Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Hanya Ingin Singgah.


__ADS_3

Malam patah hati, adalah malam sepi tanpa sautan cerita dalam chat pribadi yang sering mereka lakukan hampir setiap malam dalam sebulan penuh.


Genta memilih untuk memblokir kontak Geisha. Tidak memberikan celah apapun kepada gadis itu untuk mendekat, atau menanyakan mengapa tiba-tiba lelaki itu berubah. Apa salahnya? Geisha terus berpikir sampai ia muntah karena terus menangis.


Semalaman Geisha berendam dalam kepedihan. Gadis itu terisak di punggung ranjang. Menatap ponselnya yang sepi. Bahkan foto Gentala di profil WhatsApp tidak bisa lagi ia lihat.


Hatinya perih. Rasanya seperti di permainkan. Di terbang kan ke langit dengan sejuta perhatian, lalu di jebloskan ke dalam jurang penuh batu-batu yang tajam. Sakit sekali.


[Nice dream, ya. Kalau bisa mimpiin saya]


Sampai pagi, Geisha terus membaca-baca pesan-pesan yang selama ini Gentala kirim kepadanya. Geisha selalu menyimpannya, untuk ia baca ulang setelah mereka bertukar pesan. Dan sejak semalam, tidak ada pesan terbaru yang bisa ia pandang-pandang dalam senyuman merekah.


Geisha duduk di ruang poli sendirian. Ia datang lebih awal sebelum jam praktek Genta di mulai. Bahkan, Suster Lala saja belum datang. Ia ingin sekali membahas masalah ini kepada Genta. Mengapa mendadak lelaki itu menjauh dan memblokir nomornya?


Dada Geisha terus berdebar nyeri. Sesak bekas kemarin masih saja menggantung. Menyedihkannya sekali patah hati, pikirnya.


Pagi ini, Geisha tetap membawakan air lemon dan roti gandum seperti biasa. Kelopak mata Geisha sudah bengkak. Sesekali ia menyeka air mata yang ingin menggenang lagi.


[Kamu sudah sampai di Poli?]


Geisha tatap layar ponsel, membuka lagi kontak WhatsAap Genta, siapa tau lelaki itu mengirimkan pesan seperti itu padanya, seperti biasa. Dan, Geisha menangis. Lelaki yang ia sangka akan menembaknya menjadi kekasih atau calon istri, tetap masih memblokir kontaknya.


Hiks ... Hiks.


"Apa sih salahku? Kenapa kamu tiba-tiba berubah?" Geisha menangis. Ia sampai memukul meja dengan tangannya. Genta adalah lelaki impian. Cinta pada pandangan pertamanya. Sudah masuk kriterianya, walau lelaki itu sudah duda dan berumur lebih jauh dari nya, maka begitu menyakitkan jika Genta bersikap seperti ini padanya.


Geisha bangkit dari duduk. Ia melangkah menuju wastafel untuk membasuh wajah dengan air, sesaat ia mendengar suara Suster Lala sudah berada di Nurse Station. Geisha menarik oksigen banyak-banyak di udara, ia harap dadanya bisa lega. Nyatanya, tidak.


"Sin, tolong infokan ke pasien. Kalau hari ini Dokter Genta enggak praktek. Beliau baru WhatsApp saya 'nih, katanya enggak enak badan."


Geisha tersentak, saat mendengar Suster Lala berbicara di sambungan telepon dengan petugas pendaftaran. Tubuhnya, yang baru sampai di Nurse Station, seakan ingin limbung.


"Saa--sakit?" gumamnya dengan raut khawatir. Ia tatap lagi ponsel nya, siapa tahu lelaki itu mengirimkannya pesan. Dan, ternyata tidak ada. Genta masih memblokir kontak nya. Bahkan lelaki itu memilih menghubungi Suster Lala ketimbang dirinya.


"Jahat sekali kamu, Dok." Geisha meremat kain kemeja di dada. Sesak kembali bergejolak. Seakan banyak ribuan jarum yang sedang menghujam dadanya. Air mata kembali ingin tumpah.


"Bu ...."


Suster Lala menoleh. Dan wanita itu terkesiap manakala menilik wajah Geisha yang begitu menyedihkan.


"Dokter Genta, sakit?" Geisha memastikan dengan suara serak.


Buru-buru Suster Lala membawa Geisha masuk ke dalam poli untuk berbicara serius. Suster Lala ingin tahu ada apa dengan Geisha, dan mengapa malah bertanya tentang keadaan lelaki itu? Bukannya mereka begitu dekat akhir-akhir ini.


"Dokter, nangis?" kini mereka sudah duduk berdua saling berhadapan. Geisha hening. Ia menatap bola mata Suster Lala lamat-lamat. Menilik bayangannya di manik mata wanita paruh baya ini.


Geisha sulit menyembunyikannya. Ia mengangguk. Air bening menggenang lagi.


"Dokter kenapa?"


Geisha memilih menggeleng. Rasanya ia tidak kuat jika harus bercerita sekarang.


"Dokter Genta sakit apa, Bu?" ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


Suster Lala menghela napas. Ia tahu Geisha memilih untuk tidak membahas mengapa dirinya menangis.


"Bilangnya sakit aja, Dok. Enggak praktek dulu hari ini."

__ADS_1


Genta memang sengaja untuk menenangkan pikiran. Lelaki itu pun tidak tidur sejak kemarin sore sampai pagi. Ia belum tegar hati jika bertemu Geisha sekarang. Serta masih memikirkan, alasan apa yang harus ia jelaskan kepada Geisha tentang perubahan sikapnya.


Geisha diam. Ia menatap sudut ruangan dengan sorotan sendu.


"Emang enggak ngirimin kabar?" kembali, Suster Lala mengorek informasi.


"Ibu tahu alamat Dogen?" lagi-lagi jawaban Geisha tidak nyambung. Rasa cemas kepada lelaki itu ternyata lebih besar dari rasa kecewanya. Geisha memutuskan ingin mendatangi Gentala ke rumahnya. Ia ingin memastikan kalau Gentala memang sedang sakit. Dan mungkin membutuhkan dirinya.


"Dokter mau ngapain?" seraya menyergah.


"Saya mau jenguk beliau, Bu. Kasih alamat nya, Bu. Tolong!" ia yakin Suster Lala pasti tahu.


Beliau hening lama. Melihat Geisha seperti ini, ia yakin ada yang tidak beres dengan mereka berdua.


"Bu ...." Geisha kembali mendesak.


Suster Lala akhirnya mengangguk. Ia merobek kertas resep dan mulai menuliskan alamat rumah Gentala.


...🌾🌾🌾...


Setengah jam Geisha mampu membelah jalanan ibu kota untuk menyusuri alamat yang sudah dituliskan Suster Lala di secarik kertas yang sejak tadi ia tatap, untuk mencari alamat Genta. Saat ini, laju mobilnya sudah memasuki gerbang komplek perumahan cluster elit. Geisha terus menyisir nomor rumah satu persatu.


Dan tak lama.


Deru mesin mobilnya ia matikan, ketika sudah sampai di depan rumah bertingkat dengan model klasik, berwarna serba putih. Geisha samakan nomor rumah dengan nomor yang tertera di kertas. Setelah mengucap bismillah ia turun dari dalam mobil sambil menjinjing tas bekal berisi air lemon dan roti gandum.


Mobil Genta ada di pelataran garasi, meyakinkan Geisha kalau lelaki itu memang sedang berada di rumah sekarang.


Tok ... Tok.


Krek.


Pintu pun terbuka. Menyembul lah lelaki yang sejak semalam sampai tadi pagi ia tangisi. Genta terlihat begitu kacau, dalam pandangan Geisha.


Gentala kaget setengah mati saat melihat Geisha yang datang. "Kamu?"


"Dok!"


Blass.


Geisha langsung memeluk Genta. Geisha menangis dalam dada bidang lelaki itu.


"Kenapa Dokter, blokir Wa saya?" Geisha terseguk-seguk. Geisha bukan memaki, ia malah memelas. Bahkan ia tidak marah ketika dirinya di usir dari mobil kemarin.


Genta mencoba mengurai dekapan itu. Namun, Geisha tidak mau. Ia tahu apa yang ia lakukan salah. Memeluk lelaki yang bukan muhrimnya. Tapi, ia tidak sanggup jika membayangkan lelaki ini pergi menjauh. Maka, sekuat apapun Geisha ingin merengkuhnya.


"Apa saya ada salah, Dok?" sesak sekali dada Genta, saat pertanyaan yang di iringi dengan tangisan mencuat dari bibir ranum gadis yang ia cintai.


Geisha mendongak, menatap Genta dengan leleran air mata. Seakan menular, manik mata Genta pun memerah, menahan air bening yang akan bergerumun di kelopak.


"Kenapa, Dok?" Geisha mengulang. Suaranya terdengar amat lirih. Remuk hati Genta. Lelaki itu memejam mata. Dan akhirnya air matanya menetes membasahi pipi.


"Pulang lah, Sha! Saya ingin istirahat." Genta menyeka air matanya.


Geisha menggeleng tidak mau. Gadis itu memelas. "Saya mau di sini jagain, Dokter."


Genta menggeleng, dan melepas dekapan itu paksa. "Lupakan saja jika kita pernah dekat, Sha! Saya hanya main-main sama kamu."

__ADS_1


Brug.


Tas bekal yang masih Geisha genggam lantas terjerembab ke lantai. Bola mata Geisha membeliak, menatap Genta penuh dengan tuntutan.


"Aa---apa, Dok?" bibir Geisha bergetar. "Coba ulangi?" Geisha meremat kain kaus di dada Genta. "Selama ini, Dokter hanya main-main? Tidak ada niat serius?" Geisha sekuat hati, memaksa Genta untuk menjawab.


Genta mendadak diam. Lidahnya terasa kelu untuk mengulang perkataan yang akan menyakiti Geisha. Dadanya terasa teriris sembilu, saat menatap Geisha dalam kehancuran.


"Saya cinta sama Dokter. Saya pikir, Dokter juga merasakan hal yang sama." tanpa sadar, Geisha mengungkapkan isi hatinya. Di sudut hati Genta bahagia. Tapi kenyatannya, ia harus menolak rasa cinta yang sedang hangat-hangatnya merekah.


Jantung keduanya memburu, ketika luka mulai menusuk tubuh mereka. Terutama, Gentala. Ia yang paling sesak di sini.


Genta menggeleng mantap. Mencoba kuat dengan keberanian yang ia ciptakan pura-pura. Menekan air mata agar tidak tampak lagi. Wajah dingin yang sudah lama tidak Geisha tatap, kembali hadir.


"Jangan pernah jatuh cinta kepada saya, Sha! Karena kamu hanya akan sakit hati. Dan waktumu akan terbuang percuma." nada bariton Genta begitu menusuk sukma Geisha.


Geisha menggeleng samar seakan tidak percaya.


Dan.


"Mas? Siapa yang datang?"


DEG.


Geisha yang masih mematung bisu menahan pedih dada, kembali di sentak dengan kehadiran Avika di anak tangga.


"Astaghfirullah ...."


Geisha melongo kaget tidak percaya, kalau ada wanita di rumah ini bersama dengan lelaki yang ia sayangi. Melihat tampilan Avika yang hanya memakai kemeja kebesaran di atas paha tanpa bawahan.


Membuat Geisha kaget dan menerka, apa yang sedang mereka lakukan berdua di dalam rumah ini? Dan wanita itu? Wanita yang pernah marah-marah padanya.


Wajah Geisha semakin memerah. Rahangnya mengencang menahan kesal. Ia tilik wajah Gentala dengan sejuta kekecewaan. Lelaki ini membohonginya, menyakitinya dan membuangnya seperti sampah. Tega-teganya selama ini memperlakukannya seperti layaknya kekasih, namun masih berhubungan dengan wanita lain.


Genta paham Geisha kecewa saat melihat Avika di sini. Namun, ia mencoba untuk tidak perduli. Ia menoleh ke belakang menatap Avika dengan senyuman hangat yang di paksakan. "Anak bimbing saya datang. Kamu tunggu saja di kamar. Nanti saya menyusul." Genta membalas pertanyaan Avika tadi. Ia berhasil memanas-manasi Geisha agar semakin membencinya.


Di sakiti ketika sedang jatuh cinta. Rasanya bagai luka menganga tengah di kucuri air cuka.


"Saya pikir, selama ini Dokter akan sungguh-sungguh. Ternyata, Dokter hanya ingin singgah untuk bermain-main dengan saya. Terima kasih banyak, Dok. Atas luka ini. Saya permisi."


Geisha memungut tas bekal yang terjatuh di lantai, lantas melangkah pergi dengan telapak kaki yang terasa menciut. Seakan tidak kuat berjalan, namun tetap ia paksakan.


Genta menangis menatap punggung Geisha yang melenggang langkah dengan kepala tertunduk, berangsur menghilang dari pandangannya.


Ingin nya ia memanggil Geisha, menariknya lagi untuk ia dekap. Tapi, Genta tidak bisa melalukan nya. Hanya ini satu-satunya cara untuk pergi menjauh dari Geisha. Dan membuat gadis itu tidak lagi berharap padanya.


"Saya mencintaimu, Sha!" Genta membatin. Ia memejam mata dan mengepalkan kedua tangan. Agar rasa linu di dada bisa menghilang.


Di anak tangga, Avika tersenyum puas. Untung ia ada di saat yang tepat, pikirnya. Wanita ini datang ke rumah Genta karena kemarin Andre memberitahukan kalau Genta sedang kambuh.


Genta sempat mengusir, namun wanita itu tetap memaksa masuk dan menyiapkan makanan untuk Genta. Sampai di mana baju yang ia pakai basah karena tumpahan air. Ia meminjam kemeja Genta untuk ia pakai sementara, sampai baju nya kering. Maka kesalahpahaman di benak Geisha pun terjadi.


Genta masih berdiri di ambang pintu. Lelaki itu menatap Geisha yang sudah naik ke dalam mobil. Geisha menekan dahinya di stir kemudi. Wanita itu menangis, terseguk-seguk. Semua itu bisa Genta tatap dengan hati yang sama-sama patah.


"Maafkan saya, Sha."


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...

__ADS_1


__ADS_2