
Berkali-kali Geisha mengusap peluh yang bergerumun di kening suaminya. Ia berbisik kalimat istighfar "Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih. โAku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Maha hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.โ di telinga Gentala.
Lelaki itu tengah berbaring terlentang, kedua mata memejam dengan kedua tangan menyatu di depan dada. Untuk membuat Genta semakin rileks, Geisha yang terduduk di kursi sebelah ranjang, mengelus-elus lembut tangannya. "Kamu bisa, Sayang ...." Geisha terus menyemangati, manakala ia lihat raut wajah Genta seperti orang tidak nyaman.
Sejak tadi Genta terus bergumam tapi tidak jelas. Kepalanya menoleh ke sana kemari dan Geisha akan memperbaiki posisinya untuk statis.
Dokter Gilang sedang memberikan psikoterapi kepada Genta dengan rangkaian ucapan yang meneduhkan. "Masuki bayangan itu, dan hadapi, Dok," titah Dokter Gilang.
Bayangan kelam di masa lalu tentang perkelahian orang tua, dirinya yang selalu dipukul dan dimaki, serta perlakuan sadisme nya kepada istri-istri, kembali muncul.
"Arghhh!" Genta histeris. Bisa Geisha rasakan kedua tangan Genta mengeras. Lelaki itu menahan sakit di dalam hati dan tidak bisa tertampung oleh tubuh.
"Kamu bisa, Sayang ... kamu bisa," ujar Geisha terus menerus. Geisha sampai memejam mata untuk mendoakan suaminya. "Ya Allah, tolong sembuhkan suami hamba," pintanya.
Karena kepalanya yang terus bergerak, membuat headphone yang masih bertengger di telinga, sedikit kendor. Dokter Gilang memasangkan kembali dan terus memberikan rangsangan dari kata-katanya.
"Aku benci! Benci kalian!" seruan pun akhirnya keluar.
"Ayo, keluarkan, Dok!" titah Dokter Gilang.
Geisha yang pipinya sudah basah karena keringat dan air mata, memandang suaminya sendu. Ia usap rambut yang basah di sekitar dahi, ia kecup pipi lelaki itu. Ia pasrahkan diri untuk mengurus dan merawat Genta sampai sembuh.
"Tembus bayangan itu, lalui, dan mulai lah terima dengan ikhlas," tukas Dokter.
Dalam pejaman mata, lelaki itu menggeleng dengan tangan mengepal kuat, Geisha saja meringis saat tangannya ikut terkunci.
Dan.
Lelaki itu histeris sambil beranjak duduk dari pembaringan, ia hempaskan emosi pada headphone yang ia buang ke lantai.
"Ya Allah, Mas ...," Geisha merogoh tas dan meraih botol minum untuk ia sodorkan ke bibir Genta. "Minum, sayang ...."
Genta mengangguk dan menyesap air mineral dari dalam botol tersebut. Geisha mengusap lembut punggung dan dadanya bersamaan, terasa sekali tubuh lelaki itu bergetar menahan takut.
Genta memeluk Geisha di pembaringan. "Aku masih sulit, Sha," ucapnya dengan raut frustrasi.
"Udah enggak apa-apa. Semua itu enggak ada yang instan, pasti butuh proses," balas Geisha.
Genta mengurai dekapan itu dan menatap istrinya. "Tapi aku pasti sembuh 'kan?" bukan ia yang meyakini, namun dirinya lah yang bertanya.
"Dokter yang harus yakin. Harus bisa melawan. Jangan kalah dengan pribadi yang selama ini menjajah Dokter dalam waktu bertahun-tahun," Dokter Gilang menyela. Ia kembali duduk di kursinya untuk menuliskan resep.
Mendengar hal itu, Genta menunduk. Menghembuskan napas lemah, ia merasa tidak mempunyai harapan karena sudah sejauh ini melakukan terapi, tapi tidak ada kemajuan untuk sembuh.
Geisha menarik dagu sang suami ke atas, agar lelaki itu mendongak menatapnya. Geisha berikan senyuman manis dan sorotan kepercayaan, agar suaminya bisa bangkit. Lantas ia kecup kelopak mata Genta yang mana sebentar lagi air bening itu akan tumpah ruah, luruh di pipi.
"Ada Allah maha penyembuh. Allah yang lebih kuasa dari apapun. Dokter hanya perantara saja, Mas. Tetap Allah yang menolong. Kita rayu Allah lagi, kita ambil hati nya lagi."
Cahaya yang sempat redup dari kilat mata Genta, kembali tampak. "Ajari aku, Sha. Untuk ambil hati Allah."
"Pasti, Sayang. Pasti!"
__ADS_1
...๐พ๐พ๐พ...
Hari ini ini lelaki itu manja sekali. Hanya ingin bergelayut di bawah ketiak istrinya. Ia sampai tidak berani mengemudikan mobil. Sepulang dari Rumah Sakit, Gentala dibiarkan istirahat sampai tubuhnya yang terasa lemas kembali berenergi.
Ia mengerjapkan dan mengucek kelopak mata, sampai kabut kantuk yang masih bertengger bisa sepenuhnya hilang.
Menurunkan tatapannya lalu menautkan alis. Kemeja yang ia pakai ketika pergi ke Rumah Sakit, sudah Geisha ganti dengan kaus rumahan. "Sayang ...." gumamnya senang.
Dan saat beranjak bangkit dari ranjang ingin mencari Geisha yang tidak ada di kamar, ia kembali tertegun. Ada beberapa koper yang tengah terbuka, dan beberapa lapisan baju miliknya berada di samping benda tersebut, seperti ingin di tata dan di masukan ke dalamnya.
Raut Genta seketika padam. "Sha ...." ia panggil istrinya sambil melangkah ke luar kamar menuju dapur, karena ia rasakan ada aroma enak dari sana.
Geisha yang tengah memasukan bahan bumbu sayur sop ke dalam panci, lantas menoleh dan tersenyum mendapati cintanya yang baru bangun tidur.
"Kenapa bangun? Tidur lagi aja, nanti kalau masakannya sudah matang aku bangunin," balasnya. Gentala yang sudah tiba di hadapannya, kemudian mengecup dan memeluk manja dari samping.
"Aku ingin bantu kamu masak," jawabnya.
"Takut, ya, yang aku masukin kapulaga lagi bukan lada?" Geisha terkekeh.
Gentala pun tertawa. "Enggak apa-apa, lah. Yang penting bukan wipol yang ditetesin." ia kecup lagi pipi istrinya yang tertawa kembali. "Aku haus, sayang ...," cicit Gentala manja.
Padahal kulkas sangat dekat dari posisi mereka, dan Geisha pun tidak menitah lelaki itu untuk mengambilnya sendiri. Ia tahu suaminya sedang manja. Geisha berjalan ke kulkas sambil mendekap Genta yang tidak mau sama sekali melepas tubuhnya.
Geisha tuang jus jeruk kemasan ke dalam gelas agar bisa di nikmati suaminya.
"Apa aku harus pergi sekarang?"
Geisha menggeleng. "Bukan sekarang, Mas. Tapi besok pagi," balasnya.
"Aku pun sulit melepasmu kesana, Mas. Tapi, bagaimana lagi? Semua ini harus kita coba."
Geisha tahu, Gentala sekilas menggelengkan kepala. Dapat ia rasakan pergerakan tersebut.
"Tapi ini sulit."
"Kamu bisa, Mas. Aku pun nanti rindu, tapi demi kamu. Aku harus menerima untuk kita berjauhan dulu," jawab Geisha dengan nada amat lirih.
Genta semakin bertingkah seperti anak batita. "Nanti aja, ya, sayang, aku perginya. Aku mau manja-majaan sama kamu dulu. Aku janji pasti akan pergi 'kok," ucapnya. Ia kecup lagi pipi Geisha dari samping, terus mempengaruhi istrinya agar mau luluh.
Dan.
Geisha tetap bersikukuh. "Enggak! Pokoknya besok pagi kita harus ke Tasik. Kamu harus di sana, berobat!"
Genta hanya bisa menghela napas pelan, sedih dan gundah. Ia malas menjawab. Ia urai dekapan itu dan memilih berlalu meninggalkan istrinya untuk kembali ke kamar.
"Mas ...," seru Geisha. Yang diserukan tidak menjawab. Geisha hanya bisa menggeleng kepala samar melihat Genta yang sejak kemarin gegana dan berubah. Geisha paham, dan ia pun berat.
Tapi, mau bagaimana lagi? Jika dengan jalan medis saja sulit, maka Genta harus ditambah dengan pengobatan jalan kebatinan. Geisha akan memasukan Genta ke sebuah pondok pesantren, untuk mengikuti rangkaian penyembuhan yang memang ada di ponpes tersebut khusus untuk orang-orang seperti Genta.
...๐พ๐พ๐พ...
__ADS_1
Dua koper sudah selesai Geisha tata dengan baju-baju milik suaminya. Perlengkapan yang Genta butuhkan sudah rapih dan besok siap di bawa. Selama makan siang sampai detik ini, lelaki itu membisu. Ia memilih berbaring di ranjang tanpa mau melakukan hal apapun.
"Aku shalat aja masih banyak yang salah gerakannya, Sha. Gimana nanti di sana?" akhirnya lelaki itu membuka suara. Ia masih berkeras hati untuk mengatakan, kalau dirinya belum siap berangkat ke ponpes besok. "Aku janji tidak akan menyentuhmu dulu," timpalnya lagi.
Geisha menoleh, ia tatap Genta yang tengah berbaring memunggunginya, menatap ke jendela kamar yang kain hordeng nya bergoyang karena hembusan angin dari luar. Geisha bergegas mendatanginya, menutup jendela rapat dan mengunci, karena hawa sore ini amat dingin. Ia tidak mau suaminya sakit karena masuk angin.
Geisha duduk di tepi ranjang, ia usap pipi suaminya yang sedang gegana. Menerima kelembutan dari tangan istri, membuat Genta memejam mata. Ia genggam kepalan tangan Geisha dan ia letakan di dada.
"Kalau enggak besok, kapan lagi? Hem ... gini aja, deh." kelopak mata Genta terbuka manakala ia mendengar seraya opsi lain yang akan terucap dari bibir ranum Geisha.
"Aku akan coba cari penginapan atau rumah-rumah kecil yang bisa aku sewa selama di sana." tidak jadi senyum, Genta mencebik lagi.
"Sama aja dong enggak bisa bobo bareng sama kamu," cicit Genta. Karena dari rangkaian kegiatan, jadwal Genta akan padat. Tengah malam saja ia harus bangun untuk mandi, shalat malam dan bersholawat.
Geisha tersenyum. "Seenggaknya aku kan di sana. Makan siang kan bisa sama aku," balasnya.
Genta tetap memberikan senyuman kecut. Walau dalam hati ia ingin sekali sembuh, tapi kenapa rasanya sulit seperti ini?
"Hem ... tapi 'kan, kamu harus koas, Sha. Gimana caranya kamu ikut aku?" teringat hal itu makanya Genta menyergah. Geisha tatap netra pekat suaminya, ia dapatkan kemurnian cinta dari lelaki itu. Maka untuk suaminya, Geisha mantap untuk menyela impiannya agar cepat menjadi seorang Dokter.
"Tugas sudah aku selesaikan semua, sesuai harapan Dokter pembimbing dan kampus. Aku jadi dapat kompensasi libur," Geisha berkilah. Tanpa Genta tahu dan meminta izin darinya, sang istri memang sudah mengatakan kepada pihak administrasi kampus, kalau dirinya akan cuti.
Genta tersenyum, ia jawil hidung istrinya. "Pintar, ya, sekarang," goda Genta. Senyum yang sejak tadi hilang, kembali timbul.
Lantas jari-jemari Genta turun ke daerah bibir, ia tatap Geisha dengan tatapan penuh damba. Seakan tahu lelaki ini butuh akan hak nya, Geisha yang siap memberi walau dirinya tahu, ia akan di siksa lagi, menawarkan diri nya.
"Kamu mau?"
Genta menggeleng. Ia turunkan jari-jemarinya dari bibir Geisha. "Aku enggak mau buat kamu sakit," jawabnya.
"Coba pelan-pelan, Mas. Gimana?"
Genta tetap menggeleng. "Enggak mau!" ia memilih memejam mata di balik guling yang tengah ia peluk.
"Benar enggak mau?" tanya Geisha dengan nada tidak biasa. Suaranya yang amat menggoda mampu membuat Genta kembali menilik dirinya. Dan lelaki itu tercengang, saat Geisha sedang menyicil melepas pakaiannya.
Suara saliva yang terdorong ke dalam kerongkongan amat kentara dari Genta. Rasa perawan dan kenikmatan dari tubuh Geisha saja masih ia ingat dan terbayang-bayang. Napas lelaki itu memburu, di bibir ia katakan tidak. Tapi, di hati dan raganya, sepertinya tidak.
Gentala beranjak duduk. Ia tatap istrinya lekat-lekat yang kini hanya tampa luaran tapi masih menggunakan dalamann. "Kamu yakin, Sha? Aku boleh memintamu?"
Geisha mengangguk. "Sudah jadi kewajiban aku, Mas," jawabnya mantap.
Hembusan napas yang mulai tidak teratur, karena debaran jantung yang kuat dan intinya terus berdenyut, menatap Geisha dengan segala keelokan tubuhnya, membuat Genta tidak bisa menahan.
Kedua tangannya melingkar ke belakang, melepas kaitan kain renda penutup bongkahan sintal milik sang istri. Genta semakin mendamba, saat pangkal dada itu terpampang nyata di depan mata. Kenyall dan pekat.
"I love you, Sayang ...," ucapnya sambil membaringkan Geisha. Geisha memejam mata dan mengangguk, mencoba mengusir rasa takut yang kembali mendera. Ia harus ingat ucapan Kahla. "Jangan tunjukan rasa sakit! Jangan, Sha!"
Geisha meremas seprai, saat dengusan napas pelan yang sejak tadi ia rasakan dari Genta berubah menjadi kasar. Libido sadisme lelaki itu sudah muncul.
Ia meringis, sampai mengigit bibir bawah, saat rasa sakit sudah ia rasakan di lekuk tubuhnya. "Tolong kuatkan hamba, Ya Allah ...." doanya dalam hati.
__ADS_1
Mampukah Geisha bertahan untuk tidak mengerang sakit?
...๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ...