Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Ada Yang Perlu Kamu Tahu.


__ADS_3

Mendengar penuturan Geisha, membuat tensi darah Mami seolah naik. Wajahnya memerah menahan kesal. Wanita itu langsung menarik tangan Gentala untuk masuk ke kamarnya tanpa basa-basi dulu kepada Geisha.


"Sebentar, ya, Sayang," ucap Genta sambil menoleh ke belakang saat tangannya masih digandeng paksa oleh Mami.


Geisha mengelus dada dengan tatapan bingung. "Apa ada yang salah dengan ucapanku barusan? Mengapa Maminya terlihat begitu marah?" tanyanya membatin. Geisha jadi salah tingkah. Degup jantungnya berirama kencang, ia terus berdoa agar Mami bukanlah suatu penghalang lagi untuk hubungan mereka.


"Permudahkan jalan kami, Ya Allah. Permudah ...." doanya.


Brug.


Gentala didorong kasar oleh Mami sampai terjungkal di ranjang. Wanita bule itu berkacak pinggang sambil melotot ke arah Genta.


"Apa-apaan kamu? Tega kamu tusuk Mami dari belakang kayak gini? Kenapa enggak cerita dulu sama Mami? Kenapa kamu lebih pilih Papimu dulu untuk memberikan restu? Kamu tau kan kalau dulu Papimu itu nyakitin Mami, Genta! Dan bisa-bisanya kamu memilih calon istri yang berdekatan dengan Luna, Mami kan benci banget sama dia, Genta!!" teriak Mami. Lantas mendekati Genta yang masih diam menatap Maminya. "Jawab!" Mami gemas, ia memukul dan mencubit lengan Genta.


"Ampun, Mih," balas Genta. Ia sedikit menjauh dari pukulan Mami. "Mau sampai kapan Mami kayak begini? Menaruh benci kepada Mama Luna?"


Mami semakin melototkan matanya. Urat-urat hijau menyembul di pelipis Mami. "Apa tadi kamu bilang? Kamu sebut dia, MAMA?" Mami geram, remuk jiwanya. Ia tidak terima dengan panggilan Genta kepada wanita itu. Mami memukul lagi lengan Genta. Wanita itu memperlakukan Genta selayaknya anak kecil seperti dulu yang selalu ia pukuli jika melakukan kesalahan.


"Wanita sialann itu bukan Mama kamu! Tapi aku, Mamimu! Aku yang melahirkan kamu! Tidak ada celah untuk siapapun!" Genta menunduk dengan napas yang sama berantakannya dengan Mami.


"Selama ini aku salah, Mih. Mama Luna orang yang baik, dia enggak seburuk yang kita kira. Lagi pula perceraian Mami dan Papi sudah lama berlalu. Mami juga punya Daddy sekarang, apa lagi masalahnya?"


Daddy. Lelaki seumuran Mami yang dinikahi setelah Papi. Seorang pengusaha yang memiliki perusahaan logam terbesar kedelapan setelah Eco Group dan Hadnan Group. Dari pernikahan mereka, mendapatkan dua anak yaitu Ellen dan Damian. Saat menikahi Mami, status Daddy masih perjaka. Mami Else adalah cinta pertama Daddy saat mereka sama-sama masih di bangku SMA. Mendengar Mami bercerai, membuat lelaki itu untuk berani menikahinya. Daddy mempunyai satu tingkat kesabaran lebih tinggi dari Mami, orangnya pun ramah dan baik. Walau begitu, Genta tidak terlalu akrab. Bagaimanapun ia benci karena ada lelaki yang bisa membuat Maminya menjauh darinya.


Mami memukul Genta lagi. "Berani kamu sekarang lawan, Mami, ya! Aneh banget tiba-tiba kamu belain si Luna!" Mami berteriak. Genta sampai memalingkan wajah, suara Mami begitu menusuk gendang telinganya.


"Oh ... mami paham, pasti karena wanita muda tadi 'kan? IYA? Sok alim!"


Genta mendongak saat nama Geisha disebut. "Mami boleh maki-maki atau pukul Genta. Tapi, enggak dengan Geisha, Mih."


Mami mengeratkan giginya. "Mami enggak setuju kamu nikahin dia! Dia masih muda, palingan umurnya masih dua puluhan. Jauh banget sama kamu, Gen! Kamu nikah sama Kahla dan Avika yang umurnya udah dewasa aja, masih bisa bercerai. Apalagi sama anak abege bau kencur kayak gitu! Paling bisa nya shopping! Mana bisa ngurus kamu!" Mami merendahkan Geisha. Wajah Geisha memang sangat muda jika disamakan dengan Genta yang sudah dewasa, apalagi lelaki itu sudah menikah sebanyak dua kali. Sudah sangat berpengalaman, seharunya ia bisa memilih istri yang sebaya dengannya, pikir Mami.


"Jangan hanya liat dari luarnya aja, Mih. Geisha enggak seperti yang Mami pikir. Geisha jauh lebih mengerti Genta dibandingkan Kahla dan Avika." walau apa yang Mami ucapkan itu benar. Geisha memang tidak bisa apa-apa. Tapi, Genta tahu Geisha sedang belajar menjadi seorang istri dan ia juga akan membimbing wanita itu.


Mami berdecih. "Lebih mengerti? Dari mana kamu tau? Kalian belum menikah!"


Genta hening. Apa yang Maminya ucapkan ternyata benar lagi. Apakah betul setelah Geisha sudah tahu keaslian dirinya, wanita itu akan mengerti?


"Kenapa diam? Benar 'kan ucapan Mami?" Mami mulai menurunkan emosinya. Nada suaranya berangsur biasa. Ia duduk di sebelah Genta untuk mendoktrin anak itu lagi. Walau ia tidak tahu apa yang membuat Genta diam, dan masalah apa yang terjadi dengan rumah tangga anaknya.


"Sebulan lalu Mami bertemu sama Avika. Dia bilang ingin rujuk sama kamu. Gimana kalau---"


Genta menggeleng. "Enggak, Mih."


"Apa salahnya untuk kembali? Kalian bisa menutupi bagian yang retak untuk kembali merajut hal yang baru, Nak," balas Mami memelas. Ia tidak mau Genta menikah dengan Geisha. Belum menikah saja, Genta sudah banyak berubah. Bahkan ia mengatakan kalau Mama Luna adalah wanita baik yang selama ini selalu ia benci. Mami tidak mau Mama Luna berhasil meraih cinta Gentala.


"Seperti halnya Papi dan mami. Mengapa dulu harus bercerai? Kenapa tidak mencoba untuk rujuk? Padahal kalian punya aku!" Genta mengeluarkan unek-uneknya. "Kalian memilih untuk hidup bahagia dengan keluarga masing-masing. Sementara aku? Hanya dibiarkan tinggal bersama Oma tanpa belaian kasih sayang dari kalian setiap hari. Aku ingin perhatian yang murni, Mih. Dan aku mendapatkan semua itu dari Geisha. Karena dia pula, aku mengenal Allah ...."

__ADS_1


DEG.


Hati Mami seakan dihardik sembilu. Ia tidak menyangka anak lelaki ini sampai menyebut nama Tuhan yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Belum lagi kekecewaan Genta kepadanya dan Papi Hari yang selama ini tidak pernah ia dengar. Apalagi jika Mami tahu kalau Genta mengidap penyakit mental karena arogansi dari dirinya dan Papi Hari di masa dulu. Ia amat takjub, bagaimana bisa Geisha mengubah Genta seperti ini.


"Walau tanpa izin Mami. Genta akan tetap menikahi, Geisha!" Genta bangkit dari ranjang, melenggang langkah untuk berlalu meninggalkan Mami yang masih termangu.


Dan sebelum membuka pintu, Genta menoleh lagi belakang, hatinya pun sakit melihat Maminya mulai menangis.


"Maaf, Mih. Aku lebih pilih Geisha. Geisha segalanya buat Aku. Aku sudah mentolerir dan menerima Mami dan Papi untuk berbahagia dengan keluarga kalian selama ini, sudah saatnya Mami dan Papi juga mengiyakan apa yang menjadi kebahagiaanku. Tugas kalian hanya mendoakan. Tolong restui kami," ucap Genta lagi sebelum benar-benar berlalu.


Tap.


Geisha mendongak sesaat langkah Gentala sudah tiba dihadapannya.


"Ayo, Sayang kita pulang!" ajak Genta. Ia menggandeng tangan Geisha.


"Lho, Mas? Kenapa? Ada apa sama Mami?" Geisha melihat kelopak mata Genta basah, air mata sempat menetes saat Genta keluar dari kamar Mami dan buru-buru Genta seka saat langkahnya akan sampai.


Genta menggeleng, ia malas membahas. "Ayo!" Geisha bangkit karena tarikan tangan paksa dari Genta.


"Ada apa, Mas? Kamu jangan kayak begini sama orang tua. Kita enggak boleh asal main pulang aja. Kita belum pamit," ucap Geisha. Ia memutus paksa gandengan tangan Gentala, dan berbalik badan ingin masuk lagi ke dalam rumah, padahal saat ini langkah mereka sudah mau sampai ke badan mobil.


"GEISHA!" seru Genta. Nada bariton Genta yang tidak pernah Geisha dengar, kembali menerpa indera pendengarannya. Melihat Genta seperti itu, Geisha diam. Ia mematung di posisinya dan berbalik badan.


"Jangan bantah perkataanku! Belajar lah jadi istri yang menurut akan semua perkataan suami!" Genta menarik lagi tangan Geisha paksa menuju mobil. Genta pun tidak sampai hati memperlakukan Mami seperti tadi. Pernikahannya sudah di ujung mata. Ia tidak mau hanya karena perkara remeh perihal Mami yang cemburu dengan Mama Luna, berimbas kepada hubungannya. Dan Genta tetap bersikukuh untuk mengatakan kalau Mama Luna memang wanita solehah yang amat baik dan tulus.


Pesta pernikahan kembali digelar. Ketiga kalinya untuk Genta, dan yang terkahir ini paling meriah. Genta sampai menjual salah satu asetnya untuk bisa menikahi Geisha dengan acara yang mewah dan meriah dengan tangannya sendiri. Ia menolak pemberian dari orang tuanya dan orang tua Geisha.


Genta ingin membedakan dirinya dengan Andre. Biar dianggap bisa memberikan yang lebih baik kepada Geisha. Padahal, Geisha selalu mengatakan agar acaranya sederhana saja, mengingat dirinya pernah malu di kaca sosial perihal acara pernikahannya dulu dengan Andre yang batal karena ulah gilanya.


Tamu undangan lebih banyak, dibandingkan saat Geisha akan menikah dengan Andre. Ada persatuan Dokter Spesialis Bedah, jejeran direksi dan staff Rumah Sakit, komunitas motor besar, tamu penting dari kolega perusahaan Papi Hari. Langganan venue hotel milik Mama Luna. Langganan pembeli dan rekan bisnis berlian Mami Else. Kolega perusahaan Daddy, belum ditambah dengan tamu undangan dari pihak Geisha, keluarga Artanegara dan Hadnan.


"Gugup, Nak?" tanya Mami. Ia duduk disebelah Genta yang sudah sangat tampan memakai beskap putih pengantin dan songkok di kepala.


Gentala yang sejak tadi menatap meja akad yang masih kosong dan beberapa saat lagi akan ia duduki, menoleh ke arah Mami. Ia genggam tangan Mami dan dikecupnya. "Doain, ya, Mih. Genta gugup banget. Rasanya kayak waktu Genta nikahin Kahla, kayak pertama kali," balas Genta.


Mami tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang Anak. Dan tangannya terulur untuk mengusap dada Genta yang jantungnya terasa sekali bergemuruh hebat. "Yakin, Nak. Anak Mami pasti bisa," ucap Mami. Ia mendongak ke atas, lantas mencium pipi Genta. "Semoga ini pernikahanmu yang terakhir, ya. Kamu harus jadi suami yang baik."


Dari balik rasa cemas, ia temukan kehangatan dari sang Mami. Genta berbalik mengecup kening Mami. "Makasih, ya, Mih."


"Iya, Nak."


Dari kejauhan Papi Hari dan Mama Luna menatap senang, keromantisan anak dan Ibu yang tengah mereka tatap sekarang.


Mau tidak mau. Suka atau tidak. Mami Else akhirnya memberikan restu. Ia membolehkan Gentala menikahi Geisha. Awalnya Geisha berucap pada Genta untuk menunda pernikahan jika Maminya belum memberi izin. Mendengar hal itu, membuat Papi Hari akhirnya turun tangan. Ia sampai menemui mantan istrinya untuk bisa diajak kerja sama untuk kebahagiaan putra mereka.


Terlihat Kahla juga sudah hadir sebelum akad berlangsung, dengan perutnya yang semakin membola karena usia kandungannya kini sudah menginjak usia enam bulan. Ia sempat menghampiri Mami Else, Papi Hari dan Mama Luna untuk mengucap salam. Mami pun memeluk Kahla erat untuk melepas rindu. Berbeda dengan Avika yang saat ini sedang menangis di rumah. Dua hari lalu, Avika dan Kahla berdebat. Avika tidak menyangka kalau Kahla lebih memilih Geisha sekarang dibanding dirinya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat, Mas Genta bahagia, Vika! Dan kebahagiaannya ada pada Geisha." kalimat yang dilontarkan oleh Kahla kepada Avika membuat mereka ribut di meja kafe. Avika sampai menyiram wajah Kahla dengan air minuman.


Dan Andre? Hati lelaki itu memang belum sepenuhnya legowo. Karena rasa cintanya kepada Geisha yang masih saja berbuih belum mau surut. Tapi, dia tidak bisa melakukan hal apapun selain menerima, kalau Geisha memang lebih memilih Gentala.


Tiga hari sebelum acara pernikahan, Genta mendatangi Andre untuk mengucap kata maaf kembali dan memintanya untuk berkenan hadir di pernikahan agar bisa memberikan doa baik untuk mereka. Dan ia pun mengatakan kalau dirinya akan berusaha untuk sembuh dengan pengobatan yang terus berjalan.


"Yang penting lo jangan nyakitin Geisha, Gen. Kalau lo belum mampu untuk atur jiwa lo. Lebih baik lo tahan dulu untuk enggak sentuh dia, sampai lo benar-benar yakin dengan diri lo." nasihat yang keluar dari bibir Andre kala itu. Walau dalam tepi hatinya, ia sedih. Melepaskan Geisha kepada lelaki sakit seperti Genta.


Kahla melangkah menuju ruang khusus di mana Geisha berada untuk menunggu dipanggil keluar oleh penghulu di meja akad, setelah mendapat info dari beberapa keluarga yang ia tanya sebelumnya.


"Sha ...." Kahla mengelus bahu Geisha yang sedang terduduk dengan kepala menunduk menatap ponsel. Banyak sekali ucapan selamat yang masuk atas pernikahannya hari ini.


Geisha mendongak dan langsung menyambut Kahla dengan wajah gembira. "Alhamdulillah, Mbak, akhirnya datang juga," ucap Geisha. Ia mencium tangan Kahla sebagai tanda hormat. Kahla pun duduk bersisihan dengan Geisha di sofa yang sama. Tangan Geisha yang dingin terus menggenggam tangan Kahla. Seraya ingin menumpahkan rasa gugup yang sedang mendera.


"Kamu cantik banget, Sha. Aku sampai pangling," puji Kahla. Ia tatap polesan make up di wajah Geisha dari penata rias termahal yang Genta sewa untuk Geisha hari ini.


"Masa, Mbak? Aku malah enggak mikirin make up, Mbak," wajah Geisha mendadak sendu.


Alis Kahla menaut. "Kok sedih? Ada yang sedang kamu pikirin? Kamu enggak berniat kabur lagi 'kan?" kekeh Kahla.


Geisha pun tertawa. "Ya enggak dong, Mbak. Aku kan sayang banget sama, Mas Genta. Hanya aja aku lagi cemas. Aku takut Mas Genta enggak bisa mengucap Ijab Qabul dengan lancar."


Kahla mengusap bahu Geisha. "Kamu lupa kalau Mas Genta udah nikah dua kali? Dia pasti khatam 'kok."


"Iya, sih, Mbak. Tapi, tetap aja aku was-was," balas Geisha.


"Setiap pasangan yang hendak melangsungkan Ijab Qabul pasti gitu, bawaannya cemas, gelisah dan takut. Tapi kamu tenang aja, berdoa aja, percaya aja. Karena kalau kalian sudah sampai ditahap ini, Allah pasti udah merestui."


Dan Geisha hanya bisa mengangguk sambil berusaha menenangkan hati dan pikirannya agar bisa kembali normal seperti biasa.


"Ada satu hal yang ingin aku bicarakan padamu, Sha ...."


"Tentang apa, Mbak?" tanya Geisha.


Kahla melirik beberapa orang yang masih berada di ruangan ini, seraya menitah Geisha untuk mengusir mereka dulu. Dan Geisha paham akan hal itu.


"Dek, keluar dulu, ya." titah Geisha kepada Ginka dan Ghea dan para sepupu perempuan yang duduk di sofa lain di ruangan ini. Mereka pun mengangguk dan pergi.


"Mbak mau ngomong apa?" Geisha kembali memulai.


"Aku ingin membahas Genta padamu, Sha. Ada hal yang perlu kamu tau ...."


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Sampai ketemu sabtu depan ya, guys. See you❤️❤️


Bagi yang masih mau novel versi cetak karyaku : luka anakku dan senandung cinta di balik jeruji. Tutup PO sampai tanggal 30 dan ditunggu pembayaran sampai tgl 5. Kalian bisa pesan dulu, bayarnya pas gajian boleh. Karena bukunya tinggal limited, guys

__ADS_1


__ADS_2