Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Tetap Setia


__ADS_3

Geisha ambruk di dada Genta, saat dirinya berhasil mendapatkan pelepasan yang ia inginkan sejak awal-awal pernikahan. Inti Genta tetap tegang karena gesekan paksa yang sang istri berikan, walau dalam penyemburan lahar, Genta merasa biasa saja.


Pelepasan yang ia lepaskan, tidak senikmat biasanya. Saat ia menghajar atau memukul Geisha. Di tengah perjalanan pun, Genta seakan kembali tersugesti. Tubuhnya memekik, meminta untuk dilepaskan kaitan yang berada di tangan dan kakinya. Ia ingin mencakar habis tubuh Geisha yang tengah menari-nari di atas dirinya.


"Enak, sayang?" tanya Genta lembut. Lakban yang membentang di mulutnya sudah Geisha buka. Pun dengan ikatan di pergelangan tangannya. Ia mengusap peluh yang menggenang di punggung sang istri.


Geisha yang masih lemas, mengangguk lemah. Merebahkan kepala di dada dan mengalungkan kedua tangan di leher suaminya sebagai tumpuan asa.


"Maaf, ya. Aku belum bisa selayaknya memuaskan kamu," Genta lirih.


Geisha memainkan daun telinga Genta sembari menggeleng. "Segini aja aku udah senang. Akhirnya aku bisa. Maaf sampai ikat-ikat kamu. Aku hanya ingin bantu kamu, agar terbiasa tidak melakukan kekerasan. Aku juga ingin sesegera mungkin untuk hamil. Rasanya kalau tidak menikmati pelepasan ini, aku akan sulit hamil."


Genta mengangguk datar. Menyimpan riak rahasia sepertinya sangat menyesakkan dada.


"Kalau kamu bahagia kayak gini, aku nggak keberatan di ikat terus."


Geisha tertawa. "Beneran, Mas?"


"Sampai aku sembuh, bisa mengendalikan diri." walau rasa yang akan ia dapat, tidak akan sama seperti biasa. Tidak apa pikirnya, yang penting Geisha bahagia. Tidak lagi merasakan sakit. Dirinya akan berkorban, seperti yang sudah wanita itu lakukan.


"Mas ...."


"Hem?" jari-jemari Genta sibuk memainkan buliran rambut Geisha yang berantakan.


"Kamu mau punya anak, kira-kira berapa, Mas?"


Lagi-lagi sinar di wajah Genta begitu saja sirna. Kenapa persoalan anak terus yang Geisha bahas? Genta serasa tercemplung semakin jauh dalam dosa yang ia buat.


Haruskah ia menyerah dengan keadaan? Memulihkan kembali alat reproduksinya? Menyambungkan kembali saluran spermaa selayaknya dulu.


"Berapa aja sedikasihnya sama Allah, Sha." ia labuhkan kecupan di pucuk rambut istrinya yang basah karena peluh.


"Aku mau lima kaya keluargaku atau tujuh kayak Om dan Tanteku."


Genta menelan ludah. Satu saja dulu saat anak pertamanya di kandung Kahla, ia malah menyakiti wanita itu. Membuat anak mereka luruh tidak bersisa. Dan sekarang, dengan Geisha. Apa ia bisa bersikap waras?


Lelaki ini berusaha menyimpan sesak. Ia mengangguk setuju. "Berapapun selagi kamu kuat untuk melahirkan mereka semua."


"Aku akan selalu kuat, Mas. Aku ingin memberi buah hati yang banyak untukmu," ucapnya semangat. "Kita pergi honeymoon, yuk, Mas. Sembari meninggalkan rumah ini sementara. Takut ada keluargaku yang datang mencari kita. Waktu cuti mu kan juga masih panjang ...."


"Aku menurut saja. Yang penting kamu senang," balas Genta.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Pagi-pagi sekali Geisha dan Genta mendadak terbang ke Gili Trawangan, salah satu pulau terbesar yang berada di Nusa Tenggara Barat. Genta sudah berjanji, apapun yang Geisha inginkan akan ia penuhi. Salah satunya berlibur ke tempat ini. Walau alasannya sebenarnya adalah: untuk menjauhkan diri dari keluarga besar mereka berdua.


Membawa pakaian secukupnya saja. Sisanya mereka akan membeli di sana. Menghubungi pihak resort untuk menyiapkan segala kebutuhan mereka selama menginap dan menjemput kedatangan di bandara.


"Uangmu enggak akan habis kan, Mas, kalau kita menginap di sana selama sebulan?"


Gentala terkekeh. "Kalau pun habis. Aku siap bekerja, mencari ikan seperti nelayan di sana."


Geisha menepuk bahu suaminya pelan, lantas memeluk lengan itu kembali dan bermanja. Dapat Genta rasakan. Perubahan sang istri saat sudah mendapatkan pelepasan. Ingin nya nempel terus kayak amplop sama perangko.


"Kalau semisal pesawat kita jatuh, terus----"


Geisha menarik jambang Genta sampai lelaki itu memekik. Melototkan mata dan berdecak dari balik cadar. "Kalau ngomong suka enggak dipikirin! Kita nih lagi di dalam pesawat. Ketinggian beribu-ribu kaki. Kalau beneran jatuh, kamu memang mau mati sekarang? Pisah sama aku?"


Genta tertawa. Ia bekap bibir istrinya yang terus merungut seperti angsa. "Amit-amit ih kalau sampai pisah. Enggak mau aku," balas Genta. Ia memilih memeluk Geisha seperti anak batita, walau ada pembatas di kursi mereka yang membuat keduanya susah untuk berpeluk.


"Makanya mulut kamu jangan asal ngomong. Doa tau!"


Gentala hanya tertawa saja.


"Pangku aku dong, Mas."


Genta menyeritkan dahi. "Nanti aku disangka pedofil, Sha. Mangku anak kecil," balas Genta dengan kekehan.

__ADS_1


Wajah Genta yang sudah matang, dan Geisha yang bertubuh mungil dengan tatapan wajah amat baby face, sejak tadi sudah membuat diri mereka menjadi tilikan memukau di area bandara. Pikir orang, Bapak sama Anak nya.


Geisha kembali bermanja di lengan sang suami. Memeluknya dari samping, seakan tidak ingin terlepas sama sekali.


"Sebentar lagi mau masuk waktu Dzuhur, Mas."


"Wudhu nya?" tanya Genta bingung.


"Kita tayamum, Mas."


"Tayamum? Wudhu pakai apa?"


"Tayamum itu cara berwudhu tanpa air, Mas. Karena sekarang kita sedang berada di dalam pesawat. Tidak memungkinkan untuk berwudhu di kamar mandi. Kita bisa mempergunakan debu atau permukaan bumi lainnya yang bersih dan suci. Hebatnya Agama Islam itu, tidak mempersulit kita sebagai hamba untuk tetap shalat walau dalam keadaan terjepit sekalipun. Contohnya kayak kita sekarang, diperbolehkan duduk saat shalat. Atau pada orang sakit, bisa shalat hanya dengan berbaring."


Gentala mengangguk-anggukan kepala tanda mulai paham.


Kembali Geisha tilik arloji yang melingkar di lengan tangannya. Waktu Dzuhur benar-benar sudah datang. Ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku tata cara shalat pemula yang selama ini Gentala pakai. Namun, ia baru bisa menghafal Al-Fatihah, sisanya belum. Meletakan buku tersebut di pangkuan suaminya. "Kita siap bertayamum ya, Mas."


"Iya, Sha."


Gentala mengikuti Geisha yang meletakan tangan dibelakang kursi penumpang. "Ikuti bacaanku, Mas. Nawaitut tayamumma li ittibahtis shalati lillahi ta'ala." Geisha dan Genta bersamaan mengucap niat tayamum. Menepuk-nepuk tangan mereka di sandaran kursi itu, lantas mengusapkan ke wajah sebagai bagian pertama kali. Dan sampai akhir Gentala mengikutinya.


Mereka berdua pun mulai shalat dengan khusyu. Walau keadaan di dalam pesawat sedikit berisik.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Menyewa salah satu bunga low atau rumah satu lantai dengan atap buliran jerami yang membentang lebar di sebuah ocean resort yang dikelilingi laguna pirus dan taman hijau yang indah, cukup terkenal di Gili Trawangan untuk rencana satu bulan menginap.


Dalam satu blok terdapat delapan bunga low yang mana hanya berjarak sepuluh meter dengan bibir pantai yang berair biru dan pasir putih. Hembusan semilir angin yang sejuk, membuat keduanya temaran saling berpeluk dalam ranjang.


Menjelang Ashar, mereka sudah tiba di tempat ini. Geisha terus bermanja, memeluk suaminya erat seperti cicak pada dinding. Jari-jemarinya mengusap-usap dada Genta dari balik baju. Genta tahu, sang istri kembali menginginkan dirinya. Lelaki ini tidak berhenti menggoda Geisha, membuat wanita itu malu.


"Mau, ya?"


Geisha tertawa. Memilih, menyembunyikan wajah diceruk leher Genta. Mencubit bulu dada yang tumbuh tidak banyak.


"Iya, Mas. Boleh?" tanyanya malu-malu tapi mau.


"Tapi malam aja deh. Aku butuh tenaga. Kayaknya harus istirahat. Lagian juga kita belum shalat Ashar. Kita shalat dulu, yuk, Mas. Habis itu mandi."


Genta mengiyakan dengan anggukan kepala. "Aku dulu ke kamar mandi, ya."


"Iya, sayang."


Geisha bangkit dari ranjang dan berlalu menuju toilet. Genta menunggu giliran, bersandar di punggung ranjang sambil memainkan game di ponselnya. Sampai di mana ia menoleh ke sisi bantal di sebelah nya, gawai Geisha yang kemarin dijarah oleh Andre, bergetar.


[Gege, kita kangen. Tadi kita ke rumah lo. Lo nya enggak ada. Lo yakin mau cuti kuliah? Janganlah, Ge. Kita sepi nih]


Genta tatap pesan yang ia baca berulang-ulang tanpa kedipan mata. Raga nya lemas. Sakit seperti sedang menginjak bulu babi, saat ia tahu dirinya ditipu oleh istri sendiri.


Ada rasa kecewa di ulu hatinya. Ia tahu Geisha melakukan ini pasti karena dirinya. Tapi, ia tidak mau jika Geisha terus mengorbankan dirinya. Wanita itu seharusnya ia lindungi. Ia rawat dan ia buat sukses dengan masa depan sebagai janji yang sudah ia janjikan di depan kedua orang tua Geisha sebelum menikah.


"Sha!" seru Genta.


Geisha tidak menjawab karena ia tengah berwudhu.


"Sha!"


"Shaaa!!"


"Shaaaaa!!!"


"Iya, Mas. Jangan teriak-teriak, aku dengar. Ada apa sih?"


Geisha mengusap wajahnya yang basah sehabis wudhu, berdiri dibingkai pintu kamar mandi. Ia menautkan alis bingung saat suaminya melangkah mendekati sambil membawa gawai miliknya dengan raut dingin. Menyodorkan pesan yang dikirim oleh Lauren, tepat di depan bola matanya.


"Sejak kapan kamu cuti kuliah? Atas persetujuan siapa?" bahu Geisha bergetar saat Genta tidak sadar menyentaknya karena kecewa.

__ADS_1


Geisha mencoba tenang. Membiarkan wudhu nya batal, karena mengenggam tangan suaminya yang terasa menegang, untuk digandeng menuju pembaringan, mendudukkan di tepi ranjang.


"Jangan marah dulu, Mas. Aku melakukan semua ini tentu ada alasannya," balas Geisha dengan nada lembut.


"Apa alasannya? Aku?"


Geisha mengangguk. Dan Genta berdecak kesal. Ia menghempaskan diri ke belakang, berbaring terlentang dihamparan seprai putih. Mengusap-usap wajah gusar.


"Aku memang suami tidak berguna."


Geisha merangkak naik. Duduk menyila di sisi tubuh lelaki itu. Menurunkan tangan Genta yang sedang meraup-raup wajah. "Kamu amat berguna. Maka, dari itu aku perjuangkan kamu, Mas."


"Tapi kamu jadi mengorbankan dirimu, Sha. Kamu berhenti koas karena aku!" Gentala memukul sisi kosong di sebelah kanannya. Ia hempas kan rasa kesal dan sesal.


"Jika kamu meminta aku untuk berhenti kuliah. Tidak bekerja. Hanya di rumah mengurusmu dan Anak-anak. Insya Allah akan aku lakukan, jika kamu memang ridho. Kamu ini kan lagi sakit. Lagi mau belajar Agama juga. Kalau aku sambi dengan kuliah. Pasti akan keteter, Mas. Aku enggak akan bisa urus kamu dengan telaten. Enggak akan fokus. Dan juga, aku tidak akan mungkin bisa menutupi luka-luka yang ada di wajahku ini."


Genta bangkit. Ia duduk menyila seperti istrinya. "Bagaimana kalau aku tidak sembuh? Bagaimana?" tanyanya gelisah. Ia tatap Geisha dengan tatapan sendu.


"Tenang, Sayang. Tenang. Kamu pasti sembuh. Pasti. Aku aja yakin kok. Masa kamu yang punya diri, enggak percaya."


Gentala menarik napas lantas menghelanya panjang. Raut takut kembali datang. Ia hanya bisa diam, tidak kuat untuk berkata meski hanya ingin membuat daksa nya lega.


"Kamu harus rajin shalat. Biar penyakit mental mu itu cepat terhempas. Kita minta sama Allah sama-sama."


Genta mengangguk datar. Ia kecup kening Geisha dan ia bawa wanita itu ke dalam dadanya. "Kamu istimewa, Sha. Sangat berharga. Tolong jangan tinggalkan aku, jika keinginan kita ini, tidak secepat itu terkabul."


Geisha mengurai dekapan. Ia mengecup pipi suaminya bergantian dari kanan dan kiri.


"Nggak masalah, Mas. Aku tetap setia menunggu."


Genta peluk lagi sang istri sampai Geisha terlihat sesak. Memukul pelan dada Genta untuk melepaskan. "Aku mau ambil wudhu lagi. Habis itu kamu, ya."


"Iya, Sayang." balas Genta dengan senyum.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


"Geisha?" gumam Avika yang tidak sengaja melihat wanita itu tengah duduk di pelataran pasir pantai pagi. Menikmati sinar matahari di jam sembilan pagi, amatlah bagus untuk berjemur.


Geisha rutin memakai salep. Di hari ketiga menginap resort ini. Luka lebam di wajahnya mulai tersamarkan. Ia jadi bebas, memperlihatkan wajah cantiknya tanpa cadar atau masker.


Avika yang tengah berjemur juga dengan pakaian sexy bersama teman bule lelakinya, mencoba turun dari kursi pantai, melangkah mendekat ke arah Geisha yang tengah sibuk membidik langit dengan kamera.


Wanita ini berdiri di balik pohon.


"Sedang apa dia di sini? Bukannya Mas Genta sedang berada di pondok?"


Avika mencecar Kahla agar mau mengaku di mana keberadaan lelaki itu. Avika tidak mendapati Gentala di Rumah Sakit beberapa Minggu ini.


Sebelum keberangkatan Genta ke pondok. Geisha memberitahukan kepada Kahla bahwa mantan suaminya itu akan mengikuti pengobatan batin di pondok pesantren. Seraya meminta doa tulus agar jalan kesembuhan untuk Genta dimudahkan.


"Suami lagi sakit! Malah asik-asik liburan di sini. Dasar wanita sok suci! Kamu juga sama bejatnya seperti aku, Sha!" maki Avika tidak suka. Wajahnya bengis sekali menatap Geisha.


Sampai di mana, bola matanya seakan ingin terserak jatuh ke tanah. Lantaran ada lelaki bertopi memeluknya dari belakang.


Avika membekap mulut seakan tidak percaya. "Gila kali, ya, tuh anak! Berani-beraninya dia selingkuh! Awas aja, lo, gue aduin sama, Mas Genta. Biar lo diceraikan----" baru ingin meraih ponsel dari kantung untuk memfoto Geisha sebagai bukti, ia tergugu. Karena lelaki yang tengah bermain pasir bersama Geisha, membuka topi nya.


"Mas Genta? Kok bisa?"


Wajah Avika merah padam. Mengepalkan tangan kecewa dengan pernyataan Kahla yang seolah membohonginya.


"Brengsek kamu, Kahla! Berani-beraninya kamu bohongin aku! Aku sumpahin saat melahirkan, kamu susah, Kahla!"


Entah ide apa yang terlintas di kepalanya. Raut yang tengah memekik kesal, lekas berubah dengan senyuman licik penuh intrik.


"Kalian enggak akan bisa bahagia. Terutama kamu, Geisha! Mas Genta hanya milik aku. Punya aku!" ia memicing tajam dan memutuskan untuk berlalu dari pandangan, karena tidak kuat melihat perhatian yang Genta berikan untuk sang istri.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...

__ADS_1


Kuat sama konflik nya, yah. Kalian bisa kok, hehe. Kapan sih bahagianya? Pasti begindang dah komenan nya. Selama manusia masih bernapas, ujian dan cobaan akan selalu mendera. Pasti bahagia kok, janji๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Makasih udah selalu stay sama Gentala dan Geisha.


__ADS_2