
Geisha berhasil menjadi biang rusuh dan penyakit di hari ini. Bagai kiamat kecil tengah datang, begitu mengguncang dan mempora-porandakan dua keluarga besar.
Begitu lah wanita, ia hanya akan memakai perasaan tanpa memakai logika.
Andre termenung dalam duduknya. Ia melepas songkok putih yang sejak tadi ia pakai di kepala. Lelaki yang sudah memakai beskap putih pengantin itu, tengah menggenangkan air mata saat membaca pesan yang Geisha tinggalkan saat dirinya sudah berada di meja akad. Yang baru ia tilik saat tahu Geisha kabur.
[Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini. Aku mencintainya. Mencintai Dokter Gentala.]
Dada Andre terasa berat, karena hembusan napas yang terasa sulit untuk di keluarkan. Rasa malu karena dipermalukan, sedih dan kecewa semua bercampur menjadi satu. Menunggu lama untuk menikah dan akhirnya gagal. Padahal ia sudah berbangga diri kepada khalayak ramai, kalau dirinya akan berbahagia di hari ini.
Sang Kakak yang ikut menangis terus menguatkan Andre, mengusap-ngusap bahu Adiknya yang masih tertunduk menahan beban. Kak Sandra mengutuk perbuatan Geisha dan sempat memaki Bunda.
Sikap Geisha yang tidak beradab dan beretika membuat Bunda sempat pingsan dan menangis di dekapan Ayah. Mengapa sampai hati anak perempuan yang ia lahirkan dengan penuh kasih sayang, tega melemparkan arang panas ke wajahnya.
Membuat para tamu melenggang pergi dengan cibiran panas. Kakek dan Nenek pun ikut menangisi Bunda dan Ayah. Mengapa cucunya tega melakukan hal yang tidak terpuji kepada anak mereka.
Avika yang turut membaca pesan itu pun geram. Ia ikut menenangkan Andre walau dirinya sendiri sedang cemas. Apakah Geisha kabur bersama Gentala? Atau wanita itu pergi menemui mantan suaminya?
"Aku sudah menangkap semua ini dari awal, Vika," tutur Andre dengan rahang sedikit mengencang. Andre adalah lelaki bijaksana, ia bisa mengatur emosinya agar tidak terlalu meledak-ledak. Walau saat ini ia ingin sekali berteriak, memaki dan menarik Geisha untuk kembali duduk di meja akad.
"Apa yang kamu tangkap, Ndre?" tanya Avika dengan nada sendu. Air matanya pun luruh menatap Andre. Lelaki baik hati, soleh, selalu bertutur kata lembut dan dermawan bisa di sakiti seperti ini.
"Geisha pernah beberapa kali menyebutku dengan sapaan Genta. Di saat itu aku berpikir, mungkin lidahnya sedang salah. Dan dia menampik saat aku tanya, pernah kah ada hubungan dengan Genta. Geisha menyergah. Ia bilang hanya hubungan antara koas dan dokter pembimbing." air mata Andre akhirnya luruh.
"Sabar, Dek. Sabar. Mungkin Allah ingin memberikanmu yang terbaik dari pada wanita itu!" Kak Sandra masih saja geram.
Avika diam. Selama ini ia tidak jujur kalau Gentala memang dekat dengan Geisha. Avika hanya takut, kalau Andre akan mengalah demi Genta. Ia tidak mau hal itu terjadi. Tapi, nyatanya? Semua terjadi. Geisha pergi memilih Gentala.
"Minum dulu, ya. Biar kamu tenang." Avika menyodorkan air minum ke bibir Andre. Namun, lelaki itu menggeleng. Ia menghalau.
"Aku sudah mulai mencintainya, Vika. Aku mencintai, Geisha!" nada bariton Andre akhirnya keluar.
Bola matanya memerah. Ia tetap berusaha agar emosinya tidak meledak-ledak. Namun, sukmanya seakan tidak kuat. Andre tetaplah manusia biasa, ia mempunyai rasa kecewa dan sakit hati. Kak Sandra dan Avika sampai kaget melihat perubahan Andre yang seperti ini.
Lelaki itu bangkit dari kursi. Ia menerobos para bahu keluarga Geisha dan keluarganya yang sedang panik. Lantas melangkah menuju pintu utama ballroom, dengan wajah yang basah, kedua tangan mengepal dan rahang yang mengeras. Ia ingin kembali membawa Geisha ke tempat ini, untuk tetap menikah dengannya. "Aku enggak akan melepaskan kamu, Sha!" gumam Andre.
"Kamu mau kemana, Nak?" Papi Hari menghentikan langkah Andre. Ia baru saja keluar dari ruang make up sehabis melihat keadaan Bunda yang masih bergolek di temani Mama Luna, Ginka dan Ghea dan beberapa keluarga lainnya. Sedangkan Ayah, Bisma, Dipta, Eldy dan Om Ammar sedang melacak GPS yang ada di dalam mobil dan gawai Geisha. Ingin mencari di mana keberadaan wanita itu sekarang.
Andre menatap Papi Hari. "Mau datang ke rumah Genta, Om."
Papi menautkan alis. "Genta?" ulangnya bingung.
Wajah Andre yang begitu dingin dan datar mengangguk. "Karena calon istri saya berada di sana sekarang!"
"Apa?" Papi tersentak. Ia menggeleng tidak percaya. "Genta?" ulang Papi.
Andre mempunyai sinyal kuat di hati kalau Gentala sedang patah hati di rumah dan saat ini Geisha menemuinya. Itu lah mengapa Gentala tidak memunculkan batang hidung di acara ini, sekarang.
Andre tidak menghiraukan Papi yang masih melongo. Ia tetap melanjutkan langkah untuk berlalu.
"Jika saja bukan kamu lelakinya, mungkin aku bisa menerima, Gen! Tapi kamu sakit! Kamu hanya akan menyakitinya seperti Kahla dan Avika!" Andre membatin. Ia bergegas masuk ke dalam mobil, mengidahkan panggilan dari Kakak-kakak yang terus mengejarnya.
"Ada apa ini, Vika? Apa kamu tau sesuatu?" Papi yang seakan sudah sadar, menghalau Avika yang sedang melangkah blingsatan melewatinya.
Avika dengan raut sendu mengangguk. "Genta dan Geisha adalah sepasang kekasih, Om."
"Apa?" kembali Papi menjerit. Yang Avika tahu, kalau Genta memang memiliki hubungan spesial dengan Geisha. Seperti sepasang kekasih pada umumnya. Namun, pupus. Saat Kahla berhasil mempengaruhi Gentala.
...🌾🌾🌾...
Jantung Geisha menderu-deru ketika melihat idaman hati tengah tergolek lemas di lantai. Wajahnya panik disertai hembusan napas yang berantakan, membuat kepalanya semakin mumet dan kacau.
Bukannya mengkhawatirkan Andre, Ayah, Bunda, keluarga besar atau para hadirin. Tapi, ia lebih memilih mencemaskan Gentala.
"Ada apa dengan kamu, Dok? Kenapa keadaan kamu seperti itu?" tanyanya sendiri. Dengan peluh yang sudah banjir, Geisha sedang mencari-cari sebuah benda yang bisa ia gunakan untuk memecahkan kaca. Kebaya pengantin yang terasa berat di tubuhnya membuat ruang gerak nya terasa sempit.
Dan.
Tap.
Ia menemukan sebuah batu besar di sudut pekarangan. Lantas ia bawa untuk kembali tiba di depan jendela rumah Genta.
Prang.
__ADS_1
Puing kaca dari jendela rumah Genta begitu saja luruh saat batu besar menghujamnya berkali-kali. Pertengahan kaca sudah berlubang, ia bisa melangkah masuk ke dalam rumah untuk menolong Genta.
Namun.
"Arghhh!" pekik Geisha. Lengan wanita itu terluka. Tergesek dengan puingan kaca tajam yang masih tersisa di tepi jendela. Darah mengalir dari sobekan luka. Geisha mencoba sekuat mungkin untuk menahan perih dan sakit.
Ia tahu, apa yang ia rasakan sekarang tidak ada apa-apanya dari rasa sakit Andre dan keluarganya.
Geisha berjongkok di sebelah tubuh Gentala.
"Ya Allah ...," serunya saat melihat puing-puing beling menancap di permukaan kaki Genta. Manik matanya berpendar, menilik botol-botol Alkohol yang berserak. Geisha bergegas mengecek tanda-tanda vital Gentala terlebih dulu, untuk memastikan bahwa lelaki itu tidak mati.
"Alhamdulillah." Geisha mendesahkan napas lega. Hembusan napas Genta teratur, begitupun dengan ritme nadinya. Dengan beberapa helai tissue yang Geisha ambil di atas meja. Ia cabut semua beling-beling yang menancap. Padahal saat ini, lengannya pun terus mengalirkan darah.
"Dokter!" panggil Geisha dengan nada sedih. Ia membalikan daksa lelaki itu untuk berbaring terlentang menatapnya.
"Euhh!" Geisha mengerang saat mencoba mengubah posisi lelaki itu. Tubuh Genta yang kekar, terasa amat berat.
"Dok, bangun! Saya datang, Dok!" Geisha menepuk-nepuk pipi Genta. Raut cemas masih saja kentara, walau ia tahu lelaki ini masih bernapas.
"Dokter!!" tepukan itu berganti dengan cubitan. Lima menit Geisha mencoba memaksa lelaki ini untuk mengerjap mata.
Geisha memukul pipi Genta kembali. "Bangun, Dok! Kamu mabuk, hah!" aroma tubuh Genta tidak menampik kalau bau alkohol itu masih melekat. Walau Geisha kesal melihat lelaki ini mabuk. Tapi di sudut hatinya, ia seakan mewajari. Gentala sedang patah hati karena dirinya yang akan menikah pagi ini dengan Andre.
"Emmm ...." akhirnya Genta bergumam.
"Bangun, Dok! Ini saya, Geisha!" Geisha berseru dengan nada kencang. Ia mengulang-ngulang seruannya.
Mendengar suara permaisuri hati yang ia rasa tidak akan mungkin ada di sini. Membuat Genta mengerjapkan mata cepat. Bola matanya yang memerah menghunus wajah Geisha dengan tilikkan tidak percaya.
Dan.
Benar. Ini Geisha.
Miliknya.
"SHA!" seru Genta. Ia bangkit dari baringnya, lantas memeluk Geisha kuat-kuat. Geisha mengigit bibir bawahnya karena tidak kuasa menahan pedih saat lengannya yang berdarah tertekan lengan Gentala.
"Ini kamu nyata 'kan, Sha? Bukan hanya ilusi saya?"
Genta mengangguk senang. Ia tidak perduli bagaimana Andre, yang penting Geisha di sini, sekarang bersamanya.
"Kamu kembali, Sha! Kamu memang hanya untuk saya, Sha!" Genta histeris dengan raut takjub dan gembira. Ia memeluk wanita itu. Memeluk erat Geisha, seakan menjaganya agar tidak terlepas lagi.
"Dok ... dok! Lepas, Dok! Dada saya sesak, lengan saya sakit!" mendengar wanitanya mengeluh, buru-buru Gentala mengurai dekapan itu. Dan Geisha terbatuk-batuk.
"Kok berdarah?" Genta kaget melihat lengan kebaya Geisha yang sudah bersimbah darah.
Geisha menunjuk ke arah jendela yang sudah ia rusak. "Maaf, ya, Dok."
"Saya yang harusnya minta maaf. Sudah membuat kamu seperti ini." tangan lelaki itu menempel di pipi Geisha. Lantas mengusap sisa-sisa kebasahan yang masih tercetak di sana. Luntur sudah polesan make up karena air matanya yang banjir sedari tadi.
"Nanti saya obati luka nya, ya."
"Luka Dokter juga akan saya obati. Kenapa harus minum-minum, Dok?" Geisha melirik botol-botol alkohol yang sudah bercecer.
"Saya frustrasi, Sha! Saya enggak mau kamu nikah sama, Andre! Saya enggak kuat!"
"Dokter benar- benar cinta sama, saya? Bukan sekedar main-main?"
Gentala mengangguk, memberikan tatapan sungguh-sungguh kepada Geisha agar wanita itu percaya.
"Saya berani memberikan jantung saya saat ini untuk kamu!" Genta ingin meraih potongan beling yang ingin ia goreskan di dada. Dan Geisha tidak membiarkan hal itu terjadi. "Jangan, Dok!" sergahnya.
"Apa kamu percaya?"
Geisha mengangguk dan tersenyum. Pun sama dengan Genta. Mereka berdua saling bertatap. Dan sesaat kemudian, di keheningan yang tercipta di antara mereka. Genta memiringkan kepala, ia ingin mendaratkan bibirnya di pertengahan bibir Geisha, ingin melabuhkan kecupan di sana. Melepas kerinduan dalam rasa cinta yang selama sebulan ini tertahan.
Namun, Geisha menahannya dengan satu jari. Wanita itu menggeleng.
"Jangan, Dok. Kita belum menikah. Berpelukan begini saja rasanya tidak pantas."
"Maaf, Sha."
__ADS_1
Geisha mengangguk. Dan Genta senang karena sudah di ingatkan. Jika saja ia berhasil mencium Geisha. Maka, saat itu juga keasliannya akan terkuak.
"Kamu benar membatalkan pernikahan ini?" Genta mengulang. Ia menggenggam tangan Geisha dan di kecup nya berulang kali dengan pejaman mata. Genta masih saja sulit untuk percaya bahwa keinginannya terjadi.
Geisha sampai meneteskan air mata, manakala ia lihat keteduhan dan kasih sayang yang Genta berikan untuknya. Begitu murni dan tulus.
"Iya, Dok. Benar."
"Terima kasih atas pengorbananmu. Saya cinta sama kamu, Sha."
Air mata haru keduanya tampak. Beriringan luruh dalam satu tatapan.
"Saya ingin menikahimu, Sha. Sekarang juga saya ingin menghalalalkan kamu!"
Genta semakin tidak perduli dengan Andre. Rasa sayang kepada Geisha, cukup besar. Ia merasa hidupnya akan berwarna dan dirinya akan sembuh jika bersama wanita ini. Cinta memang butuh berkorban. Dan lelaki itu sudah mengorbankan hati sahabatnya. Ia yakin, Andre akan mengerti dan lambat laun pasti akan memaafkannya.
Mendengar hal itu, Geisha menundukkan kepala. Punduk terasa berat, ia bingung ingin menjawab apa.
"Sepertinya kita akan sulit untuk menikah, Dok."
Genta menarik dagu Geisha, agar manik mata mereka kembali bertemu.
"Orang tua mu tidak akan merestui kita?" terka Gentala.
Geisha mengangguk pelan. Pasalnya, ia sudah mencoreng nama Ayah dan Bunda dengan peristiwa di hari ini. Dan sosok Genta yang sangat jauh berbeda dengan Andre, pasti akan sulit mendapatkan restu.
"Kamu tenang, Sayang. Apapun akan saya lakukan. Sekalipun harus menyembah di kaki kedua orang tua kamu." Gentala berjanji.
"Jika Dokter rajin shalat. Bisa mengaji dan mau berserah diri kepada Allah. Mungkin bisa menjadi suatu pertimbangan untuk Ayah dan Bunda saya, Dok." pasalnya, selama mereka dekat. Gentala sangat susah jika di nasihati untuk shalat. Geisha seakan tahu, kalau lelaki itu amat membenci Tuhan.
DEG.
Jantung Gentala kembali berpacu. Ia tidak mengingat sampai ke arah sana.
Masih kah ia menampik keberadaan Allah?
Setelah wanita yang ia inginkan, sudah di kembalikan kepadanya?
Bisa hidup bersamanya dalam suka dan duka seperti yang ia cita-citakan?
Berdua selamanya dengan Geisha?
Berkeluarga sampai mempunyai banyak generasi?
Sekaligus sebagi obat untuk penyakitnya?
Jalan menuju Surga-Nya?
Gentala tatap manik gelap Geisha lamat-lamat. Ia lihat sinar kemurnian cinta di dalam sana.
"Demi kamu. Saya bersedia. Tolong ajari saya, Sayang!" Gentala tersenyum. Ia kecup kening Geisha, walau wanita itu mencoba memundurkan kepala agar Genta tidak sampai mengecupnya.
Dan.
Bragg.
Pintu utama membentang lebar. Mereka yang jaraknya amat dekat seperti tengah berpelukan, menoleh cepat ke arah pintu yang terbuka paksa dan kasar. Cahaya terang matahari begitu saja masuk dari luar ke dalam pintu yang sudah terdobrak paksa.
"GEISHAAAAAA!!"
Napas Geisha memburu manakala ia tatap Bisma yang menyerukan namanya dengan nada nyaring dan kencang. Dan dua sosok di sebelah sang Kakak yang saat ini ingin sekali Geisha cium kakinya untuk meminta maaf.
"Ayah." gumam Geisha pelan. Ia pandang nanar lelaki itu. Pun dengan Ayah, ia menggeleng samar. Ayah tertohok bukan main saat mendapati anak perempuannya bersama lelaki yang bukan muhrimnya. Seakan lemas, dunia tidak sanggup ia pijak. Begitu malu, harga dirinya terinjak-injak.
Lantas Geisha mengubah tatapannya ke sebelah bahu kanan Bisma. Ia tilik Andre yang air matanya kembali jatuh menetes di pipi . Lelaki itu terlihat amat berantakan. Ia menatap Geisha dari jauh dengan kekecewaan amat dalam.
"Kenapa kamu tega sekali, Sha?"
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
Like dan Komennya ya jangan lupa. Biar aku semangat. Walau sesibuk apapun aku, secapek apapun, bisa aku usahain untuk update. Novel ini tidak di kontrak guys. Aku tidak mendapatkan bayaran dari novel ini. Maka cukup hargai aku dengan Like dan Komen kalian. Dan bagi kalian yang mau, bisa menabung untuk membeli buku ini dalam versi cetak.
Dan follow IG aku agar kalian tau kapan aku update @megadischa
__ADS_1
Sehat selalu ya❤️❤️