Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Kamu Tidak Hamil!


__ADS_3

"Assalammualaikum, Sayang ...." Gentala berkali-kali mengucap salam. Mengetuk-ngetuk daun pintu rumahnya bersama Geisha.


"Sha ... aku pulang," ujarnya lagi. Ketukan itu semakin kencang ia berikan di pintu. Hati Gentala tidak karuan, karena kelihatannya di dalam rumah mereka, tidak ada sosok Geisha.


Pagi-pagi sekali, saat Genta masih tertidur di kamar Mami. Mami datang ke kamar tamu, untuk membangunkan Geisha. Menitah wanita itu untuk pulang saja ke rumah. Mami ingin Gentala tinggal dulu beberapa hari bersamanya tanpa ada yang menganggu. Ingin tetap menjadi menantu yang menurut, Geisha mengiyakan walau dengan hati yang patah. Tanpa pamit kepada Genta, ia pun pulang ke rumah tanpa sarapan terlebih dulu.


Semalaman tidak tidur, mendekap istri. Membuat Gentala pusing. Di tambah lagi ketika ia bangun, tidak menemukan Geisha di kamar tamu. Mami berkata, Geisha yang memang ingin pulang ke rumah. Tapi, Gentala tahu bagaimana sifat istrinya. Geisha tidak mungkin seperti itu jika tidak ada tekanan.


Dan di sini lah sekarang Genta berada. Masih di depan rumah. Ia berkali-kali menempelkan gawai di telinga untuk menghubungi gawai sang istri. Tapi, sayangnya tidak aktif.


"Jangan marah, Sayang. Kamu enggak akan sendirian. Ini, aku pulang," gumamnya sendu. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, seraya berpikir kemana Geisha pergi.


Dan saat Gentala ingin memutar langkah menjauh dari pintu, bermaksud naik kembali ke mobil untuk melesat ke rumah Ayah dan Bunda, yang ia yakini sang istri pasti ada di sana, dadanya seketika hampang lega. Yang mana, ia temukan sosok istrinya yang baru sampai beberapa meter dari langkahnya.


"Sayangku ...." Gentala bergegas mendekati Geisha. Memeluk wanita itu dan menciumnya.


"Kok kamu pulang? Kasian kan, Mami, masih ingin sama kamu, Mas."


Gentala menggeleng. "Mami udah mendingan. Aku disuruh pulang malahan. Katanya kasian kamu sendirian," dalihnya.


Manik mata Geisha membulat dengan tatapan tidak percaya. Belum ada satu jam Mami mertuanya itu menitah nya untuk pulang, mengapa bisa berubah secepat itu?


Geisha paham, Gentala tengah berbohong. Sungguh sifat yang baik dimiliki oleh Genta, saat ia harus berbohong demi kebaikan. Ia ingin memulihkan nama Maminya agar Geisha tidak membenci. Dan Genta pun beralasan kepada Mami untuk pergi dulu, karena ada operasi mendadak di Rumah Sakit.


"Lain kali jangan main pulang tanpa pamit dulu padaku, Sha. Aku nggak suka itu! Walaupun ada yang menyuruh atau mengancam mu. Paham?"


Geisha mengulas senyum. Ia peluk suaminya dari samping dan merebahkan kepala di dada Genta. "Iya, Mas. Maaf. Tapi, nanti malam kalau mau menginap lagi di rumah, Mami. Enggak apa-apa kok, Mas. Mami masih kangen sama kamu. Aku berani sendiri di rumah," ungkapnya lagi.


Genta tidak memperdulikan bahasan itu. Ia tetap membawa istrinya untuk melangkah ke depan pintu. "Maafkan, Mami, ya. Mami hanya cemburu. Sejatinya, ia sayang sama kamu."


Geisha mengangguk. "Aku sudah memaafkan. Wajar kalau Mami marah. Kamu begitu pun karena aku," merogoh tas untuk meraih kunci rumah dan membuka pintu.


"Makasih karena selalu menjaga kekuranganku, Sha. Aku janji pasti sembuh," balasnya. Ia mengusap kain hijab yang berada di pucuk kepala.


Geisha tersenyum. "Aamiin, Mas."


"Kamu beli apa itu?" tanya Genta. Ia menilik sebuah bungkusan plastik berwarna putih yang Geisha jinjing.


"Tadi mampir dulu ke minimarket. Beli mie instan rebus. Aku lagi kepengin, Mas."


"Makan ini aja, ya. Aku beliin bubur ayam." Gentala mengangkat bungkusan plastik hitam ke udara untuk memperlihatkan kepada istrinya.


Geisha menggeleng. Ia raba perutnya. "Aku tetap ingin mie rebus aja. Kayaknya aku lagi ngidam deh, Mas." Geisha kembali dengan stigma yang sulit di benarkan. Ia hanya menggunakan insting hamil dengan apa yang ia rasa. Padahal wanita ini pun tau hasil testpack kemarin saja masih negatif.


Untuk mengambil hati Geisha. Agar wanita itu melupakan kesedihan karena sikap Ayah, Bunda dan Mami kemarin. Genta menurut. Ia usap perut Geisha lembut dengan kedua tangannya.


"Sehat, ya, baby nya Daddy," ucapnya. Lelaki ini tertawa dalam hati. Seperti orang gila, pikirnya.


Tetapi, ada juga yang mengatakan. Jika memang ingin sekali mempunyai anak. Perlakukan lah istrimu seperti orang yang memang tengah hamil. Berikan sugesti positif kepada sang istri, bahwa ia diperhatikan jauh dari biasanya.


Geisha mengukir senyum. Ia senang karena Genta tidak lagi berkata, kalau dirinya hanya sedang membual. "Perut aku juga kayaknya agak buncit, ya, Mas."


Gentala telan saliva. Ia mengangguk pura-pura. "Iya, nih. Pasti ada---"


"Dedeknya. Aamiin, Ya Allah," sela Geisha. Biasanya Genta akan berkata 'Kamu buncit karena sering makan sebelun tidur' dan wanita itu akan menangis karena sedih. Tapi kali ini, Genta tidak melakukan. Ia mengiyakan saja apa yang diinginkan oleh istrinya.


"Biar aku yang masakin, ya. Kamu duduk," titah Genta. Meminta Geisha untuk menunggunya di meja makan.


Sambil mengusap-usap perut, layak nya sudah hamil tiga bulan. Geisha mengangguk. "Pakai bakso sama cabai rawit, ya, Mas. Sekalian sama susu hamilku," pintanya dengan nada manja.


Gentala mengangguk dan mendekat ke kompor. Baru ingin membuka bungkusan mie, Geisha kembali bersua. "Duh ngantuk deh, Mas."


"Tiduran aja dulu di sofa. Nanti, Mas bangunin."


Geisha menguap. Lekas menutup mulutnya dengan ruas-ruas jari. Bangkit dari kursi menuju sofa. "Kalau lagi hamil gini kali, ya. Bawaannya suka ngantuk."


Deg.


Genta menoleh ke belakang, mendapati punggung Geisha dengan langkah menuju ruang tivi. Hatinya jadi tersayat. Mengapa Geisha jadi seperti itu. Jadi tidak wajar. Terlalu berharap dengan keyakinan yang belum tentu terjadi. Ia takut psikis istrinya akan terganggu. Dan akhirnya, yang sakit mental bukan hanya dirinya. Pun, istrinya juga.


Miris.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Harusnya Minggu ini, ia akan mengecek ulang apakah dirinya positif hamil atau tidak. Tapi, ia putuskan untuk menundanya. Mengecek nanti di saat akhir bulan. Karena setiap tanggal dua puluh enam dirinya pasti akan haid, paling tidak mundur sehari atau maju sehari. Tidak akan jauh-jauh.


Wanita ini sering mengeluh sembelit, perut begah, ada rasa mual tapi tidak sampai muntah kepada sang suami. Dan Genta tetap sabar meladeni apa maunya sang istri. Siapa tahu saja Geisha memang tengah dalam fase hamil.


Makin ke sini, Geisha semakin manja. Kadang juga sering menangis tanpa alasan yang jelas. Seperti kemarin malam misalnya. Gentala tiba di rumah pukul tiga pagi karena ada beberapa operasi dari pukul sebelas malam. Pulang ke rumah berniat untuk istirahat, malah harus merayu agar istrinya tidak menangis lagi.

__ADS_1


[Mas, aku pengin rujak]


[Mas, aku pengin soto daging]


[Mas, bebek aja. Bebek penyet, ya]


[Mas, aku tadi mual habis selesai makan] somay.


[Mas]


[Mas, udah pulang belum?]


[Mas, kaki ku kayaknya kesemutan. Nanti, pijitin, ya, Mas]


Gentala terduduk lemas di sandaran sofa ruang dokter. Lelaki ini baru saja selesai membedah pasien dengan kasus-kasus yang sulit. Ia baru ada waktu membuka gawai dan membaca seluruh pesan yang istrinya kirim. Lama-lama, Genta merasa letih dengan sikap Geisha. Seperti tengah mengada-ngada dan memaksakan kehendak.


"Rujak, bebek, ada di mana malam-malam begini, Sha??" gumamnya sambil memijat-mijat kening karena letih. Waktu saat ini memang sudah menunjukan pukul sembilan malam. Dirinya saja yang baru saja selesai operasi, belum menyentuh air dan makanan sama sekali.


"Din ...."


"Iya, Dok?" Dina, petugas pengantar makanan, mendongak saat meletakan sebuah nampan berisi air minum dan makanan dari pantry sebagai fasilitas Dokter yang melakukan operasi.


"Koki bisa masakin bebek nggak, ya?" Genta tetap ingin mewujudkan apa yang diinginkan Geisha.


"Pantry udah tutup, Dok. Kalau Dokter mau, saya bisa belikan bebek di luar Rumah Sakit. Masih ada yang jual kok, di pecel ayam gitu," tawar Dina.


Gentala menyunggingkan senyum. Ia mengeluarkan dompet dari celananya. Menyodorkan lembaran merah kepada Dina. "Beli satu aja bebeknya. Bilang ke Abangnya, bebeknya di penyet gitu, Din."


"Baik, Dok."


"Sisanya buat kamu aja," tukasnya lagi.


Dina berbinar senang. Ia lekas berlalu menuruti permintaan sang Dokter.


Sebelum Genta menyantap hidangan makanan yang sudah tersaji di meja, ia bangkit berdiri untuk melangkah ke luar ruangan untuk mencuci tangan di wastafel. Dan saat itu pula ia menoleh ke belakang karena pintu kamar operasi terbuka dari luar.


Masuklah beberapa perawat tengah mendorong brangkar di mana ada Kahla yang berbaring sambil memegang perutnya.


"Kahla ...." Gentala mendekat ke brangkar. Menatap mantan istri yang tengah mengaduh.


"Mas," balas Kahla dengan ringisan sakit. "Tolong, Mas." Kahla memegang lengan Gentala.


"Sudah waktunya melahirkan?" Genta memilih bertanya kepada Perawat yang membawa Kahla.


Genta melongo kaget. Ia menatap Kahla yang masih menangis, seraya meminta penjelasan. "Aku jatuh di kamar mandi, Mas. Aku kaget saat dapat telepon kalau suamiku jatuh di tempat kerja." memang minggu-minggu ini, jadwal Kahla melahirkan. Nyatanya dipercepat karena insiden yang tidak diharapkan sama sekali.


"Astaghfirullah, Kahla. Tenang, ya. Terus berdzikir," tukas Genta menguatkan.


"Sakit, Mas," ringis nya. "Aku takut ...." imbuhnya lagi. Gentala jadi teringat saat ia menemani Kahla tiga tahun lalu, dalam proses kuret, mendiang anak mereka.


Gentala mencoba menenangkan Kahla. Mengusap keringat yang bergerumun di kening wanita itu. Hal ini memang seharusnya tidak ia lakukan, tapi Gentala hanya refleks karena rasa kemanusiaan dan juga sayang kepada Kahla karena sebagai Kakak.


"Jangan panik, ya. Aku temani kamu di dalam."


"Jangan, Mas. Nanti, Geisha marah," tolak Kahla.


Gentala menggeleng. "Istriku baik. Dia pasti akan setuju."


Kahla adalah anak yatim piatu. Yang ia punya sekarang hanyalah Anak yang dikandung dan sang suami yang jauh di seberang sana. Sebagai mantan suami, yang dulu pernah menyengsarakan Kahla, jiwa baik Gentala terpanggil untuk membantu wanita ini. Ia tidak mungkin berlalu begitu saja, meninggalkan Kahla yang sedang tertimpa dalam musibah.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Sampai tengah malam, Gentala tidak kunjung tiba di rumah. Pesan yang Geisha kirim pun hanya di baca saja. Di telepon pun, Genta tidak mengangkat. Merasakan hatinya was-was, Geisha memilih mendatangi Genta ke Rumah Sakit.


Seraya ingin mencari tahu langsung apakah yang terjadi? Benarkan sang suami masih di Rumah Sakit? Jika benar, ia tidak masalah. Yang penting Genta tidak kenapa-napa. Ia takut jika lelaki itu mengalami kecelakaan di jalan.


Tiga puluh menit, membelah jalan kosong, sepi dan dingin. Membuatnya akhirnya sampai di pelataran parkir Rumah Sakit. Memakai piyama tidur yang ia tutup lagi dengan jaket tebal, hijab rumahan dan sendal tipis. Ia melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit milik sang nenek. Langkah pertama yang ia tuju adalah kamar operasi. Tempat di mana suaminya pasti berada.


"Assalammualaikum. Maaf, Sus. Dogen apakah masih operasi?" tanya Geisha kepada dua perawat OK yang tengah menunduk menatap berkas di meja, lantas mereka mendongak dan menjawab salam.


"Waalaikumsallam. Dok. Dogen baru aja selesai keluar dari sini. Kayaknya langsung ke ruangan," balas salah satu dari mereka.


"Ruangan? Visite pasien? Malam-malam begini?"


Mereka menggeleng. "Bukan, Dok. Tadi, Dokter Genta temenin, Mbak Kahla, lahiran. Baru aja selesai."


Deg.


Bagai ditimpa timah panas. Aliran darah Geisha seakan terbakar, naik sampai ke ubun-ubun. Bisa-bisanya lelaki itu membohonginya. Tidak memberikan kabar. Malah abai padanya.

__ADS_1


"Makasih, ya," ucapnya kepada mereka dan gegas pamit dari hadapan.


Dengan dada yang terasa panas karena kesal bercampur kecewa. Geisha kembali melangkah menuju ruang perawatan khusus Ibu melahirkan. Di sepanjang jalan, air matanya sudah menggenang karena menahan gemas. Ia ingin sekali memukul Genta karena masih saja memperdulikan Kahla. Padahal Geisha sudah mewanti-wanti agar menjaga sikap dan mengatur jarak.


Rasa cemburu semakin membuih. Rasa benci kepada Kahla dan Avika semakin meraja lela di hatinya. Semenjak ia merasa tanda-tanda kehamilan sering merasuk di raga. Seakan Genta tidak boleh terjamah oleh siapapun. Hanya dirinya yang bisa. Dan hal itu memang di benarkan. Gentala hanya lah milik Geisha Alyra seorang.


Langkah kaki Geisha terhenti di depan kamar perawatan yang ia yakini, Kahla di rawat di ruangan ini menurut info yang tadi ia tanyakan pada beberapa perawat yang ada di Nurse Station.


"Hh ...." mencoba menarik napas dan menghela panjang. Ia usap dada yang terasa berat sebelum menekan handel pintu dan mendorongnya untuk bisa masuk ke dalam.


"Duh, duh, duh, ganteng banget keponakan, Om ...."


"Mas!" Geisha menitikkan air mata. Saat melihat Genta tengah bersenda gurau sambil menggendong bayi di bibir ranjang, tempat di mana Kahla tengah berbaring. Wanita itu masih memejam mata.


Refleks, Gentala mengangkat wajah. Ia terkesiap saat melihat kedatangan istrinya. Gentala lekas bangkit dan ingin mendekati Geisha. Namun, Geisha memilih mundur.


"Jadi begini kamu di belakangku, Mas? Kamu sudah berjanji untuk tidak ada dusta di antara kita, kenapa kamu ingkar, Mas?" nada Geisha terdengar lirih menyayat hati.


Gentala menggeleng. "Jangan salah paham dulu, Sayang. Aku bisa jelaskan."


Rahang Geisha mengencang. Dadanya bergerak naik turun menahan kesal karena ada bayi yang juga ia inginkan tengah di gendong hangat di dalam genggaman tangan sang suami.


"Kenapa kamu gendong anak orang lain, Mas?"


"Sha. Tolong. Jangan berdebat di sini. Kasian Kahla, dia baru saja lewat dari masa kritis. Tadi, saat proses caesar. Kahla mengalami perburukan." Genta mencoba menjelaskan.


Geisha semakin tertohok, namun bukan karena keadaan Kahla. Entah mengapa ia tidak terenyuh. "Jadi kamu temenin dia lahiran, Mas?"


Suara Geisha yang terdengar meninggi mampu membuat Kahla mengerjap mata. Ia menoleh dan mendapati Genta dan Geisha tengah berhadapan.


"Geisha ...," ucap Kahla serak. Wajahnya terlihat gembira menatap Geisha datang.


"Aku rindu kamu, Sha," ungkap Kahla lagi. Geisha menatap Kahla dingin. Dan mencoba mendekati, walau sekilas Gentala mencekal nya agar Geisha tidak mendekat. Ia seakan tahu, Geisha ingin menumpahkan amarah.


Mengapa jadi seperti ini Geisha nya?


"Jangan pakai kandungan mu. Anakmu. Dan rasa sesal suamiku padamu dulu, sebagai modal untuk menjeratnya!" maki Geisha.


Kahla dan Gentala terperangah.


"Maksud kamu apa, Sha? Kok bicara seperti itu?" tanya Kahla lemah.


Genta pun tidak suka Geisha berkata hal yang tidak-tidak.


"Apa-apan sih kamu? Semakin ke sini ucapan mu lebih banyak ngawurnya!" sentak Gentala, ia mencekal lengan Geisha, lekas menarik untuk menjauh dari pembaringan. Geisha menepisnya kasar. Ia menatap tajam Gentala.


"Aku ini istrimu, Mas. Kenapa kamu lebih memilih dia? Di rumah, aku mengkhawatirkan mu. Mengirimkan kamu pesan berkali-kali. Dan tidak ada satupun yang kamu balas! Ternyata kamu lebih asik bersamanya! Menemaninya melahirkan dan sekarang menjaganya!"


Gentala menggeleng kepala samar, dirinya kembali terperosok dalam kesalahpahaman sang istri.


"Demi Allah, Sayang. Bukan begitu ...."


"Lantas apa?" sela Geisha.


"Mas, sudahlah. Pulang saja. Aku akan baik-baik saja bersama anakku." Kahla tidak mau pasangan suami istri itu berdebat hanya karenanya. Ia mencoba bangkit untuk mengambil anak dalam gendongan Genta dan Kahla hanya meringis sakit karena tidak bisa.


Gentala gegas meletakan bayi itu di box dan mendekat ke arah Kahla. "Sudah jangan bangun. Kamu belum bisa, La."


Bola mata Geisha semakin menajam, saat Genta memilih untuk membantu Kahla kembali berbaring.


"Mas!" sentak nya tidak tahan. "Enggak bisa kamu jaga perasaan aku?"


Kahla sudah berbaring, menatap sedih Geisha yang beberapa bulan ini berubah bengis padanya. Apa salahnya? Apa karena ucapan Avika? Kahla selalu ingin menjelaskan. Tetapi, Geisha selalu tidak memberikan celah untuk ia bisa menjelaskan.


"Mohon, sayang. Jangan salah paham. Aku hanya membantu. Jika kamu mau saja mengurus Kahla, aku akan senang. Dan tidak akan menyentuhnya."


Geisha tampik ungkapan lembut dan permohonan pengertian dari Gentala. "Aku pun tengah hamil, Mas. Aku juga butuh untuk di rawat. Aku ini istrimu. Sedangkan dia itu sudah menjadi orang lain! Dia mempunyai suami. Suruh suaminya yang mengurus!"


Sudah letih karena operasi. Belum tidur, belum makan. Di tambah lagi keadaan Kahla yang memprihatinkan dan sekarang Geisha yang sulit untuk diajak mengerti. Malah memaki-maki dirinya, menuduhnya seperti tengah berselingkuh, membuat emosinya naik dan tidak bisa terbendung lagi untuk ditahan.


"Aku sudah muak mendengarnya! Perilaku mu seminggu ini sungguh sangat di luar nalar! Hasil testpack mu saja negatif! Kamu itu tidak hamil, Sha! KAMU TIDAK HAMIL!" sentak Genta, ia berhasil mengeluarkan unek-uneknya.


Deg.


Geisha seakan ingin limbung, berendam dalam tanah dan meninggalkan Genta untuk selama-lamanya.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


...Tinggal beberapa episode lagi, ya, guys. Yang aku tulis di platform ini. Sisanya aku akan pindahkan ke bukuu....

__ADS_1


...cuss nabung untuk beli bukuhnyaa. open po bukunya nanti di pertengahan juli....


...๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜...


__ADS_2