Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Demi Istriku


__ADS_3

Termenung. Saat ini wanita dua puluh empat tahun yang baru saja mengizinkan suaminya untuk kembali menggaulinya hanya termenung setelah kenyang menangis.


Inginnya ia digauli dengan adil. Bisa sama-sama saling menikmati pelepasan. "Sampai saat ini pun aku tidak tahu rasa enaknya di mana setelah berhubungan. Seperti kamu yang langsung terlelap, dan melenguhh selama kita bersatu," ujar Geisha sembari mengusap pipi suaminya yang tengah tertidur pulas dengan berpolos dada.


Geisha meringis saat ia bicara barusan. "Aku akan berusaha lagi untuk sebisanya bertahan dari rasa sakit," ujarnya lagi sambil memegangi wajah. Geisha kecup bibir Gentala, kemudian memungut dress rumahan yang tadi Genta lempar ke sembarang arah, untuk di kenakan kembali.


"Arghh ...." ia menyeringai sakit, saat melangkahkan kaki ke kamar mandi. Geisha belum mampu menjalankan nasihat Kahla untuk tidak menyerukan sakit.


Wanita itu malah berteriak-teriak selama mereka menyatu. Tentu, Genta semakin gelap mata untuk menumpahkan penyakit sadisme nya.


"Astaghfirullah, Ya Allah ...," seru Geisha saat sudah menilik wajahnya di cermin.


Genangan air mata mulai tampak, saat luka lebam sepertinya lebih banyak di banding pertama kali ia melepas kehormatannya. Karena saat itu Geisha banyak meronta, sedangkan tadi dia hanya diam menerima dengan ikhlas dan menahan sakit dengan teriakan serta tangisan.


Geisha obati luka di wajahnya satu persatu. Kulit bibir di pertengahan terlihat mengelupas, ia oles cairan betadin di bagian itu.


"Perih," ujarnya sambil menutup mata. Lantas beralih ke bawah mata. Ada lebam segar masih warna merah ke unguan, lekas ia mengambil salep anti radang untuk dibalurkan.


Menangkup air di telapak tangan untuk berkumur-kumur, dan saat memuntahkan air ke dalam wastafel, air kumuran nya sudah bercampur dengan darah. "Darah?" teriaknya dalam keterjutan. Ia mendongak menatap cermin dan membolakan mata.


Ada darah menggumpal menutup salah satu gigi dan saat Geisha ingin mengusapnya dengan tissue ...


"Astagfirullah, Ya Allah. Gigi ku copot!" baru lah di sini Geisha menangis histeris. "Ayah ... Bunda!" ia panggil kedua orang tuanya untuk menguatkan.


Geisha menghentak-hentak kaki sesaat melihat dirinya sudah ompong. "Ya Allah, Mas!" bukan marah kepada Genta, tetapi marah kepada kepribadian Genta yang amat menyakitkan dirinya.


"Ya Allah tolong berikan hamba kesabaran ...." sambil menangis, ia terus berdoa. Memasukan gigi itu kembali ke kantung gusi. Namun, hasilnya gigi itu terlepas lagi. Baru dua kali berhubungan badan, ia sudah cacat seperti ini. Bagaimana dengan bulan-bulan berikutnya? Apa yang akan terjadi padanya?


Geisha menangis sesegukan menggenggam gigi incisivus depan. Wanita itu kalut dan hanya bisa menangis, menyandar diri di bath up.


Krek.


Pintu kamar mandi terbuka, ada suaminya yang mendadak bangun karena mendengar suara istrinya tengah histeris meraung-raung.


"Gigiku copot, Mas!" teriaknya.


Genta menggeleng kepala kaget. Ritme jantung nya kembali carut-marut. "Maaf, Sayang. Aku tidak sadar, Sha," Genta mengiba. Geisha hanya mengangguk dalam tangis.

__ADS_1


"Ahh, brengsekk!" Genta menyalurkan kemarahan untuk melawan setan di dalam dirinya. "Sialann!"


Trang.


Genta meninju cermin. Benda tersebut retak dan menempel lah darah yang mengalir dari punggung tangan Genta di sana. Ada sebuah silet yang masih terbungkus. Lantas ia buka kertasnya dan ia lekatkan di kulit tangan bagian dalam. Menyilet-nyilet sampai Geisha terus berteriak dan berusaha untuk menghentikan.


"Jangan suruh aku berhenti, Sha! Kamu sakit, aku pun harus merasakannya!"


Geisha memohon. "Tolong, Mas. Jangan! Jangan sakiti dirimu dengan sengaja!"


Geisha berhasil menghempas silet itu untuk jatuh ke lantai. Ia dekap dada suaminya. "Kalau kamu sakit juga, lantas yang akan mengobati lukaku ini siapa? Menyakiti diri sendiri dengan sengaja haram hukumnya, Mas. Tentu berbeda apa yang sudah kamu lakukan padaku. Kamu sedang tidak sadar. Ada sadisme mu yang menghalangi. Maka, dari itu kamu harus siap untuk pergi berobat," ujar Geisha.


Melihat Geisha yang seperti ini, mau menerima dengan ikhlas, tanpa berucap ingin bercerai seperti yang sering Avika dan Kahla sebut. Membuat jiwa Genta bergejolak mantap. "Iya, Sayang. Aku mau. Aku akan berusaha. Tolong jangan tinggalin aku, Sha," balas Genta.


Dalam dekapan itu, Geisha mengangguk. "Walau ini terasa berat tapi aku ikhlas, Mas. Ayo sembuh, kamu bisa!"


Genta yang menangis hanya bisa menganggukkan kepala. Ini bukan lah inginnya.


"Besarkan hatiku, seluas lautan. Kuatkan ragaku, sekokoh besi, untuk lelaki ini, Ya Allah. Aku tau, aku adalah tulang rusuk yang engkau percayakan untuk menopang dan melengkapi susunan tulang-tulangnya." doa nya dalam hati.


...🌾🌾🌾...


Padahal, jika setelah gigi copot langsung bergegas ke Dokter Gigi, riwayat gigi tersebut masih aman untuk di pertahankan. Lima belas sampai dua puluh menit adalah jarak waktu terbaik untuk pemasangan kembali setelah gigi itu copot.


Dokter akan melakukan penanaman kembali (replantasi) ke dalam soket nya. Setelah itu di lakukan splin di sekitar gigi agar tidak goyang.


Karena perihal masalah itu lah, di sini Geisha dan Genta berada. Di Poli Gigi, Rumah Sakit. Tentunya bukan Rumah Sakit sang Nenek, karena tidak mau menimbulkan beberapa kecurigaan di kalangan orang banyak. Apalagi suster Lala yang setiap hari selalu menanyakan keadaan Geisha kepada Dogen. Wanita itu khawatir, karena ia sangat tahu bagaimana Dogen selama ini kepada mantan istri-istrinya. Dan Dogen hanya terus berkilah, kalau Geisha baik dan sehat-sehat saja.


"Kok bisa jatuh, Mbak?" tanya Dokter gigi yang tengah melilit kawat splin di leher gigi Geisha.


"Lantai kamar mandinya licin, Dok." sergah Genta, lelaki itu tengah duduk di kursi asisten memegangi tangan sang istri. Ia sampai meminta kepada izin kepada Perawat, biar dirinya saja yang membantu.


"Duh kalau licin gitu keramik nya di ganti, Mas. Kasian kalau nanti hamil, bisa bahaya," ujar Dokter lagi.


"Hamil?" gumam Geisha dalam hati. "Tapi gimana caranya aku hamil, kalau Mas Genta nya begini." wanita itu memelas dalam batin. Hal yang pernah Kahla alami, takut terulang padanya. "Tapi, siapa tau kalau aku hamil. Mas Genta akan bersemangat untuk sembuh. Ya Allah, semoga saja aku cepat hamil." doanya lagi.


Berbeda dengan Geisha yang wajahnya seketika berbinar, Genta yang mendengar kata hamil, malah memberikan ekspresi tidak perduli. Karena dirinya sudah melakukan Vasektomi. Ia tidak mau ada anak di pernikahan ini. Ia hanya ingin Geisha yang menemani hidupnya.

__ADS_1


Di awal pertemuan Geisha berdalih kepada Dokter kalau dirinya jatuh di kamar mandi. Jika saja ia jujur karena perbuatan suami, saat ini Genta bisa di gelandang ke kantor polisi.


"Iya, Dok. Makasih atas sarannya ...," balas Genta. Tanpa memperkenalkan diri bahwa dirinya juga sesama Dokter.


"Tapi kalau jatuh kok kayak habis di pukuli, ya? Wajahnya Mbak lebam-lebam begini," ucap Dokter lagi.


Geisha merekatkan genggaman tangan itu kepada Genta, agar lelaki itu diam saja tidak usah memberikan pembelaan lagi. Geisha tahu, saat ini lelaki itu tengah sesak karena penyesalan.


Luka bekas sayatan silet yang Genta layangkan di tangannya sendiri sudah di obati tadi di ruang IGD.


Perjalanan pernikahan yang harganya begitu mahal harus terus di jalani oleh Genta dan Geisha.


...🌾🌾🌾...


Inabah, sebuah istilah dalam bahasa Arab. Anaba-yunibu yang artinya mengembalikan. Maksudnya di sini, proses pengembalian atau pemulihan suatu hamba agar kembali ke jalan Allah, untuk meninggalkan jalan yang di kutuk oleh Allah.


Di pondok pesantren ini, mengadakan metode inabah untuk proses rehabilitasi pencandu narkotika, remaja-remaja nakal, masalah rumah tangga dan gangguan kejiwaan dari yang ringan sampai berat. Semua penderita itu akan dibantu untuk membersihkan batin dan raganya, agar kembali suci seperti bayi baru lahir. Di kokoh kan iman islam nya dari shalat, tilawah, talqin dzikir dan terus dalam pembinaan tanpa melibatkan keluarga.


Maka, di sini lah Genta dan Geisha berada. Geisha ingin memasukan suaminya di tempat ini untuk dibantu sembuh. Melihat gigi istrinya copot berkat ulahnya, ia hanya bisa pasrah, selama dua bulan harus menetap di sini.


Genta tengah menilik istrinya yang memakai cadar untuk menutupi wajah yang sudah babak belur, sedang menandatangani berkas-berkas persetujuan untuk menyerahkan sepenuhnya Genta kepada mereka untuk di bina, di sebuah meja pendaftaran di mana ada dua Gus yang sedang memandu.


"Ayo, Mas. Tanda tangan," ucap Geisha. Ia menyodorkan berkas tersebut kepada calon anak binaan di tempat ini.


Genta hening. Ia menatap tanda tangan Geisha yang sudah terparkir di sana sebagai saksi. Jari-jemarinya terasa berat untuk meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangan miliknya di sana.


"Mas ...," ucap Geisha lembut. Ia usap bahu suaminya untuk menguatkan.


"Insya Allah, Mas bisa. Jika Mas sungguh-sungguh ingin sembuh. Kami akan kawal, dan Allah pasti mengabulkan hajatnya, Mas. Kasian istri, Mas," ucap Gus Hamid. Anak kiyai yang mempunyai pondok pesantren ini.


Genta mengangguk lemah. Hatinya kembali berat. Semangatnya memang selalu turun naik. Tapi, lagi-lagi ia paksakan untuk menahan gejolak diri.


"Demi istriku ...," gumamnya dalam hati. Lantas membubuhkan tanda tangannya di berkas tersebut. Air mata Geisha menggenang, lalu turun membasahi kain cadar. Istri mana yang baru menikah dua minggu sudah harus ditinggal oleh suami.


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Insya Allah cerita ini aku akan up setiap weekend. Kalau enggak sabtu ya minggu. Follow IG ku ya @megadischa

__ADS_1


Semoga Dogen bisa❤️🕊️🤍



__ADS_2