
Cacahan bawang putih, bawang merah dan cabai, tengah Genta tumis di dalam wajan yang panas. Pagi ini, ia akan memasak nasi goreng untuk sarapan Geisha dan dirinya. Walau waktu sarapan terhitung sudah lewat, karena saat ini sudah pukul sepuluh siang.
Gentala berjanji akan menjemput Geisha ke kostan dan membawanya ke rumah untuk mau di ajarkan shalat, namun lelaki itu malah bangun siang dan akhirnya Geisha sendiri yang mendatangi Gentala di rumah.
"Hemm ... harum banget nasgor nya, Sayang," puji Geisha yang sedang duduk di meja makan.
Genta yang belum mandi tapi sudah di titah untuk memasak, lantas menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Iya, spesial buat kamu," balasnya dengan kekehan cinta.
Ia menilik Geisha yang sedang menuliskan huruf latin Al-Fatihah dan beberapa surah pendek lainnya agar Gentala bisa mudah untuk menghafal sebelum ia mengajarkan Genta dengan gerakan shalat. Minimal, lelaki itu harus tahu dan hafal dulu dengan surah Al-Fatihah, jantungnya dalam menunaikan shalat.
Geisha mendongak dan memberikan gerakan kiss bye dari jauh. "Unch so sweet, dear. Thank you so much ... I Love you."
Gentala menjawab, "I love you too." bahkan lalat di udara saja ingin muntah mendengar keuwuan mereka.
Geisha kembali melanjutkan tulisannya di beberapa kertas. Ada yang bisa dibawa-bawa Genta untuk di hafal di mana saja dan ada juga yang ingin ia tempel di dinding kamar lelaki itu.
"Telurnya mau dibuat mata sapi atau dadar?"
"Dadar aja, Mas," jawab Geisha.
"Ya." kini nasi goreng polos sudah matang, lelaki itu membaginya menjadi dua piring. Ia beralih memecahkan telur ke wadah dan mencampurkannya dengan garam dan lada.
"Sayang ...."
"Iya, Sayangku?" Geisha yang masih sibuk menulis hanya menjawab tanpa menatap wajah.
"Apa enggak sebaiknya, aku ke rumahmu? Mencoba meminta restu Ayahmu?" tanya Gentala. Dalam sudut hatinya, ia yakin kalau Ayah akan memaafkan dan menerima, karena Bunda saja sudah memberikan lampu hijau untuk hubungannya bersama Geisha.
Geisha menghentikan jarinya yang sedang menulis di atas kertas. Ia mendongak lagi, menatap punggung Genta yang masih berdiri di depan kompor.
"Nanti, ya, Mas. Kalau kamu sudah bisa shalat," jawabnya.
"Ya 'kan sambil jalan, Sha. Aku takut Ayahmu semakin murka. Karena beliau menganggap aku enggak ada insiatif untuk mengembalikan kamu. Aku juga pengin cepat nikahin kamu."
Geisha hening dalam senyumnya. Di satu sisi ia senang karena lelaki ini amat bertanggung jawab padanya. Tapi di sisi lain, ia teringat dengan sikap Ayah waktu itu. Ucapan Genta memang ada benarnya. Tapi, untuk sekarang rasanya belum tepat. Ia ingin membawa Genta dengan kelebihan yang ia punya seperti Andre, walau tidak akan bisa menyamakan iman islam yang Andre miliki.
Ngomong-ngomong soal Andre. Gentala sudah mentransferkan uang pribadinya kepada Andre untuk penggantian biaya pernikahan yang sudah Andre keluarkan untuk Geisha. Kocek yang ia keluarkan cukup besar, dan ia tidak perduli. Yang penting Geisha tetap menjadi miliknya.
Walaupun sebenarnya Andre tidak pernah meminta untuk diganti. Sampai detik ini juga lelaki itu masih belum mau membalas pesan atau bertemu dengan Gentala. Hatinya masih sakit dan kecewa.
Ia diketahui tengah mengambil cuti panjang dari Rumah Sakit, Kak Sandra ingin membawa Andre pergi ke Bali bersama keluarga untuk menghibur hatinya yang sedang lara. Pesan berisi kata maaf dari Genta dan Geisha sudah beribu kali mereka kirim dan lelaki itu hanya membacanya sana.
"Makanya kamu harus latihan shalat, baca Al-Quran, puasa dan lainnya. Biar Ayah menyetujui hubungan kita," tukas Geisha.
Ayah memang bukan ustadz, yang paham betul tentang agama. Tapi, ia hanyalah orang tua yang ingin melihat hidup anaknya bahagia sampai akhir hayat. Ia ingin Geisha didampingi dengan pasangan yang juga ingin meraih ridho Allah dalam pernikahan.
Perjalanan rumah tangga akan terasa ringan jika ada sinar agama di dalamnya. Apalagi suami itu tugasnya berat, ia akan di pertanyakan di Akhirat nanti, bagaimana selama ini mendidik istri dan anak-anak di dunia.
__ADS_1
Tuk.
Dua piring berisi nasi goreng dengan toping telur dadar Genta letakan di atas meja. Mengendus aroma sedap dan tampilan yang menggugah membuat perut Geisha meronta-ronta, air liurnya saja sampai ingin menetes.
"Oke kalau begitu. Aku akan terus belajar," jawab Genta.
Geisha mengangguk, ia menarik tangan Genta yang ingin berlalu lagi menuju dapur untuk mengambil minum ke kulkas. Ia memundurkan kursi, mempersilakan lelaki itu untuk duduk di sebelahnya. Geisha meraih dua helai tissue dan mengelap peluh di wajah Genta karena habis memasak. "Biar aku yang ambil minum."
"Iya, Sayang," balas Genta senang. Ia tetap menerima lapang dada untuk kekurangan yang Geisha miliki. Bahwa, gadis itu tidak bisa apa-apa. Berbeda jauh dengan para mantan istrinya yang pintar memasak, rajin dan sefrekuensi dengan dirinya.
Tapi, Geisha bilang ia akan belajar untuk menjadi istri yang serba bisa. Bisa memasak dan melayani suami dengan baik seperti Bundanya dan para mantan istri Gentala. Sama hal seperti Genta juga yang juga tengah belajar tentang agama.
Mereka berdua dipersatukan cinta untuk sama-sama saling mengisi kekurangan diri.
"Kamu kemarin udah belajar apa aja dari buku shalat?" tanya Geisha yang langkahnya sudah sampai di depan pintu kulkas.
"Baru hapal jumlah raka'at shalat nya aja," balas Genta santai.
"Coba sebutin ...." Geisha melangkah lagi ke arahnya dengan botol minum sudah di tangan, lantas menghempaskan bokong di sebelah kursinya.
"Subuh dua, Ashar 3, Dzuhur 4, Isya 3, Maghrib 3."
"Ngaco!" Geisha mencubit lengan Genta. "Ayo coba ingat lagi!"
"Oh, salah, ya." Genta mencoba mengingat-ingat. Dan akhirnya lelaki itu menggeleng dan kembali berkata, "Maaf, aku enggak ingat."
"Pakai cara ini aja, biar kamu hafal nya gampang. Urutan shalat dan raka'at nya disamakan dan dijejerkan dalam satu baris kayak gini : Subuh-Dzuhur-Ashar-Magrib-Isya, itu untuk urutan shalat. Untuk jumlah raka'at nya dua-empat-empat-tiga-empat. Subuh dua, Dzuhur empat, Ashar empat, Maghrib tiga dan Isya empat. Ayo, ulangi!" titah Geisha.
Geisha meletakkan lagi sendok yang sudah Genta pegang. "Hafalin yang ini dulu, baru makan!"
Raut Gentala memelas. "Tapi aku udah lapar, Sayang."
"Mau cepat nikah, enggak??"
Genta mengangguk mantap. "Ya mau lah."
"Makanya, ayo! Hafalin, mumpung ada aku. Kalau kamu salah, Insya Allah aku bisa membetulkan," tukas Geisha.
Genta tersenyum genit, ia menatap Geisha penuh haru.
"Kenapa tuh mesam-mesem begitu?" Geisha menautkan alis. Dan memundurkan kepalanya, ketika Genta mendekat ke wajahnya. "Boleh enggak, aku cium pipi kamu dulu?"
Geisha mengangguk dengan senyuman renjana. "Boleh 'kok apa sih yang enggak boleh buat calon suamiku ...."
Mendengar balasan Geisha membuat Genta bergegas memajukan bibir nya dan ujung telunjuk Geisha membuyarkan semuanya.
Ia menahan kening Genta dengan jarinya. "Nanti kalau udah, NIKAH! Makanya buru hafalin. Biar kamu bisa cepat ketemu Ayah!"
Gentala hanya bisa mencebik masam.
__ADS_1
...🌾🌾🌾...
Genap tiga puluh hari Geisha pergi dari rumah dan tinggal di kostan. Ia rindu Bunda dan Ayah. Ingin sekali wanita itu pergi menjenguk kedua orang tuanya, apalagi kabar yang baru ia ketahui dari Ginka kalau Ayah sedang tidak enak badan.
Pernah ia menelepon ke ponsel Ayah, namun lelaki itu urung mengangkat. Bukan karena Ayah tidak mau, tapi karena saat itu Ayah sedang tidur. Ia juga rindu Geisha, Khumairah nya. Tapi, mengingat Geisha lebih memilih Gentala, membuat hatinya terkoyak-koyak.
Selama sebulan ini, Bunda terus merayu Ayah agar mau memaafkan Geisha dan menerima Anak itu lagi. Bunda bilang, cinta memang tidak bisa dipaksa. Dari pada nanti anaknya tidak bahagia bersama Andre, lebih baik merestui hubungannya dengan Genta.
Apalagi Genta adalah anak Papi Hari dan Mama Luna, sahabat keluarga mereka sejak dulu. Rasanya tidak mungkin kalau Genta akan menyakiti Geisha di sepanjang pernikahan mereka.
"Ya sudah, Bun. Telepon Geisha suruh bawa lelaki yang ia pilih. Ayah mau---"
Ting nong ... Assalammualaikum ...
Terdengar bel rumah berbunyi dengan nada suara animasi kartun berulang kali, menandakan kalau ada tamu yang datang.
"Bik ...," panggil Bunda ke art rumah untuk membukakan pintu. Namun, yang dipanggil tidak datang-datang, sepertinya Bibik sedang sibuk di belakang. "Biar Ayah aja yang buka," ucap Ayah menyela istrinya agar tetap duduk di sofa.
Ayah yang sedang memakai kardigan untuk menghalau hawa dingin disertai derai batuk yang melanda, beranjak bangkit menuju pintu utama.
Ting nong ... Assalammualaikum ...
"Ya, tunggu sebentar," ucap Ayah, manakala bel terus dipencet oleh tamu di luar. Bunda tetap mengekor langkah Ayah dari belakang. Ingin menyambut tamu siapakah yang datang ke rumah siang-siang begini.
Dan.
Krek.
Pintu utama Ayah buka lebar. Menyembul lah sosok anak yang amat ia rindukan dan baru saja ia perbincangkan dengan istri nya.
"Ayahhhhhhhh!" seru Geisha. Ia langsung memeluk Ayah. Memeluk erat lelaki itu kuat-kuat. Geisha menangis sejadi-jadinya. Ia menumpahkan rindu yang amat berat. Sebulan tanpa melihat beliau, membuat dirinya setengah melayang.
Ia terpaksa pergi karena ingin membawa Genta dalam kondisi terlahir kembali dalam iman islam yang baru saja berbuih. Geisha yakin, Ayah akan menerima Gentala seperti hal nya Andre.
Gentala terenyuh dengan kerinduan yang sekarang tersaji di depan matanya. Calon istri tengah berpelukan dengan calon mertuanya. Genta sampai meliburkan diri dari praktek di Rumah Sakit hanya untuk menjenguk, membawakan makanan dan mencoba meminta restu dari kedua orang tua Geisha.
"Maafkan Geisha, Yah. Geisha sudah durhaka sama Ayah dan Bunda ...." air mata gadis itu luruh, tumpah ruah. Membasahi kain kardigan Ayah di pangkal bahu.
"Geisha udah buat malu Ayah dan Bunda," sambung nya lagi. "Tapi, demi Allah. Bukan maksud Geisha untuk membangkang dan meninggalkan keluarga." Geisha terus meyakinkan Ayah.
Mendapatkan pelukan Geisha dan mendengar suara anaknya lagi, membuat dada Ayah hilang dari sesak. Telapak kakinya tidak lemas lagi dalam berpijak. Ternyata Ayah pun tidak sanggup kehilangan Geisha. Permata hatinya. Ayah mengangguk, ia mengusap lembut dari belakang kepala sampai punggung Geisha.
"Iya, Nak. Ayah maafkan ...."
Ayah mengurai dekapan. Ia tatap wajah Geisha yang sudah basah karena air mata, mengecup kening Geisha lama.
Bunda mengelus dada lega. Ia mengucap syukur karena suaminya yang sebenarnya amat baik mau juga menerima dan memaafkan Geisha.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Sudah engkau lembut kan kembali hati suamiku ...." Bunda membatin.
__ADS_1
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...