
Gentala segera mematikan knob kompor, saat bola-bola ayam berisi mozzarella yang tengah berendam dalam minyak panas di wajan sudah sepenuhnya berubah kecoklatan untuk siap di santap. Ketika meniriskannya di piring saji, ia gegas menoleh ke arah kamar mandi, manakala mendengar raungan tangis sang istri dari dalam.
Gentala mendorong pintu dan menyembulkan kepala. Ia tilik Geisha yang tengah terduduk di lantai dengan wajah merungut kecewa. Ia dapati tiga buah testpack sudah berserak di lantai.
Gegas Gentala masuk. Menarik tubuh istrinya untuk bangkit. Lantas memeluknya.
"Sabar, Sayang ... enggak usah di cek setiap minggu. Di mana-mana aturannya itu setelah telat haid," ucap Genta, kembali mengingatkan.
Umumnya memang seperti itu. Kebanyakan para istri akan mengecek, jika mereka sudah terlambat datang bulan. Sebagai dokter, ia pun tau. Nyatanya? Geisha terlalu antusias.
Setiap minggu ia akan mengecek, karena aturan pakai pada salah satu testpack, bisa di gunakan jika sudah tujuh hari berhubungann badan.
Setelah Gentala menyambung kembali saluran spermaa nya. Geisha menggempur lelaki itu tanpa batas. Walau pada akhirnya, ia juga akan merasakan sakit karena Gentala juga ingin di puaskan dengan caranya sendiri.
Selepas itu, Geisha suka mengalami yang namanya, mual-mual palsu. Genta selalu menepis, bahwa itu hanya psikisnya saja.
Setelah satu bulan kepulangan dari Gili Trawangan. Baru kemarin mereka tiba di Jakarta. Kembali menempati rumah yang sudah lama keduanya tinggali. Belum lagi, mereka juga ingin bertemu kedua orang tua, untuk menjelaskan mengapa mereka seakan pergi tanpa kabar. Genta juga harus praktek untuk mencari uang, serta berobat lagi ke Dokter Spesialis Jiwa langganannya.
Semakin ke sini, Gentala juga rajin shalat. Walau ia baru hapal Al-Fatihah dan dua surah pendek lainnya. Sesekali jika lupa dengan bacaan shalat, ia akan mengulang gerakan shalat itu dan memulainya kembali. Makin ke sini, hati Gentala semakin tenang dan teduh.
"Berarti permainan kita seminggu lalu tidak membuahkan hasil, ya? Ini aja masih negatif!" Geisha kecewa. Ia tatap testpack yang sudah terserak melantai dengan mata berkaca-kaca.
"Minggu depan pasti berhasil, percaya deh. Sekarang kita sarapan dulu, ya."
Geisha menggeleng tidak mau. "Aku nggak napsu makan."
Dan Genta tetap membawa Geisha untuk duduk di kursi meja makan. "Di bawa santai aja, Sha. Dulu Kahla ...." suara itu terhenti, saat Geisha menoleh dengan sorotan mata tidak suka, alisnya menaut tinggi.
"Kamu mau banding-bandingkan aku lagi dengannya?" Geisha yang selalu sabar, kini kian berubah, menjadi sesosok yang kurang sabaran. Sedikit-sedikit selalu merasa tersinggung.
"Aku tidak membandingkan kamu. Justru, dulu. Kahla tidak terlalu gegas mendapatkan anak," balas Genta jujur. Geisha semakin meradang. Ia gebrak meja makan dan menatap wajah suaminya kesal.
"Itu sama saja kamu membandingkan aku, Mas! Apa salahnya aku jika terlalu ingin untuk hamil?"
Gentala menggeleng samar. Ia raih lagi cintanya untuk duduk dengan tenang. Berusaha berujar dengan nada selembut mungkin.
"Maksud ku, dibawa santai aja, Sha. Rileks gitu. Enggak usah terburu-buru. Nanti, pikiranmu malah kacau. Hormon pun jadi terganggu. Kamu enggak ingat apa kata Dokter kandungan kemarin?" bahkan mereka saja, baru meminum obat-obat kesuburan dari Dokter Obgyn, empat hari lalu. Dokter saja mengatakan, nikmati saja dulu rumah tangga mereka. Karena biasanya pasutri akan konsultasi, jika sudah lebih dari setahun pernikahan. Dan, Geisha? Tidak sanggup, jika selama itu.
Geisha bersedekap, menatap makanan yang sudah tersaji. "Bisa enggak sih, Mas. Kamu jangan bawa-bawa lagi, Mbak Kahla, ketika kita sedang bicara? Dan aku juga melarang kamu mulai detik ini untuk berdekatan dengan dia dalam konteks apapun!" Geisha memilih tidak mendengar nasihat Genta, karena ia selalu merasa terpojok. Merasa kalah dari Kahla, yang bisa memberikan anak kepada Genta dengan cepat, seusai menikah. Seakan Geisha menutup mata, bahwa pernikahannya pun baru akan melangkah ke usia tiga bulan.
Gentala menyerengitkan dahi. "Kok gitu? Kenapa memangnya? Dia kan baik. Selama ini kalian juga dekat." kemarin, Kahla mengirimkan pesan kepada Genta, ingin menanyakan mengapa Geisha memblokir kontak WhatsApp nya.
"Aku tidak suka lagi padanya! Dia musuh yang harus aku waspadai seperti, Mbak Avika!" dengus Geisha. Ia merasa, Kahla tidak bisa dipercaya lagi. Tanpa mendengarkan alasan lebih dulu, mengapa Kahla bisa begitu saja dengan mudah menceritakan perihal Genta kepada Avika.
"Ya Allah, Sha. Kenapa kamu jadi berubah begini? Kahla itu baik, enggak seperti---"
Geisha menatap bengis Gentala. "Kamu masih suka sama dia, Mas?" rasa cemburu pun muncul.
"Astaghfirullah ...." kini, lelaki itu sudah fasih mengucap kata istighfar.
"Kalau aku masih suka sama dia. Aku pasti terus kejar dia, Sha. Nggak akan nikahin kamu."
Geisha berdecak tawa malas. "Aku jadi ingat saat kamu mengusap keringatnya, saat kita berpapasan dengannya di tangga dulu."
Wanita memang makhluk yang mempunyai ingatan yang amat pekat. Masih terekam jelas, saat Gentala belum menjadi kekasih, masih menjadi Dokter pembimbing koas yang arogan untuknya, masih memberikan perhatian yang mengagumkan untuk Kahla. Padahal wanita itu sudah menikah dan tengah mengandung muda.
Gentala mengusap wajah frustrasi. "Aku melakukannya bukan karena masih suka atau cinta seperti halnya ke kamu. Hanya rasa seperti ke adik. Kamu kan tau, Kahla tengah hamil. Aku senang, karena ia bahagia lagi. Ia sempat kecewa karena perlakuanku dulu yang membuat anak kami---"
"Aku enggak mau dengar!" Geisha memilih bangkit. Meninggalkan Gentala yang tiba-tiba diam, melipat bibirnya, untuk masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Genta menyandar lemah di sandaran kursi. Mengguyarkan rambut ke belakang dengan tatapan kosong menatap udara.
"Sabar, Gen. Sabar. Istrimu ini masih bocil ...." lelaki itu mengusap-usap dada. Menghembuskan napas perlahan dari mulut, menekan oksigen bebas di udara agar isi kepalanya bisa tetap segar.
Gentala memilih menuangkan nasi di piring dan mengambil bola-bola keju di wajan untuk ia jadikan teman lauk. Akan ia bawa piring berisi makanan tersebut untuk di antar ke kamar. Ia ingin menyuapi istrinya sarapan sebelum pergi ke rumah Bunda, Mami dan Papi.
...๐พ๐พ๐พ๐พ...
Geisha termenung sedih di jok mobil. Bukan karena ia habis di marah-marahi Ayah dan Bunda satu jam lalu, karena memilih berlibur di saat Ginka menikah, melainkan hatinya tersentak. Saat mengetahui kabar kalau Ginka sudah berbadan dua. Wanita itu positif hamil setelah tiga minggu menikah.
Gentala hanya bisa menahan ludah di ujung lidah, saat Ayah mertuanya memilih menghempaskan rasa kecewa kepada istrinya. Seakan Ayah masih menghargai Gentala, walau ingin sekali Ayah berucap agar bisa mendidik Geisha sebagai istri yang baik. Padahal sejatinya, Geisha tetap datang ke pesta, walau dengan samaran. Sampai dirinya berseteru dengan Andre.
"Kita pulang aja, ya? Enggak usah ke rumah, Mami?" Genta meraih tissue untuk mengusap pipi Geisha yang basah. Tahu keadaan istrinya semakin tidak menentu, karena semakin sedih dan terperosok.
Geisha menggeleng. "Kita tetap pergi ke rumah, Mami. Kasian Mami mu sedang sakit," balas Geisha.
Mami Else menelepon Gentala untuk memberitahukan bahwa dirinya ingin bertemu, karena tengah sakit. Beberapa bulan ini juga, wanita tua itu merasa sulit sekali bertemu dengan anak lelakinya.
"Maaf, ya. Kamu jadi dimarahin sama, Ayah." Genta menarik Geisha ke dalam dada. Ia peluk wanita itu di dalam mobil. Mereka masih berada di pelataran parkir rumah Ayah dan Bunda. "Maaf tadi aku enggak bisa bela kamu, Sha," tukasnya lagi.
Geisha mengangguk. Air mata nya kembali berlinang, mengurai dekapan Genta. "Aku sudah tidak mempermasalahkan itu, Mas. Yang aku cemaskan, mengapa Ginka yang lebih dulu hamil? Padahal aku yang lebih dulu menikah. Mengapa harus adikku dulu?"
"Sha, iri itu tidak baik. Apalagi Ginka itu adikmu."
Geisha menggeleng. "Aku tidak iri. Tidak benci. Aku senang kok. Tapi, kenapa aku harus di langkah lagi? Terdahului lagi? Ghea sudah lebih dulu menikah dan sebentar lagi akan melahirkan. Sekarang, Ginka. Aku kembali jadi yang terbelakang, Mas ...," lirihnya. Baru saja Genta ingin menjawab untuk menenangkan dengan nasihatnya, bibir nya yang terbuka lekas bungkam. Manakala Geisha kembali bersua.
"Aku tahu, Allah pasti marah. Karena kamu memilih melakukan Vasektomi waktu itu!" kini, Geisha melemparkan kesalahan itu kepada suaminya.
Genta menautkan alis. Ia mulai tersinggung. "Kenapa selalu itu terus sih yang kamu ucap?" karena bukan sekali, beberapa kali kalau Geisha sedang terguncang dengan hasil testpack yang negatif. Wanita ini akan mengucap hal yang menyudutkan Genta.
"Karena kamu salah, Mas! Kamu salah!"
"Ya, aku salah. Lalu bagaimana?" nada Genta juga meninggi seperti Geisha. Lelaki itu memilih memukul stir kemudi untuk menumpahkan rasa kesal.
"Jalan!" Geisha menyela. Ia menitah Genta untuk berhenti bersua.
"Sha ...."
"Jalan! Keburu sore. Kita belum beli kue untuk, Mami," balas Geisha tak terbantahkan.
Wanita itu memilih memalingkan wajah ke luar jendela, menatap hamparan kehijauan dan tataan bunga-bunga milik Bunda di halaman. Dengan wajah merungut, Genta memilih melajukan kereta besi untuk melesat ke rumah Mami.
...๐พ๐พ๐พ๐พ...
Brug.
Kue yang ada di dalam kotak, terjerembab jatuh ke lantai sesaat Mami membuangnya ke lantai tepat di hadapan Geisha. Belum sempat mencium punggung tangan wanita itu, Geisha sudah terperanjat kaget. Pun dengan Genta.
"Mami kok gitu?" tanya Genta, ia tidak suka dengan sikap maminya yang seperti tidak suka dengan kedatangan Geisha.
Mami Else yang tengah memakai syal melingkar di leher, memilih menatap Geisha yang memberikan raut bingung.
"Semenjak Anak saya menikah dengan kamu. Dia susah sekali untuk ditemui! Kamu berusaha membuat Genta menjauh dari saya?" suara Mami Else melengking.
"Mih!" tak sadar Genta sampai membentak.
"Mas, jangan!" Geisha mengingatkan agar tidak berani berucap kasar kepada orang tua. Geisha menatap Mami, sambil ingin mengusap lembut lengan orang tua itu yang masih berdiri menatapnya dingin. Tapi, Mami menolak.
"Don't touch me!"
__ADS_1
Geisha menelan air ludah jauh ke dalam kerongkongan. Pun dengan Genta, yang hatinya mulai memanas.
"Mami hanya salah paham. Selama di Gili, sinyal susah, Mih." Geisha mencoba tenang. Ia tekan emosi. Padahal di dalam sukma, rasa kecewa akan hari ini dan pertengkaran dengan Genta belum terselesaikan. Seakan kesedihan dan masalah terus menderanya.
Mami menolak dalihan Geisha. "Baru kali ini, saya merasa resah saat Genta menikah! Dulu, saat bersama Avika dan Kahla. Gentala bebas-bebas saja. Kapan saja bisa ditemui. Ponsel selalu on. Tidak membuat saya khawatir!" tentunya, karena Mami tidak tahu kalau Geisha tengah bersembunyi dari incaran keluarganya. Ia menginginkan Genta mematikan ponsel agar Ayah tidak bisa melacak kepergian mereka kemarin.
"Mih! Tolong, Mih. Jangan memperlebar masalah," selak Genta.
Mami Else memandang tajam Geisha, sambil menunjuk ke arah Genta. "Kamu lihat kan? Anak saya ini, jadi berani! Berani berucap kasar kepada saya! Kamu memang istri yang hanya membawa hal buruk! Menjauhkan suami dari keluarganya!"
Geisha memandang sendu Mami. Air bening ia tahan untuk tidak luruh. Padahal hatinya sudah menganga lebar, seakan dirajam oleh gergaji. Pedih sekali. Ia hanya bisa diam, tidak mau membantah atau menyuarakan kekesalan.
"Mami, please!" lagi-lagi Geisha menggelengkan kepala agar Gentala bisa diam.
Genta ingin menjerit kepada Mami. Wanita tua itu sudah salah. Salah, karena sudah menerka bahwa Geisha adalah pengaruh buruk. Geisha tentu saja sesosok berlian mahal. Wanita baik yang tengah memperjuangkan suaminya untuk sembuh.
Mami Else tidak menanggapi decakan Gentala. Ia masih saja napsu untuk melahap Geisha sekarang.
"Sebulan bulan madu? Menghabiskan uang anakku? Kamu itu, gila? Pakaianmu saja alim, tapi tidak sealim otak dan sikapmu!" Mami memandang jijik tampilan gamis dan hijab yang Geisha kenakan sekarang. Padahal Mami tidak tahu saja, jika baru kemarin kawat besi yang selama ini ada, bertengger di gigi-gelisi Geisha untuk mempertahankan gigi depan agar tidak copot, baru terlepas. Semua itu tentu saja berkat ulah anaknya.
"Lantas apa hasilnya sudah bulan madu selama itu? Sudah hamil?" Mami berdecak remeh. Entah mengapa, kekuatan Geisha seakan ciut. Luruh lah air mata Geisha dengan gelengan kepala. "Belum, Mih," balasnya pelan.
Mami memiringkan sudut bibir. "Dulu sama Kahla, baru nikah sebulan, langsung hamil, tuh. Enggak pakai acara bulan madu selama itu. Tapi, kamu? Banyak gaya! Langsung hamil juga enggak!" Mami menatap Geisha bengis. Yang ada dalam pandangan Mami, Geisha ini mirip seperti Mama Luna. Sok alim, tapi menjijikan. Ia tidak tahu saja, bahwa kedua wanita itu amat berjasa untuk bisa merubah sikap dan sifat mantan suami serta anaknya.
"Dari awal, saya juga enggak setuju kamu nikah sama anak saya. Tapi, Genta aja yang kebelet nikah! Enggak bisa bedain, mana yang dewasa mana yang masih bocah ingusan!"
Deg.
Hancur hati Geisha. Di maki-maki, di hina, direndahkan oleh Mami mertua. Ingin melawan, ingin membela diri untuk membuat namanya bersih. Sama saja akan membuat anaknya malu karena aib nya di buka. Mami dan Papi tidak akan menyangka, jika Gentala tumbuh menjadi monster karena sumbangsih dari kekerasan mereka di masa lalu.
"Mih! Genta enggak rela demi nama Allah. Kalau Mami hina-hina Geisha kayak gini. Geisha istriku, Mih. Aku bekerja, mencari nafkah untuk dirinya. Apapun yang Geisha mau. Geisha seperti ini, karena----"
"Mas, sudah!" Geisha menyudahi. "Tidak pantas berucap seperti itu," imbuhnya lagi. Ia tidak mau lelaki ini keceplosan.
"Sok suci kamu! Pergi dari sini, saya muak lihat wajah kamu!" usir Mami dengan suara terbatuk-batuk.
"MAMI!" Genta mulai kalap. Maminya ini sudah kelewatan. Genta mengepal tangan kuat-kuat. Menonjok Mami tidak mungkin ia lakukan. Ucapan Mami amat membuatnya marah, karena sudah meremehkan istrinya.
"Tega kamu bentak, Mami?"
"Karena Mami sudah kelewatan!"
Mami Else menitikan air mata. Ia memeluk Genta.
"Mami kangen kamu, Nak." mencoba mengalah untuk menang.
Genta menahan api membara, yang ingin ia semburkan kepada Mami.
"Kalau kamu sayang sama, Mami. Malam ini kamu menginap di sini. Mami lagi pengin ditemenin tidur sama kamu," pinta Mami memelas.
Gentala menatap ke arah Geisha yang sudah menyeka air matanya. Sang istri mengangguk, seakan mengiyakan.
Setelah perdebatan dengan Mami. Geisha memilih masuk ke kamar tamu. Memilih mengunci kamar dan melepas tangis sampai suaranya serak. Ia lepas hijab, ia usap benjol di kulit kepala, berkat tindakan Genta kemarin malam saat sedang melepaskan hasratnya.
Wanita itu memilih berbaring, meringkuk di bawah selimut. Ingin melepas penat, sesak dan rasa kecewa kepada takdir hidup yang sekarang sedang ia jalani.
"Sha, buka pintunya, sayang. Izinkan aku masuk ...." Geisha tetap memejam mata, saat Gentala mencoba memanggil namanya dari luar, mengetuk pintu dan menghentak-hentak handel.
"Semoga aku sanggup untuk terus berada di sampingmu, Mas."
__ADS_1
...๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ...
Kalau komennya sampai dua ratus. Insya Allah, besok akan aku up lagi.