Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Hanya Kamu


__ADS_3

Bagai diterpa lahar di pertengahan samudera, Gentala berteriak nyaring kepada Avika.


"TUTUP MULUT KAMU, VIKA!"


Pangkal bahu Avika bergetar naik. Genta menunjuk bola mata wanita itu. "Pergi kamu dari sini! Hal yang saya senangi di dunia ini adalah, di saat saya benar-benar bisa bercerai dengan kamu!"


Air mata Avika pun mengalir. Sakit sekali daksanya. Di sakiti dari segi ucapan oleh lelaki yang masih ia cintai. Dan masih ia ingin dekap, memungut lagi Genta dengan segala kekurangannya.


"Mas, tega banget kamu bicara seperti itu. Padahal aku sudah berjanji untuk menerimamu apa adanya. Tidak seperti istrimu ini yang malah menyiksamu untuk mendekam di balik jeruji ponpes ...," lirihan Vika tidak Gentala gubris. Mendengar hal itu, tentu saja membuat Geisha semakin berang, seakan tertusuk ribuan duri.


"Dari mana kamu tau, Mbak?" tanya Geisha.


Avika berdecih geli. "Jangan terlalu percaya dengan Kahla, Sha."


"Jangan fitnah orang, Vika!" sentak Gentala tidak suka.


"Lihat kan? Bagaimana suamimu ini membela mantan istri pertamanya? Sejatinya, cintanya hanya untuk Kahla, Sha. Dia hanya menginginkan tubuhmu saja---"


"DIAM BRENGSEK!" seruan Genta seperti guntur yang tengah meledak-ledak kepada Avika.


"Yang harusnya kamu marahi itu, dia, Mas!" Avika menunjuk Geisha. "Kamu seolah terpenjara karena aturan hidup darinya!"


"Aku hanya ingin suamiku, sembuh!" sela Geisha. Ia tidak suka diadili.


Avika tertawa remeh. "Mas Genta akan sulit untuk sembuh, Sha. Dia hanya ingin berumah tangga untuk menyalurkan hasratnya saja. Tidak ingin memiliki anak. Kamu masih muda, masih---"


"Jika kamu masih bicara, saya bunuh kamu!" Genta mengancam Avika.


Lekas memutar mata kembali ke arah sang istri yang tengah menatapnya dengan picingan mata tajam, merasa dibenci, gegas Gentala membela diri. "Aku menikahi mu karena aku cinta, Sha. Bukan----"


Tangan Gentala terayun ke bawah, Geisha menepisnya saat lelaki itu ingin menggenggam tangannya.


"Yang aku ingin dengar sekarang, benar kamu melakukan Vasektomi, Mas?" sela Geisha. Hal ini yang lebih penting ia tanyakan kepada suaminya dari pada sekedar menanyakan bagaimana perasaan lelaki itu kepada Kahla.


Dapat Geisha lihat dada sang suami bergerak naik turun, seraya sedang menahan sesak dan takut karena dirinya pasti akan marah.


Geisha kembali meremat kain baju di dada Genta. Manik mata wanita ini menatapnya lekat-lekat. "JAWAB AKU!" dapat Genta rasakan, api kemarahan, tercetak jelas berkilat-kilat di raut sang istri yang selalu ia puji.


"Aku bisa jelaskan, sayang ...," dan air mata Geisha pecah. Dengan jawaban seperti itu saja, sudah membuktikan kalau Genta memang melakukannya.


"Keterlaluan kamu, Mas!" sentak Geisha. Luntur harapannya esok pagi, ia pikir dirinya akan positif hamil. Nyatanya lelaki ini membohonginya mentah-mentah.


"Mas Genta memang keterlaluan, Sha. Dia sengaja melukaimu, padahal kamu sudah baik." Avika seperti orang yang tidak berpendirian. sekarang ia malah berpihak pada Geisha, berusaha memanas-manasi.


Gentala kembali menoleh ke arah Vika, dan mendekat, ingin mencekik leher wanita itu. Gegas Vika memundurkan langkah.


"Jangan kamu tutupi kebohongan mu itu dengan mengalihkan kemarahan kepadaku, Mas! Geisha bukan anak kemarin sore yang harus terus kamu bohongi!" tegas Vika.


Wajah Geisha semakin memerah. Deruan napasnya kasar diiringi dengan jantung yang bertalu-talu. Angin teduh yang terlihat menggoyangkan kain hijabnya, tidak membuat wanita ini untuk bisa bersikap tenang.


"Aku tidak ingin melihatmu, Mas!" seru Geisha, beranjak ingin mengayuhkan sepedah nya lagi dengan derai air mata ke penginapan.


"Sha!" Genta memegang badan sepeda milik istrinya. "Jangan marah padaku, aku bisa jelaskan," pintanya memelas. Air mata Genta mulai menggenang, ia pun sakit. Sakit, karena menyakiti hati istrinya seperti ini.


Karena rasa kecewa amat bersarang, ia sampai mendorong Genta untuk menjauh darinya. Lebih tepatnya lagi ia merasa dipermainkan. Dan juga, mengapa mantan istri sang suami, lebih tahu darinya?


"Aku ingin pulang!" ujar Geisha.


"Enggak," Genta mengiba. Ia berusaha menahan Geisha agar tidak pergi dari pandangannya sekarang.

__ADS_1


"Lepas, Mas!" Geisha menghentak tangan Genta yang kini berada di stang sepeda. "Tolong jangan marah, Sayang. Aku bisa jelaskan."


Merasa sulit. Geisha melepas sepeda itu, agae ia bisa pergi dari Gentala.


"Cintamu palsu, Mas! Aku kecewa!" Geisha berlari menuju penginapan. Topi pantai nya saja sampai jatuh ke tanah, tidak ia gubris.


Gentala pun menyusul dengan langkah blingsatan. Tinggalah Avika dengan senyuman puas penuh bangga. Bangga karena sudah berhasil membuat rumah tangga pasutri tersebut kisruh.


"Lekas lah bercerai. Aku menunggu."


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Brug.


Koper kosong miliknya, Geisha lempar ke ranjang. Wanita itu bergegas memasukan baju-baju miliknya dari lemari ke dalam koper. Genta yang langkah kakinya sudah sampai di kamar, lekas memeluk tubuh Geisha dari belakang. Lelaki itu menangis.


"Ingat janjimu, Sha. Ingat janjimu ...," lirih Gentala. Mendengar lirihan itu, Geisha makin terseguk-seguk. Menangis sampai tidak bisa mengeluarkan suara. Kedua pangkal bahunya bergetar. Ingin mengurai dekapan tersebut, rasanya tidak sanggup. Raganya lemas, seakan tidak bernyawa.


"Jahat kamu, Mas! Aku sudah babak belur seperti ini. Nyatanya selama ini kamu mempermainkan aku ...," ujarnya pelan sekali, nyaris tidak terdengar.


Gentala semakin merematkan pelukan itu. Ia merebahkan punggung Geisha untuk merebah di dadanya.


"Aku belum sanggup jadi Ayah, Sha. Jadi suami saja dengan keadaanku yang seperti ini, amatlah berat. Aku tidak ingin menyesal. Aku tidak mau mengulang apa yang pernah terjadi dengan Kahla dan anak kami. Kepadamu dan anak kita, nantinya. Aku rasa, kita akan tetap bahagia, walau tanpa anak sekalipun. Jangan dengarkan ucapan Avika. Tentu rasa cintaku lebih besar dari apapun untuk kamu, Sayang," tukas Genta.


Mendengar ucapan itu, Geisha menyeka air matanya kasar. Memaksakan bangkit, mengurai dekapan Genta. Menatap lelaki itu dengan tatapan kecewa.


"Apa kamu bilang? Kita akan bahagia?"


"Ya, tanpa anak. Kita akan bahagia," jawab Genta yakin.


"Kalau begitu lebih baik kita pisah, Mas!"


Deg.


"Kamu memang tidak ada bedanya dengan Avika dan Kahla, Sha!" sentaknya.


Dan, Geisha tidak menjawab. Ia memilih memasukan lagi baju-baju nya yang masih ada di dalam lemari. Ia paksa hatinya untuk tidak terenyuh. Jika, Geisha tidak mengambil sikap tegas. Genta tidak akan berubah, lelaki itu tidak akan lagi bersemangat untuk sembuh.


Genta kesal, karena Geisha seakan tidak memperdulikannya lagi. Ia buang koper itu ke lantai. Dan menginjak-injak untuk meluapkan emosi.


"Keterlaluan kamu, Mas!"


"Kamu yang keterlaluan. Apa-apan kamu meminta kita pisah? Hanya karena masalah ini?" nada Genta meninggi. Emosinya muncul. Ia cengkram kedua lengan Geisha, dan menggoyangkan tubuh mungil itu sampai kepala Geisha sakit.


Geisha berusaha melepas cekalan itu, dan menampar Genta pelan. Genta terlonjak, saat mendapati pipi nya di tampar walau dalam tekanan halus.


"Sha?" ujarnya tidak percaya.


"Hanya karena masalah ini? Hanya kata kamu???" Geisha pun naik pitam. Emosinya meledak-ledak.


"Kamu sudah dua kali membohongiku, Mas. Yang pertama karena keadaanmu. Dan aku sudah memaafkan. Berusaha sekuat tenaga untuk menerima kekuranganmu. Walau aku harus terluka! Kini, kamu kembali berulah. Tega-teganya kamu melakukan hal yang tidak disukai Allah. Memvasektomi diri dengan sengaja, sama saja berbuat dzalim kepada diri sendiri dan tentunya kepada ku! Kamu tau kan, Mas. Bagaimana kemarin-kemarin aku berusaha sekali untuk hamil????? Aku ingin punya anak, agar kamu bisa semangat untuk sembuh, Mas!"


Kamar menggema karena suaranya yang nyaring. Genta tertunduk masih memegangi pipi, emosinya mulai melemah karena sanubari cintanya terus saja memekik karena kecewa. Geisha melampiaskan emosinya dengan melemparkan beberapa kotak susu dan vitamin persiapan kehamilan ke dinding. Ia juga melepas kerudung nya, mengacak-acak rambutnya.


"Kamu berhasil membuat aku seperti orang tidak waras! Berharap pada sesuatu hal yang tidak akan mungkin aku rasakan sekarang. Kamu jahat, Mas. Kamu jahat!!!" makinya sambil melempar-lempar properti penginapan resort, setelah dua kotak susu dan beberapa kaplet vitamin.


"Miliyaran pasutri di luar sana menginginkan dengan sangat, sosok buah hati di antara mereka. Nyatanya kamu berbeda! Kamu malah memutus harapan. Memutus rezeki yang mungkin akan Allah berikan cepat untuk kita!" kini Geisha merangkak naik ke ranjang. Ia lempar bantal ke lantai. Ia raup seprai sampai tidak berbentuk. Tangisannya meraung-raung seperti orang gila.


"Tidak bisa kah kamu lihat pengorbananku, Mas? Aku lebih memilihmu dibandingkan keluargaku sendiri ... aku memang bodoh ... aku baru sadar kalau aku ini tolol! Tolol, Mas! TOLOL!!"

__ADS_1


Geisha memukul-mukul dadanya untuk melepaskan rasa nyeri.


"Aku bodoh, karena sudah memilih hidup dengan lelaki yang tidak benar-benar mencintaiku ...." Geisha tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Wanita ini semakin menangis. Raga nya linu, tercabik-cabik karena perbuatan tangan lelaki yang ia cinta sepenuh hati.


Gentala ikut merangkak, naik ke atas ranjang. Berusaha mengunci tubuh Geisha yang masih meronta kesal, menghentikan tangan wanita itu agar berhenti tidak memukul dada lagi.


"Aku minta maaf, Sha. Aku minta maaf ... Allah tahu bagaimana perasaanku padamu. Ucapan Avika jangan di percaya, Sha. Jangan ...." pintanya amat mengiba.


Geisha terseguk-seguk. Ia terduduk sambil memejam mata. Mencari bayangan Bunda dan Ayahnya. Seakan mengadu, mengapa nasib rumah tangganya bisa seperti ini?


"Hanya kamu yang aku cinta, Sha. Tidak ada yang lain. Tolong per---"


"Jika kamu memang cinta kepadaku, tolong buktikan!" Geisha menyela dengan suara bindeng. Karena ingus mulai menyesak di kedua lubang hidung nya. "Jika kita tidak satu tujuan. Lebih baik kita pisah, Mas," timpalnya lagi.


Deg.


Jantung terasa tertancap panah. Hal itu lagi yang Geisha ucap. Ingin sekali Gentala memaki wanita ini. Tapi, ia tahu. Yang menginginkan Geisha bukan hanyalah dirinya. Ada Andre yang masih ingin mendekap sang istri.


Jika sekarang ia tidak mengalah, ia pasti akan kehilangan wanita ini. Lantas, bagaimana kedepannya? Tentu, ia tidak rela melepas Geisha yang sudah berjuang sehebat ini untuknya, malah berpindah ke tangan yang lain.


"Baik, Sha. Aku akan mengikuti permintaanmu," balas Genta pasrah, walau di ujung hati. Ia masih tidak menginginkan kehadiran anak.


Geisha mengangkat kepala, lantas menoleh ke belakang sembari memutar tubuh. Mereka kembali bersitatap dengan wajah yang sama-sama basah.


"Benar, Mas?" seakan luluh. Geisha kembali berucap dengan nada lembut.


Genta mengangguk datar, mengusap kelopak mata Geisha yang bengkak. "Yang penting kamu maafkan aku. Tidak lagi berkata minta pisah."


Berhambur ke dada Genta. Geisha peluk lelaki yang sudah habis ia maki-maki sedari tadi.


"Hari ini juga, ya, Mas. Kita datangi Dokter. Aku hanya ingin segera hamil."


Jantung Genta kian berdegup. Dan Geisha dapat merasakan hal itu. "Kamu enggak perlu takut, Mas. Kamu enggak akan nyakitin kita. Malah dengan adanya anak. Anak kita ini akan menjadi penyemangat kamu."


Genta hanya bisa menghela napas. Menatap sendu dinding dengan ukiran kayu di hadapan ranjang. "Lantas bagaimana jika harapanmu mustahil terjadi? Bagaimana jika sampai kamu hamil, aku masih belum sembuh?"


"Kamu pasti sembuh! Pasti! Sekarang aja kamu sudah mengalami kemajuan, Mas. Sadisme mu perlahan memudar, tidak terlalu menyakitkan seperti di awal-awal."


Genta membolakan mata, menegaskan tatapan menatap binar cahaya di netra pekat milik Geisha, meneliti, apakah ucapan wanita ini benar atau hanya dalihan. "Benar, Sha?"


Akhirnya, Geisha bisa tersenyum lagi. "Benar, Mas. Aku merasakannya semalam." mengecup bibir lelaki itu singkat.


"Sebentar lagi kamu pasti sembuh," timpalnya lagi menguatkan. "Maaf tadi aku sampai mengucap kata pisah. Aku hanya terpaksa, Mas. Aku ingin rumah tangga kita mempunyai arah. Bersama-sama mengurus buah hati sampai ke Jannah. Tingkatkan lagi iman Islam di hatimu. Insya Allah, Allah akan mengijabah nya," ucapnya.


Genta mulai melengkungkan sudut garis bibir ke atas. Keduanya sama-sama melemparkan senyuman.


"Memangnya kamu enggak mau kalau di rumah ada suara berisik anak? Pulang kerja di sambut anak? Hari tua di jaga oleh Anak? Semisal aku mati lebih dulu, kamu bisa di jaga sama Anak---"


"Aku dulu aja yang mati. Jangan kamu. Telapak kaki aku enggak akan bisa memijak bumi, kalau enggak ada kamu di samping aku. Aku nggak mau ditinggal kamu! Nggak mau! Aku cinta kamu, Sha. Aku sayang kamu ...." Genta memeluk Geisha lagi. Membuyarkan bayangan jika wanita ini benar-benar pergi darinya.


Geisha tersenyum sambil mengucap kata Alhamdulillah dalam hati. "Jika kamu sayang sama aku. Tolong jangan hatiku, Mas. Jangan lagi kamu berbohong atau berdusta. Terlebih lagi orang lain juga tahu masalah ini," tukas Geisha.


"Aku tidak pernah berbicara kepada siapapun tentang keadaan rumah tangga kita, Sha. Avika mengetahuinya sendiri. Dan dia berusaha untuk membuat rumah tangga kita retak. Dia ingin kembali, sedangkan aku tidak mau. Tidak akan pernah!"


Geisha mengangguk dalam dekapan yang belum terlepas. Ia menatap dingin udara kosong di depannya. Membayangkan sosok kedua mantan istri suaminya yang mulai mengancam keharmonisan rumah tangganya. Avika, sesosok wanita tidak tahu malu yang masih saja menginginkan Genta.


Dan, Kahla ....


"Tega kamu, Mbak. Mengkhianati aku!" decak nya dalam hati, seraya Kahla sedang berada di sini. Geisha mulai termakan dengan ucapan Avika beberapa menit lalu.

__ADS_1


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


__ADS_2