
Dalam pekatnya malam, ranjang mewah milik pengantin baru yang baru tujuh hari menikah itu, terdengar berdecit dengan gerakan kasar dari si pemberi dan penolakan tubuh dari si penerima.
"Akhhhhh ...," pekik Geisha. Suaranya begitu nyaring mencuat dari kerongkongan, saat Genta mencakar paha mulusnya. Bagai ujung samurai menombak kulit, tergores, lantas menganga, dan akhirnya mengeluarkan percikan darah yang mengalir di sepanjang kaki dan merembes ke kain seprai putih yang baru saja sore tadi Geisha ganti.
Sang istri menggelepar. Meronta kesana-kemari dengan rancauan minta ampun. "Mas kenapa sama kamu?" tanya nya dengan tangisan.
Tulang pipi Geisha sudah lebam. Sudut bibirnya berdarah, wanita itu hancur, luluh lantah dan terkoyak, berkat ulah kasar suaminya. Gentala yang sudah dirasuk dengan kepribadian lain, hanya diam. Ia menikmati sensasi nikmat dari lekuk tubuh sang istri. Geisha hanya merasakan hembusan napas kasar yang keluar dari wajah Gentala.
Geisha meluruskan tangan ke atas, seraya mendorong dada Genta dan memalingkan wajah. Ia hindari setiap kecupan dan gigitan menyakitkan dari bibir dan gigi sang suami.
Byrr.
Kancing piyama terlepas akibat buku-buku jari Genta yang kasar, kulit dada Geisha terekspos, Genta semakin tersulut. Ia meraup habis bongkahan sintal milik Geisha yang kencang dan membuat intinya terus berdenyut.
Dan.
"ARGHHH! AYAH! BUNDA ... TOLONG AKU! Geisha kembali teriak. "Jangan digigit, Mas! SAKIT!!" dalam erangan tangis, Geisha memohon. Gentala mengigit pangkal dada istrinya sampai terasa ingin putus.
Ah, perih, pedih! Geisha memekik histeris.
Geisha memukul-mukul punggung Genta di saat lelaki itu sedang membungkuk. Meminta untuk menyudahi. "Aku enggak mau kayak begini, Mas. Bisa enggak pelan-pelan aja? Ini pertama buat aku!" hardik Geisha tidak tahan.
Genta tidak menggubris. Ia sudah berenang dalam euforia sadisme nya. Yang ia inginkan hanya melebur dalam hasrat yang selama ini sudah terkungkung lama.
Tubuh Geisha sungguh memabukkan. Melebihi keelokan Avika dan Kahla. Apalagi lelaki itu sudah menduda dengan waktu yang tidak sebentar, Genta merindu aktivitas bercintaa. Maka, ia tumpahkan malam ini di tengah-tengah hujan yang sedang turun dengan deras di luar sana.
Darr.
Petir menggelegar bersautan dengan ringisan dan teriakan Geisha yang terus memanggil-manggil nama Allah, Bunda dan Ayah.
Ada apa dengan suaminya? Gila kah?
"YA ALLAH, sakit ...," kedua tangannya memeras kain seprai. Genta sedang berada di bawah, mengigit pusat intinya yang masih rapat.
Dengan tubuh polos, karena piyamanya sudah ditanggalkan paksa, Geisha pasrah di perlakukan seperti binatang oleh sang suami. Ingin menendang Genta. Tapi, ia tidak bisa. Karena pergelangan kakinya di ikat dengan tali.
Ini pertama baginya, keperawanan yang ia jaga selama dua puluh empat tahun akan terenggut tanpa kesan-kesan yang membahagiakan. Tidak ada sentuhan dan belaian hangat seperti saat awal mereka berciumann setelah menikah. Atau, di adegan drama Korea yang sering ia saksikan bersama kedua sahabatnya diam-diam di kamar.
Rintik air bening terus berduyun-duyun turun dari sudut matanya. Wajah Geisha yang sudah lebam karena hantaman dan tamparan bertambah memerah dengan otot-otot menyembul keluar dari pelipis, manakala Genta mulai menyatukan miliknya dengan gerakan kasar.
Blass.
"AHHHHH!" pekik Geisha luar biasa. Ia mengigit bibir nya sampai berdarah, karena gerakan Gentala yang brutal. Melihat Geisha memekik kesakitan, membuat adrenalin Genta terus berpacu. Genta terus menerobos masuk, rasa sempit dan hangat membuat lelaki itu semakin gelap mata.
Perih.
Sakit.
Panas.
__ADS_1
Robek.
"AHHHH! AMPUN, MAS!" Geisha terus beteriak. Di lantai dua, di salah satu kamar yang ada, wanita itu menjerit-jetrit dibawah kungkungan suami. Lelaki yang seharusnya menjaga dan melindunginya.
Genta mencekik leher Geisha dengan tangan kasarnya, sembari mencumbunya kasar. Hentakan demi hentakan terus ia berikan di pusat inti sang istri. Darah keperawanan bercecer di paha Geisha, mengalir turun.
Pak.
Tamparan kembali mendarat di kedua pipinya. Rancauan Geisha terus menstimulus otak Genta untuk tetap bermain dengan sadisme nya.
"Euhh!" Gentala melolong nikmat. Hanya ada suara lenguhan nikmat dari Gentala dan rengekan menyakitkan dari Geisha.
Wanita itu sudah tidak bisa berteriak. Mulutnya terasa kebas. Karena tamparan yang sedari mendarat dengan jumlah puluhan kali, membuat ia membisu. Geisha seakan tidak bisa menggerakan lidahnya. Otot-otot di dinding mulut berkedut-kedut, akibat hantaman yang terus menerus.
Helaian rambut yang rontok karena berkat jambakan, cakaran di sekitar paha sampai ke kaki, cekalan tangan di sekitar lengan, gigitan di sepanjang leher, lebam membiru di pelipis, tulang pipi dan sudut bibir, kelopak mata yang bengkak berkat tonjokan tangan. Semua tercipta dengan biadabb di tubuh Geisha.
Samar-samar pandangan matanya menggelap. Tubuh kekar Genta yang sedang mengungkung dirinya dari atas, hanya terlihat seperti bayangan angin yang memutih. Rasa sakit yang sejak tadi menggelegar di tubuhnya terasa menghilang. Tubuh mungil yang habis dimangsa itu terasa lemah dan lemas.
"Tolong aku, Mas ... aku sakit!" pintanya memelas. Seakan nyawa sudah di ujung tanduk.
Dep.
Suara Geisha menghilang, beriringan dengan kelopak matanya yang tertutup.
...🌾🌾🌾...
Genta si monster, mulai sadar. Ia menangis tidak karuan. Menepuk-nepuk pipi Geisha yang sudah lebam menghitam, bukan lagi biru.
"Sayang!" teriaknya menyesal. Darah perawan Geisha terlihat bercampur dengan darah yang mengalir bekas sobekan dari permukaan kulit pahanya dan juga dengan peluh.
"Maafkan aku, Sha. Aku udah buat kamu sakit," ucapnya terseguk-seguk dengan tubuh bergetar.
"Sayang, bangun. Aku obati, ya," imbuhnya lagi.
Keringat banjir di wajahnya. Ia berhasil mendapatkan pelepasan yang selama ini ia rindukan dengan cara yang beringas dan pasti menimbulkan trauma di hati istrinya. Geisha yang sejak tadi ia peluk dalam dada, ia rebahkan kembali di pusaran kasur. Genta beranjak duduk untuk memakai piyamanya kembali. Dengan napas berantakan bercampur rasa takut dan gugup. Lelaki itu bergegas membuka laci nakas paling bawah yang selama seminggu ini tidak di jamah oleh Geisha.
Ia meraih suntikan yang berisikan cairan obat pereda anti nyeri. Ia raih lengan dalam Geisha dan mulai menyuntikkannya.
"Maafkan aku, Sayang. Tolong sadar!" tubuh Geisha memang sedang lemah. Merasakan perubahan Genta beberapa hari ini, membuatnya tidak napsu makan. Di tambah lagi dengan peperangan beberapa waktu lalu di ranjang, sungguh membuatnya tidak berdaya.
Genta sedari tadi memukul-mukul kepalanya, menampar wajahnya dan menjambak-jambak rambutnya karena menyesal.
"Jangan dulu sentuh Geisha, jika lo belum bisa mengendalikan diri. Geisha rapuh, Gen!"
"Lebih baik Dokter menahan diri dulu selama tiga bulan. Bicarakan masalah Dokter kepada istri. Saya yakin, Istri Dokter akan menerima."
Genta semakin frustrasi, mengapa bayangan ucapan Andre dan Dokter Gilang baru muncul sekarang. Kemana kah saat ia tengah tersulut dengan penyakitnya? Padahal awalnya ia sudah mencoba untuk menahan, mengapa malah begini akhirnya.
Genta menghembuskan napas kasar, berkali-kali mengusap wajahnya gusar. Mendesahkan napas berat untuk melegakan riak sesak di dada. "Ya Allah ...," barulah lelaki itu menyeru nama Allah. Meminta pertolongan untuk istrinya yang sudah habis terkoyak.
__ADS_1
Gentala semakin menjerit, saat ia lihat ada tetesan air putih bening keluar dari sudut mata istrinya. Menetes membasahi pipi lantas jatuh ke leher. Genta tahu, dalam ketidaksadarannya, tubuh Geisha sedang mengerang sakit.
Dan.
Bola mata Genta seraya ingin jatuh menggelinding, manakala melihat tubuh Geisha mengejang. Kedua tangannya mengepal, kakinya menghentak-hentak dengan kepala yang terus menyundul ke belakang. Kedua kelopak matanya masih tertutup. Geisha mengerang. Gentala mengungkung istrinya lagi, ia menekan kedua lengan Geisha agar istrinya itu berhenti mengejang.
"Sayang, sadar!" serunya ketakutan.
Dulu, Kahla dan Avika sesaat sadar hanya menangis sambil mengerang sakit. Berbeda dengan Geisha, yang malah saat ini memberikan efek berbeda. Lebih menakutkan dibanding kedua mantan istrinya.
Benar adanya, Geisha memang sedang rapuh dan sakit.
"Sayangggggggg!" teriak Genta. Lelaki itu semakin frustrasi. Ia bingung sekarang harus melakukan apa. "Tolong bangun! Maafkan aku, Sha!"
...🌾🌾🌾...
Trang.
Gelas berisi air yang tengah Genta genggam begitu saja jatuh saat ia kembali ke kamar dan tidak menemukan tubuh istrinya di ranjang. Hanya ada jejak gusaran tubuh tadi malam masih membekas di pusaran kasur.
"Sha? Kamu kemana?" panggil Genta sesaat langkahnya sudah berada di daun pintu kamar mandi yang dalam nya menggelap, menandakan tidak ada keberadaan istrinya di dalam sana.
Dan.
Srek.
"Ahh!"
Genta dengan langkah blingsatan bergegas keluar dari kamar, saat mendengar pekikan suara Geisha yang entah sedang berada di mana.
"Sha!" teriak Genta. Kepalanya melolong ke bawah dari undakan tangga lantai dua. Ia melihat Geisha terjatuh di undakan anak tangga saat melangkah turun. Geisha yang setengah bergoler karena tersandung dengan selimut tebal yang ia pakai untuk menutup tubuh polosnya, mendongak ke arah Genta dengan wajah takut.
Tubuhnya bergetar, ia mencoba merayap di lantai untuk bisa keluar dari rumah ini. Wanita itu takut, ia merasa Genta bukanlah suaminya.
"GEISHA!" sergah Genta. Ia dapati tubuh istrinya. Genta pegang kuat-kuat Geisha agar tidak merayap lagi di lantai mendekati pintu utama.
"Ah, jangan! Tolong jangan sakiti aku!" Geisha paksakan untuk berbalik teriak dengan ucapan yang tidak jelas, karena mulutnya terasa panas, ngilu dan hancur. Ia tarik selimut itu untuk membungkus dirinya. Melihat wajah Genta, seakan lebih menakutkan dari raja setan yang suka datang di mimpi buruknya saat kanak-kanak.
Geisha syok.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
Kalian harus sabar ya menunggu cerita ini. Walau enggak tentu kapan up nya, dan kebanyakan akan muncul di week end.
Dan episode ini aku up malam, apabila ada yang membacanya pagi atau siang jadi mohon di maafkan. Kalian bisa follow IG ku untuk tau kapan aku up. Karena sebelum up cerita ini, pasti akan aku berikan inpoh.
Sabar Geisha❤️❤️
__ADS_1