Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Pulanglah!


__ADS_3

Wajah perawat hamil yang begitu Genta khawatirkan terus membekas di benak Geisha. Membuat gadis ini tidak nyaman dengan pemikirannya sendiri.


Siapakah dia? Wanita itu? Apa hubungannya dengan Genta? Saudara nya 'kah?


Semua bercampur jadi satu di kepala Geisha. Malah, saat ini. Ketika dirinya sedang bersisihan dengan Genta di tepi ranjang pasien, bukannya memperhatikan bagaimana cara Genta memeriksa pasien, ia malah termenung. Dan Genta belum menyadari hal itu.


"Kalau lukanya sudah tidak basah. Besok pagi Bapak sudah boleh pulang, ya. Antibiotik nya di habiskan. Nanti tiga hari berikutnya kontrol," pinta Genta kepada pasien.


"Baik, Dok. Terima kasih banyak."


Genta mengangguk. "Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi."


Baru ingin berbalik badan, alisnya menaut mana kala melihat Geisha yang mematung diam, Genta mendesahkan napas berat. Ia geram, ternyata sedari tadi Geisha melamun.


"Bengong sih!" Genta kembali galak. Ia menghentak bahu Geisha. Dan saat wanita itu sadar, Genta sudah berlalu dari hadapannya meninggalkan kamar perawatan pasien.


"Permisi ya, Pak," Geisha mengucap pamit kepada Pasien dan berlalu. Ia berlari mengejar Genta. Di rasa Geisha sudah kembali di belakang nya, lelaki itu langsung mencerca.


"Untuk apa kamu ikut saya visit, kalau hanya ingin melamun?" tanya Genta dengan nada ketus, tidak teduh seperti di poli. Dan Geisha hanya bisa menunduk sedih dan berucap maaf.


"Kalau tau bakal ngalamin hal yang enggak enak, lebih baik tadi aku enggak usah mengiyakan ajakannya." batin Geisha lirih. Ia mendongak sedikit, menatap tubuh tegap Genta yang tertutup dengan jas dokter. Sampai di mana langkah Geisha terhenti karena langkah Genta didepannya pun terhenti.


"Kamu sudah masuk, Bell? Sudah sehat?" tanya Genta dengan senyuman hangat kepada Suster Belladona yang tidak sengaja bertemu dengan mereka di lorong perawatan ini. Dan wanita itu menatap Genta dengan tatapan benci.


"Jangan sok baik padaku!" jawabnya, lantas menerobos bahu Genta begitu saja.


"Bella ...." panggil Genta. Dan yang di panggil terus melenggangkan langkah. Raut wajah Genta terlihat seperti orang bersalah.


"Siapa lagi wanita itu?"


Jantung Geisha kembali berdetak kencang. Bulu roma nya meremang. Percakapan yang ia dengar tadi di antara Genta dan Bella dengan nuansa dingin, seolah menginfokan kalau ada sesuatu di antara mereka berdua yang pernah terjadi.


"Sepertinya kamu dekat dengannya, seperti dengan perawat hamil tadi. Apakah mereka mantan pacarmu?" Geisha hanya bisa bertanya dalam hati.


Dada nya semakin tidak enak. Ada sesak yang membuih. Geisha mengusak-usak dadanya, agar terasa plong. Kejadian dengan Kahla tadi saja sudah menguras batin, dan di tambah beberapa detik tadi. Saat Genta kembali perhatian kepada wanita lain.


"Mengapa kepada wanita lain, kamu bisa begitu lembut? Kenapa tidak kepadaku?" dan hanya bisa di dengar oleh hatinya.


Geisha masih menatap Genta, dan yang di tatap masih menatap wanita lain. Dua minggu ini Geisha mencoba selalu bersikap baik dan mengambil perhatian Genta. Tapi, tetap saja lelaki itu selalu dingin dan kasar padanya. Dan barulah Genta bersikap hangat, saat di poli tadi.


"Dada kamu kenapa?" Geisha terlonjak dari lamunan. Segera menurunkan tangannya dari dada, lantas tersenyum. "Gatal, Dok." sebisa mungkin Geisha menekan luka yang sedang menganga dalam dada.


"Habis ini kamu jaga di mana?"


Geisha menggeleng dengan rasa takjub. Baru kali ini pikirnya, Genta begitu kepo. "Hari ini hanya di poli, Dok. Enggak ada lagi. Saya mau langsung pulang saja."


"Kamu bawa kendaraan? Kalau enggak. Biar saya yang antar pulang. Sebagai ucapan terima kasih saya, karena kamu sudah mau menemani saya selama di poli dan visit hari ini."


"Ha?" Geisha melongo. Dadanya yang sedari tadi sesak kini langsung plong. Bagai duri yang sedari tertancap dalam daging, begitu saja tercabut.

__ADS_1


"Saya takut ngerepotin, Dokter. Rumah saya agak jauh soalnya." pura-pura jual mahal dikit. Padahal mobilnya sedang terparkir dengan baik di halaman Rumah Sakit.


"Ke arah mana memang?"


"Jalan Arteri, Dok."


"Dekat itu. Ayo!" tanpa menunggu respon Geisha, mau atau tidak. Genta memutuskan tetap mengantar Geisha pulang.


Gadis itu tersenyum manis selama berjalan di belakang Genta menuruni anak tangga.


"Awal naik tangga dengan air mata, sekarang turun tangga dengan hati gembira. Ya, kadang hidup selucu itu mau gangguin aku!" batin Geisha bahagia.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Geisha terduduk manis dengan posisi tegap di samping kursi kemudi Genta. Kedua tangannya di letakan dipangkuan, begitu ayu jika di pandang. Rasa luka yang sejak tadi bercokol, berangsur menghilang. Tergantikan dengan rasa penuh puji dari nya.


Sedari tadi dirinya melirik Genta yang begitu gagah ketika mengemudi. Memakai kaca mata hitam, rambut tetap di kuncir dan memakai kemeja polos berwarna hijau army berlengan pendek. Sneli sudah ia lepas, ia sampirkan di sandaran jok.


Geisha tidak berani memulai pembicaraan kalau bukan Genta yang memulai.


"Mobilnya wangi banget. Bersih lagi, apa kabar sama keadaan mobil aku? Ya Allah, jauh banget. Kayak langit sama bumi." Geisha memandang kagum keadaan mobil Genta. Ia teringat dengan burger basi yang masih berada di dalam mobil nya dari seminggu lalu dan masih ada di jok belakang.


"Kamu kenapa?" tanya Genta. Buru-buru lelaki itu menepikan mobil, karena melihat Geisha yang tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepala. Padahal ia hanya sedang mengusir bayangan tidak enak tersebut.


"Engg--enggak apa-apa, Dok. Agak pusing aja." dan lagi-lagi dirinya berdalih.


Genta mendekat. "Pusing?" tanyanya mengulangi. Bola mata mereka saling bersitatap dalam jarak yang amat dekat.


Dan.


Kruyuk.


Ternyata bukan jantungnya yang berkhianat tapi perutnya. Genta terkekeh. "Kamu pusing atau lapar?"


Geisha meringis. Ia mengigit bibir bawahnya. "Lapar, Dok."


Genta mengangguk tanda paham, walau tanpa bertanya lagi. Ia memutuskan akan membawa Geisha ke rumah makan sebelum pulang.


"Kita makan dulu, ya." Genta kembali melajukan mobilnya. Tanpa komentar aneh-aneh. Geisha menganggukan kepala. "Terima kasih banyak, Dok." bodo amat di anggap wanita yang tidak bisa menjual harga diri dengan mahal. Nyatanya, hal ini memang yang paling ia inginkan.


"Sama-sama."


"Ternyata perut lapar bisa membawa berkah. Tapi, untung bunyi perut bukan bunyi kentut!" sorai Geisha diam-diam. Karena jika bunyi kentut yang terdengar, habislah riwayatnya. Mengingat di keluarga, yang mempunyai kentut bau seperti telur busuk hanya lah miliknya seorang. Haha.


Genta tidak menolak setiap ajakan Genta. Karena berduaan dengan Genta adalah hal yang paling ia sukai. Seolah ia merasa, hati Genta bisa ia dapatkan walau harus berjuang susah payah.


"Kayaknya sama mereka masih cantikan aku deh. Buktinya si gondrong sayang bisa seperhatian gitu. Jadi, aku masih punya harapan 'kan?" decak nya bangga. Geisha senyam-senyum sendiri selama diperjalanan. Ia menurut saja mau dibawa kemana.


Ingin sekali ia bertanya mengenai dua perawat tadi. Tapi Geisha urung, ia tidak berani. Dan ia putuskan, besok akan menanyakan sendiri kepada Suster Lala. Mungkin saja beliau tahu, pikirnya polos.

__ADS_1


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Sebelum sampai ke rumah makan yang di tuju Genta. Geisha meminta Genta untuk masuk dulu ke dalam pekarangan Masjid karena Adzan Ashar sudah terdengar.


"Kita shalat dulu, ya, Dok."


"Oke." jawab Genta singkat. Ia memutar-mutar stir kemudi untuk masuk ke dalam Masjid besar di depan jalan raya dan memakirkan nya.


"Saya tunggu di sini, ya."


Geisha menautkan alis saat melepas seat belt. "Tunggu di sini, Dok?" Geisha memastikan. Takut-takut apa yang ia dengar, salah.


Genta mengangguk. Ia membuka dashboard dan meraih vape miliknya. Dan yang Geisha baru tahu kalau lelaki ini merokok.


Yang Geisha tahu, dari biodata diri Genta sebagai dokter pembimbing. Agama lelaki ini adalah Islam. Lalu mengapa saat ini, ia memilih berada di dalam mobil?


"Dokter haid?" goda Geisha.


Genta tertawa, ia masih fokus menyesap rasa mocca dari vape nya.


"Saya bisa di rumah, gampang." dalih Genta.


"Kalau sudah ada panggilan shalat. Kita harus bergegas, Dok. Apalagi keadaannya, kita tidak sedang sibuk." Geisha menasehati.


"Ini 'kan saya sedang sibuk." Genta menghembuskan asap rokok, walau kini masih di dalam mobil. Dirinya tidak perduli.


Entah keberanian dari mana. Geisha meraih vape yang ada ditangan Genta dan menyimpannya di dalam tas. Lantas melepas seat belt yang masih melintang di dada Genta. Lelaki gondrong itu lagi-lagi terpelongo tanpa bisa menyergah.


"Ayo kita turun!" titah Geisha lembut. Dan kemurnian dari mata Geisha, dapat menyihir Genta untuk mematung bisu. Genta pun turun dari dalam mobil. Ia mendongak ke atas, menatap kubah Masjid.


"Lebih baik kamu duluan yang shalat. Biar saya di sini. Mana tadi rokok saya." Genta menyodorkan telapak tangannya.


Geisha menggeleng dengan tatapan tidak bisa dibantah. "Shalat dulu, baru merokok."


"Please. Saya bisa shalat di rumah." Genta berkilah.


"Untuk apa di rumah, kalau saat ini kita sudah berada langsung di depan rumahnya Allah." Geisha tetap bersikukuh. Mau tidak mau, ia menarik paksa lengan Genta untuk mau mengikutinya.


"Cukup Geisha! Saya punya privasi yang harus kamu hormati!" Genta menghentikan langkah Geisha yang mana langkah mereka sendiri akan sampai ke batas suci Masjid.


Geisha menatap Genta aneh. Dirinya Bingung-sebingung-bingungnya. Privasi? Privasi macam apa, pikirnya?


Padahal Ayahnya dan Adik lelakinya setiap Magrib dan Isya akan berjalan kaki dalam jarak meter yang cukup jauh dari rumah menuju Masjid, agar bisa shalat berjamaah dengan para hamba Allah yang lain.


Tetapi, Genta? Yang tubuhnya sudah benar-benar ada di sini, malah menolak.


Geisha menghela napas. Terlihat wajahnya kecewa. Dan Genta paham akan hal itu, tapi ia tidak perduli.


"Ini punya, Dokter." Geisha memberikan vape milik Genta dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Pulang lah, Dok. Saya bisa pulang sendiri setelah shalat Ashar. Terima kasih karena sudah mau mengantar saya." Geisha tersenyum dalam raut kecewa. Dan lelaki itu melongo tidak percaya.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


__ADS_2