Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Apa Benar, Mas?


__ADS_3

Senyum Geisha terus merekah, menatap cermin di dalam kamar mandi sembari menggosok rambut nya yang basah dengan handuk karena habis keramas dan mandi junub.


Semalam, setelah shalat Isya dan makan malam. Geisha kembali berhasil mengikat Genta untuk melepas hasrat. Wanita itu bagai rusa liar cantik yang berhasil menemukan rimba nya. Namun, di saat menjelang subuh. Libido Genta naik. Ia menerjang Geisha ketika wanita itu sudah terlelap mengarungi mimpi. Dan pukulan demi pukulan yang Genta beri, tidak bisa Geisha hindari, walau pukulan tersebut tidak terlalu menyakitkan seperti biasa.


Saat lelaki itu menghentak tubuhh nya, Geisha mencoba untuk membimbing Gentala dengan kata-kata lembut darinya. Mencoba mengunci tangan sang suami agar tidak terlalu kejam ketika menyakiti.


"Sayang ...." suara Genta dari luar kamar mandi membuat ia terlonjak dari lamunan. Ada dua sisi ia senangi walau masih terasa menyakitkan. Karena kulit di sudut matanya, terasa perih karena luka robek. Sekilas kuku Genta mencakar nya.


Ia senang karena ternyata Genta bisa sedikit ditakhlukan. Ia tengah berpikir merancang baju khusus yang bisa ia kenakan saat berhubungan dengan sang suami.


Dengan begitu Gentala tidak tersiksa, karena dirinya juga bisa puas mendapatkan pelepasan. Intinya, pasangan suami istri ini berhasil memuaskan diri dengan cara masing-masing. Geisha akan memulai permainan dulu, setelah itu baru suaminya. Ia ingin sekali cepat hamil, siapa tahu dengan kehamilannya. Gentala bisa lebih percaya diri lagi untuk sembuh dari sakit.


"Iya, Sayang ...," balas Geisha manja dengan handuk mini di tubuhnya.


Gentala tersenyum walau raut di wajahnya tercetak rasa bersalah. "Aku obati lukamu, ya." ia gandeng sang istri untuk di dudukan dulu di sofa.


Geisha menurut. Ia mau saja. Genta sudah menyiapkan kotak P3K di meja yang biasa ia gunakan untuk mengobati luka Geisha setelah mereka berhubungan. Di bawa jauh-jauh dari Jakarta untuk menemani perjalanan honeymoon mereka di sini.


"Mas, aku pengin keliling pantai pakai sepeda," ucap Geisha. Ia tatap Genta yang tengah fokus mengusap luka di sudut mata Geisha dengan kapas yang dibasahi dengan cairan antiseptik.


"Di kamar aja. Tidur."


Geisha mengerucutkan bibir ke depan. "Ayo dong, Mas," pintanya manja.


"Nanti kamu hitam."


Geisha tertawa, ia melirik ke arah jendela yang tirainya terkibas-kibas karena hembusan angin pantai. "Orang teduh gitu. Enggak panas kok, Mas. Mumpung masih pagi."


Geisha bermanja di lengan sang suami, menatap Genta dengan wajah ingin. "Kali aja aku lagi ngidam, Mas."


Genta menghela napas, ia menggeleng samar. Istrinya ini seakan tengah gila karena mengada-ngada. Jelas saja ia tahu, karena mustahil sekali jika Geisha hamil saat-saat sekarang.


"Harusnya kemarin aku haid, Mas. Tapi, sampai sekarang belum," ujarnya berbinar-binar, lantas memegang perut, memberikan usapan lembut di bagian bawahnya. "Siapa tahu kan dedek bayi sudah ada di sini. Nanti, kita cari apotik, ya, Mas. Buat beli testpack. Aku mau cek besok pagi."


Genta kembali menggeleng karena penat. Di ujung hati, tubuhnya seakan tersayat duri. Bisa-bisanya ia berbohong kepada wanita yang sudah memberikan semua bagian hidupnya tanpa terkecuali.


"Siapa tahu kamu telat haid hanya karena hormon."


Geisha mengurai dekapan, ia menatap Genta dengan raut tidak suka. "Harusnya kamu nyemangatin aku. Kenapa malah ngomong kayak gitu? Bikin aku down," ujar Geisha, tatapannya mulai sendu.


Genta kembali merayu. "Aku takut kalau hasilnya enggak sesuai harapan. Kamu nanti sedih, Sayang. Mendingan nanti aja di cek nya, kalau sudah telat sebulan." lelaki ini terus mencari-cari alasan agar Geisha tidak melulu membahas soal kehamilan yang memang tidak mungkin untuk di alami wanita itu sekarang.


"Sebulan? Kelamaan dong, Mas. Kalau memang udah anaknya. Kan aku bisa langsung konsumsi vitamin biar janinnya kuat," balasnya.


"Banyak kok yang hamil empat bulan tapi baru ketahuan. Pokoknya kamu happy aja, jangan siksa kepala kamu hanya soal anak. Kita juga kan baru nikah, Sha. Masih waktunya manja-manjaan." Ia kecup pipi Geisha dan memeluk wanita itu.


Walau setengah hatinya seakan terkoyak, karena dari ucapan Genta seraya tidak mendukung, mau tidak mau ia harus tetap menurut perkataan lelaki itu. Tapi, untuk mengetes dengan testpack akan ia lakukan besok pagi secara diam-diam.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...

__ADS_1


"Jangan jauh-jauh, ya. Cukup sampai ke ujung sana aja lalu kembali lagi ke sini," titah Genta. Ia menunjuk ke arah ujung timur pantai sebagai patokan kepada Geisha. Ia memilih bersantai di kursi kayu khas pantai dengan kaca mata hitam. Lelaki itu memang tidak suka naik sepeda.


Geisha mengangguk. Ia ikuti saja kemauan suaminya, yang penting ia bisa menggerakkan badan dengan sepeda milik resort. Geisha sudah duduk di sepeda, setelah sang suami mengoleskan sunblock di punggung tangan, kaki dan wajah nya. Tubuhnya juga sudah terbungkus dengan jaket tebal. Wajah dengan masker dan topi. Seakan takut jika istrinya hitam karena sengatan sinar matahari.


"Aku jalan, ya, Mas," tukasnya. Ia cium tangan Gentala untuk pamit dari pandangan.


"Ya." berlalu lah Geisha dari pandangan matanya. Ia mulai berbaring santai di kursi pantai sambil melipat kedua tangan di bawah kepala. Berjemur di bawah matahari pagi sambil mendengarkan lagu dengan earphone.


Dan tak lama.


Cup.


Merasa ada kecupan hangat di pipi, gegas lelaki itu menoleh. Gentala meradang dengan manik mata membola dari balik kaca mata hitam, lekas melepasnya.


"Avika?" tanyanya kaget. Genta bangkit berdiri dan wanita itu yang sejak tadi membungkuk karena tengah mengecup pipi mantan suami, ikut menegapkan tubuh.


Genta mengusap pipinya, dengan decakan kesal."Gila kamu cium-cium saya?" nada suara itu terlihat tidak bersahabat sama sekali. "Sedang apa kamu di sini?" tanyanya lagi.


Avika bermanja, ingin mengalungkan kedua tangan di leher Genta. Dan sebelum hal itu terjadi, Gentala memilih mundur.


"Gitu banget, sih. Mas. Aku tuh kangen banget sama kamu," cicitnya memelas, begitu menjijika.


"Jaga sikap, Vika! Saya ini sudah beristri!"


"Untuk apa sih nikah sama dia? Kamu itu pasti tersiksa karena selalu merasa bersalah. Balik lagi sama aku, Mas. Aku enggak akan paksa-paksa kamu untuk menderita hidup di ponpes," sahutnya.


"Mantan istri kesayanganmu, Mas. Kahla!" jawab Avika dengan tatapan mata benci saat menyebut nama wanita itu. "Istrimu yang menceritakan kepadanya. Bisa-bisanya, ya, perihal rumah tangga sendiri dibeberkan kepada orang lain? Dulu, aku saja selalu memendam sendiri tanpa bercerita apapun kepada, Kahla."


"Dan pada akhirnya kamu mundur. Tidak kuat seperti Geisha untuk menerima keadaan saya," jawab Genta dingin. Ia tidak terpengaruh dengan bisikan setan yang Avika suarakan.


"Wajar kan kalau aku kaget? Siapa suruh kamu tidak jujur sejak awal padaku, Mas!" Avika menyentak.


"Akhirnya saya jujur walau sudah telat. Tapi, kamu tetap memilih pergi dan menceraikan saya."


Kesal karena Gentala tetap saja dingin padanya, membuat Avika mulai menangis. Ia memaksa memeluk Genta kuat-kuat. Lelaki itu meronta.


"Tolong lepas, Vika!"


"Enggak, Mas. Enggak mau!!" Avika semakin cengeng. Ia menghentak-hentakkan kaki di atas pasir. "Aku kangen kamu, Mas. Kangen. Nikahi aku lagi, please. Jadi istri kedua juga enggak apa-apa."


Riak tangis wanita itu semakin nyaring. Gentala malu dengan beberapa orang yang berada di kawasan pantai. Belum lagi jika istrinya melihat.


"Lepas, Vika!" Gentala mendorong mantan istrinya itu sampai terhuyung ke pasir. Genta pun merasa sesal karena sudah berlaku kasar.


"Jahat kamu, Mas ...," lirih Avika. Ia mulai mengiba, merayu agar Genta bisa berbelas kasih padanya.


"Maafkan saya, Vika. Bukan maksud saya untuk berbuat kasar. Kamu nya saja yang kurang---"


"Ahhhh, sakit, Mas ...." Vika menyela dengan ringisan sakit palsu. Ia memegangi pinggang belakang, seraya mengeluh sakit.

__ADS_1


"Sakit?" tanya Genta dengan kasian. Ia ikut berjongkok, meneliti rasa sakit yang dikeluhkan oleh wanita itu.


"Sakit banget, Mas. Kamu dorong aku sampai aku jatuh terduduk."


Wajah Genta terlihat memerah menahan gelisah. Ia takut jatuhnya wanita itu, mengenai tulang ekornya.


Genta meraba pinggang Vika dan wanita itu terus berakting. Sampai di mana, ia paksakan lagi memeluk lelaki itu.


"Vika, please! Jangan dorong say untuk berbuat kasar lagi sama kamu!" ancam Genta.


"Dikasarin kamu juga aku ikhlas kok, Mas. Walau aku tau kamu harus sembuh. Tapi kalau kamu enggak bisa. Ya aku sih enggak akan maksa sampai kamu ngerasa enggak percaya diri karena kekurangan kamu. Aku juga enggak maksa untuk dapat anak segera dari kamu. Sampai kamu harus melakukan vasektomi."


Genta melebarkan pupil mata. Telinganya seakan ingin melayang. "Tau dari mana kamu?"


Avika tersenyum tipis. "Aku gitu loh. Apa sih yang enggak aku tau? Dokter Hendrik itu, teman aku, Mas. Kamu lupa?"


Dokter Hendrik adalah Dokter yang melakukan vasektomi pada saluran spermaa Gentala. Genta hening. Baru ia sadar, kalau sekarang Avika adalah ancaman terberatnya.


"Kenapa, Mas? Takut? Takut kalau aku beberkan pada istrimu?" Avika tertawa.


"Awas saja kalau kamu berani!"


Avika tertawa semakin nyaring.


"Geisha pasti kecewa. Dia pikir, akan cepat hamil seperti Kahla. Haha, kasian! Untuk apa bulan madu? Hanya buang-buang waktu. Kasian, Geisha."


Genta mencengkram wajah Avika yang menatapnya dengan wajah meledek. Sampai di mana tangan tersebut terayun ke bawah dengan tolehan kepala ke sisi kanan, saat ada suara yang menerobos percakapan mereka.


"Apa benar, Mas?"


Deg.


Genta tergagap, tubuh nya serasa dicambuk halilintar, lekas bangkit berdiri, menatap Geisha yang masih duduk di atas sepeda. Geisha pun kaget mengapa bisa Avika berada di sini dan tengah berdekatan sangat intim dengan suaminya.


"Jawab, Mas! Apa benar kamu melakukan Vasektomi?" Geisha mengulang dengan nada bergetar. Air matanya menggenang. Wanita ini kecewa. Karena selama tiga hari berada di sini, menahan sakit, menahan perih hanya untuk menghadirkan seorang anak, ternyata tidak hasilnya nihil.


"JAWAB, Mas!" Geisha sampai meremat kaus di bagian dada Gentala.


"Benar, Sha. Suamimu ini tidak ingin punya anak darimu. Mas Genta hanya menginginkan tubuhmu saja!" selak Avika asal.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Intinya tuh, tungguin aja notif nya, ya. Jangan DM ke IG sampai pakai kata tidak sopan atau kasar. Boleh kok tanya walau begini : Kak, Geisha kapan ya?


enggak harus seperti ini "Woy, Geisha kapan sihh?"


Enggak beretika, guys. Serasa aku mempunyai hutang besar pada kalian. Enggak, ya. Cerita ini bebas. Bebas aku mau kapan aja up nya. Pokoknya sebelum pertengahan juli akan aku up berkala. Kapan aja thor?


Pokoknya, tungguin aja notif nya. sehat-sehat ya.

__ADS_1


__ADS_2