aja!" Eldy menekan rasa cinta yang selama ini menyerbak di hati namun urung untuk ia ungkapkan. Gengsi lelaki ini cukup besar.


Sekali lagi Geisha menepuk bahu Eldy kasar. "Jangan berkorban segitunya sama gue, El! Lo masih bisa dapetin cewek yang lebih baik dari gue. Dan gue juga enggak mau 'ah nikah sama saudara sendiri. Helooowwww, dulu tuh pas kita kecil gue yang suka nyebokin, lo! Gila aja kali sekarang jadi suamik. Lagian lo kekecilan buat gue, El!"


"Kecil dari mananya? Umur kita cuman beda tahun, Sha! Persis kayak---"


Geisha menghentak kakinya kesal, dan menyergap ucapan si calon dokter gigi itu. "Udah 'ah sana! Bercanda lo tuh enggak asik, El! Gue lagi galau, bisa enggak sih lo bikin gue happ----"


"Enggak asik gimana 'sih? Gue emang lagi enggak bercanda, Sha! Gue serius mau nikahin, lo." selak Eldy. Lelaki ini mulai menunjukan keseriusannya.


Geisha berdecis geli. "Kita tuh masih pada kuliah, El. Masih minta sama orang tua. Lo mau nikahin gue sama ngehidupin gue dari mana??"


Dan.


CUP.


Eldy mengecup dahi Geisha.


Geisha melotot layaknya Suzanna. "Lo cantik pakai kerudung, Sha. Pakai gamis kayak gini." puji Eldy yang membuat Geisha langsung bungkam seribu bahasa ketika ingin mengomelinya. Seakan Eldy ingin mengalihkan pertanyaan Geisha barusan. Sejatinya, ia pun bingung. Koas saja belum, bagaimana mau cepat dapat uang dari profesi yang sekarang tengah ia tekuni?

__ADS_1


Karena tema lamaran yang Ginka pakai adalah nuansa Arab. Jadi semua keluarga memakai pakaian syar'i. Geisha memakai kaftan bertabur swarovski berwarna merah muda yang senada dengan warna pasmina nya.


"Kayak nya lo lebih cantik pakai hijab deh, Sha." Eldy tersenyum. Geisha juga ikut tersenyum. Sesedih apapun gadis ini tidak akan tahan dengan pujian seperti itu.


"Yang bener, El?" Eldy senang, karena air mata Geisha seakan menghilang. Ia berhasil menenangkan pujaan hatinya.


"Ben----"


Suara Eldy mengatung saat ia melihat ponsel Geisha bergetar, yang saat ini sedang Geisha genggam.


"Lauren?" gumam Geisha. Saat nama sahabatnya tertera di layar gawai.


"Hallo, Ren?" sapa Geisha.


"Assalammualaikum dulu, Sha." Eldy mengingatkan. Geisha hanya memiringkan sudut bibir sambil menitah Eldy pergi. Ia kembali berubah galak. Dan Eldy tetap bersikukuh untuk tinggal di sini. Ia tidak mau pergi.


"WHAT? KOK BISA?" mata Geisha membulat sempurna saat lawan bicaranya tengah menjelaskan sesuatu hal yang membuat ia kaget setengah mati.


"Tapi kan dia bilang mau mulai bimbingan senin, Ren. Kok bisa dadakan hari ini? Bukannya kalau hari sabtu beliau enggak praktek?"


Geisha fokus mendengarkan Lauren di seberang sana dan berkali-kali menyergah nya.


"Iii-yya, maaf. Gue dari tadi fokus sama acara Ginka. Gue enggak lihat-lihat wa group dari tadi. Terus sekarang gimana dong? Masih acaranya Adek gue, Ren."


Geisha mengusap wajahnya gusar. Ia bingung. Dokter pembimbing meminta kepada para koas yang saat ini akan mengikuti stase bedah, untuk datang berkumpul Rumah Sakit sekarang. Dokter pembimbing mengajukan jadwal nya di mulai dari hari ini. Mau tidak mau, Geisha memutuskan untuk datang.


"Oke, Ren. Gue on the way."


"SHA! Mau kemana?" Eldy segera bangkit saat Geisha memutar langkah untuk kembali masuk ke dalam tanpa berucap apapun padanya.


"Gue mau bimbingan, El." jawab Geisha dengan raut setengah panik. Ia panik kalau waktu perjalanan yang akan ia tempuh ke Rumah Sakit tidak akan cukup.


Geisha menggeleng. Ia tersenyum dan balik mengecup pipi Eldy.


"Makasih, El. Tapi enggak usah! Gue sendiri aja, ya. Makasih tadi lo udah minjemin bahu buat gue dan bercanda yang enggak sama sekali lucu. Makasih, El." Geisha menjawil pipi Eldy dan berlalu begitu saja menuju mobil. Geisha terburu-buru sampai ia lupa untuk meminta izin kepada Ayah dan Bunda.


Eldy mematung, menahan rasa haru. Ia membiarkan Geisha pergi begitu saja karena hatinya masih tersipu. "Gue di cium?" gumamnya senang. Samar-samar sudut bibirnya melengkung ke atas, ia tersenyum bahagia. Mengusap-usap pipinya.


Eldy jingkrak-jingkrak gembira sampai akhirnya ia berbalik badan dan kaget setengah mati.


"Om?" Eldy mengigit bibir bawahnya, ia menatap malu Om Ammar.


Om Ammar berdiri tegap dengan tangan bersedekap, kepalanya menggeleng pelan dengan wajah penuh ledek.


"Cinta dalam hati ceritanya?" Om terkekeh.


"Cicah ayam ati ata cih, Pah?" kedua nya menoleh saat Alana, anak bungsu Om yang ke tujuh, baru berusia tiga tahun, tiba-tiba menerobos percakapan mereka.


Eldy mendengus malas. Ia memilih meninggalkan Om nya dan masuk ke dalam rumah. Om tersenyum lalu menggendong Alana, mengekor langkah Eldy.


"Kalau cinta bilang aja, El." goda Om dengan kekehan. Membuat Eldy hanya bisa menutup telinga.


...🌾🌾🌾🌾...


Dari parkiran, Geisha berlari menuju poliklinik dengan langkah blingsatan. Tidak perduli kain pasmina nya sudah miring dari median wajah karena hembusan angin. Ia ingin menerobos poli bedah, agar bisa ikut bimbingan walau sudah di katakan telat sekali.


Awalnya Lauren menitah Geisha untuk mengirim pesan pribadi kepada Dokter pembimbing agar memakluminya kalau hari ini berhalangan hadir. Tapi gadis itu tetap memaksa melawan badai.

__ADS_1


"Ren ... Vina!" teriak Geisha dari kejauhan saat melihat kedua sahabatnya sedang berjalan memunggunginya. Kedua wanita itu menoleh ke belakang dan menatap takjub penampilan Geisha sekarang.


"Masya Allah, Sha. Cakep banget, lo. Tumben pake hijab." celetuk Vina.


"Nih, nih, minum. Napas lo sengal-sengal gitu." Lauren menyodorkan botol minumnya kepada Geisha.


Geisha menggeleng tidak mau. "Kok kalian udah keluar dari Poli? Bimbingannya udah selesai?" tanya Geisha cemas.


"Udah, Sha. Baru aja. Dokternya juga udah pergi 'tuh!" baru keduanya ingin menoleh ke belakang untuk menunjuk seseorang yang mereka pikir belum menghilang, nyatanya di sana hanyalah angin.


"Ya Allah, gimana, nih?" gerutu Geisha. Telapak kakinya terasa lemas sekali, seperti tidak bisa menyanggah tubuh.


"Udah deh, Sha. Mending senin aja lo ketemunya. Doi agak galak, dingin gitu deh," ujar Lauren.


"Masaaaaa?" jantung Geisha semakin berdegup kencang. Keringatnya mulai bergerumun di pertengahan dahi. "Lagian kok dia seenaknya gitu 'sih main ngerubah jadwal orang! Bukannya hari ini dia libur praktek?" timpal Geisha.


"Sabtu memang doi libur periksa di poli. Tapi ada operasi cito tadi. Dan katanya beliau selama seminggu ke depan ada seminar di luar kota jadi enggak bisa bimbingan. Makanya di majuin sekarang. Itu juga Bu Indah ngasih tau nya dadakan lewat wa group."


"Seminggu enggak ada? Wah mati dong gue, belum dapat bimbingan sama sekali." Geisha memelas.


"Tapi karena lo udah sampai sini, kayaknya mubasir kalo lo balik gitu aja. Mending kejar aja, Sha. Lo minta maaf. Kayaknya doi belum jauh 'deh."


Wajah Geisha terlihat sedikit cerah. Ia yakin masih mempunyai harapan. Siapa tahu Dokter pembimbing itu mau memberikan waktunya sedikit untuk memberikan bimbingan hari ini kepadanya.


Tanpa pikir panjang, Geisha mengikuti saran Vina. Gadis itu berlari lagi mengikuti lorong poli. Meninggalkan dua sahabatnya yang masih mendoakan. "Chayo, Sha!"


Dan.


Sudah jauh mengejar. Langkahnya tiba-tiba terhenti.


"Mukanya kayak gimana, ya?" Geisha mematung di depan janitor sesaat sudah keluar dari lorong poliklinik. Ia hanya tahu nama dari Dokter pembimbing itu, tetapi tidak dengan wajahnya.


Pasalnya, Geisha baru menginjakan kaki di Rumah Sakit Eyangnya baru seminggu ini. Dan ia lebih dulu mengikuti stase poli kebidanan. Area Geisha hanya di poli kandungan, kamar bersalin dan kamar operasi. Tidak pernah beriringan dengan jadwal stase lainnya. Ia belum sama sekali berkenalan dengan para Dokter di Rumah Sakit ini.


Geisha menghentak kakinya kesal. Napasnya kembali memburu cepat. "Ah sial! Kenapa sih hidup gue selalu aja ribet! Benci deh gue!" Geisha terus meluapkan amarahnya. Lantas ia menyerah. Dan saat ingin kembali memutar langkah.


Brug.


Geisha menabrak laki-laki bertubuh tinggi berambut gondrong dengan masker di wajah. Sedang menggendong anak kucing yang bernanah di area mata.


"Lihat-lihat dong kalau jalan! Punya mata enggak 'sih? Asal tabrak ajah!" dengus Geisha kepada si lelaki. Geisha seakan melemparkan kekesalannya yang sejak dari rumah memuncak.


Lelaki itu hanya menilik Geisha dari atas sampai bawah. "Busana Anda tertutup. Tapi tidak dengan bibir Anda. Sopan lah dalam berbicara. Hanya menabrak bahu Anda karena saya tidak sengaja, apa itu bisa membuat Anda terluka?" lelaki itu berucap dengan nada dingin dan tatapan mata yang memicing tidak suka, sambil membelai-belai anak kucing tersebut di genggaman tangannya.


Setelah berucap seperti itu, ia melanjutkan langkah meninggalkan Geisha yang hanya mematung diam. Geisha seakan tertampar dengan sindiran dari lelaki tadi. Mengapa juga ia bisa sekasar itu kepada orang lain. Jelas-jelas selama ini, Geisha adalah gadis yang paling ramah.


Geisha menoleh ke belakang menatap lelaki itu yang berseru pelan kepada kucingnya, seraya mengajak bermain.


"Maaf ...." gumam Geisha pelan. Dan sayangnya, lelaki itu tidak mendengarnya.


"Dok ... Dokter ... Dokter Genta!" bola mata Geisha membelalak mana kala ada seorang suster tengah berlari, menerobos bahunya ke arah lelaki yang tadi Geisha marahi.


Si lelaki gondrong yang sedang menggendong anak kucing yang ia temukan tidak sengaja di area Rumah Sakit, lantas menghentikan langkah dan berbalik badan menunggu Suster yang tengah berlari sampai ke hadapannya.


Dokter Genta dengan berbaik hati meminta kepada petugas kesling untuk tidak menangkap anak kucing tersebut. Biar dirinya yang membawa kucing itu pulang bersamanya untuk di obati dan dipelihara.


Dari jauh Geisha membekap mulut. Ia melotot tidak percaya. "Aaaa---apa? Lelaki itu, Dokter Genta?"

__ADS_1


Kiamat sudah baginya. Bukan lagi kesialan.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


__ADS_2