Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Masih Mencintai.


__ADS_3

"Geisha itu siapa, Nak?" tanya Mami, sesaat tangannya sedang meletakan lilin-lilin kecil sebanyak empat buah di atas kue ulang tahun Gentala hari ini.


Genta menghela napas panjang. Seraya memaksa untuk menerima bahwa gadis yang sedang di sebut Maminya, sudah pergi jauh dan tidak akan mungkin ia miliki. "Teman, Mih."


"Hem." Mami seakan percaya. "Ayo tiup, Nak!" Mami mempersilahkan Gentala untuk meniup lilin yang sudah menyalah.


Gentala hening lama menatap kue yang saat ini tengah di pegang Mami. Sebelum meniup lilin tersebut, Genta beralih menatap paper bag pemberian Papi dan Geisha yang ia letakan di atas kursi.


Puh.


Genta meniup lilin. Lilin pun mati. Ada seru bahagia dari Mami. Ia mencium kening Gentala. "Sehat selalu, ya, Nak."


"Makasih, ya, Mih." Genta berbalik mengecup kening Mami.


Mami mengangguk. Meletakan kue tersebut di meja dan mulai memotong nya. Baru saja ingin memasukan potongan kue ke mulut Genta. Anak lelaki itu menyergah. Karena gawai di kantung celananya bergetar.


Papi incamming call.


Genta menatap Mami. "Papi, Mih. Bentar, ya."


Mami memiringkan sudut bibir. "Hem."


Rasa benci di hati Mami kepada Papi seakan masih saja berbuih, padahal mereka sudah dua puluh tujuh tahun bercerai.


Papi mengubah sambungan telepon menjadi sambungan video call.


"Selamat ulang tahun, Genta. Doa terbaik Papi buat kamu. Sudah Papi sampaikan langsung kepada Allah, ya, Nak."


Genta mengangguk-angguk senang, ia tersenyum renjana melihat Papi di seberang sana sedang duduk di ruang kerjanya. Sama seperti halnya Mami. Papi akan selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Genta, walau Papi tidak akan datang. Ia tidak mau bertemu dengan Mami. Karena Papi tahu, Mami pasti sedang bersama dengan Genta. Puluhan tahun Genta selalu dalam posisi sulit.


"Halah! Bawa-bawa Tuhan. Sok jadi Papi yang benar!" Mami mendengus malas saat ia mendengar doa mantan suaminya.


Selama Papi menikah dengan Mami, memang iman lelaki itu semakin tenggelam. Dari awalnya pun Papi tumbuh menjadi lelaki yang tidak peka akan shalat atau beriman kepada Allah.


Tapi, setelah pernikahan kedua nya dengan wanita yang lebih muda sebelas tahun dari nya. Papi seakan mendapatkan hidayah. Mama Luna, dapat membawa Papi untuk berhijrah menjadi muslim yang lebih baik. Mama Luna adalah teman Bunda Maura saat di bangku sekolah menengah kejuruan pariwisata. Mama Luna dan Bunda, sama-sama menjadi chef terkenal yang memiliki beberapa restoran.


Dan selama menikah dengan Papi Haritala. Mama Luna tidak pernah di anggap oleh Gentala. Pun sama dengan suami Mami Else yang sekarang. Seakan Gentala benci dengan orang-orang asing yang merebut Mami dan Papi dari hidupnya.


"Kamu sehat 'kan, Nak?" pertanyaan Papi di seberang sana, membuat hati Genta menciut lagi. Bisa kah ia mengadu, kalau dirinya tengah patah hati? Bahkan saat ia bercerai dengan kedua istrinya. Genta hanya bisa diam. Ia tidak menjelaskan duduk perkara yang terjadi. Ia tidak mau di anggap sebagai anak yang lemah, walau sejatinya ia adalah anak yang menyimpan luka mendalam dan dendam yang tidak bisa terhempas karena ulah orang tuanya.


Genta yang duduk sambil memegang ponsel di depan wajah mengangguk. "Sehat, Pih. Papi gimana? Sehat 'kan?"


Mami Else memilih untuk melangkah ke dapur. Ia mulai memasak. Dari pada ia tetap di meja makan mendengarkan pembicaraan Papi dengan Gentala.


"Alhamdulillah sehat, Nak. Oh, iya, Papi belikan murotal player. Kalau mau tidur di nyalakan, ya. Biar tidur kamu nyenyak."


Mami Else menautkan alis. Wanita itu berdecih. "Sok agamis kamu sekarang, Hari! Kasih hadiah ke anak itu yang berbobot dong! Uang, kek! Barang branded. Itu apa? Murahan!"


Genta hening. Lelaki itu harus menelan senyum kepada Papi karena mendengar sungutan dari Mami di dapur yang terdengar nyaring.


Di sambungan video call. Papi pun bisa mendengar. Tapi, lelaki itu tidak menggubrisnya. "Shalat, Nak. Jangan sampai----"


Tut.


"Mih!" seru Gentala. Ia kaget karena gawai yang sedang ia tatap, di tarik paksa oleh Mami. Wanita itu mematikan sambungan telepon Papi dan Genta.


"Nanti lagi teleponan nya. Ayo bantuin Mami masak!"


"Kenapa sih, Mih? Mami sama Papi enggak bisa sedikit aja untuk berdamai? Mau sampai kapan kalian tidak akur seperti ini?" tanya Genta dengan wajah emosi. Ia ingin sekali saja, Mami dan Papi nya berdamai. Genta ingin merasakan kasih sayang dari keluarga yang utuh, Mami dan Papi yang saling menghormati satu sama lain, walau dalam konteks perceraian.


Mami Else menatap tajam Genta. "Sampai mati pun, Mami enggak akan pernah mau berdamai dengan lelaki keparatt itu!"


Gentala menggeleng kepala samar, serasa sudah muak dengan masalah keluarga nya yang semakin kacau balau. Belum lagi hari ini, adalah hari yang teramat berat baginya, kehilangan Geisha Alyra Hadnan.


Gentala mengacak rambutnya dan berlalu meninggalkan Mami menuju kamar dengan membawa paper bag berisikan kado dari Papi dan Geisha.


"Genta!!" wanita keturunan Ingris-Rusia itu terus menyerukan nama anaknya yang sudah melangkah ke lantai atas dengan air mata menggenang. Genta terpukul.


"Brengsek kamu, Hari! Sudah saya bilang, untuk tidak perlu lagi datang di kehidupan Genta! Saya bisa mengurusnya sendiri!" Mami Else membatin. Ia tidak mau Genta lebih akrab kepada Papi dan Mama Luna.

__ADS_1


Nyatanya? Mami tidak pernah ada untuk Genta selama ini. Wanita itu lebih sibuk dengan keluarga barunya. Mami salah jika uang yang selama ini selalu ia berikan untuk Genta, bisa membuat anak itu menjadi bahagia. Papi dan Mami pasti akan syok, jika tahu Gentala tumbuh menjadi sesosok lelaki yang mengerikan.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Berusaha untuk melupakan tetap saja sulit. Bayang-bayang kenangan yang baru setipis kulit tetap saja susah untuk di lupakan di hati keduanya. Terhitung tiga minggu, mereka sudah berpisah, walau sebelumnya tanpa ikatan apapun.


Dan selama itu pula, Geisha dan Genta tidak lagi bertemu. Stase bedah yang Geisha ikuti sudah selesai. Saat ini ia sedang mengikuti stase penyakit dalam. Poli dalam berada di lantai dua, maka kecil kemungkinan untuk mereka bisa bertemu.


Tapi, sepertinya. Keadaan mendukung Geisha dan Genta untuk bertemu hari ini. Laporan nilai untuk stase bedah sudah keluar, dan hasilnya sangat mencengangkan.


Geisha menjadi koas yang nilainya terbaik, Genta memberikannya nilai A. Dengan nilai tersebut membuat Geisha sedikit dipertanyakan oleh teman-teman koas lainnya.


Benarkah itu hasilnya? Sedangkan selama ini Geisha selalu di anggap biasa saja, mengapa bisa langsung meroket sampai ke nilai A rasanya sangat aneh. Yang jenius sekalipun hanya mendapat nilai C+. Jika sudah sampai ke pihak kampus, Geisha pasti akan di minta untuk presentasi ulang, sebagai contoh kepada para koas lainnya.


Geisha sudah duduk di depan Nurse Station. Ia menunggu Gentala selesai memeriksa pasien di poli bedah. Ia ingin meminta Gentala untuk merubah nilai yang sudah ia berikan.


"Dok ...." Suster Lala memegang bahu Geisha yang sedang duduk melamun. Tengah mencoba menguatkan hati untuk bertemu dengan Genta kembali.


Geisha terlonjak. "Sudah selesai, Bu?"


Suster Lala mengangguk sambil meletakan tumpukan berkas rekam medis pasien di meja.


"Baru aja, Dok. Dokter mau ketemu sama Dogen?" tanya Suster Lala dengan raut senang.


Walau dalam hati wanita ini, merasa sedih karena akhirnya mereka harus berpisah. Suster Lala membelalak mata saat dua hari lalu, ia menerima undangan pernikahan dari Geisha dan Andre. Pun dengan Genta. Lelaki itu semakin kacau.


Baru ingin menjawab pertanyaan Suster Lala, Geisha buru-buru memanggil Genta yang sudah keluar dari poli untuk berlalu. "Dok!" seru Geisha.


Gentala yang tubuhnya mengurus sampai enam kilo, menoleh. Awalnya ia tersenyum memandang Geisha yang sedang melangkah ke arahnya, karena rindunya terobati. Namun, senyuman itu memudar manakala ia ingat kalau wanita di hadapan nya ini akan menikah tiga hari lagi.


Dan yang paling bahagia dalam kesedihan mereka adalah Avika. Tidak menyangkan dirinya, kalau Andre akan menikah dengan Geisha.


"Dokter buru-buru?"


Genta menggeleng. "Ada apa?" Geisha meneguk saliva dalam-dalam, ia kikuk. Bertatapan dengan Genta seperti ini, mengapa membuat gelora jantungnya memburu lagi.


Genta mengangguk dan masuk lagi ke dalam poli bedah. "Ayo!"


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Lelaki itu sudah duduk di kursi nya seperti biasa. Sedangkan Geisha duduk di kursi pasien berhadapan dengannya yang di sekat dengan meja kaca berwarna gelap. Tidak ada lagi botol minum berisi air lemon yang selalu berdiri di sudut meja, karena Geisha tidak membuatkannya lagi. Sedih sekali perjalanan cinta mereka.


"Kenapa?" tanya Genta dengan nada acuh. Sebisa mungkin ia mengalihkan tatapannya dari Geisha. Genta berjanji ingin melupakan, ia harus merelakan wanita ini. Walau rasanya, masih sulit. Masih susah. Tidak sanggup.


Ruangan ini, yang awalnya menjadi pemersatu cinta. Harus kandas begitu saja sebelum mereka menjadi sepasang kekasih, entah mengapa sekarang berubah menjadi ruangan yang paling Geisha benci. Lalu bagaimana, dengan Genta? Dia yang lebih menderita, karena setiap hari ada di sini. Menikmati setiap kenangan.


"Saya ingin meminta Dokter untuk menilai saya kembali. Nilai yang Dokter berikan terlalu berlebihan. Saya jadi gunjingan, Dok." Geisha to the point.


Gentala teringat. Kalau dirinya memang sudah berlaku curang. Ia tidak adil kepada koas lainnya. Hanya karena rasa cinta, ia ganti jawaban Geisha yang salah dan ia benarkan dengan jawaban versi nya. Maka nilai A bisa Geisha dapat.


"Itu memang nilai asli kamu. Tidak saya tambah-tambah 'kan." Genta berdalih.


"Nilai asli dari mana, Dok. Dokter 'kan tau kemampuan saya selama ini. Masih banyak kurang nya." Geisha memaksa.


Memaksa untuk terus bersikap seperti orang lain saat menatap Genta, walau dadanya sedang bergetar. Ia rindu lelaki ini, ingin memeluknya. Ingin mengatakan, kalau dirinya bimbang dengan pernikahan yang akan terlaksana beberapa hari lagi.


Dada Genta memekik, saat tidak lagi merasakan kelembutan walau itu hanya dari nada suara Geisha. Gadis ini sudah berubah amat jauh.


Duduk berdua seperti ini. Dengan hati yang sama-sama masih bertaut, namun memaksa untuk menjauh dan bersikap seperti orang lain, sungguh menyiksa.


Dan Genta tidak tahan.


"Saya tidak akan merevisi nilai tersebut. Kamu pantas mendapatkannya. Jadi silahkan pergi." Genta bersikukuh dan terpaksa mengusir. Ia hanya tidak ingin di pandang lemah dan Geisha geram.


Bukan ia kurang bersyukur dan seharusnya berterima kasih seperti koas lain yang harus genit-genit kepada dokter pembimbing untuk mendapatkan nilai lebih, tetapi ia tahu Genta sengaja melakukan ini untuk menutupi rasa sesalnya.


"Tolong rubah nilai saya. Masih ada waktu, Dok." Geisha memelas.


Genta menggeleng. Ia mengetuk-ngetukkan ujung pulpen ke meja.

__ADS_1


"Saya pantang untuk merevisi. Jadi apa yang sudah saya berikan, nikmati 'lah. Anggap itu kado dari saya atas pernikahan kalian sebentar lagi." nada di ujung kalimat begitu pelan, membuat sukma Geisha bergetar. Ingin ia berhambur, menerjang lelaki itu, untuk menguatkan. Tapi, tidak mungkin ia lakukan. Genta kembali masuk ke dalam lubang kepedihan, padahal ia sudah berusaha kuat sejak kemarin. Tapi, kehadiran Geisha saat ini membuat hatinya kembali koyak.


"Tolong Dokter jangan campurkan urusan pribadi dengan amanah dalam membimbing saya!" Geisha bersikap kuat. Jika ia lemah. Maka, Genta pun akan lemah. Ia tahu manik mata lelaki di hadapannya ini sudah memerah menahan air mata. Pun, sama dengannya.


Genta membalikan kursi, memunggungi Geisha.


"Pergilah, Sha! Kamu tidak akan bisa memaksa saya. Nikmati lah dengan nilai yang sudah saya berikan. Jadikan acuan, agar kamu mau lebih giat lagi. Jadilah dokter yang hebat. Hanya doa itu yang bisa saya berikan." nada Genta terdengar lirih. Sekilas dari belakang terlihat ia sedang menyeka air matanya.


"Dok ...."


"Pergi!" Genta berseru lagi.


Air mata Geisha pun luruh. Ia berbalik badan untuk berlalu.


Tapi.


Blass.


"Shaaaaaaa!"


Geisha mematung dalam posisinya. Ia rasakan pelukan dari belakang yang begitu erat. Lelaki yang mengusirnya barusan. Menangis terisak di balik punggungnya.


"Saya enggak kuat, Sha!" Genta memelas.


"Saya rindu kamu." Geisha akhirnya ikut menangis menatap dinding.


"Saya sayang sama kamu." dan Geisha tahu perasaan itu.


"Saya harus bagaimana, Sha. Untuk memaksamu kembali? Walau rasanya tidak mungkin." mereka berdua terisak dalam air mata. Geisha membiarkan dirinya di peluk walau semestinya hal ini tidak boleh di lakukan.


"Saya tau. Saya salah karena berani memeluk calon istri sahabat sendiri seperti ini. Tapi, saya----"


"Peluk aja, Dok. Biar Dokter lega. Pun, sama dengan saya." akhirnya Geisha berkata jujur. Ia mengikuti kata hati.


Dalam benaknya, ia mengucap kata maaf untuk Andre, calon suami yang saat ini saja belum ia beri ruang untuk memeluknya seperti ini. Dan ucapan Geisha membuat Genta terperangah. Ia balik tubuh gadis itu untuk ia tatap. Dan kembali kaget saat melihat kebasahan di wajah Geisha.


"Kamu nangis? Apa itu artinya kamu masih mencintai saya, Sha?"


Geisha menunduk. Air bening masih merosot di pipi menuju leher yang tersibak dengan kain hijabnya.


"Sha? Jawab!" Genta mengangkat dagu Geisha untuk menilik matanya. "Kamu masih cinta sama saya?"


Geisha akhirnya mengangguk pelan. "Ya, Dok. Saya masih mencintai, Dokter."


Genta tersenyum dalam tangis. Selama ini ia memang yakin, kalau gadis ini masih mencintainya. Begitu lega dada Gentala, seakan ia punya harapan.


"Nikah sama saya, Sha. Tinggalkan Andre." demi rasa cintanya. Genta berlaku egois. Ia tidak lagi memikirkan Andre, yang ada di dalam kepala dan hati nya, jika Geisha mau memilihnya. Genta akan pasang badan, ia akan menghadapi segala kemurkaan yang akan Andre berikan padanya nanti.


Dan.


Geisha menolak. Gadis itu menggeleng, lagi-lagi mencacah jiwa Gentala.


"Walaupun sampai saat ini saya masih mencintai, Dokter. Tapi untuk meninggalkan Mas Andre agar kita bisa bersama, rasanya saya tidak bisa, Dok. Saya tidak tega dengannya. Mas Andre adalah lelaki baik, soleh dan sosok yang sangat di restui oleh Ayah dan Bunda saya. Jadi ...." Geisha menurunkan tangan Gentala yang saat ini sedang memegang kedua lengannya.


"Lupakan saya, Dok. Seperti saya yang akan berusaha sekuat tenaga untuk melupakan, Dokter. Berbahagialah dengan mantan istri, Dokter. Mbak Avika."


Tanpa Gentala ketahui. Avika sampai mendatangi Geisha untuk mengucapkan selamat atas pernikahan wanita itu. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah pergi dari kehidupan Gentala.


Avika menceritakan bahwa dirinya adalah mantan istri kedua setelah Kahla. Hal yang baru Geisha ketahui, dan menambah sakit di dada. Walau Avika tidak menjelaskan kekurangan yang Genta derita selama ini.


"Berbahagialah, Dok," tutur Geisha kembali untuk menguatkan Genta. Tidak perduli hatinya patah. Yang jelas ia tahu, dirinya dan Genta tidak akan bisa bersama untuk memulai kisah cinta seperti dulu.


"Lupakan jika kita pernah saling kenal dalam hubungan yang cukup dekat, pernah saling mengisi dan menyayangi. Anggap saja beberapa bulan lalu, tidak pernah terjadi. Tidak pernah ada kisah yang kita rajut. Saya yakin, Dokter bisa berbahagia seperti saya dan Mas Andre. Semoga Dokter bisa datang ke acara pernikahan kami."


Rasanya, Gentala ingin limbung. Memendam tubuh untuk bersatu dengan tanah. Cerahnya matahari tidak akan bisa lagi ia nikmati. Berganti dengan awan yang gelap dan hati yang menggersang. Seapapun untuk mencoba kuat, tetap saja hatinya kopong, patah dan hancur.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


__ADS_1


__ADS_2